
"Hey, beraninya KAU...."
"Shttt. Rupanya kelakuanmu semakin bejat saja, syukurlah akhirnya aku menemukanmu." sela pemuda itu dengan senyuman sinis penuh nada sindiran.
Pria pecandu alkohol mengamati wajah pemuda di depannya, tapi wajah itu terbagi menjadi beberapa bagian. "Siapa kamu? Aku tidak punya anak."
"Alvaro Caesar putra yang kamu telantarkan. Sekarang kamu ingat?" ucap Varo dengan sinis.
Pria pecandu alkohol justru tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pemuda di depannya. Tangannya menunjuk Varo dengan gemetar, "Putra? Dia itu anak haram, lalu bagaimana bisa menjadi putraku. Hahahaha, dasar pembual."
Jduuar...
"Apa kamu gila? Putramu sendiri dianggap anak haram." ucap Varo dengan tangan mengepal menahan amarahnya.
Mateo mengusap ingusnya, "Kalau tidak percaya, tanya saja pada musuh bebuyutan ku itu...."
Buug...
Duug...
Tuan Luxifer yang baru saja berbelok dari lorong tempat cucunya di rawat dan hendak menuju ruangan Asfa mendapati pemandangan dimana Varo tengah memukuli seorang pria di tengah lorong. Langkahnya bergegas semakin mendekat.
"Stop!" serunya menghentikan pergerakan Varo memukuli Mateo.
__ADS_1
Luxifer menarik tubuh Varo, lalu memeluk putranya dengan kelembutan. "Relax, Boy. What happen?"
Nafas memburu putranya jelas menandakan emosi Varo tengah membludak, tapi apa penyebab kemarahan sang putra. Tepukan pundak semakin membuat Varo menarik nafas untuk menetralkan perasaan yang bergejolak di dalam hatinya.
"Wah rupanya panjang umur musuh ku yang satu ini, hay Xifer? Bagaimana kabar putra haram itu? Apa dia...."
Mendengar hal itu, Tuan Luxifer melepaskan pelukannya. Kemudian berbalik menatap pria pemabuk yang bicara seperti sesuka hati. Wajah tak asing dengan penampilan seperti preman jalanan.
"Apa katamu? Coba ulangi!" tukas tuan Luxifer dengan penekanan.
Mateo maju dan menunjuk wajah Luxifer, "Anak haram, Varo anak haram...."
Plaak!
Bruug....
Mateo hanya tertawa terbahak-bahak, sebelum tubuhnya limbung dan pingsan begitu saja. Varo berniat melayangkan pukulan lagi, tapi tangannya ditahan sang papa.
"Jangan kotori tanganmu, Nak. Telfon Dominic untuk membawa sampah ini ke markas, kita akan tahu siapa dalang di balik tragedi cafe HighStar." cegah Tuan Luxifer sambil melepaskan sweater motif kotak yang menjadi penutup kaosnya.
Tuan Luxifer memberikan sweaternya pada Varo. Tanpa kata, Varo menerima dan memakainya. Sementara di ruangan lain, Dokter Cleo baru selesai melakukan pemeriksaan serta memberikan obat pada Abhi dibantu dua suster pria Niles dan Bayu.
"Dok, boleh kami permisi?" tanya Bayu dengan wajah gusar.
__ADS_1
Niles menyenggol lengan rekannya itu, "Hus, kamu ini...."
"Pergilah! Bukankah jam kerja kalian sudah selesai. Terima kasih telah membantu pasien, dan satu lagi. Tolong kirim perawat lain untuk stand by menjaga pasien." pinta Dokter Cleo sebelum membiarkan dua suster itu pulang.
Niles merasa tidak tega dengan pasien, "Dok, boleh saya saja yang menjaga pasien?"
"Nil, kamu apa-apaan sih. Kita kan ada janji buat nonton bareng," protes Bayu tak terima.
Niles menatap Bayu dengan kode mata, agar rekannya itu paham situasi. Tapi, apa boleh buat. Si Bayu bukanlah orang yang peka, justru mengeluarkan sungut cemberut.
"Kalian boleh pulang, Aku akan cari pengganti sendiri." usul dokter Cleo yang tak ingin melihat drama sesama teman kerja di depannya.
"Tidak, Dok. Saya akan menjaga pasien, lagipula ini sudah tanggung jawab sebagai seorang suster. Bay, kamu pulang duluan. Kita nonton pas cuti kerja, okay." putus Niles tak ingin mengubah keputusannya kali ini.
Bayu mencebikkan bibir, "Okay, awas saja kalau meleng janji. Ku ikat kamu di pohon pisang kampung mati."
Dokter Cleo tak paham maksud dari perkataan Bayu, membuat wanita itu menakutkan kedua alisnya. "Apa maksudmu Bayu?"
"Bukan apa-apa, Dok. Biasa Bayu hanya bercanda, iya kan Bay?'' ucap Niles meminta pembenaran.
"Suka-suka kamu, deh. Bu dokter, saya permisi dulu. Takut khilaf, malam friend. Jangan lupa janjimu," pamit Bayu dengan banyak gaya, membuat dokter Cleo menggelengkan kepalanya.
Kepergian Bayu, membuat dokter Cleo kembali fokus dengan laporan pemeriksaan pasiennya. Pikirannya tak bisa dijelaskan, maju salah apalagi mundur lebih salah. Situasi menjebak hati nurani dan profesinya sebagai seorang dokter.
__ADS_1
Aku harus apa? Jika aku pindahkan sekarang, ku pindahkan kemana? Di daerah sekitar hanya ada puskesmas, sedangkan rumah sakit cukup jauh jaraknya. Tapi, jika tidak dipindahkan. Maka tuan besar bisa menghapus riwayat keluarga ku. Bagaimana ini?~batin dokter Cleo menatap kertas di depannya dengan tatapan kosong.
Pluk!