My Secret Life

My Secret Life
Bab 217: Pasukan Khusus


__ADS_3

Eeeuuggghh, berisik sekali."


Selimut disibakkan, lalu langkah kaki kekar berambut turun dari ranjang. Tangannya mengucek mata seraya memperhatikan sekitarnya. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul lima sore.


"Masih terlalu awal aku bangun, kenapa lagi ponselku jatuh di lantai." gumam sang penghuni kamar seraya memungut ponselnya, lalu menekan tombol power.


Ponsel masih menyala, tapi banyak nya panggilan mengubah ekspresi wajah sang penghuni kamar menjadi geram. Satu geser, dan dial call dilakukannya. Nada dering sambung langsung tergantikan dengan suara sapaan dari seberang. "Apa kalian tidak punya pekerjaan?"


[Bos, malam ini ada pertemuan dengan pihak mafia Phoenix.]~lapor dari seberang, membuat pria tanpa busana yang tengah bercermin menatap tubuhnya yang polos tersenyum licik.


"Aku akan segera datang. Persiapkan penyambutan terbaik!" titah pria itu, dan mengakhiri panggilannya.


"Rupanya sudah ada yang berpikir jernih, tapi siapa? Setelah beberapa bulan hanya ada perlawanan. Apa otak mereka sudah kembali waras, dan menyadari jika aku bukan tandingannya? Aaaah aku tidak peduli!" Senyuman licik pria itu terkembang sempurna, tanpa dirinya sadari jika kesombongan bisa menjadi alasan kehancurannya sendiri.


"Aku harus bersiap, dan bergerak cepat. Semua penyambutan harus yang terbaik. Siapapun kamu. Akan kupastikan menyetujui semua persyaratan dariku tanpa terkecuali termasuk wilayah laut yang selama ini dijadikan sebagai tempat latihan para anggota mafia Phoenix." Pria itu melemparkan ponselnya ke atas ranjang, lalu berjalan menuju kamar mandi dengan suka cita.


Tiga puluh menit kemudian.


"Duke lihat ke belakang!" titah Asfa dengan sikap waspada, membuat Justin melihat ke arah spion tengah, dan dari sana terlihat di belakang ada deretan mobil yang melaju dengan jarak tidak begitu jauh.


Seperti konvoi, tapi di wilayah yang mendekati daerah perbatasan? Pastinya itu bukan hal biasa, Justin mengambil pistol dari bawah kursinya. Asfa pun bersiap dengan memakai sarung tangan yang selalu ada di tempat laptopnya berada.


"Duke, calm down! Senjata itu tidak diperlukan. Trust me!" ucap Asfa.


Justin tidak paham apa maksud dari queennya, tapi tetap menuruti perintah Asfa tanpa membantah. Isyarat tangan terangkat Asfa, membuat Justin menghentikan mobilnya.

__ADS_1


Ciiit!


Asfa melepaskan sabuk pengaman, lalu membuka pintu mobilnya. Namun, tangannya ditahan Justin. "Queen....,"


"Keluarlah! Kita temui mereka tanpa senjata. Ayo!" ajak Asfa.


Justin menghela nafas seraya menarik tangannya dari tangan Queen. Tanpa menunggu ajakan dua kali, pria itu ikut melepaskan sabuk pengaman nya dan keluar dari mobil.


Braak!


Kedua pintu ditutup secara bersamaan, Asfa dan Justin saling pandang. Langkah keduanya berjalan ke depan mobil, lalu berdiri menanti konvoi mobil van yang semakin mendekat.


Benar saja dalam hitungan sepuluh. Enam mobil van hitam berhenti di samping mobil sport hitam dari dua sisi. Suara pintu terbuka dengan hentakan sepatu terdengar cukup jelas. Perlahan langkah kaki semakin mendekat. Asfa memberikan kode jari agar Justin tetap tenang.


Asfa maju satu langkah dengan kedua tangannya bersembunyi di balik jacket. "Tell!"


"Queen?" panggil Justin.


"Duke, mereka pasukan khusus keluarga Burhan. Tuan muda pasti memasang alat pelacak, dan mengirimkan mereka semua agar tidak kehilangan jejak ku. Apa kamu tidak melihat benda kecil di belakang kerah bajumu?" jelas Asfa tenang, membuat para pria pasukan khusus tunduk hormat dengan membungkukkan setengah badan mereka.


Sementara Justin langsung meraba kerah bajunya, dan benar saja ada benda logam yang menempel seperti magnet berkedip. "Ouh ****! Kenapa aku tidak sadar."


"Hmmm. Kamu terlalu ceroboh!" jawab Asfa.


"Queen, sebaiknya Anda di tengah dan biarkan setengah pasukan di depan dan setengahnya lagi di belakang. Maafkan atas ketidaknyamanan, tapi kami ditugaskan untuk menjaga Anda....,"

__ADS_1


Sang pencetus rencana terdiam karena Asfa mengangkatnya. "No one can change my plans. Don't trying for bothering my way!" (Tak ada yang bisa mengubah rencanaku. Jangan mencoba mengganggu jalanku!)


Suara tenang, tapi penuh penekanan menyebarkan aura intimidasi, membuat para pasukan khusus bergidik ngeri. Justin mendekati Asfa. Baginya sudah biasa akan aura wanita satu itu. Justru momen menegangkan seperti saat ini adalah hal terbaik dalam hidupnya.


"Queen....,"


"Jika kalian membantah perintah Queen. Aku sendiri yang akan memisahkan kepala kalian dari tempatnya!" ancam Justin dengan seringaian, membuat ketegangan semakin mencekam.


Pasukan khusus memang dilatih dengan sangat baik, tapi bagaimanapun mereka tetap diwajibkan menurut pada pemimpin. Sudah pasti Vans tidak akan memberikan perintah untuk melawan dirinya.


"Duke, jelaskan tempat mereka! Aku akan kembali ke mobil." titah Asfa seraya berbalik, lalu berjalan kembali ke mobilnya.


Sementara Justin melambaikan tangan pada para pasukan khusus agar mendekatinya. Selama sepuluh menit Asfa memejamkan mata menunggu sang asisten yang masih menjelaskan rencana penyerangan di luar sana. Hingga ponsel di dalam sakunya bergetar mengalihkan perhatiannya.


Layar ponsel terbuka dengan satu geser sidik jarinya. Beberapa notif masuk, tapi hanya satu notif pesan masuk yang menarik perhatiannya.


"Jauhi kekasihku wahai wanita murahan! Awas saja kalau kamu berani bermain denganku." Asfa membaca pesan dari nomor tak dikenal.


"Ini orang sepertinya harus diajari sopan santun." Asfa memasukkan ponselnya kembali ke dalam jacket tanpa menjawab pesan yang tak beretika, lalu menatap ke depan dimana pasukan khusus mulai membubarkan diri dan kembali masuk ke dalam mobil masing-masing.


Justin pun ikut kembali masuk ke mobil dengan guratan wajah tegas, membuat Asfa tersenyum tipis di balik topengnya.


Braak!


"Mau boom?" tawar Asfa dengan santainya.

__ADS_1


__ADS_2