
Pergilah ke VVIP Room, pindahkan nyamuk dari kamar mandi!" bisik Vans di telinga sang dokter.
Dokter melirik kearah Tuan Muda nya, tapi seketika dirinya sadar. Jika apapun titah pria satu itu tidak mungkin hal sepele. Satu anggukan sebagai persetujuan.
Kepergian si dokter, membuat Vans ikut menyusul masuk ke ruangan operasi.
Deg!
"....,"
"Kemarilah!"
Vans mengucek matanya, tapi tidak mengubah pemandangan di depan sana. Dimana peri kecilnya melambaikan tangan dengan senyuman tipis.
"Ekhem! Sampai kapan mematung di depan pintu?" sindir Varo dengan meletakkan gelas ke atas nakas.
Vans berlari menghampiri brankar, lalu merengkuh tubuh Asfa ke dalam pelukannya. Ciuman syukur terbenam di puncak kepala Asfa, membuat wanita itu mengangkat tangan dan mengusap lengan Vans.
Pluk!
__ADS_1
"Lepaskan adikku! Dia butuh oksigen untuk bernapas." ucap Varo setelah menepuk pundak Vans, membuat pria itu sadar dan melepaskan pelukannya.
Tatapan mata tak percaya masih nampak. Asfa mengedipkan mata sebagai isyarat dirinya baik. Senggolan tangan Varo mengalihkan perhatian Vans ke arah kakak perinya.
Asfa melihat kode mata dua pria di samping brankar nya itu. Pasti ada hal tidak beres. "Dimana bayiku?"
Vans dan Varo menarik nafas, dan menatap Asfa dengan tatapan tak terbaca. Meskipun begitu, sudah jelas dua pria itu menyembunyikan sesuatu. Tanpa menunggu jawaban, selang infus di tarik.
"Doll, apa yang lakukan?!" Varo bergegas menahan tindakan Asfa dan kembali memasang selang infus di bantu Vans yang sigap.
"Aku tanya dimana bayiku?!" tanya Asfa sekali lagi, tapi suaranya masih terdengar lemah.
Asfa menurut dan kembali menyadarkan punggungnya. Varo menganggukkan kepala agar Vans bisa menemani adiknya.
"Istirahatlah! Aku akan kabari papa, dan lainnya. Vans, aku titip doll." pinta Varo dengan lembut.
Asfa menahan kakaknya dengan menggenggam tangan pria itu. "Ka, Aku ingin perawatan di Villa."
"Semua akan seperti keinginanmu, tapi tidak tentang keselamatanmu! Jangan melawan ku. Pejamkan matamu dan istirahatlah! Kakak pergi sebentar saja," Varo melepaskan tangan Asfa, lalu mengusap pipi adiknya itu sebelum berjalan meninggalkan brankar tempat Asfa berada.
__ADS_1
"Kalian pergilah bersama Tuan Al! Jangan lupa perketat keamanan rumah sakit." titah Vans, membuat tiga dokter di dalam ruangan itu menunduk dan permisi meninggalkan ruangan operasi khusus.
Sepuluh menit kemudian, hanya ada keheningan dengan usapan lembut di atas kepala Asfa. Akan tetapi mata biru itu masih enggan terpejam.
"What do you want, Queen?" (Apa keinginanmu?")
"Kejujuran." jawab Asfa.
Vans memejamkan mata. Satu jawaban Asfa langsung memeras emosinya. Kelemahannya hanya ada di hadapan peri kecilnya itu, tapi jika jujur. Sudah pasti akan terjadi kekacauan, atau justru membuat Asfa berpikir terlalu berat. Sedangkan keadaan Asfa saja masih di ambang hidup dan mati.
"Ka?!" panggil Asfa sedikit menambahkan volume suaranya.
Vans menggenggam tangan Asfa, sembari menimbang jawaban apa yang akan diberikan agar seorang wanita yang memiliki insting kuat itu percaya pada ucapannya.
"Sudahlah! Jawabanmu tidak akan jujur. Satu menit berlalu, kamu terlalu memikirkan baik dan buruk akan sebuah kejujuran. Pergilah!" Asfa menarik tangannya dengan wajah berpaling ke arah lain.
Aku tidak mau kamu bertindak dalam keadaan seperti ini. Bahkan tubuhmu saja sudah penuh luka dalam dan luar. Bagaimana aku menjelaskan padamu peri kecilku? Kami hanya ingin kamu tetap baik dan hidup bahagia. ~batin Vans mengusap air mata yang jatuh tanpa permisi.
"Bayimu….,"
__ADS_1