My Secret Life

My Secret Life
Bab 110: Nada bariton Alvaro


__ADS_3

"Cinta membuat jiwa ku membara, my sweetheart.'' gumam Zain di sela siulan nya dan membiarkan jendela mobil di sebelah nya terbuka dan membiarkan hembusan angin menerpa wajah nya.


*Siapa dia ka? Aku ingin lihat seberapa cantik wanita yang membuat mu tergila-gila.* batin Lovely yang masih bisa mendengar gumaman Zain.


Suasana di dalam mobil begitu riuh hanya dengan siulan seorang Zain yang tengah di mabuk asmara, berbeda lagi dengan suasana yang panas di dalam sebuah kamar rawat. Dimana kini tiga pria berbeda usia duduk saling berhadapan dengan tatapan yang sulit di artikan, ada tatapan yang seolah me minta per tanggungjawab an, Ada yang me minta penjelasan hingga membuat ke tiga pria itu menghela nafas secara bersamaan.


Hhaaaah.... (begitu lah helaan nafas ketiga pria yang akhirnya seperti orang kebingungan)


" Varo jelaskan! " perintah tuan besar dengan menatap putra nya yang menggaruk kepala seakan gatal saja.


"Pa, aku hanya ingin queen lebih sering di rumah. Aku.. " ucap Alvaro dengan mata yang tidak mau berhenti bergerak kesana kemari.


"Stop! Kamu saja yang jelaskan!" perintah tuan besar beralih menatap pria yang sudah menjadi menantu nya itu.


Hening...


"Apapun alasan mu dan Varo, Ingat lah jika aku akan menghentikan langkah kalian jika itu melukai hati queen! Dan kamu Varo, temui aku di ruangan kerja." ucap tuan besar memilih meninggalkan ruangan rawat setelah melihat bungkam nya Abhishek.


Bagaimana tidak bungkam jika di antara dirinya dan Alvaro sudah ada perjanjian tertulis yang mengikat mulut nya untuk berterus terang, sedangkan Alvaro masih berusaha mencari alasan yang tepat untuk rencana nya yang mungkin mendapatkan penolakan dari papa nya. Kepergian papa nya membuat nafas Alvaro kembali lagi, sejenak memejamkan mata nya untuk menetralkan hati nya sebelum menemui papa nya di ruangan kerja.


"Dok! Bisa jelaskan sekarang? " tanya Abhi yang kondisi nya masih belum seutuhnya membaik namun sudah mendapatkan ketegangan dan shock terapi berulang kali.


Yah kepergian Asfa membuat Alvaro berbicara serius dengan Abhi hingga tercetus kontrak tertulis dimana Abhi akan tahu siapa istri nya sebenarnya dan Alvaro hanya meminta Abhi untuk pura-pura tetap lumpuh selama beberapa waktu sampai kondisi membaik. Tapi siapa sangka perbincangan kedua pria itu justru di dengan tuan besar yang sudah mulai sadar, hingga berakhir sidang dadakan namun tak membuahkan hasil apapun karena Abhi bungkam dan Varo menghindari untuk memberikan penjelasan.


"Kami keluarga, Aku kakak Asfa dan pria tadi papa kami. Cukup itu saja yang harus kamu tahu, karena sisa nya adalah hak Asfa." jawab Alvaro dengan tegas dan serius.


"Lalu apa yang terjadi dengan Asfa? Kenapa ada luka di pundak kiri nya? " tanya Abhi lagi.


"Dengarkan aku boy, dunia kami jauh dari jangkauan mu. Dengan menerima kontrak dari ku, perlahan kamu akan tahu siapa kami dan terutama istri mu. Tapi, aku akan membawa adikku pergi dari hidup mu jika kamu membuat air mata nya menetes meskipun hanya satu tetes. " ucap Alvaro dengan tatapan tajam nya namun seperti nya Abhi sudah mulai terbiasa dengan tatapan tajam itu.


"Seperti nya aku menikah dengan gadis mysterious." gumam Abhi dengan memijat pangkal hidung nya yang terasa sakit.


