
Mobil sports itu ber jalan meninggalkan gedung pencakar yang hanya sebatang kara, namun setelah keluar dari kawasan perumahan justru jalan yang di ambil berbeda. Jalanan dengan banyak nya pepohonan rimbun digunakan sebagai jalan menuju sebuah bukit terdekat dari wilayah kawasan perumahan milik papa nya, terlihat tuan besar hanya diam dan menjadi pengamat sepanjang mobil melaju.
"Use it dad and take the gun in there." ucap Asfa menyerahkan sebuah lambang identitas keluarga nya dan menunjuk ke arah belakang yang di pahami oleh tuan besar.
Setelah memakai pemberian putri nya dan menggambil apa yang di minta kini focus nya ke depan, pasti ada alasan kenapa putri nya meminta dirinya melakukan itu. Hingga pepohonan semakin rimbun dan mobil sports itu berputar dengan kecepatan yang masih standard dan kini mobil itu menghadap ke jalan masuk per bukit an, tidak menunggu lama terlihat kepulan asap dari arah jauh.
Kecepatan yang patut di contoh sebagai pencinta balap liar, tapi terlihat hanya tiga mobil van yang menghampiri sebuah mobil sports yang terparkir cantik di tengah jalan. Membuat ke tiga mobil van itu berhenti dengan jarak dua meter dari mobil sports, hingga detik berikutnya orang-orang yang menjadi penghuni mobil van turun dengan pakaian hitam dan senjata di pinggang mereka.
"Ready? " tanya Asfa dengan menatap papa nya.
"Ready." jawab tuan besar dan menunggu instruksi selanjutnya.
Dalam waktu satu menit kurang kini lima belas orang berbaju hitam telah membuat sebuah benteng pertahanan seakan ada yang harus di lindungi oleh mereka, dengan melihat jumlah dan fisik dari lawan sudah pasti banyak yang akan langsung kabur tapi kabur tidak berlaku bagi keluarga Luxifer. Dengan santai nya pintu mobil terbuka dari dua sisi secara bersamaan, sepatu boots hitam dengan hak sepuluh centimeter turun dari mobil pengemudi dan sepatu pantofel coklat keluar dari pintu satu nya lagi.
Hembusan angin perbukitan yang membuat suasana semakin mendukung, kedua pasang kaki berbeda itu keluar dari mobil sports dengan high style dan attitude.
Braak...
Pintu mobil ditutup dengan keras dari dua sisi dengan pandangan ke depan dimana orang-orang berpakaian hitam itu semakin waspada dan langsung menodong kan senjata ke depan mereka. Suara langkah sepatu yang terkesan penuh tekanan , sedikit membuat orang-orang itu kehilangan rasa percaya diri, terlihat rambut panjang yang mengikuti arah hembusan angin membuat gadis dengan topeng melangkah maju layak nya seorang pahlawan dengan satu pengawal di samping nya tak kalah aura nya.
"Where your Boss? " ucap Asfa dengan jelas mengangkat kedua tangan nya ke atas.
"Jangan bergerak!" seru seorang pria di depan.
Tanpa mempedulikan peringatan itu, tangan nya tetap melanjutkan gerakan nya namun...
Door..
"One mistake." peringatan Asfa yang hanya menggeser tubuh nya menghindari peluru yang mengarah ke dada nya.
Terlihat sang penembak bahkan melongo karena reaksi lawan nya sangat santai dan justru menggulung rambut sesuka hati nya, dan melepaskan tali dari outer pakaian hitam nya. Dan kini hanya memakai tangtop hitam dengan celana jeans pendek setelah pakaian kantor hitam feminin itu terbuang ke atas kab mobil sports nya.
Kulit putih mulus mampu mengalihkan perhatian para lawan yang semua nya adalah pria dengan tubuh kekar, namun tidak dengan gadis itu yang tahu mobil nya harus menerima peluru meskipun body mobil nya hanya tergores sedikit seperti terkena cakaran kuku. Dengan senyuman iblis yang mulai terbit di dalam topeng nya, kini tatapan nya menjadi mata elang dengan mangsa yang sudah terkunci.
