
Suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya, membuat nya menghampiri meja kerja nya dan benda pipih itu terus berbunyi sedangkan earphones baru saja di lepaskan setelah memasuki ruangan nya tadi.
"Kapan kamu kembali? Sebentar lagi suami mu siuman." ucap orang di seberang.
"Tunggulah satu jam lagi." jawab Asfa mematikan telfonnya.
Di sambarnya jaket kulit yang tersampir di kursi kebesaran nya, dan kunci mobil yang ada di meja. Berjalan menyusuri lorong yang sepi dan memasuki lift kembali sampai ke lantai dasar dimana mobil nya terparkir, dengan gaya yang stylish kini mobilnya keluar dari kawasan perusahaan RA company.
Ditengah perjalanan mobilnya harus terhenti karena keributan yang ada di depannya, dilihat nya warna langit yang mendung membuat mood nya ikut mendung. Rasa nya malas ikut campur tapi ada yang menunggu kedatangannya dan jika terlambat sudah pasti akan ada pertanyaan yang tidak bisa di jawab nya.
Mau tidak mau kaki nya melangkah meninggalkan mobil sport nya dan berjalan melihat apa yang sedang di lakukan segerombolan pria berjaket hitam di depan nya, dari sela-sela kaki itu tak nampak apapun dan itu membuat Asfa penasaran.
"Bisakah kalian minggir? Atau harus ku tabrak." ucap datar Asfa dan berdiri didepan mobil yang lampu nya menyoroti tubuhnya.
"Wah wah ada pahlawan kesiangan. Apa yang membuat mu kemari nona? " ucap sinis seorang pria yang berbalik dan membuat lingkaran itu tidak rapat lagi.
"Minggir!" ucap Asfa dan berbalik badan untuk kembali masuk ke dalam mobilnya.
"Tolooong.. tolooong.. empt. " seru seseorang yang langsung di bekap dan suara itu menghentikan langkah Asfa.
"Hhaah, terlambat lima menit aku rasa tidak masalah." batin Asfa dan berbalik menatap gerombolan itu.
Terlihat gerombolan itu memang menyingkir tapi menyeret sesuatu yang sudah jelas manusia, membawa ke sisi jalan dimana ada pepohonan besar yang terlihat daun nya tumbuh subur. Langit yang mendung menandakan hujan akan segera turun memberikan bumi minuman termanis yang mampu menumbuhkan tunas-tunas baru.
Di ikuti nya gerombolan itu dengan langkah cepat, dan terlihat jelas seseorang kini terikat di sebuah pohon dan beberapa pukulan sudah membungkam orang itu.
"Lepaskan dia." seru Asfa dengan dingin.
"Hahaha kau lagi nona. Kami sudah menyingkir tapi rupanya kau mau bergabung. Ayo aku bantu kemari." ucap pria sama namun kali ini terdengar suara nya adalah ejekan.
Terdengar langkah kaki nya sangat lambat dan satu tangannya terulur untuk menyentuh pundak nya, dan dengan satu gerakan cepat di tarik nya tangan itu dengan sebuah bantingan keras dan putaran tangan mematahkan engsel pria itu sebelum menyentuh jaket mahalnya.
Bruug,,, kraaak... Aaaarggh...
Seru pria pertama yang langsung mendapatkan hadiah patah tulang di tangan nya, gerakan cepat dengan kekuatan yang tidak bisa di anggap remeh. Melihat pemimpin mereka terkulai dengan jeritan membuat pria lainnya berlari menyerbu satu penyerang, tanpa kehilangan ketenangan kini tangan nya yang masih setia memegang tangan pria di bawah kaki nya dengan cepat menarik tangan patah itu dan melemparkan ke arah gerombolan yang berlari.
Buuug.. Duuug....
Terjatuh dengan tertimpa tubuh boss mereka, tapi bukan itu yang membuat mereka ngilu melainkan kondisi boss nya. Tangan kanan itu seperti boneka mainan yang bisa di mainkan sesuka hati nya, terlihat langkah kaki gadis dengan topeng mendekati gerombolan yang bagaimana kawanan tikus terjepit.