"Her is special, the queen of the kings. (Dia special, ratu dari para raja.) " ucap Alvaro dengan senyuman manis yang membuat Abhi tercengang.


Wajah yang selalu seperti orang marah dan lebih suka menindas tiba-tiba tersenyum dengan manis meskipun masih senyuman samar, sungguh pemandangan yang kontras. Seperti Asfa yang memiliki kepribadian lain yang dapat Abhi rasakan, bahkan rasa ngilu di kaki nya karena terlalu lama duduk terasa biasa saja di bandingkan mengingat wajah dingin Asfa.


"Ayo ku bantu ke kursi roda dan ku antar ke kamar mu." ucap Alvaro dan bangun dari duduk nya menghampiri sebuah kursi roda yang sudah di siapkan oleh nya.


"Kapan Asfa akan pulang? " tanya Abhi sembari menerima bantuan Alvaro berpindah tempat duduk.


"Not know. (Tidak tahu.) " jawab Alvaro mendorong kursi roda Abhi dan menuju pintu ruangan rawat.


"How can not know? (Bagaimana bisa tidak tahu?) " tanya balik Abhi namun Alvaro memilih diam dan membuka pintu ruangan rawat.


Setelah keluar dari ruangan rawat, Alvaro memilih menuju ke arah lift di bandingkan tangga yang pasti akan susah membawa Abhi ke kamar atas. Sedangkan Abhi yang merasa tidak pernah mendengar suara lift sedikit bingung namun Alvaro masih tetap diam tanpa kata dengan wajah dingin nya, hingga tangan kekar Alvaro menekan tombol lift menuju lantai atas.

__ADS_1


"Caesar." panggil seorang wanita dari belakang yang membuat Alvaro menghentikan niat memasuki lift dan berbalik badan tanpa memutar kursi roda Abhi.


"What you want! (Apa mau mu!) " seru Alvaro dengan nada bariton yang membuat seluruh penghuni mansion bisa bergidik ngeri.


Tak.. tak.. tak..


Benar saja suara tegas, kencang, berat penuh emosi milik Alvaro membuat banyak nyawa bergegas berkumpul di tempat yang mula nya sangat sepi. Sedangkan Abhi hanya bisa menjadi pendengar tanpa melihat apa yang sedang dan akan terjadi, wanita yang memanggil Alvaro bahkan tubuh nya bergetar karena mendapatkan suara terburuk dari seorang Alvaro.


"Aku hanya ingin minta maaf." ucap wanita berjilbab yang menunduk.


"Aal, What happened? Calm down, anger is not good for you. ( Aal, Apa yang terjadi? Tenanglah, kemarahan tidak baik untuk mu.) " ucap Andira dengan menghampiri Alvaro dan mengusap lengan pria itu agar meredakan amarah yang sangat jelas terpancar di mata tajam Alvaro.


"Maaf?! Bisakah kamu kembali kan detak jantung ku? " tanya Alvaro dengan suara yang semakin berat tanpa mengindahkan ucapan Andira yang masih menatap Alvaro dengan cemas.


"Aku... " jawab wanita berjilbab yang sungguh tidak memiliki kata-kata lagi.


Yah kesalahan yang di anggapnya kecil namun penuh ke egoisan justru menjadi pengkhianatan tanpa niat, Alvaro hanya meminta untuk membantu nya mencarikan satu ramuan yang sebenarnya memang bisa di dapat kan dengan mudah oleh nya karena diri nya seorang anak dari processor terkenal. Tapi ketika mendengar tujuan ramuan itu untuk siapa sungguh hati nya terbakar, seperti rasa cinta nya yang terbakar ketika mendengar pujaan hati nya ingin menyelamatkan seorang gadis dan rela memohon dengan berlutut di bawah kaki nya.


"You're just a selfish girl! Your heart is even dead in the name of love. Go from my life! (Kamu hanya gadis yang egois! Hati mu bahkan sudah mati atas nama cinta. Pergilah dari hidup ku!) " seru Alvaro dengan mata yang semakin memerah dan jiwa nya sudah tidak bisa di kendalikan ketika sepintas kenangan pahit masalalu nya melintas.