Pandangan lapar beberapa lawan nya membuat nya merasa jijik, mata keranjang dengan tatapan haus belaian itu sungguh memuakkan. Kini tangan nya tepat menunjuk sang penembak dengan jari telunjuk nya, pria itu lah yang menjadi target pertama nya.
"Come duel with me honey." ajak Asfa dengan lembut dan tangan nya seperti sedang meminta lawan nya untuk mendekati nya.
__ADS_1
"Neng ayolah ikut kami saja, kenapa ngajak bertarung. Atuh itu kasian kaki mulus nya kalau lecet. Ayo ikut kami ke villa saja, pasti banyak kehangatan disana." ajak seorang pria yang ada di samping sang penembak dengan iler yang sudah siap menetes.
"Shut up! " seru tuan besar dengan suara intimidasi nya.
Siapa yang akan mendengarkan sebuah pelecehan untuk anak mereka sendiri, tidak ada seorang ayah yang terima jika putri nya direndahkan seperti itu. Ingin rasa nya langsung menembak kepala pria itu dan memot0ng lidahnya dan mencuk!l kedua mata bajing@n yang tidak tahu sopan santun. Darah nya mendidih namun tujuan putri nya masih belum jelas di ketahui oleh nya, membuat nya harus membiarkan putri nya bertindak seperti rencana yang disusun ntah sejak kapan, terlebih isyarat tangan putri nya yang mengatakan semua masih dalam kendali membuat nya hanya menghela nafas dengan hati menahan amarah seorang ayah.
"Panggil boss kalian! Atau bertarung lah dengan ku? " ucap Asfa setelah memberikan isyarat pada papa nya untuk tenang dengan jemari tangan kiri nya yang membentuk huruf ok.
"Apa yang ku dapatkan jika menang? " tanya sang penembak.
"Whatever you want." jawab Asfa dengan santai.
"Ok." ucap sang penembak yang memberikan senjata nya pada orang di samping nya.
Kini dalam jarak tiga puluh centimeters, kedua nya berhadapan. Pria itu sedikit oleng karena mencium aroma parfum yang maskulin bukan seperti parfum kebanyakan wanita, bahkan parfum nya saja tidak seharum gadis di depan nya.
"Ready? " tanya Asfa dengan santai dan seakan menyindir.
"Ayo." ajak pria itu dengan melayangkan satu pukulan ke arah wajah Asfa.
Hap... Kreeek.. Bruug...
"First, don't touch my face." ucap Asfa dengan nada dingin membiarkan lawan nya menahan sakit dan mencoba bangkit lagi.
"Rupanya lumayan, ck. Aku masih belum serius, sekarang tidak akan ku biarkan sesuka mu." ucap sang penembak dengan sinis.
Tanpa menjawab Asfa menatap lengan pria di depan nya dan melayangkan tangan nya ke arah lengan, saat pria itu hendak mencekal tangan nya, dengan santai nya tangan itu turun berganti dengan kaki kanan Asfa menendang perut pria itu dengan tekanan kuat pada titik pasti.
Buuk.. Buuk..
Satu pukulan perut yang di tambah dengan satu pukulan tengkuk pria itu langsung terkapar tidak sadarkan diri dan dengan santai nya tangan Asfa melambai ke arah lawan lain nya. Tanpa ada yang ragu semua lawan mengepung satu gadis yang sudah membuat pemimpin mereka terkapar, sekilas wajah yang di incar nya terlihat dari kaca mobil depan van.
"Your mine." ucap Asfa yang mengangkat tangan nya dengan menjetikkan jari nya di atas kepala.
Kini waktu nya untuk berolahraga, satu lawan empat belas sungguh tidak adil bagi siapapun. Tubuh kekar para lawan bisa membuat siapapun pingsan, namun senyuman iblis yang tidak nampak sudah terlanjur terkembang sempurna.
