My Secret Life

My Secret Life
Bab 50: Apartemen Lavender


__ADS_3

Suasana menjadi hening dengan kedua pria yang sibuk meneguk wine menikmati keheningan di dalam lingkungan villa yang cukup sunyi, sedangkan di belahan negara lain tengah terjadi perdebatan tanpa akhlak antara dua makhluk lawan jenis.


"Apa ini yang di namakan kontrak hah? Aku tidak percaya! " seru satu makhluk dengan kedua tangan di pinggangnya.


"Come on ladies, kita bukan anak-anak. Apa masalahnya dengan tinggal satu apartemen?" jawab seorang pria dengan santai.


"Tidak! Kontrak itu tidak mengharuskan kita tinggal seatap." tolak wanita itu dengan menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Artinya kamu sudah sepakat apapun hasilnya setelah tanda tangan kontrak. Cepat kemasi barang mu, aku tunggu lima menit. Tidak ada penolakan lagi." ucap pria itu dengan melangkah mendekati pintu.


"Ingat hanya lima menit Hanna." peringatan pria itu sebelum menutup pintu meninggalkan wanita nya yang tengah memijat pangkal hidungnya.


"Siaa@@l! Kenapa jantungku lari maraton. Aku harus apa sekarang? Juustiin kenapa aku mencintai mu." seru frustasi wanita itu dan dengan berlari mengambil koper di dalam lemari nya.


Yah sosok itu adalah dokter psikiater yang kini hanya menganggur di dalam rumah mewah queen dan akhirnya memiliki pekerjaan baru meskipun pekerjaan baru nya kali ini tidak ada sangkut pautnya dengan profesi nya sebagai psikiater.


Beberapa hari yang lalu kedatangan assisten queen nya menjadi sebuah awal kontrak kerja baru untuk nya, padahal di hari itu dirinya berfikir queen nya juga akan datang karena hal penting yang ingin di sampaikan nya. Tapi justru pertemuan singkat itu membuat nya terjebak dengan pria tampan namun dingin yang selalu menyebalkan di mata nya tapi di dalam hati nya sudah menduduki tahta tertinggi, hati nya bukan hanya cenat cenut tapi juga harus menjaga gengsi agar assisten queen nya tidak tahu perasaan sesungguhnya seorang dokter psikiater itu.


"Sudah siap, ayo." ajak Justin mengambil alih koper sedang ditangan dokter Hanna dan menggandeng tangan wanita itu memasuki mobil van hitam miliknya.


"Bisakah lepaskan tanganmu tuan?" pinta Dokter Hanna setelah memasuki mobil.


"Geser!" jawab Justin tanpa melepaskan genggaman tangan.


Tanpa menjawab lagi, tubuh nya di geser dan kini keduanya duduk berdampingan di kursi belakang tanpa mempedulikan sosok di luar mobil yang tengah memasukkan koper ke bagasi belakang, setelah memastikan tertutup, sosok itu memasuki mobil bagian kursi pengemudi. Yah kini bukan hanya menjadi pesuruh saja tapi juga menjadi seorang sopir untuk tuan menyebalkan yang kini tengah kasmaran tanpa melihat tempat, bahkan pria itu dengan santai nya menciumi tangan wanita nya.

__ADS_1


"Kau menunggu kiamat? Jalan! " perintah Justin tanpa melihat ke depan.


"Hust, bicara mu itu tuan. Jalan saja pak." ucap Hanna dengan menatap kursi depan.


"Jaga mata mu Leo! " ancam Justin yang melihat pria muda di depan melirik ke arah Hanna.


"Terserah anda Tuan." gumam Leo menyalakan mesin mobil dan meninggalkan sebuah rumah mewah di pusat perkotaan yang ntah siapa pemilik nya karena sejak memasuki gerbang tuan Justin terhormat hanya meminta nya berjaga di dekat mobil.


Mobil melintasi melewati berbagai sarana umum yang sudah dipastikan untuk memudahkan para penghuni kawasan elite di pusat kota, mobil menuju ke deretan gedung pencakar langit dengan tulisan yang sangat besar di atas sana. Apartemen Lavender, yah tiga gedung pencakar langit yang menjadi satu kepemilikan itu adalah tujuan warga di dalam mobil van itu, setelah memasuki parkiran yang ternyata adalah parkiran khusus dengan card yang di sodorkan tuan Justin kepada seorang petugas keamanan.


"Bawa koper itu! " perintah Justin setelah turun dari mobil menggandeng tangan Hanna.


"Nasib, aku ini assisten atau babu ya? Leo apa bedanya kedua kata itu? " gumam Leo menoyor kening nya sendiri dengan menjalankan perintah Justin.


Mengikuti langkah pasangan yang seperti baru pulang dari pernikahan, ketiga nya memasuki sebuah lift kaca dengan no lantai 50 yang ditekan oleh Justin. Tidak ada percakapan selain keheningan membuat pria kacamata di pojok lift menghela nafas menetralkan perasaan nya yang sudah tidak kondusif.


