
Sebuah kawasan elite dengan lima gedung pencakar langit kini berdiri tegak di hadapannya, sebuah ukiran nama singkat yang tercetak dengan sempurna di tengah gedung pencakar langit yang menjadi pusat kawasan terlihat bersinar terkena sorotan sinar matahari. Setelah memasuki kawasan itu, terlihat pengamanan yang sangat ketat dan seorang kepala keamanan menghampiri mobil sport nya yang baru saja memasuki jalan umum untuk para pekerja.
Tok.. tok.. tok..
Dengan perlahan di buka nya jendela mobil menunjukkan wajah nya yang masih tertutup topeng, terlihat kepala keamanan itu menunduk memberikan hormat dan memberikan isyarat agar pintu gerbang di buka.
"Untung saja bibirku masih terkunci, kalau lemes bisa berabe." ucap kepala keamanan sembari mengelus dada nya yang terlihat dari spion kaca mobil Asfa.
Mobil sport itu memasuki parkiran khusus yang memang disediakan untuk jajaran para pemimpin, kunjungan kali ini memang sengaja dadakan sebagai rutinitas bulanannya ya meskipun hampir empat bulan dirinya tidak mengunjungi perusahaan nya. Terlihat beberapa mobil baru yang terparkir, mungkin beberapa dewan direksi sudah bosan dengan mobil lama mereka dan di sudut sana ada sebuah mobil yang sangat di kenali nya.
Jam di atas lift menandakan waktu para karyawan masih bekerja karena ini baru pukul sepuluh pagi, dan lift khusus itu kini membawa Asfa menuju ke lantai tertinggi dimana ruangan nya berada. Hanya membutuhkan waktu menit lift itu berhenti dan terbuka, suasana tampak seperti biasa sunyi sepi dan tenang.
"Queen? " ucap seorang wanita dengan pakaian sexynya yang duduk di tempat kerja nya dengan malas.
"Apa kau bosan kerja? " tanya Asfa dengan dingin.
"Maaf queen." ucap wanita itu menunduk.
Tapi Asfa tidak peduli dan tidak ingin mendengarkan alasan sekretaris assisten nya itu, kini tujuannya menjadi berbelok ke ruangan sisi lain dimana assisten nya bekerja.
Baru saja pintu terbuka sedikit, sudah ada suara yang membuat Asfa menghela nafas dan menahan emosi nya, dengan membenturkan pintu agar tertutup rapat lagi. Tanpa mempedulikan wajah yang mungkin terkejut dengan tindakannya, Asfa meninggalkan ruangan assisten nya tanpa menegur atas tindakan di dalam ruangan itu.
Braaak...
"Astaga siapa itu? " seru seorang pria yang langsung melepaskan pagutan bibir nya.
"Kamu sih, kan sudah ku katakan untuk... " ucap seorang wanita yang langsung terdiam dengan kecupan pria di depannya.
"Duduk dan jangan bergerak dari tempatmu! Aku akan memeriksa sesuatu." perintah pria itu dan meninggalkan wanita nya di dalam ruangan kerjanya.
Begitu keluar dan menatap ke arah sekretaris nya yang pucat, kini dirinya tahu siapa yang membanting pintu. Bukan ingin melabrak pelakunya tapi kini langkah nya berat untuk mempertanggungjawabkan kelakuan nya tapi dirinya tetap harus bertanggungjawab.
"Masuk! " ucap seorang wanita yang sudah melihat CCTV dan terlihat pria itu masih ragu mengetuk pintu, alhasil dengan remote control pintu terbuka dan dengan jelas ucapannya akan terdengar.
"Queen." ucap pria itu dan kali ini menunduk.
"Berapa pesangon yang kamu inginkan? " tanya Asfa dengan tatapan elangnya.
"Ampun queen, beri aku kesempatan sekali lagi ... " pinta pria itu bagaikan anak rubah kecil.
"Shut up Duke Justin! You know everything about my company, so? Where your Responsibility?(Diam Duke Justin! Kamu tahu segalanya tentang perusahaan ku, jadi? Dimana tanggung jawab mu?) " tanya Asfa dengan nada yang cukup membuat Justin terdiam pasrah.
"Apapun hukuman anda akan saya terima." jawab Justin dengan mengangkat wajahnya.
Prook.. prook...
