My Secret Life

My Secret Life
Bab 145: Makan malam di Villa Delima


__ADS_3

Ting.. Tong…


Suara bel, membuat detak jantungnya meloncat. Seperti ada yang mengejutkan dirinya. Melalui interkom, ternyata hanya seorang satpam penghantar bucket bunga pesanannya. Pintu dibuka. "Dari toko bunga Mekar?"


"Bukan pak. Ini dari seorang gadis dengan topeng hitam." tukas pak satpam dengan serius.


"...."


"Hay dad. Apa aku harus menunggu didepan?" ucap Asfa dan muncul di balik sudut lorong.


Sejurus tuan Luxifer menggaruk tenguk yang tidak gatal. Kemunculan Asfa sukses membuat skot jantung tanpa alarm, membuat tuan Luxifer tersenyum canggung. Dengan penyamaran tindakan, tentu saja hal mudah baginya. "Masuklah nak, ini rumahmu juga."


"Of course dad, where you live also my home. (Tentu saja Ayah. Di mana Anda tinggal juga rumah saya.)" Asfa berjalan menghampiri sang Ayah dan mengambil bucket bunga mawar merah seribu tangkai dari pak satpam.


Dengan senyuman manis Asfa mengulurkan bucket bunga kepada tuan Luxifer, tuan Luxifer menerima dengan senang dan memberikan pelukan hangat untuk putrinya. Hingga suara yang lembut membuat kedekatannya dengan Asfa terhenti. "Malam Mas. Maaf tadi macet."


Asfa menoleh ke sumber suara bersamaa dengan lepasnya tangan sang papa dari memeluknya. Sejenak mengamati bagaimana interaksi sang papa dengan wanita yang baru saja muncul. Dalam pandangan Asfa, papanya bahagia dengan wanita itu dan begitu pula sebaliknya. Sungguh rasa pening mendadak muncul, ingin rasanya berteriak tapi bukan waktunya.


Kuharap ini yang terbaik. Aku tidak ingin melukai siapapun. Kenapa selalu ada halangan! Sebaiknya aku fikirkan ulang tentang keputusanku.~ batin Asfa menyadarkan punggungnya ke tembok dengan tangan bersedekap.


Lima menit berlalu… .


"Ekhem! Aku akan menunggu di dalam." dehem Asfa dan memutuskan masuk Villa terlebih dahulu.


Tuan Luxifer berhasil menepuk jidatnya sendiri, dan memandang punggung Asfa dengan cepat. Sungguh dirinya lupa jika ada Asfa di tempat yang sama, percakapan absurd dengan kekhawatiran alhasil didengar putri rajanya. "Ayo masuk Zoya! Kenapa aku bisa melupakan gadisku."


"Relax sayang. Putrimu terlampau dewasa. Ayo kita buat malam ini special." Zoya mengusap lengan tuan Luxifer dengan lembut, menggandeng tangan kekar itu untuk memasuki villa bersama.

__ADS_1


Ceklek…


Mata sejoli itu terpaku, ketika memasuki villa. Terlihat Asfa sudah melepaskan topeng hitamnya dan duduk bersantai dengan sebotol wine di depannya. Wine dengan kualitas terbaik yang memiliki tingkat alkohol cukup membuat seseorang terbang. Tuan Luxifer melepaskan tangan Zoya dan berjalan cepat menuju gadisnya. "Queen. what is this! (Queen. Apa ini!)"


Bukan jawaban, tangan Asfa bergerak dan membuka botol wine. Di atas meja ada tumpukan gelas mungil berbentuk piramida yang siap menerima kesegaran wine. Dengan santainya Asfa menuangkan sebotol wine dari puncak teratas gelas tanpa beralih dari satu titik itu. "What daddy knows, this is what happens in our lives. This top glass is the position of father, father who became a nahchoda in the pyramid. Now tell me, should I change my way?(Apa ayah tahu, inilah yang terjadi dalam kehidupan kita. Satu gelas teratas ini adalah posisi ayah, ayah yang menjadi nahkoda dalam piramida. Sekarang katakan padaku, apa aku harus mengubah caraku?)"


Seperti satu peringatan dengan cara halus namun tepat sasaran. Bisakah dirinya sedikit mengubah peraturan dan kepintaran putrinya? Inilah sosok lain dari Asfa. Lembut dan mematikan. Ucapan manis tapi menusuk. Ketika jalannya adalah melenceng, maka tangan mungil itu siap membenarkan.


Tak… (botol wine kosong diletakkan di meja, gelas piramida penuh dengan wine meluber kemana-mana)


Tuan Luxifer menghembuskan nafas dalam, dan memilih ikut duduk disebelah putrinya. Sejenak memandang perumpamaan yang di buat oleh Asfa. Tumpahan wine yang meluber kemana-mana menjelaskan bagaimana hasil dari sebuah kepemimpinan, ketika sang pemimpin tidak berhati-hati. Maka hasil terburuk, seperti nasib wine itu. Terbuang sia-sia dan tak lagi berguna.


"Duduklah! Sampai kapan anda berdiri? Nona Zoya Attala." Asfa melirik Zoya sekilas, membuat Zoya sadar akan kekagumannya.