"Itu tempat tinggalmu yang baru, dan ini kamar pribadi ku. Seluruh ruangan diperbolehkan untuk di kunjungi, kecuali kamar dengan pintu emas , kamar pribadi ku dan ruangan kerja di samping kamar pintu emas." ucap Justin menjelaskan peraturan apartemen nya.


"Ini berlaku untukmu juga Hanna, kamar dan ruang kerja di sana adalah larangan untuk di kunjungi. Kalian paham? " ucap Justin memberikan peringatan.


Di ambilnya koper yang sudah tergeletak, bukan hanya koper tapi juga tangan wanita nya kini ada di genggamannya. Setelah melihat tuan Justin memasuki kamar pribadi nya, Leo berjalan memasuki sebuah pintu yang dikatakan itu akan menjadi tempat tinggalnya saat ini.


"Wow.Apa aku salah kamar? Tapi, coba aku pastikan." ucap Leo keluar dari kamar nya dan menatap pintu lain yang sudah tertutup rapat.


Dengan niat menggebu yang luntur mengingat akan lebih baik diam dibandingkan komplain, kaki nya kembali memasuki kamar yang termasuk mewah meskipun tempat tidur itu bukan king size tapi kamar nya memiliki fasilitas lengkap seperti sebuah hotel berbintang. Siapapun yang memiliki apartemen itu sudah pasti mengeluarkan biaya yang tidak hanya sedikit dengan fasilitas yang sangat wow bagi seorang assisten seperti dirinya.

__ADS_1


Leo seperti nya tidak tahu jika satu lantai itu sudah menjadi apartemen milik Justin dan sudah diubah seperti desain dari pemilik pertama, maka dari itu setiap kamar memiliki fasilitas lengkap dan tidak akan menganggu penghuni kamar lain. Dan tentu saja di dalam apartemen yang memiliki empat kamar tamu dan satu kamar utama dengan satu ruangan kerja di tambah ruangan makan bersatu dengan pantry dan sebuah ruang tamu dengan desain taman minimalis.


"Sebaiknya aku pelajari dulu berkas yang sudah masuk ke e-mail ku sebelum istirahat." ucap Leo setelah puas melihat fasilitas di dalam kamarnya.


Di dalam sebuah mansion dengan banyak nya jumlah penghuni tidak membuat mansion itu menjadi sempit karena mansion itu mampu menampung warga satu desa dengan padat penduduk, terlihat dua makhluk berjas putih berjalan beriringan dengan sebuah papan yang ada di tangan makhluk ber jas dengan rambut sebahu nya.


"Permisi, waktunya pemeriksaan." ucap makhluk berjas dengan rambut sebahu mendekati ranjang yang di diami seorang pria dengan bersandar di tempat tidurnya.


"Biarkan aku sendiri." cegah gadis dengan pakaian fashionable yang baru keluar dari dalam kamar mandi.


Makhluk ber jas dengan rambut sebahu ingin menjawab namun satu isyarat dari depan itu membuat nya diam dan hanya menunduk, membiarkan tangan gadis itu melakukan pemeriksaan dan dirinya hanya bertugas mencatat hasil pemeriksaan.


"Doc, kapan operasi mata Mas Abhi bisa di lakukan? " tanya gadis itu setelah menyelesaikan pemeriksaan.


"Esok tapi tergantung kesiapan pasiennya, donor mata sudah tersedia." jawab makhluk berjas yang ada di depan pintu.


"Operasi secepatnya dok, aku ingin melihat kembali. Tanggungjawab ku masih banyak." ucap Abhi dengan tegas.


"Calm down boy, operasi pasti akan dilakukan tapi singkirkan semua beban fikiran itu saat ini." ucap gadis itu dengan menepuk pundak suaminya.


"Aku akan menuruti ucapanmu Asfa, karena kamu mata ku saat ini." jawab Abhi dengan serius.


Satu lambaikan tangan membuat kedua makhluk berjas meninggalkan kamar pasien menyisakan kebersamaan dua insan yang masih dalam penjelajahan, beberapa pertanyaan yang berakhir pada jawaban buntu membuat keduanya sedikit demi sedikit saling memahami.


Bip..Bip... (satu suara notifikasi terdengar lirih)

__ADS_1


[Dimana pangeranku? Dia milikku, sampai kapanpun akan tetap menjadi milikku.]


Sebuah pesan dengan nomer baru, di biarkan nya tanpa membalas setelah pesan itu terbuka. Mata nya kini tertuju pada pria yang tengah menikmati waktu bersantai tanpa tekanan pekerjaan apapun tapi tidak dengan jiwanya yang mungkin mengalami tekanan akibat keadaannya yang buta dan lumpuh.


__ADS_2