
Percakapan di akhiri, Vans menatap Asfa sejenak sebelum ikut beristirahat. Sementara di tempat lain di tengah kebisingan musik yang menggelegar, membuat dua orang pria berjalan berpindah tempat. Keduanya memilih memesan satu ruangan VVIP dan menyewa beberapa wanita malam untuk melayani dan menemani sepanjang malam.
"Jadi apa yang bisa aku bantu?" tanya pria rambut sebahu, menyibakkan rambut dan membiarkan seorang wanita bergelayut manja di pangkuannya.
Satu gelas di hentakkan ke meja, pria yang menolak disentuh wanita malam itu memilih melepaskan jasnya dan melemparkan ke sembarangan arah. "Ayo bekerjasama."
Mata pria rambut sebahu melirik sekilas dan tertawa sinis. "Apa yang kamu harapkan? Kerjasama seperti apa?"
"Tidak perlu bersikap sok, bukannya kamu ingin menghancurkan Xifer," cetus pria tanpa jas dengan santai dan menuangkan minuman.
Bruug....
"Keluar!" Seru pria rambut sebahu menghempaskan para wanita yang bergelayut manja.
Tidak peduli umpatan para wanita malam, dalam hitungan detik semua wanita keluar dari ruangan VVIP itu dan meninggalkan dua pria paruh baya dengan wajah tegang dan saling menatap nyalang.
"Tuan Mahendra Bagaskara. Semua orang tahu bagaimana sosok baik hati dan penyayang keluarga, hahaha. Sepertinya hanya topeng, aku suka. Katakan, apa alasanmu?" tukas pria rambut sebahu menyandarkan tubuhnya di sofa.
Mahendra tersenyum sinis dan mencebikkan bibirnya. "Bukan urusanmu. Cukup iya atau tidak."
"Ternyata, okay. Apa rencanamu?" jawab pria rambut sebahu dengan ambigu.
Mahendra mengubah posisi duduk lebih tegak dan tegas. "Bagaimana dengan sistem perusahaan, bisa kita serang dari luar dan dari dalam...."
"Kalau mau cari mati. Jangan ajak orang lain." sela pria rambut sebahu.
Mahendra mengerutkan dahi. Apa maksud dari cari mati? Merusak sistem perusahaan bukanlah hal sulit. Terlebih jika dilakukan para hackers miliknya. Melihat Mahendra yang tidak paham, membuat pria rambut sebahu mengambil botol wine yang masih penuh dan menuangkan ke satu gelas kosong. Tidak peduli gelas itu penuh, wine tetap mengalir hingga meja kaca basah dan bermandikan wine.
"Apa....."
__ADS_1
"Kamu terlalu meremehkan pria itu. Apa kamu pikir, dengan beberapa hackers milikmu bisa mengalahkan hackers pria itu?! Jangan mimpi, dunia gelap yang kamu rintis masih seujung kuku. Tapi, kamu berpikir sudah menjadi dewa. Terlalu naif. Ck." sela pria rambut sebahu.
Botol kosong di letakkan di genangan wine. Mahendra mencerna penjelasan pria yang sepertinya sangat mengenal sosok Xifer. "Lalu?"
"Gunakan otak, bukan emosi. Kecuali, jika kamu punya kesempatan untuk menghancurkan dari dalam, barulah itu mempermudah." saran pria rambut sebahu.
Satu ide melintas di kepala Mahendra, senyuman itu sangat tipis tapi mengubah suasana. Pria rambut sebahu bisa melihat, bagaimana perubahan wajah Mahendra terlihat seperti seorang pemburu. Sudah pasti, pria itu mendapatkan ide yang cemerlang. Tapi berpura-pura tidak tahu adalah yang terbaik.
"Aku pergi sekarang, semua aku yang bayar. Terima kasih atas sarannya." Mahendra pamit tanpa menjelaskan apapun.
Pria rambut sebahu membiarkan Mahendra pergi, dan mengirim pesan pada anak buahnya, untuk mengawasi pria bertopeng wajah asli itu nonstop. Lebih baik menjadi pengamat dan penonton. Jika semua beres tanpa campur tangannya. Pasti itu lebih baik.
Mahendra mengambil lembaran uang di dompet dan membayar semua tagihan tanpa berpikir panjang. Langkah kakinya meninggalkan club dengan hari riang gembira. Bagaikan mendapat angin segar setelah sekian purnama. Setelah memasuki mobil yang terparkir di parkiran club, mobil dinyalakan dan melaju meninggalkan area club.
Kegembiraan Mahendra dengan rencana baru di dalam otaknya. Justru berbanding terbalik dengan kepanikan Abhi dan Leo, dimana kedua pria itu berlari di lorong rumah sakit umum membawa pasien yang tidak sadarkan diri.
