
Dalam satu menit kurang. Wajah Diego muncul dan melewati pintu kaca terbuka, yang menjadi pembatas kamar dan balkon. Wajah-wajah dengan muka tegang dan dingin, sesaat membuat bulu kuduk Diego meremang. Hanya wajah tuan besar yang masih berekspresi santai setenang duduk dipinggir pantai.
Sepertinya aku harus pindah haluan, next kehidupan aku hanya ingin menjadi penjual bakso saja. Daripada menjadi bayangan tapi rasa hidupku seperti rujak. ~ batin Diego.
Dalam satu menit kurang. Wajah Diego muncul dan melewati pintu kaca terbuka, yang menjadi pembatas kamar dan balkon. Wajah-wajah dengan muka tegang dan dingin, sesaat membuat bulu kuduk Diego meremang. Hanya wajah tuan besar yang masih berekspresi santai setenang duduk dipinggir pantai.
Sepertinya aku harus pindah haluan, next kehidupan aku hanya ingin menjadi penjual bakso saja. Daripada menjadi bayangan tapi rasa hidupku seperti rujak. ~ batin Diego.
"Apa kamu tul! Diego? Bisa-bisanya kamu pergi tanpa menunggu keputusan ku! Apa kamu bosan hidup?" cecar Nenek Ara dengan tatapan dingin.
Diego hanya menghela nafas dan mendengarkan tanpa membantah. Satu singa betina yang menjadi tetua adalah boom ulung jika menyudutkan kesalahan seseorang. Sedangkan Alvaro masih menatap sang istri, yang sudah sibuk duduk di dekat Asma dan menggenggam tangan adiknya dengan posesif.
"Bu sudahlah, Diego hanya mengikuti perintah ku. Diego, jemput para dokter di bandara!" titah tuan Luxifer menyelamatkan sang bayangan dari kemurkaan ibu mertuanya.
Diego mengangguk dan berpamitan. "Maafkan saya Nyonya Ara, saya permisi untuk tugas."
"....."
"Nek, Asfa masih tidak sadarkan diri. Tenanglah." Alvaro mendekati sang nenek dan memberikan pelukan agar tenang.
Pelukan itu meredakan emosi nenek Ara, tuan Luxifer memilih menjadi penonton. Rania sibuk menikmati rasa sedih karena melihat idola sekaligus panutannya terbaring lemah. "Ayolah bangun queen, apa kamu mau aku menangis semalaman? Banguun, ayoo banguun."
"Ekhem! Bisa lepaskan dulu tangan Asfa, lihatlah selang infusnya hampir terlepas." pinta tuan Luxifer dan membenarkan jarum infus di tangan putrinya, setelah Rania menunduk dan melepaskan genggaman tangan.
Alvaro membawa nenek Ara untuk duduk di sofa dan memberikan segelas air putih, tapi ekor matanya berulang kali melirik ke arah Rania yang menunduk. Tuan Luxifer menyadari putranya membutuhkan waktu untuk berbicara berdua dengan sang istri. "Rania, bawa suami mu ke bawah. Makanlah dulu, kalian pasti belum makan."
"Aku bisa minta pelayan mengantar makanan pa, kenapa harus turun kebawah?" protes Alvaro yang tidak peka.
Puk…
"Auuw kenapa nenek memukul pant@tku?" celetuk Alvaro dengan menatap sang nenek yang menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Lakukan perintah papa mu tanpa bantahan, Nak. Apa susahnya? Pergilah!" Nenek Ara memberikan kode mata, dan membuat Alvaro mengangguk.
Langkah Alvaro berjalan menghampiri Rania yang masih menunduk, dengan lembut tangan Varo menggenggam tangan Rania. "Ayo temani aku buat makan siang, setidaknya kita harus tetap sehat demi Queen."
"Apa…"
"Pergilah nak, Asfa tidak akan kemana-mana. Kita harus bergantian menjaga Queen." sela tuan Luxifer dengan lembut.
"Baik pa, maaf karena merepotkan." cicit Rania dan mendapatkan usapan lembut di punggungnya.
Alvaro menggandeng tangan sang istri, setelah memberikan kode pada sang papa. Kepergian Alvaro dan Rania, membuat suasana kembali tegang. Kini tuan Luxifer berdiri di sebelah kanan ranjang putrinya dan nenek Ara duduk di sofa sebelah kiri ranjang putrinya meskipun sofa berada di sudut. "Sekarang apa yang akan kita lakukan? Bukankah malam ini rapat pertemuan."
Tuan Luxifer memandang sang putri yang terbaring lemah, yah seharusnya malam ini adalah debut pertama kakak beradik di dalam perusahaan Aranda. Tentunya seperti yang ibu mertuanya katakan tiga hari lalu, tapi keadaan diluar dugaan dan rencana. Sekarang Asfa terbaring dalam keadaan tak sadarkan diri, dan membutuhkan perawatan khusus.
Sedangkan Alvaro adalah dokter khusus Asfa, situasi yang rumit. Hingga satu keputusan datang seperti lampu menyala didalam kegelapan. Tuan Luxifer berjalan menghampiri tempat ibu mertuanya berada, mendudukkan tubuhnya yang lelah hati. "Aku punya rencana, apakah anda mau mendengarkan? Mungkin ini menjadi solusi masalah anda."
"Katakan! Tidak ada salahnya mendengarkan rencana mu, selama itu masih masuk akal." Nenek Ara menyedekapkan kedua tangan dan mengubah posisi duduknya menjadi tegak.
