
Klik... (pintu terbuka dan langkah kaki beriringan masuk, membuat Alvaro menatap pintu masuk)
"Caesar?" ucap seorang wanita yang berpakaian tertutup dengan hijab merah muda yang menutupi kepala wanita itu.
Wajah Alvaro nampak termenung sesaat menatap siapa yang datang dan mengucapkan nama belakangnya itu. Wajah yang hampir terlupakan oleh nya. Senyuman di wajah wanita itu masih sama, dengan lesung pipi yang membuat wajah oval itu semakin terlihat cantik. Melihat putranya seperti diam membisu dengan sosok yang baru datang, membuat tuan Luxifer menyimpan pertanyaan yang harus mendapatkan jawaban tapi menunggu waktu yang tepat.
"Hurry up! My doll can't waiting anymore! ( Cepatlah! Boneka ku tidak bisa menunggu lagi!)" perintah Alvaro dan memilih mengalihkan pandangannya ke bahan-bahan di depannya lagi.
"Zara berikan sample racun, virus dan juga laporan hasil uji coba perusahaan kita padanya dan periksa keadaan gadis di atas ranjang." perintah pemuda itu dengan suara lugas dan tegas.
"Okay King," jawab Zara wanita yang seperti nya mengenal siapa Alvaro, langkah kaki Zara membuat Alvaro semakin mengeluarkan aura dingin namun wanita itu tetap mendekatinya.
"Ini sampel racun, virus dan ini berisi laporan hasil uji coba nya. Maafkan aku ..." ucap Zara dengan meletakkan dua koper mini ke atas meja kaca didepan Alvaro dan sebuah flash disk di atas koper.
"Who's you? (Siapa kamu?)" tukas Alvaro memotong ucapan Zara dan mengambil flash disk.
Alvaro memilih berjalan mendekati satu set komputer yang ada di sisi kiri ranjang, sedangkan Zara harus menatap punggung Alvaro dengan nanar dan mendekati tempat tidur untuk memeriksa keadaan gadis yang di maksud oleh kingnya.
"Sudah berapa lama dari racun itu masuk?" tanya Zara setelah memeriksa pundak Asfa dengan alat yang di bawanya dan melihat seberapa luas ruam yang sudah muncul.
"Hampir satu jam setengah dari penembakan, kurang lebih." jawab king dengan melihat jam di pergelangan tangan nya.
"Ini sebuah keajaiban, seharusnya racun itu menyebar lebih cepat. Setidaknya, dalam tiga puluh menit maka ruam biru ini akan memenuhi seluruh tubuh nya..." jelas Zara yang mengerjapkan matanya. Seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, ruam biru di pundak kiri Asfa hanya sebesar mangkuk bayi dalam waktu satu jam setengah.
"Shut up! Just tell what I need to do! (Diam! Cukup katakan apa yang harus aku lakukan!)" seru Alvaro yang seketika membalikkan badan nya dengan tatapan nyalang pada Zara, sungguh ucapan Zara membuat darahnya mendidih.
Meskipun maksud dari wanita itu adalah sebuah ungkapan takjub tapi hati Alvaro tak rela, ketika Zara menilai adiknya.
Zara ikut membalas tatapan nyalang Alvaro dengan tatapan sendu, rasa di hatinya yang sudah padam seakan kembali menyala dengan sepercik api yang tersulut di antara potongan-potongan memori masa lalu.
"Bukan kah kamu ahlinya? Pasti kamu bisa menyembuhkan gadis ini, gadis yang menjadi alasan mu menghilang." ucap Zara dengan tenang namun tidak di dalam hati, hatinya masih menyimpan luka meskipun di akui olehnya jika dulu dirinya lah yang egois.
"Stop!" seru tuan Luxifer dengan perasaan geram, disaat keadaan darurat masih saja ada perdebatan yang tidak tepat pada waktunya.
"Varo jelaskan apa yang kamu dapatkan?" tanya tuan Luxifer setelah melihat Zara yang terkejut dan menundukkan wajahnya setelah menatap Alvaro lebih dari dua menit dan pemuda yang di panggil king memilih menghampiri Zara.
__ADS_1
"Minta mereka keluar, kita lakukan ini bersama." tukas Alvaro yang mengambil garis besar dari hasil percobaan perusahaan medis milik king.
"Kalian keluar!" perintah tuan Luxifer dan membuka kan pintu ruangan rahasia, tidak ada bantahan ataupun permintaan maaf selain mengikuti perintah dari tuan Luxifer.
King dan Zara meninggalkan ruangan rahasia dan hanya bisa menunggu di ruangan rawat. Dimana seorang pria tampan yang kondisinya seperti pangeran tidur dengan tubuh berbalut lempengan besi. Sedangkan di dalam ruangan rahasia Alvaro menjelaskan bahan-bahan dari racun dan juga virus, dan hasil dari penelitian perusahaan medis milik king.