"Sorry." ucap Zoya dan memilih duduk disofa single.


"When did you take over the Luxifer business kingdom?(Kapan kamu mengambil alih kerajaan bisnis Luxifer?)" tanya tuan Luxifer membalas tatapan Asfa.


Reflek tangan Asfa menyentuh kening dan leher sang papa. Sedangkan Zoya memilih diam mengamati interaksi ayah dan anak di depannya. Terlihat jelas cara didikan tuan Luxifer begitu mendarah daging di dalam diri Asfa, pantas saja Asfa dewasa sebelum waktunya.


"Where will your relationship be taken? Daddy knows, i have no right to take what is not mine.(Hubungan kalian akan dibawa kemana? Ayah tahu, aku tidak berhak mengambil yang bukan milikku.)" Asfa menghela nafas karena satu ucapan sang papa bisa mengakibatkan masalah tak berujung.


Terlebih bagi Asfa hartanya sudah lebih dari cukup. Dan mengambil alih kepemimpinan kerajaan bisnis Luxifer, maka sudah pasti dengan tahta mafia Phoenix. Sedangkan kini didalam keluarga Luxifer memiliki anggota lama dan anggota baru, jika bertindak tanpa musyawarah. Sudah pasti akan menimbulkan masalah yang bisa dihindari.


Tuan Luxifer paham maksud dari Asfa, dengan lembut tuan Luxifer meraih tangan putrinya. Memberikan kecupan berulang kali. "Daddy had asked Varo to take over, but Varo refused because this was yours. You know the company Aranda also needs Varo, I think this road will make your brother back to his true throne.(Ayah sudah meminta Varo untuk mengambil alih, tapi Varo menolak karena ini milikmu. Kamu tahu perusahaan Aranda juga membutuhkan Varo, kurasa jalan ini akan membuat kakakmu kembali ke tahta sejatinya.)"


Satu alis Asfa terangkat, tatapan matanya tajam menghujam sang papa. Mata birunya mengeluarkan aura intimidasi. Ucapan sang papa sukses membuat Asfa berfikir lagi. Hingga Asfa menerbitkan senyuman manis dengan satu lesung pipi. "Than how with Zoya? Rania? Abhi?"

__ADS_1


Greeb….


"Semua akan mendapatkan bagian yang adil. Tapi tahta tetap milik satu orang! Papa percaya, putri raja ku pasti berjiwa adil. Seperti seorang ibu yang akan memberikan kasih sayang rata pada semua anaknya. Queen Asfa Luxifer berjiwa iblis tapi tidak dengan hatinya." Tuan Luxifer memberikan bisikan dengan penuh arti, bisikan itu menjadi Skakmat bagi Asfa.


Memahami satu sama lain menjadikan hubungan semakin erat. Dan hal itu bisa menjadi bumerang jika memiliki permusuhan, tapi keluarga Luxifer selalu percaya satu sama lain. Keras kepala dan keegoisan masing-masing hanya untuk kebaikan bersama, tangan Asfa membalas pelukan sang papa. "Give me time 1 years.(Beri aku waktu 1 tahun.)"


"One years? Why?( Satu tahun? Kenapa?)" tanya Tuan Luxifer dan melepaskan pelukan, matanya mencari jawaban.


Asfa mengalihkan pandangan, dan menatap Zoya. Dari balik riasan wajah itu, Asfa tahu wanita itu tidak bisa terlalu lelah. "Bahkan papa tidak menawari ku makan! Lalu bagaimana aku menjadi pemimpin? Putri mu juga membutuhkan makan."


Pluk.. (satu tepukan dilengan Asfa membuat gadis itu tersenyum jail.)


"Tersenyumlah nak, kamu sangat cantik dengan keceriaan ini." celetuk Zoya yang ikut tersenyum melihat tingkah jail dan manja Asfa.


Asfa tahu sang papa bersiap untuk mengenalkan dirinya dengan Zoya. "Pa, lapeer. Bukankah papa memasak? Ayo makan."


Wajah imut dengan puppy eyes. Sukses membuat tangan tuan Luxifer mencubit pipi Asfa, dan matanya melirik Zoya. Zoya mengangguk tanda setuju untuk makan malam terlebih dahulu. "Ayo, papa buat special dinner."


"Kali ini, aku pindah haluan! Aku ingin bersama nona Zoya." Asfa mengedipkan satu matanya dan beralih mendekati Zoya yang menahan tawa, karena wajah masam kekasihnya itu.


"Baiklah. Ladies, come dinner together." ajak tuan Luxifer dengan membungkukkan setengah badan.


Ketiga insan itu berjalan menuju ruang makan, dimana telah tersaji beberapa jenis makanan berbeda dengan aroma yang menggoda. Tuan Luxifer dengan semangat menarik dua kursi untuk dua wanita di hadapannya. "Sit down my queen."


"Zoya, duduklah."


Lihatlah Asfa sudah menatap makanan diatas meja dengan mata berbinar, kebiasaan gadis itu tidak berubah ketika dihadapkan dengan makanan favoritnya. "Mari kita berlibur bersama?"

__ADS_1


...~~~...


__ADS_2