Nenek Ara mendengarkan rencana sang menantu dengan seksama, mencerna setiap kata dan menimbang akan menyetujui atau menolak rencana tuan Luxifer. Sejenak nenek Ara berfikir hembusan nafas pelan terdengar di telinga tuan Luxifer. "Baik, mari kita lakukan itu. Tapi, ini hanya untuk sementara bukan selamanya!"
Tuan Luxifer mengangguk, dirinya harus bersyukur karena ibu mertuanya mau menerima saran darinya. Meskipun hanya untuk sementara, demi kebaikan semua pihak. Kini hatinya tenang karena bisa melakukan tanggungjawab seorang ayah sekaligus sebagai seorang menantu. "Sebaiknya anda bicarakan tentang rapat nanti malam bersama Alvaro, minta Rania menemani Asfa untuk rencana kita."
"Okay, tapi bagaimana dengan menantu pria yang masih di Villa?" tanya nenek Ara.
"Biarkan sementara Abhi di Villa, bukankah Abhi masih seperti kacang mentah? Itu yang anda katakan.'' jawab tuan Luxifer.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memberikan beban tanggungan pada Asfa. Tapi, sesuatu tak bisa ku jelaskan. Aku berharap, kamu ikhlas dengan pernikahan keduanya." tutur nenek Ara dengan sendu.
Tuan Luxifer menuangkan air putih ke dalam gelas, dan menyodorkan ke ibu mertuanya. "Minumlah, kebahagiaan ku adalah senyuman Asfa dan Varo. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Aku tidak ingin memberikan batasan dan memotong sayap kedua belahan jiwa ku. Apapun jalan hidup keduanya, aku akan mendukung dan selalu bersama mereka. Dan masalah pernikahan Asfa, aku sudah mendapatkan jawaban yang seharusnya."
"Apa semua karena janjiku pada kakeknya Abhi?" tanya nenek Ara memastikan.
__ADS_1
Tuan Luxifer menggelengkan kepala tapi juga mengangguk. "Tindakan Asfa murni dari keputusannya sendiri, dan juga demi memenuhi janji anda. Tapi jangan tanyakan ini pada Asfa, anda tahu Asfa tidak suka jika kehidupannya ada yang ikut campur."
"Sama seperti Nana dan keras kepala seperti mu. Baiklah, aku akan menemui sepasang pengantin yang panas." tukas nenek Ara bangun dari tempat duduknya.
Tuan Luxifer menaikkan satu alisnya, tidak paham maksud dari pasangan pengantin panas. Seakan memahami ketidak pahaman sang menantu, nenek Ara tersenyum. "Putra mu dan istri labilnya. Jaga cucuku dan kabari aku setiap ada perkembangan tentang kondisi Queen."
"Okay, jaga diri anda. Seseorang tengah memulai lingkaran permainan." jawab tuan Luxifer mengubah ekspresi wajah nenek Ara menjadi mode serius lagi.
"Apa maksudmu? Siapa? Apa ada yang kamu sembunyikan?" cecar nenek Ara.
Tuan Luxifer berdiri, langkahnya berjalan mendekati jendela yang mengarah ke balkon. Dengan menatap keluar, tuan Luxifer mengatur kata di dalam kepalanya. "Aku hanya tahu, ada yang memulai permainan. Musuh lama atau baru, aku masih menyelidiki. Aku akan membawa Asfa dan Varo pergi, jika keadaan semakin memburuk."
"Jangan! Berapa kali kamu akan lari? Hadapi musuhmu dengan kekuatan yang mendukung mu, apa gunanya kamu memiliki mafia nomer satu? Dan apa gunanya aku menjadi seorang Nyonya Aranda? Bahkan nama saja bisa menggetarkan hati orang-orang, bertahan dan ayo kita lawan bersama." ucap nenek Ara dengan lembut.
Tuan Luxifer berbalik dan mengangguk. "Aku bertahan demi anak-anak. Anda bisa menyelesaikan masalah rapat nanti malam."
"Jangan gegabah, kabari aku apapun yang menjadi masalah keluarga kita. Ingat, kita ini satu keluarga. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Ampun, kenapa mengikuti pepatah itu. Intinya, jangan bertindak sendiri seperti putri raja kita." Nenek Ara menasehati tuan Luxifer.
"Saya mengerti." jawab tuan Luxifer.
Nenek Ara mengangguk dan menetralkan ekspresi wajahnya kembali. "Jaga dirimu nak."
Langkah kaki nenek Ara meninggalkan kamar Asfa dan tuan Luxifer menatap wajah sang putri yang masih setia terlelap dengan bantuan alat pernapasan. "Lihatlah nak. Bukankah hidupmu penuh tanggungjawab, lalu bagaimana kehidupan kami tanpa mu? Cepatlah bangun, papa janji kita semua akan berlibur. Yah berlibur bersama seluruh keluarga, seperti permintaan mu."
....................
Ditengah lampu yang memiliki cahaya terang benderang, sebuah aula dipenuhi dengan deretan kursi yang tersusun rapi. Di depan di atas panggung, ada sebuah meja ter selimuti kain biru langit dengan panjang 4 meter kali 1 meter. Dan lima kursi dengan desain logo sebuah perusahaan terjejer di belakang meja, menghadap para kursi penonton di bawah panggung.
Di belakang para kursi logo sebuah perusahaan tertulis dengan jelas, elegant dan mewah kata penyambutan dan inti acara yang akan di adakan satu jam lagi.
"Welcome the King and Queen of Aranda Group Company"
__ADS_1