__ADS_1
"Good boy, persiapkan meeting sepuluh menit dari sekarang!" perintah Asfa yang menunda hukuman assisten nya.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Justin keluar meninggalkan ruangan queen nya dan melakukan perintah dengan cepat. Memasuki ruangannya kembali tanpa mempedulikan ekpresi dari wanita nya, kini tangan dan bibir nya sibuk melakukan pekerjaan nya. Dan sepuluh menit telah terpotong delapan menit untuk melakukan panggilan yang ntah kenapa hari ini otak nya seakan tak singkron.
"Justin ada apa? Apa semua baik-baik saja? " tanya wanita nya mendekati pria yang tengah mengatur nafasnya.
"Dia baik, apa kabar mu dokter Hanna." jawab seorang gadis yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu.
"Queen, saya baik. Bagaimana dengan anda?" jawab dokter Hanna dengan gugup.
"Hey calm down, ajak kekasihmu ke meeting. Agar dia tahu tanggungjawab seorang assisten perusahaan RA company." perintah Asfa meninggalkan ruangan Justin dan berjalan menuju ke lift tapi langkahnya terhenti di depan meja sekretaris assisten nya yang terlihat wajahnya murung.
Langkah kaki di belakangnya ikut berhenti ketika melihat queen nya berhenti, dan satu perintah dari queen nya hanya bisa di terima sekali lagi tanpa membantah.
"Pindahkan dia dari wilayah ku, terserah kemana sesukamu." ucap Asfa berjalan menuju lift.
Docter Hanna hanya bisa menelan saliva nya dengan susah payah, apapun maksud queen sudah pasti bukan hal yang baik dan itu terlihat dari wajah pria di samping nya yang pasrah tanpa bantahan.
"Kemasi barangmu dan datanglah ke alamat ini." ucap Justin menuliskan sebuah alamat dan di letakkan di meja sekretaris nya.
"Tuaan." ucap wanita sexy itu memelas tapi hanya tatapan datar yang di dapat kan, pasrah dan mulai mengemasi barangnya daripada dirinya menjadi bahan lemparan dari gedung lantai tertinggi oleh tuan Justin.
Justin
___
Lift berhenti di lantai sepuluh yang menjadi pertengahan pusat perkantoran, di lantai itu berjejer beberapa ruangan dengan kebutuhan meeting yang berbeda-beda dan kini tujuan pimpinan perusahaan adalah ruang meeting ekslusif. Terlihat dua bodyguard sudah berjaga dengan senjata di pinggang mereka, melihat kedatangan queen beserta assisten dan seorang wanita asing membuat kedua bodyguard itu membungkuk sesaat dan bersikap siaga kembali.
Justin melangkah maju terlebih dahulu membukakan pintu kaca dengan ukiran indah RA Company Meeting Room Ekslusif, nama dengan emas asli itu pasti akan membuat siapapun melihat sisi elegan dari pemilik perusahaan. Begitu pintu terbuka terlihat sosok-sosok yang jarang di lihat namun tidak pula di lupakan, langkah tegas seorang gadis dengan topeng di wajahnya mampu menarik perhatian semua orang yang hanya berjumlah empat orang itu.
"Duduk!" ucap Asfa sembari menduduki kursi kebesaran nya sebagai seorang pemimpin.
"Selamat datang kembali queen, kami senang melihat anda kembali berkunjung." ucap seorang wanita paruh baya yang memimpin gedung pencakar langit no 2.
"Hmm.Silahkan dimulai." perintah Asfa.
Satu persatu melakukan presentasi yang selama beberapa bulan terakhir hanya Justin yang mendengar atau terkadang sosok misterius lainnya yang mewakili queen mereka tapi melihat topeng yang sama memastikan jika siapapun di balik topeng misterius itu pasti orang berpengaruh dalam kehidupan circle queen mereka.
Empat pemimpin dari empat gedung pencakar lain pendamping mampu menghabiskan waktu dua jam yang membuat wajah bosan di dalam topeng tetap stay konsentrasi meskipun fikiran nya sedikit terbagi ke tempat lain, setelah mendengar secara langsung ke empat pemimpin itu terduduk dengan perasaan cemas. Pasalnya queen mereka seakan terdiam mencari celah kesalahan bawahannya, berbeda dengan wajah Justin yang kali ini seperti di tekuk meskipun tidak ada yang berani berkomentar.