Ingatan dimana diri nya meminta bantuan pada Zara untuk sebuah ramuan yang bisa mengobati adik nya, tapi wanita berjilbab lesung pipi itu justru menolak mentah-mentah meskipun sudah di jelaskan bagaimana kritis nya kondisi Asfa saat itu. Justru Zara mengambil kesimpulan jika selama ini Alvaro hanya memanfaatkan wanita itu dan membuat wanita itu jatuh cinta dan patah hati, padahal di antara kedua lawan jenis itu sama sekali tidak memiliki hubungan selain rekan kerja dan teman kuliah.


Yang membuat Alvaro marah dan tak sudi memandang Zara adalah wanita itu meyaqinkan akan memberikan bantuan setelah Alvaro berlutut memohon namun kenyataan nya hanya pengkhianatan yang di lakukan Zara karena bukan ramuan yang di dapat oleh Alvaro melainkan banyak cacian yang isi nya hanya lah omong kosong seorang wanita patah hati. Sejak hari itu Alvaro menjauhkan hati nya dari wanita dan memilih memenuhi tanggungjawab nya sebagai seorang kakak dan putra yang baik dan hidup di tempat pengasingan bersama keluarga nya sampai Asfa mendapatkan kesembuhan total.


Siapapun yang menjadi penonton hanya bisa menahan nafas, karena kemarahan Alvaro memberikan aura penindasan bahkan para bodyguard dan pelayan hanya berjaga di tempat masing-masing tanpa ikut campur. Ketegangan itu membuat suara heli di luar mansion tak terdengar, seorang queen yang memilih kembali ke mansion dengan penjemputan heli pribadi nya dengan membawa seorang pria yang kini setia menjadi pengikut nya mulai menatapaki halaman luar mansion dan para bodyguard penjaga gerbang dan pintu utama mansion langsung menunduk memberikan hormat.


"Ekhem! " dehem Asfa yang membuat semua orang berbalik menatap sosok yang baru saja memasuki mansion dan melihat kerumunan di depan tempat lift berada.


"Queen." ucap Leon yang masih mengatur perasaan nya agar tidak lagi terpesona dengan sosok gadis di hadapan nya itu.


Tidak ada jawab an selain langkah kaki Asfa yang mendekati sumber dari kerumunan yang ternyata ada wanita berjilbab dan juga kakak nya yang masih menghadap lift dan pinggiran kursi roda yang sudah dapat di tebak siapa pemilik nya, dengan tenang nya Asfa melepaskan topeng di wajah nya dan mengulurkan pada pria yang sudah resmi menjadi bodyguard limited edition nya.


"Stay here and shut up! (Tetap disini dan diam!) " perintah Asfa setelah topeng nya berpindah tangan.


Tentu saja perintah itu hanya untuk bodyguard limited edition nya bukan untuk penghuni mansion lain nya yang berfikir keras apa maksud dari queen, langkah Asfa menuju ke arah wanita berjilbab yang masih saja terisak dengan air mata membludak bahkan lantai pun menjadi tergenang seperti banjir saja.


"Who's you? (Siapa kamu?) " tanya Asfa dengan lembut menatap Zara dengan tenang sedalam lautan.


"Zara La... " jawab Zara di sela isak tangis nya dan menegakkan wajah nya melihat siapa yang ber tanya.


Wuuss... Greeb....


Sentakan yang tiba-tiba menyambar tubuh Asfa dan sebuah pelukan hangat dengan gemetar membuat Asfa diam meskipun merasakan ngilu di pundak kiri nya, sedangkan Zara langsung menghentikan jawaban nya ketika melihat Alvaro menarik tubuh gadis di depan nya dan tubuh gadis itu di peluk begitu erat nya seakan tidak ingin dilepaskan. Asfa mengulurkan tangan kanan nya untuk mengusap punggung Alvaro agar kakak tercinta nya itu bisa meluapkan semua emosi dan kembali tenang, air mata yang jatuh dari sudut mata Alvaro membuat banyak mata tertegun tapi tidak bagi seorang pria yang menjadi bodyguard limited edition Asfa dimana pria itu menjadi kesal dan memanyunkan bibir nya.