"Ready? " tanya Asfa dengan suara yang sangat dingin dan aura nya membuat lawan nya merinding.
__ADS_1
"Seraang." seru seorang pria yang melecehkan Asfa.
Tatapan mata yang masih lapar membuat Asfa bertarung dengan gesit menghindari pukulan dan mengembalikan pukulan lawan, beberapa pukulan lawan nya justru mengenai teman satu kelompok itu, bukan nya menyentuh kulit putih mulus yang kini menjadi santapan mereka.
"Bajing@n!"
"Kep@ra!"
"Sexy!"
Suara serapah di campur suara menjijikkan membuat Asfa semakin meningkat kan tekanan pada tangan dan juga kaki nya, focus nya semakin meningkat.
Beberapa kali Asfa harus melompati tubuh lawan yang membungkuk menghindari pukulan nya dan menambah tendangan di titik saraf yang membuat lawan semakin tidak berdaya, gerakan dengan kecepatan yang melayang seperti memiliki tubuh ringan. Terlihat kewalahan lawan nya mengimbangi kecepatan Asfa, namun setiap lawan memiliki kelebihan masing-masing hingga Asfa harus tepat menemukan titik kelemahan para lawan dalam satu kali gerakan lawan.
"Stop! " seru seseorang yang sangat di kenali para pria kekar dan menghentikan gerakan semua lawan Asfa.
Prook.. prook.. prook..
Tepukan tangan Asfa membuat para lawan itu memandang gadis yang kini dengan santai nya menyingkirkan tubuh kekar di depan nya dan menyambut kedatangan orang yang menjadi incarannya.
"Queen. Apa salah ku kali ini? " tanya gugup seorang pria yang seakan nyali nya sudah terbang bersama angan nya.
Bukan sebuah jawaban, namun langkah dengan sepatu boots itu melangkah mendekati pria yang melemparkan sebuah pertanyaan menggelitik perut nya. Seperti nya pria yang masih lebih muda dari papa nya itu sudah pikun sebelum usia nya, membuat aura yang di tunjukkan Asfa semakin mengintimidasi.
Para pengawal pria itu tidak ada yang bisa bergerak dengan keadaan boss mereka di ujung pistol yang tidak berjarak dengan kepala ber rambut klimis itu, yah kini tuan besar menyandera sasaran putri nya. seorang pria yang usia nya lebih muda dari nya dengan perut buncit, namun tetap saja dirinya tidak mengenal siapa para cecunguk yang berada di sekitar wilayah nya itu.
"Serakah? Tamak? " jawab Asfa dengan mencengkram dagu pria rambut klimis.
Wajah yang meringis berusaha menjawab namun satu telunjuk jari di bibir topeng Asfa membuat pria itu hanya menelan saliva nya dengan susah, Asfa yang memahami jika pria di depan nya tengah ketakutan hanya bisa menambah tekanan pada cengkraman tangan nya.
"One minute, Burn your company or you lost everything." perintah Asfa dengan menambah kan todongan senjata di jantung pria klimis.
"What!? " seru sepontan pria klimis dan segera menggeleng pelan tanda menolak setelah cengkraman tangan di dagu nya terlepas.
"Your CHOOSE! " ucap Asfa menadahkan tangan nya ke tuan besar dan dengan tangan tuan besar satu nya yang menganggur memberikan benda pipih milik nya.
"Tunggu! Beri aku satu kesempatan, apapun akan ku lakukan asal perusahaan itu tetap berjalan." pinta pria itu dengan memelas namun mata nya menunjuk kan hal lain.
__ADS_1
Mata dengan beberapa kedipan itu memberikan isyarat ke arah belakang membuat Asfa langsung memahami kelicikan yang sedang di lakukan pria klimis di depan nya. Dalam hitungan detik hembusan angin membawa gerakan lawan memasuki gendang telinga Asfa dan terlihat papa nya juga langsung menarik tangan nya dan membuat pria klimis sebagai tameng nya.
Doorr.. doorr... doorr... doorr.. doorr...