"Good job, pertahankan. Duke berikan bonus tambahan untuk setiap karyawan yang berjasa dan hukuman untuk yang berkhianat." ucap Asfa sembari bangun dari duduk nya meninggalkan ruangan meeting tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Kembalilah bekerja, bonus akan dikirimkan hari ini." perintah Justin dan menyusul queen nya yang diikuti oleh Hanna.
"Tuan." panggil Hanna yang merasa lelah mengikuti langkah Justin.
"Seperti nya aku harus mengajarimu bertahan di dalam lingkungan ku." ucap Justin yang langsung mendapatkan tatapan bingung wanitanya.
"Apa maksud... " tanya Hanna dan terpotong karena tarikan lengan kekar Justin.
"Diam saja hari ini dan biarkan akau bekerja." bisik Justin ditelinga Hanna setelah memasuki lift untuk kembali keruangan nya.
Setelah lift terbuka, terlihat meja sekretaris nya sudah kosong yang berarti wanita itu paham dengan sifat nya dan dengan isyarat kini Hanna memasuki ruangan Justin sendirian dan kekasih kontrak nya itu memasuki ruangan yang tertulis jelas sebuah nama Presdir Q.A.L dengan ukiran yang indah menunjukkan nilai seni seorang pemimpin RA company.
Sekali lagi tanpa mengetuk pintu, pintu sudah terbuka dan kali ini terlihat nona muda nya menatap keluar jendela dan jaket kulit nya sudah terlepas dari tubuh mungil nya itu. Aura yang jelas lebih dingin dari AC yang bervolume tinggi mengubah suasana menjadi merinding, dan suara yang keluar dari bibir semerah cerry itu sangat lah penuh intimidasi.
"Apa arti RA company Duke? " tanya Asfa tanpa mengalihkan wajahnya dari langit di depan sana.
"Royal Asfa Company." jawab Justin dengan tegas.
"Apa tanggungjawab terbesar di dalam Royal Asfa Company? " tanya Asfa lagi.
"Kepercayaan dan kesetiaan." jawab Justin tanpa ragu.
"Sikap macam apa yang kamu tunjukkan hari ini? " tanya Asfa pada poin terpenting.
"Maaf." ucap Justin reflek tapi tulus dari hatinya.
"Kirim dia ke mansion anak-anak dan pastikan dia pantas untukmu." perintah Asfa mutlak.
"Queen." ucap Justin dengan nada tidak rela.
"Ingatlah satu hal, nyawa kita selalu dalam bahaya. Dalam kehidupan bintang banyak doa yang berharap bintang jatuh ke bumi. Pertahankan atau lepaskan, keputusan ada di tanganmu." ucap Asfa memperingati assisten nya.
"Seperti perintah anda queen, akan ku kirim Hanna ke mansion anak-anak. Anda benar, sebagai pelindung bintang maka tugasku jauh dari kata tenang dan nyaman. Akan ku pastikan dia layak untuk menjadi pendamping ku tanpa membuat anda khawatir." jawab Justin setelah berfikir sejenak.
"Pergilah nikmati waktu mu bersama nya, dan esok tugasmu harus selesai." ucap Asfa melambaikan tangannya dan Justin meninggalkan ruangan queen nya dengan ekpresi serius.
Kepergian Justin membuat nya menghela nafas, terkadang dirinya merasakan menjadi manusia terburuk tapi dirinya juga tidak mungkin membiarkan orang-orang baru yang memasuki circle kehidupan nya ataupun kehidupan orang-orang di sekeliling nya mudah di jangkau dan di sakiti. Setiap peristiwa yang menghampiri hidupnya selalu dirinya antisipasi agar ke depannya sudah ada persiapan lebih baik, tidak ada kata nanti untuk nya jika menyangkut nyawa orang-orang di dalam lingkungan kehidupan nya.
Triiing....
Suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya, membuat nya menghampiri meja kerja nya dan benda pipih itu terus berbunyi sedangkan earphones baru saja di lepaskan setelah memasuki ruangan nya tadi.
"Kapan kamu kembali? Sebentar lagi suami mu siuman." ucap orang di seberang.
"Tunggulah satu jam lagi." jawab Asfa mematikan telfonnya.
__ADS_1
Di sambarnya jaket kulit yang tersampir di kursi kebesaran nya, dan kunci mobil yang ada di meja. Berjalan menyusuri lorong yang sepi dan memasuki lift kembali sampai ke lantai dasar dimana mobil nya terparkir, dengan gaya yang stylish kini mobilnya keluar dari kawasan perusahaan RA company.