My Secret Life

My Secret Life
Bab 230: PERCAYA? - ADIL, TIDAK ADIL?


__ADS_3

"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa perkataan Asfa menyatakan sebuah bantahan. Apa maksudnya temukan kebenaran dari papaku?" Abhi berpikir keras seraya mengingat masa dimana tragedi yang merenggut nyawa sang bunda terjadi. "Saat itu Asfa datang bersamaku untuk makan bersama setelah dari taman. Situasi yang semakin buruk membuat ku gelap hati dan menjatuhkan talak. Tunggu dulu, jika benar semua itu rencananya. Apa iya seorang tersangka datang di tempat peristiwa?"


Bukan hanya pertanyaan tentang tragedi Cafe Highstar. Pria itu melihat ke sekelilingnya. Dimana hanya ada sinar rembulan di atas langit serta kekacauan dimana air danau tersebar ke seluruh tempat. Sesaat dirinya ingat kenapa bisa sampai ke tempat puing-puing sisa ledakan.


Beberapa jam lalu saat Ia tengah berbaring menatap foto pernikahan. Sebuah pesan singkat masuk memberitahu tentang musuh perusahaan. Sebagai seorang pemimpin, maka tugasnya memastikan tidak ada pengkhianat di dalam dunia bisnisnya.


Tanpa berpikir panjang. Dirinya memacu mobil meninggalkan kediamannya, dan menuju share lock yang dikirim oleh seseorang. Jika Asfa yang tahu soal tindakan gegabah Abhi, sudah pasti wanita itu akan mengatakan. "Pria satu ini terlalu naif. Meskipun didorong ke dalam jurang pun, dia tidak akan sadar."


Yah apapun pendapat Asfa. Kenyataannya Abhi hanyalah seorang pebisnis bukan seorang perencana. Cara keduanya tidak akan pernah sama, karena mereka adalah dua orang berbeda. Tak ingin berlama-lama di dalam kesunyian hutan. Langkah kaki Abhi berjalan meninggalkan hutan yang kini terlihat seperti baru saja diterjang badai.


Sementara di tempat lain, topeng hitam baru saja dilepaskan, lalu diletakkan di sisi kursinya. "Apa kakak tidak percaya padaku?"

__ADS_1


Pertanyaan lembut, tapi menusuk. Suara penuh tekanan tanpa pemaksaan, membuat makhluk di kursi depan tersenyum tipis. Ia sibuk membenarkan selimut merah motif mawar untuk menyelimuti bayi mungil yang terlelap di lengannya.


"Pertanyaan mu, jawabanku." balas makhluk itu tak ingin memperpanjang masalah sepele.


Queen menghela nafas, dari kaca spion tengah. Tatapan matanya terpatri pada wajah mungil yang tersenyum manis disaat memejamkan mata. Senyuman yang menular seperti semangat baru. "Apa Rose rewel, Ka?"


"Never. Rose selalu menjadi princess sweetie pie. Justru yang rewel mommynya, benar 'kan?" Vans melirik ke spion tengah hingga tatapannya terpatri pada mata biru yang perlahan meredup. "What happen?"


Queen menggelengkan kepalanya, lalu memilih memalingkan wajahnya menatap luar. Dimana hanya ada barisan pepohonan hijau. Ntah apa yang terjadi, hatinya terasa sakit. Disaat menatap sang putri yang harus kehilangan kasih sayang seorang ayah.


Queen kembali menatap kaca spion tengah agar tatapan matanya terpaut pada mata Vans. "Aku, ibu yang jahat, Ka. Kenapa aku menjauhkan Rose dari Abhi? Bukankah dia berhak melihat putrinya sendiri? Apa keputusan ku dianggap adil? Aku....,"

__ADS_1


"STOP!" Vans mengubah ekspresi wajah tenangnya menjadi tatapan tajam dengan gurat geram menahan emosi. "Adil, atau tidak adil. Apa dia pernah berpikir itu, sebelum menjatuhkan talak padamu? JANGANKAN melihat ke belakang. Pria bodoh itu bahkan tidak mempercayaimu sedikitpun. Jangan bahas hal tidak berguna, apa kamu paham Asfa? Aku rela melepaskanmu, ketika pria itu tepat untukmu. Bukan hanya kamu yang terluka disini, tapi ingatlah kakakmu, dan juga papamu!"


Untuk pertama kalinya seorang Vans bicara tanpa jeda. Pria itu melepaskan semua rasa tidak sukanya pada Abhi, dengan cara menasehati Asfa.


"I know, sorry." Queen menyandarkan tubuhnya, semua beban terasa menyesakkan.


"Sorry, periku. Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Hanya itu, ku harap kamu paham." balas Vans seraya memeluk Rose.


Setelah perdebatan singkat yang menguras emosi. Keduanya sepakat untuk diam menenangkan pikiran dan hati masing-masing. Bahkan supir pun seperti patung yang menyetir tanpa perlu menggunakan telinganya. Semua percakapan dianggap angin lalu.


Perjalanan selama dua jam berakhir menjadi lebih singkat, karena Queen terlelap dengan wajah sendu. Melihat hal itu, hati Vans tersayat. Tidak pernah sekalipun dirinya berniat membentak, apalagi melawan peri kecilnya. Hanya saja terkadang jiwa keibuan Asfa seperti bumerang.

__ADS_1


"Tuan, kita sampai." lapor sang sopir pelan agar tidak mengganggu nona mudanya bangun.


Vans mengibaskan tangan kanannya, membuat pria berseragam bodyguard itu turun terlebih dahulu. Sementara Vans masih stay sejenak di kursi penumpang. "Aku sangat mencintaimu, periku. Meskipun aku tahu dimana posisiku. Aku tidak pernah mencoba melewati batas ku. Kamu bukan hanya malaikat bagiku, tapi juga nyawaku. Ku harap, kamu bisa mengerti rasa di hatiku ini."


__ADS_2