Tuan Luxifer mendengarkan dengan baik, seketika fikirannya tertuju pada obat yang biasa di minum oleh Asfa beberapa tahun lalu untuk kesembuhan gadisnya itu. Alvaro yang melihat wajah papanya seketika sumingrah sungguh membuatnya heran, namun keheranannya terjawab. Di saat melihat sang papa mengambil sesuatu dari brangkas besi tempat penyimpanan bahan-bahan ramuan.
Sebuah tabung kapsul yang tak menampakkan isi di dalamnya, kini ada di genggaman tangan sang papa. Tabung kapsul itu berisi sebuah obat yang di racik oleh ketiga anggota keluarga Luxifer bersama-sama. Diletakkannya tabung kapsul itu di samping koper racun dan virus, dengan beralih membuka satu koper yang berisikan racun.
"Apa yang ingin papa lakukan?!" tangan Alvaro menahan tangan tuan Luxifer yang sudah mengambil sebuah suntikan dan mengambil satu cairan racun berwarna kuning gelap.
"Papa akan menguji obat ini, tidak mungkin papa membiarkan adik mu menerima obat tanpa kita tahu obat ini berhasil atau gagal. Biarkan papa melakukan ini." jawab tuan Luxifer dengan menepis pelan tangan Alvaro.
"No dad! This wrong! (Tidak ayah! Ini salah!)" cegah Alvaro dengan menarik cairan yang ada di tangan tuan Luxifer, namun kecepatan papanya masih saja sama.
"Ooh no dad." pekik Alvaro yang gagal mencegah papanya menyuntikkan racun ke pergelangan tangan kirinya itu.
"Tenang lah, ini tidak sebanding dengan rasa sakit adik mu. Tunggu lima menit, baru berikan ini pada ku." perintah tuan Luxifer dengan tersenyum paling manis.
"Semoga perhitungan papa tepat, tahan lah pa." ucap Alvaro yang buru-buru mengambil suntikan dan memasukkan cairan yang ada di dalam tabung kapsul setelah lima menit berakhir.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Alvaro menyuntikkan penawar racun milik keluarganya dan melihat waktu di pergelangan tangan. Hanya membutuhkan waktu lima menit dari efek yang harus di tahan oleh papanya, karena penawar itu bukan lah obat biasa.
"Periksa Asfa, papa bisa menahan ini." perintah tuan Luxifer yang langsung di angguki oleh Alvaro, sedangkan tuan Luxifer memilih mengambil sebuah tali tambang dan segera mengikat tubuhnya dengan kencang di sebuah tiang besi yang ada di ruangan rahasia itu.
"Ber tahan lah nak, papa masih ingin melihat senyuman mu." gumam tuan Luxifer yang sudah mulai merasakan panas dari tempat rasa sakitnya bermula.
Rasa panas disertai tusukan yang menekan pori-pori di dalam tubuhnya, syaraf yang perlahan melemah namun tingkat adrenalinnya meningkat. Hampir seperti obat bius dan obat terlarang di satu kan, memabukkan namun mematikan juga. Terdengar jelas deru nafas yang semakin cepat dan tubuh kekar yang sudah lemah itu perlahan mulai memiliki kekuatan lebih dan mulai meronta untuk menyalurkan rasa sakit yang melanda tubuhnya.
Alvaro yang melihat papanya sangat tersiksa, hanya bisa menjadi penonton dengan memeluk tubuh Asfa yang semakin membeku. Sungguh ada rasa bersalah dengan apa yang terjadi di depannya. Sekali lagi gagal melindungi adiknya, meskipun dirinya sudah ada di dekat Asfa. Terlebih lagi melihat pengorbanan papanya yang rela menyuntikkan racun ke dalam tubuhnya sendiri, demi menguji obat penawar yang di perhitungan sebagai obat Asfa dengan sukarela.
"Bertahan lah doll, lihat lah papa kita sangat lah luar biasa hebatnya. Kembali lah ke dalam pelukan kami, karena jiwa kami hanya lah kamu putri raja kami. Bertahan lah kakak mohon." bisik Alvaro dengan penuh harapan dan do'a.
Perjuangan tuan Luxifer beserta anggota keluarganya masih berlanjut di dalam ruangan rahasia dan tak seorang pun tahu dan melihat perjuangan itu. Berbeda dengan ruangan rawat Abhi yang kini menjadi tempat diskusi di antara dua lawan jenis dengan berbagai argument yang saling melengkapi.
__ADS_1
"Eeeuummm." suara lenguhan terdengar membuat kedua lawan jenis itu saling memandang ke arah datangnya suara.
...~~~...
Alvaro saat marah 👇
Zara 👇
.
.
. ***hay reader's , othoor sengaja up dua kali hari ini ya..
. esok othoor gak janji up ya, beneran othoor kecapean beresin kamar berturut-turut ampe nih telapak tangan harus di olesi minyak gosok saking pegel nya.
.
.
. 😭Mau nulis banyak tapi jemari ku pegel, gimna donk 🥺
.
.
. Maaf ya lau esok misalnya tetap gak up 🙏
.
.
__ADS_1
. Selamat berbuka puasa dan selalu semangat 🥰***