"Pergi! Atau." perintah Asfa dengan menodongkan senjata api nya.
__ADS_1
"Ampuni kami, kami akan pergi." ucap seorang pria yang langsung memberikan isyarat untuk meninggalkan tempat itu.
"Hey bawa boss kalian! " seru Asfa yang tidak habis fikir dengan tingkah gerombolan preman gadungan itu.
Bukannya mengangkat boss mereka yang sekarat dan pergi tapi justru gerombolan itu membanting tubuh boss mereka dan berlari tanpa hati, namun teriakan Asfa tidak di hiraukan membuat gadis itu geleng-geleng kepala.
"Tooloong." ucap lirih dan mungkin dengan malu, boss preman gadungan memohon di bawah kaki seorang gadis tak berwajah.
"Hmm." ucap Asfa meninggalkan boss preman gadungan dan mendekati pohon besar yang mengikat seseorang.
Terlihat seorang pemuda dengan wajah penuh lebab, namun netra mata nya tidak akan pernah lupa dengan wajah itu. Wajah yang menghancurkan masa kecilnya, tapi lihatlah keadaan pria dewasa itu yang terlihat mengenaskan.
Niat menolong nya kini luntur seketika setelah melihat wajah pemuda yang tak sudi di lihat nya lagi, kini dirinya lebih memilih menolong boss preman gadungan yang terkapar di tanah dibandingkan menolong pria yang terikat di pohon.
"Diam." ucap Asfa dengan memapah tubuh yang cukup berat tapi saat tadi bertarung rasanya sangat ringan, ternyata emosi sangat mempengaruhi situasi.
Setelah memasukkan boss preman gadungan ke dalam kursi sebelah nya, kini tangannya meraih benda pipih miliknya dan menelfon sebuah rumah sakit terdekat untuk mengambil korban sebenarnya. Di lajukan nya mobil nya dengan kecepatan tinggi, waktu nya terbuang sia-sia namun siapa sangka orang yang akan ditolong nya itu adalah dia.
Perjalanan selama lima belas menit menjadi terasa lebih lama padahal kecepatan sudah di atas rata-rata, setelah melihat sebuah gerbang mewah dan klakson di bunyikan dengan tidak sabar. Satpam membuka gerbang dengan buru-buru, melihat mobil sport itu masuk dengan kecepatan yang membuat satpam mengelus dada nya sendiri.
"Kalian bawa pria itu dan minta dokter Bia untuk mengobati nya." perintah Asfa dengan melemparkan kunci mobil nya ke bodyguard di depan halaman.
"Sudah jangan difikirkan, lebih baik kamu panggil dokter Bia dan aku bawa pria ini ke kamar ku." ucap satu bodyguard yang paham jika kedua otak itu memikirkan hal sama.
"Okay, awas nanti jatuh tangannya." jawab bodyguard satu nya dengan melangkah menjauh, tujuannya adalah sebuah kamar yang terletak di deretan sama dengan tamu lainnya.
Tok... tok.. tok...
"Dok, bisakah keluar sebentar? " ucap bodyguard itu, namun ketukan lagi di lakukan nya tetap pintu itu tertutup.
"Ada apa? " tanya seorang pria yang baru menuruni tangga.
"Maaf tuan, queen membawa seseorang tapi keadaan orang itu cukup miris dan queen meminta saya untuk memanggil dokter Bia... " ucap bodyguard itu menceritakan kronologi.
"Tunjukkan!" perintah pria itu memotong ucapan bodyguard.
"Mari tuan." jawab bodyguard itu tanpa mengeluh selain kesabaran yang harus di pertebal.
Dengan langkah jenjang nya kini keduanya memasuki sebuah kamar sedang dan terlihat seorang bodyguard lain tengah menjaga seseorang yang terbaring di tempat tidur, dengan cekatan di periksa luka dan apa saja yang telah terjadi. Sesaat wajahnya hanya tegang namun ekpresi itu kembali datar setelah selesai melakukan pemeriksaan, di tatapnya dua bodyguard yang masih menunggu hasil pemeriksaan.
