My Secret Life

My Secret Life
Bab 148: Club dan Misi balas dendam


__ADS_3

Cup…


"Mutiara ku terlalu dewasa. Papa harap bisa memberikan kebahagiaan yang nyata untukmu." gumam tuan Luxifer menatap wajah Asfa yang tenang dalam pangkuannya.


Zoya, apa kekuranganku? Masih adakah keraguan di hatimu? Hal terberat dalam hidupmu pun, aku tak berhak mengetahui. Aku tidak akan meninggalkan mu meskipun kamu menolak ku tanpa alasan.~ batin tuan Luxifer memejamkan mata, membiarkan hembusan angin mengusap wajahnya.


Meninggalkan kegalauan tuan Luxifer, di antara deretan pengunjung sebuah club yang tengah menikmati wine dengan berbagai merk. Seorang pria tengah duduk dengan wajah puas, berulang kali tangannya men scrol layar ponsel di depannya. "Damn it! Umpan sudah masuk. Selamat menikmati pertunjukan my enemy."


Puk…


"Hay kawan! Udah bosen ya jadi orang baik? Akhirnya balik lagi. Hahaha." tukas seorang pria buncit setelah menepuk pundak pria yang duduk tenang didepan meja bartender.


Pria itu hanya acuh dan menikmati minumannya. Satu tegukan wine, tak menyisakan satu tetes wine di gelas mini itu. Pria itu mengambil dompet dan mencopot lima lembar uang merah. Dengan santainya meletakkan dibawah gelasnya. Kini langkahnya meninggalkan club tanpa mempedulikan wajah masam pria buncit.


Awas saja! Akan ku balas sikap sombongmu itu. Tunggu tanggal mainnya. ~ batin pria buncit menggenggam tangannya dengan kuat.


Berbeda dengan pria yang keluar dari club, langkahnya seakan memburu sesuatu. Setelah menemukan kunci mobilnya disaku. Pria itu bergegas membuka kunci mobil van, dan masuk dengan tergesa-gesa.


Braak….


"Si al! Kenapa harus ada yang melihat ku. Sebaiknya aku singkirkan sekarang, yah itu lebih baik." gumam pria dengan paras paruh baya, smirk licik terbit dari bibirnya.


Mobil van di parkiran masih tetap berdiam diri, sang pengemudi masih memantau orang-orang yang keluar masuk club tanpa teralihkan. Menunggu selama dua jam, membuat mata dan fikirannya lelah dan jengah. Jemari pria paruh baya itu tak hentinya bergerak mengetuk setir kemudi.

__ADS_1


Tuk.. Tuk.. Tuk..


Sekali lagi pintu club terbuka, dan seorang pria buncit keluar dari club dalam keadaan setengah mabuk. Terlihat jalannya tidak lurus, tapi bisa dipastikan jika pria buncit itu masih memiliki kesadaran. Mata sang pengemudi, hanya terpatri pada pria buncit yang memasuki mobil jazz merah menyala. Dengan jarak 3 meter, kini mobil beriringan. Perjalanan selama sepuluh menit, hingga melewati daerah sepi dengan medan cukup bagus untuk adrenalin.


Ada sebuah jembatan dengan sungai deras dibawahnya. Sang pengemudi mobil belakang menambahkan kecepatan dan menyalip mobil jazz merah di depannya. Di pertengahan jembatan mobil van melakukan pengereman dadakan, kini mobile itu mengarah pada mobil jazz merah yang akan datang. Lampu depan van padam, hingga mobil jazz merah terlihat. Lampu depan mobil van langsung menyala.


Wuuss… Wuuss…


Ciiittttt… Braaaak…. Byuuur….


Tanpa kendali mobil jazz merah meluncur, menabrak pembatas jembatan dan jatuh kedalam sungai. Pria paruh baya keluar dari mobilnya, dan berjalan ke tepi jembatan menatap kebawah aliran deras sungai. Senyuman smirk terbit dengan mata puas. "Pandangan matamu buruk! Ck.. Ck.. Ck.."


Tanpa disadari olehnya jika ada seorang pengemis dibawah sana melihat sekilas bayangan di atas jembatan. Pengemis itu berteduh di balik rimbunya dedaunan, seketika petir menyambar. Membuat si pengemis merekam wajah seorang pria paruh baya dengan senyuman aneh diwajah menatap puas kedalam sungai deras.


Langkah pria paruh baya itu kembali memasuki mobil dan meninggalkan tempat kecelakaan dengan kepuasan tersendiri. Perjalanan selama satu jam setengah, hingga mobil memasuki kawasan elite perumahan. Pintu gerbang sebuah mansion terbuka, satpam hanya menundukkan kepala melihat majikannya pulang cukup larut malam.


