My Secret Life

My Secret Life
Bab 232: KEBENARAN PAPA?!


__ADS_3

"Tidak ada apapun di dalam lampu gantung ini, tapi tunggu dulu." Sang perusuh melihat sebuah tombol di balik tempat lampu gantung itu berada, setelah menekan tombol ada suara sesuatu yang bergeser. "Suara itu dari dalam kamar mandi."


Ceklek!


"WHAT'S?!"


Begitu kamar mandi dibuka, kaca yang biasanya menjadi tempat berkaca sudah bergeser ke sisi kanan dan menampakkan sebuah pintu lain yang membuat Abhi tercengang. Ia berjalan memasuki kamar mandi dengan tatapan tak teralihkan.


"Sejak kapan ada pintu di balik kaca? Apakah ini artinya....," Abhi berpikir semua kemungkinan, tapi di dalam hatinya masih berkobar keraguan. "Tidak! Papa orang baik, dan aku percaya itu. Daripada aku menerka-nerka. Sebaiknya aku periksa saja."


Uluran tangannya maju, mundur karena bimbang. Hati dan pikiran kembali berperang, tapi kali ini tentang kepercayaan seorang anak pada ayahnya. Ada bibit keraguan yang mulai menyusup, perlahan memantapkan niat dengan satu keputusan yang bulat. Abhi membuka pintu rahasia, lalu mendorongnya perlahan.


Awalnya hanya ada kegelapan hingga pintu terbuka sempurna mendadak lampu menyala sepanjang lorong. Lorong panjang dengan jarak pandang sepuluh meter berada di depan pria itu. Dimana kini satu langkah kakinya mulai memasuki lorong lampu kuning.


Tap!


Tap!


Tap!

__ADS_1


Suara langkah kaki terdengar menggema, membuat irama detak jantung ikut bermain genderang. Semakin masuk ke dalam lorong, perasaan di hatinya semakin tak tenang. Ada rasa takut yang tiba-tiba saja menyusup, ada teriakan dari dalam pikiran untuk menghentikan semua tindakannya. Hingga lorong berakhir dengan sebuah pintu lain di ujung lorong.


Ceklek!


Aroma anyir yang menyengat langsung membuat Abhi menutup hidungnya dengan tangan. Gelap dan engap langsung menyambut kedatangannya, "Ini tempat apa? Dimana saklar lampunya?"


"Pake HP saja, setidaknya senter bisa membantuku sekarang." Abhi mengambil ponselnya, lalu menyalakan senter untuk menerangi ruangan gelap di depannya.


Terlihat samar, tapi cukup untuk mengamati seluruh ruangan. Setiap inci di jelajahi hingga tatapan matanya terhenti pada sebuah papan putih dengan berbagai coretan dan gambar. Senter diarahkan lebih dekat. Sebuah foto familiar terpajang dengan silang pulpen merah, lalu beralih ke foto dan setiap coretan.


Rasa sesak di dada mendadak tak mampu terkendali. Rasa sakit, hancur, dan kecewa melebur menjadi satu. Tatapan mata biru itu berubah menjadi sendu, marah, dan tersayat. "Papa? AARRGGHH!"


Di papan itu bukan hanya tentang rutinitas Mahendra yang terbiasa menyiksa sang istri. Ada tragedi kematian sang kakek yang semua orang pikir itu adalah penyakit orang tua, ternyata hanyalah sebuah rekayasa belaka. Ada tragedi perebutan kekuasaan di dalam perusahaan ABF Company, dan yang paling menyayat hati adalah tragedi cafe HighStar.


"Kambing hitam target Asfa. Persembahan Aliya, tersangka kedua Wanita tua Aranda. Rencana kedua, penembakan pewaris mafia Phoenix dan peledakan tempat perkara."


Glek!


Secarik tulisan yang berisi kejadian singkat di cafe HighStar berulang kali dibaca Abhi, tapi bibirnya tidak bisa berhenti menghafalkan peristiwa yang kini menjadi sesal terbesar dalam hidupnya. Hingga memori di dalam otak mengulang kejadian beberapa bulan lalu. Dimana hari itu semua berakhir tanpa ada awal.

__ADS_1


"Penembakan? Queen."


"Peledakan? Cafe HighStar."


"Tersangka? Nenek Ara."


"Kambing hitam? Asfa."


"Korban? Bunda."


Bruuug!


Seperti badai yang datang tanpa diundang. Kebenaran yang tersaji, membuat tubuh Abhi ambruk terbalut kehancuran hati, kekosongan jiwanya. Orang yang selalu dipercaya ternyata dalang dan penyebab kehidupannya menjadi tak berarti. Rasa sesak di dada tak lagi tertahankan. Mata merah dengan gigi gemeretak, membuat Ia hilang arah.


"ASFAAA....,"


Deg!


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

__ADS_1


Segelas air putih di ulurkan, "Minum! Apa ada yang merebut makananmu? Pelan saja makannya!"


__ADS_2