"Dimana queen? " tanya pria itu tanpa menjelaskan keadaan pria yang pingsan.
__ADS_1
"Maaf kami tidak tahu, tapi mungkin kamar pribadi nya tuan." jawab bodyguard yang menunjukkan kamar tadi.
"Ok, sebentar lagi dokter Bia akan kembali ke kamar, minta dia untuk memberikan pengobatan pertama pada pria ini." perintah pria itu dan meninggalkan kamar salah satu bodyguard mansion mewah itu.
"Sebenarnya siapa Dokter Alvaro? Kenapa queen terlihat dekat sekali dengan nya." gumam bodyguard yang duduk di sisi tempat tidur.
"Mata mu boleh melihat tapi jaga lidahmu. Ingat siapa kita tanpa queen." peringatan bodyguard satu nya yang terlihat serius.
"Aku tahu, tidak seharusnya aku bertanya seperti itu." ucap bodyguard itu dengan menangkup wajah nya.
Sedangkan pria yang kini sudah berdiri di depan sebuah pintu kamar pribadi dengan cekatan membuka pintu setelah password dan retina mata nya terpindai, terlihat kamar yang hening dan aroma bunga menyeruak memasuki rongga hidung nya. Terdengar suara gemericik air dari arah kamar mandi membuat nya melangkahkan kaki mendekati lemari hitam, di ambilnya sebuah atasan putih dan di padukan dengan rok hitam di atas lutut.
Pakaian pilihannya sudah tergeletak di atas tempat tidur king size dan kini langkah kaki nya menyiapkan sesuatu yang special dengan beberapa bahan yang tersedia di kulkas mini di dalam kamar mewah itu, tujuannya adalah balkon dan satu meja kaca dengan dua kursi kini di tata sedemikian rupa ditambah dengan lilin yang menyala.
Tidak berselang lama pintu kamar terbuka dan melihat pakaian di atas tempat tidur membuat gadis itu melirik ke arah balkon, ada sesuatu yang menarik perhatian nya namun tentu saja setelah berpakaian dengan benar barulah dirinya menghampiri balkon dengan langit yang mulai menggelap.
"Kak." panggil gadis itu membuat pria yang menatap langit berbalik.
"Duduk, ayo kita makan." ajak pria itu menggeser satu kursi dan gadis nya duduk dengan tenang.
"Memandang seperti itu tidak akan mengubah wajahku kak." ucap gadis itu dengan menyuapkan salad buah ke dalam mulutnya.
"Apa yang terjadi?" tanya pria itu dan kali ini semakin serius.
"Tidak ada, bagaimana operasi nya? " tanya balik gadis itu tanpa menghentikan makanan masuk ke mulutnya.
"Lancar, dan aku terpaksa menyuntikkan obat tidur lagi sebelum suami mu sadar." jawab pria itu ikut mengambil salad buah di mangkuk yang sama.
"Tenangah singa ku, Queen Asfa Luxifer bukan anak kecil lagi." ucap Asfa dengan tersenyum manis.
"Kakak tunggu kejujuranmu, sekarang istirahat lah dan kakak akan menemani mu malam ini." perintah pria itu mutlak.
"Masih ada satu pekerjaan lagi, setelah itu baru istirahat." jawab Asfa dan menyelesaikan makan nya.
"Queen Asfa Luxifer." panggil pria itu dan membuat wajah mungil itu memandang tajam kakaknya.
"Alvaro Caesar." ucap dingin Asfa dengan mata elang biru menantang kakaknya.
"Baiklah, istirahat sejenak. Makan malam masih satu jam lagi, kamu bisa menemui mereka di ruang makan." ucap Alvaro mengalah.
Ada kala nya jiwa kepemimpinan seorang Alvaro akan luntur ketika mata tajam elang biru itu siap menerkam mata tajam miliknya, bukan merasa kalah tapi tatapan itu mengingatkan nya pada almarhum mama nya membuat jiwa nya tunduk tanpa penolakan.
__ADS_1