"Dok, cepat tangani wanita ini!" seru Abhi.
Dua jam kemudian….
Pintu ruangan UGD terbuka, dan seorang suster keluar dengan buru-buru. Leo mencegat. "Bagaimana keadaan wanita itu?"
"Maaf, Tuan. Saya harus mengambil beberapa obat." Suster menggeser tubuh Leo dan berlari kecil.
Abhi mendekati Leo dan menepuk pundak asistennya itu. "Biarkan mereka bekerja. Ayo duduk, bisa jelaskan apa yang terjadi? Kenapa Tante Aliska sampai melakukan percobaan bunuh diri."
Leo dan Abhi duduk bersebelahan. Leo menghela nafas dan menautkan kedua tangannya. "Aku tidak tahu. Setelah selesai melakukan pekerjaan kantor dan mengecek keadaan wanita itu. Aku terkejut dengan keadaannya. Darah sudah mengalir dan membasahi lantai, aku check detak jantung dan nafas masih ada. Sisanya kamu tahu seperti apa."
"Apa kamu sudah melakukan penyelidikan, tentang Tante Aliska?" tanya Abhi serius.
__ADS_1
"Belum, pekerjaan kantor sangat menumpuk. Huft, begitu banyak laporan yang terbengkalai. Apa harus menyelidiki wanita itu?" tanya balik Leo.
Abhi mengalihkan pandangan, dan menatap ruangan UGD. "Sebaiknya kamu istirahat, aku sendiri yang akan mencari tahu. Pulanglah dan tangani pekerjaan kantor!"
"Tidak, kita akan pulang bersama. Bukan hanya aku, tapi kamu juga butuh istirahat. Bukankah rumah terasa panas?" ujar Leo, membuat Abhi menatap penuh selidik ke arah asistennya itu.
Terkadang ada saatnya dunia terbalik. Bos menjadi bawahan dan asisten menjadi atasan. Seperti keadaan Abhi saat ini. Keseriusan Leo seperti seorang pemimpin tidak menerima bantahan. Hanya waktu singkat, satu orang bisa berubah drastis dan contohnya Leo.
"Rumah panas. Berapa banyak orang yang yang kamu sewa?" tanya Abhi.
Leo menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Emm, itu. Adalah."
Ada sesuatu yang ditutupi Leo, Abhi hafal dengan ekspresi asistennya itu. "Apa, aku harus mengganti semua pelayan di rumah dan karyawan di perusahaan."
Leo mendelik dan terkekeh pelan, pasalnya masih ingat berada dimana dirinya berada. "Bos, ganti saja semua. Lumayan membuka lowongan bagi pendatang baru. Tapi, siapkah perusahaan mengalami penurunan tajam? Ingat ya, kini perusahaan juga di bawah pengawasan RA Company."
"Hmmm. Ya, ya. Aku lupa itu. Istriku memang misterius." gumam Abhi.
Gumaman Abhi masih terdengar di telinga Leo.
Aku hanya bisa melakukan secara diam-diam untukmu, Bos. Bagaimanapun, Queen hanya ingin melindungi bukan mengambil hakmu. Tapi, aku hanya bisa diam. Ada saatnya, kamu mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Bersabarlah.~batin Leo.
Keduanya larut dalam pikiran masing-masing, hingga dokter keluar dan memberikan kabar baik. Meskipun pasien masih dirawat intensif. Karena pasien tidak boleh dijenguk. Abhi dan Leo sepakat memesan hotel sekitar rumah sakit, tak menunda waktu. Keduanya meninggalkan rumah sakit dan menuju hotel SB di sebelah utara rumah sakit.
Setelah sampai di dalam hotel, Leo memesan dua kamar berbeda.
Keduanya memilih kamar yang bersebelahan. Sesampainya di kamar masing-masing. Abhi membersihkan diri dan memakai pakaian yang telah dipesan Leo, ternyata asistennya itu masih hafal kebiasaan sejak lamanya. Tubuh yang lelah dan pikiran penuh, membuat mata Abhi susah terpejam. Begitu banyak yang terjadi, dan semua seperti patut dipertanyakan.
Triiing….
__ADS_1
Satu notif pesan masuk. Mengalihkan lamunan, Abhi menyambar ponsel di sampingnya. Mata biru itu menatap tak paham, pesan itu seperti permintaan, pernyataan atau perintah. Semakin memikirkan, mata tak mampu bertahan. Mata biru itu semakin meredup dan memilih meletakkan ponsel, membiarkan tetap membuka pesan yang sama.
Kuharap, seperti rencanaku. Aku tidak mau kalah. Selamat menikmati hadiah ku, Musuhku Tersayang.~batin pria rambut sebahu dan membuang ponsel di tempat sampah.