Pak satpam merasa sedikit terkejut dengan pertanyaan majikannya. "Sudah tuan. Nyonya pulang sore sekitar jam 5."


Pria paruh baya mengangguk dan tersenyum. "Jaga kesehatan pak. Saya masuk dulu."


"Terimakasih tuan. Silahkan." jawab pak satpam dengan tersenyum.


Mansion mewah dengan seluruh fasilitas lengkap, langkah kaki pria paruh baya menapaki marmer dengan santai. Bukan lantai atas yang menjadi tujuannya, tapi ruangan dengan koleksi buku ratusan menjadi tujuannya. Perpustakaan keluarga. Itulah tujuannya, setelah mengunci pintu. Pria paruh baya menghampiri meja kerja dan memutar sebuah patung liberty mini yang menempel dengan permukaan meja.

__ADS_1


Kleeeetek… kleeeetek…


Suara gesekan marmer, membuat satu pintu ruangan bawah tanah terbuka. Kini langkah pria paruh baya menuruti satu persatu anak tangga dengan siulan dibibirnya.


Ctek… (suara menekan saklar lampu)


Lampu menyinari ruangan bawah tanah dengan luas sepuluh meter kali lima meter, sebuah meja dengan kasur. Ditambah alat-alat eksperimen yang jauh dari pandangan semua orang. Dari semua benda didalam ruangan itu, ada satu foto besar terpampang di dinding seperti menjadi idola. Tangan pria paruh baya mengusap foto itu dengan mata memuja. "Cantik! Apa kabarmu? Sudah waktunya, permainan ada dibawah kendali ku. Bantu aku sayang. Karena hanya kamu jalanku masuk ke dunia musuh kita. Love you Iska."


Mata memuja itu perlahan berubah menjadi mata kebengisan, tangannya mengepal hingga kuku memutih. Rasa sakit di hatinya masih terasa baru meskipun sudah bertahun-tahun dan tidak ada obat untuk menyembuhkan lukanya. Rasa cinta tulusnya menjadi sebuah pedang tajam yang menusuk jantungnya tanpa ampunan. Lelehan airmata menetes, dengan kasarnya tangan itu menghapus jejak air garam. "Jika kamu tidak mau membalas! Tanganku sendiri yang akan membalas, dan kamu akan menjadi perantara misi balas dendam ku. Aku mencintaimu Alis, tapi aku lebih membenci pria itu!"


Rasa dendam dihati pria itu mencapai puncaknya, berbeda dengan keadaan di Villa terlarang. Dimana Abhi merasakan tubuhnya remuk redam, setelah seharian mengurus Ceta. Tidur pun tak mampu, kini hanya sanggup membolak-balikan badan dengan wajah meringis. Sungguh saat seperti ini, Asfa menjadi obat untuknya. Tapi dari ratusan chatnya, hanya satu balasan dari sang istri. Ajaib bukan. Ratusan chat terkirim dengan rasa cemas, kerinduan mengaduk isi hati dan fikiran Abhi. Tapi balasan yang didapat hanya satu chat, dengan jawaban tersingkat.


"Kamu dimana? Aku rindu. Kenapa menerbangkan ku begitu tinggi, jika kamu ingin menyiksaku. Cepatlah pulang Asfa, aku tak sanggup tanpa mu." gumam Abhi memeluk guling dengan erat.


Di tempat lain, Asfa tersedak. Membuat satu uluran gelas air putih tersaji didepan mata. "Minumlah!"


Gluuk…


Asfa mengembalikan gelas ke tangan si pemberi. "Thanks, lanjutkan tadi berhenti dimana."


"Sebaiknya anda istirahat. Kita bisa bahas kerjasama ini lain waktu."


"Esok pagi. Sembari sarapan. Malam." Asfa memutuskan pergi meninggalkan rapat dan berjalan menuju kamar hotelnya dengan wajah pucat.

__ADS_1


Matanya mulai tak bisa dikendalikan. Semakin dipaksakan, justru semakin berputar. Tubuhnya terasa melayang, dengan kesadaran yang tersisa Asfa merasakan sentuhan lembut di pinggangnya. Wajah yang terasa tak asing memeluk tubuh lemasnya. "Apa mau….."


"Aku hanya ingin memandangmu! Ayo ku bantu ke kamar." jawab seorang pemuda dengan cekatan menggendong Asfa ala bride style.


__ADS_2