"I'm here, calm down. (Aku disini, tenanglah.) " ucap Asfa dan mencoba melepaskan pelukan Alvaro yang sudah tidak sekencang pelukan di awal.

__ADS_1


"Zain! Bring Duke Alvaro to the upper room with Mr Abhi, stop pout!(Zain! Bawa duke Alvaro ke kamar atas bersama tuan Abhi, berhenti lah cemberut! ) " perintah Asfa tanpa memandang Zain yang langsung sumigrah padahal hanya mendengar suara Asfa yang memberikan perintah, sedangkan bunda Anya hanya bisa menggelengkan kepala melihat penyakit Zain yang nyleneh bin ajaib.


Tak berbeda dari bunda Anya, Leon yang melihat mata Zain penuh cinta dan obsesi pun ikut tercengang karena pria dengan tattoo di kedua tangan nya itu jauh lebih macho, dingin dan hampir mirip seperti Alvaro yang memiliki gaya tenang , hambar dan intimidasi. Sedangkan Asfa harus menatap Alvaro agar kakak nya menuruti apa permintaan nya melalui tatapan mata nya, setelah mendapatkan kedipan mata dari Alvaro, Asfa membalikkan badan nya dan menatap Zain sesaat dan menganggukkan kepala sebagai tanda waktu nya menjalankan perintah.


Langkah Asfa mendekati Zara dan langkah Zain mendekati Alvaro yang masih enggan menilai pria yang menjadi penghuni baru mansion, pintu lift terbuka membuat Zain, Alvaro dan Abhi meninggalkan lantai dasar dan yang tersisa hanya lah ketegangan tanpa kata.


"Apa kalian tidak punya pekerjaan? " tanya Asfa yang membuat team Alvaro menjadi kikuk, sedangkan bunda Anya yang tahu maksud queen nya langsung melenggang pergi meninggalkan kerumunan.


Seakan menjadi petunjuk, satu persatu meninggalkan kerumunan dan dalam waktu satu menit lebih kerumunan menjadi tersisa dua orang wanita yang saling berhadapan. Satu wanita pemilik mansion masih tenang tapi satu wanita berjilbab seperti menahan sesuatu dari dalam hati yang terpancar dari kilatan amarah di mata nya, bahkan kilatan amarah Zara tak membuat Asfa terganggu sedikit pun.


"Tell or get out! (Katakan atau keluar.) " perintah Asfa dengan menyedekapkan kedua tangan nya.


"Apa kamu gadis itu? " tanya Zara dengan suara tercekat.


Tidak ada jawaban selain satu alis kiri Asfa terangkat karena tidak paham apa maksud dari Zara, gadis itu? Gadis apa maksud dari Zara, terlebih kemarahan di mata kakak nya sudah pasti wanita berjilbab di depan nya melakukan kesalahan yang sangat besar. Zara merasa jika Asfa bukan lah gadis yang ada di dalam fikiran nya, gadis yang membuat nya cemburu buta beberapa tahun yang lalu sehingga dengan berani meraih tangan Asfa dan memberikan tatapan memelas.


"Tolong bantu aku mendapatkan maaf dari Alvaro, ku mohon." pinta Zara dengan memelas namun tangan nya terlepas ketika sebuah tangan dengan kasar menepis tangan nya yang tengah menggenggam tangan Asfa.


Wusss.... Plaaak... Bruug...


...###########...


.


.


. kok ngilu sendiri ya kalau denger kata *Plaaak*...


. Berasa pipi othoor yang kena tamparan keras.. 😓😅


.


.


. Othoor nya suka riweh sendiri deh... 🤤


.


.


.


. Happy reading ya readers, stay tuned bcz othoor nulis nya sekali but udh panjang loh ya.. kalau kurang sabar menunggu.. 🥀


.

__ADS_1


.


~ jangan lupa like, comment, favorite, vote plus smile 😊


__ADS_2