
"Apa ini caramu? Dia ISTRI MU bukan samsak mu!" tegur seseorang dengan nada lebih dingin.
Rania dan Alvaro serempak mengalihkan pandangan ke arah suara lain yang tiba-tiba me nimbrung percakapan awal mereka, orang yang berdiri bersandar di pintu dengan kedua tangan bersedekap, mampu membuat Alvaro tersenyum nakal tapi tidak dengan Rania yang justru semakin gugup.
"Ini tiket bulan madu kalian. Gunakan saja heli pribadi!" ucapnya dengan melangkahkan kaki menuju sofa tempat Alvaro dan Rania berbincang.
Dua lembar tiket ke sebuah pulau tergeletak di atas meja kaca, sepertinya tiket itu sudah disiapkan sebelum waktunya. Terlihat dari tanggal pemesanannya, Alvaro hanya melirik Rania seakan ingin tahu apa keinginan gadis labil itu.
"Berhenti melirik Rania dengan mata tajam mu! Jangan buat Skot jantung terlalu banyak dalam satu waktu."
"Ingat, hanya satu minggu liburan kalian. Setelah itu pekerjaan menanti kalian!"
"Tuan..." cicit Rania.
"Berhenti memanggilku Tuan! Mulai hari ini kamu putriku, sama seperti Asfa dan Varo. Panggil aku papa, hak dan kewajiban mu sama seperti suami dan adik ipar mu." Tuan besar melembutkan suaranya dan membuat Rania bernafas lega.
"Baik Tu, eh Pa." Rania dengan gugup menjawab ayah mertuanya, yang selama ini di pandangannya seperti seorang Raja yang dingin.
"Dad, where doll?(Ayah, dimana boneka?)" tanya Alvaro yang sedari awal mengkhawatirkan adiknya.
"Return to her husband's house.(Pulang kerumah suaminya.)" jawab Tuan besar.
"Apa queen marah denganku?" cetus Rania dengan mata berembun.
Tuan Luxifer dan Alvaro saling pandang dengan pernyataan Rania, terlebih ketika melihat ekspresi anggota baru keluarganya itu. Mata berembun dengan rona pipi memerah, ekspresi layaknya gadis remaja saat merasa melakukan kesalahan.
"Her is not angry, your marriage is hes request. It's just that the responsibility of a queen is too big. Understand it.(Dia tidak marah, pernikahan kamu adalah permintaannya. Hanya saja, tanggungjawab seorang Queen terlalu besar. Pahami itu.)" Alvaro mencoba menenangkan Rania dengan penjelasannya.
"Bersiaplah untuk honeymoon. Rania, jaga Varo untuk kami. Kami memilih mu untuk menjadi belahan jiwa Varo, kamu special." Tuan besar mengelus kepala Rania dengan kasih sayang.
__ADS_1
"Pa, terimakasih." Rania menunduk merasakan aliran hangat didalam hatinya, rasa yang terlupakan kini kembali hadir.
Kasih sayang seorang ayah, tuan besar seakan membuat kerinduan di hatinya terobati. Tuan besar memilih memeluk Rania agar menantunya itu siap dengan badai nanti, kasih sayang sangatlah penting untuk menetapkan hati.
"Pa, besok ada rapat dengan mereka. Apa queen sudah memutuskan?" tanya Alvaro untuk mengalihkan kegalauan istrinya.
"You know better how is queen?! (Kamu tahu lebih baik bagaimana queen?!)" tukas Tuan besar dengan helaan nafas dalam.
"What happen with queen?( Apa yang terjadi dengan queen?)" sela Rania dengan perubahan wajah yang drastis.
Diluar dugaan Alvaro dan Tuan besar, reaksi Rania sungguh seperti bunglon. Dan setiap kali menyangkut soal Asfa, seakan magnet telah di aktifkan. Lihatlah mata berembun itu berubah menjadi rasa cemas, dengan alis yang terangkat.
Aliska, lihatlah Rania persis seperti mu. Apa ini karma ku? Atau kesempatan ku memperbaiki kesalahan ku? Ku harap kamu secepatnya sadar. ~ batin tuan besar dengan menyimpan sebuah kenangan pahit didalam sanubarinya.
"Ganti pakaianmu! Dan jangan membantah ku." perintah Alvaro menghentikan jiwa kepo Rania.
"Nak, ikuti perintah imammu. Ingat, suami yang akan bertanggungjawab atas baik buruknya seorang istri." potong Tuan besar dengan lembut membuat Rania mengangguk dan melakukan perintah Alvaro meskipun bibirnya sudah maju dua senti.
Dengan langkah enggan, Rania meninggalkan dua pria beda usia itu. Membuat Alvaro dan Tuan besar kembali berbincang dengan topic yang lebih serius, tentu saja setelah Rania menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Pa, apa tidak sebaiknya honeymoon ku ditunda." usul Alvaro.
"Apa kamu meragukan papa?" Tuan besar menatap Varo dengan aura intimidasi.
"Never dad, but.(Tidak pernah ayah, tapi.)" dengan tegas Alvaro menjawab papanya.
"Calm down. Queen is not children.(Tenang. Ratu bukan anak-anak.)" Tuan besar menepuk bahu Alvaro agar putranya itu jangan berfikir terlalu berlebihan.
Ceklek..
__ADS_1
Suara pintu terbuka membuat Alvaro menghentikan perbincangan meskipun masih ingin berdebat, tapi kini pandangan matanya tidak bisa teralihkan dari kelinci putih nan imut yang berjalan ke arahnya. Tuan besar hanya tersenyum tipis melihat tingkah putranya, tanpa panjang kali lebar akhirnya meninggalkan kedua insan yang tengah terpaku oleh asmara.
"Hallo pamaaan!" seru Rania dengan oktaf 13.
"Tidak sopan! Sudah..." tegur Alvaro setelah merasakan sakit di telinganya.
"Iya, paman bukan pamanku. Tapi SUAMI KU." potong Rania dengan wajah sebal dan memanyunkan bibirnya.
Bagaimana tidak sebal jika pria di depannya justru melamun dan berpindah dimensi, dipanggil berulang kali tapi tak ada jawaban.
"Ganti pakaianmu!" tukas Alvaro membuat bola mata Rania berputar malas.
"Suamiku sayang, aku masih remaja ok. Ini pakaian anak remaja jaman now. Jadi.." Rania mencoba menjelaskan dengan rayuan terbaiknya.
"Tutupi dengan jacket. No debat!" Alvaro dengan skakmatnya membuat Rania bungkam.
Bagaimana Alvaro tidak protes jika pakaian Rania terbilang sangat ekstrim, gaun simple berwarna putih tulang dengan belahan dada yang panjang.
Kalau di kamar sih masih wajar. Tapi akan menjadi tontonan gratis jika dibawa keluar.
Permulaan hubungan yang unik antara Alvaro dan Rania, namun di tempat lain tengah terjadi perang mata. Mata dengan warna iris sama tengah berperang dalam diam, seakan dengan diam akan menyelesaikan masalah.
Tok... tok... tok...
Ceklek...
"Permisi, ini yang anda minta."
"Taruh saja di meja!"
__ADS_1