
"Queen are you okay? " tanya seorang pria dengan wajah cemas menghentikan langkah Asfa.
"Hmm." jawab Asfa dan melewati pria itu dengan wajah datar nya.
Ada sesuatu yang menyentuh pergelangan tangan nya membuat gerakan reflek dengan memutar tubuh nya dan menarik tangan yang mencekal tangan kiri nya, dan tarikan itu berujung dengan tubuh melayang dan terjatuh dalam waktu cepat.
Bruuug... auuw..
Pria itu terbanting ke lantai dengan tangan yang terkilir, ringisan di wajah nya sudah pasti menandakan pria itu tidak baik-baik saja. Asfa melihat siapa yang berani menyentuh tangan nya, pria dengan wajah ok tapi tetap saja pria itu hanya lah tamu di mansion nya. Kedatangan seorang wanita dengan pakaian nyentrik membuat Asfa pergi meninggalkan tempat itu tanpa peduli pada pria yang menatap nya dengan kecewa dan rasa sakit di tubuh nya.
"Lain kali sayangi nyawa mu. Ayo." ucap wanita dengan pakaian nyentrik membantu pria itu untuk bangun dari tempat nya bersuka ria akibat bantingan queen nya.
"Auww." rintih pria itu yang di bantu duduk di sofa dengan kasar.
"Sudan ku ingat kan sejak awal jaga pandangan mu tapi bocah seperti mu memang susah di nasehati!" ucap wanita nyentrik dengan mengambil kotak obat yang ada di salah satu lemari satu meter yang berjejer di depan dinding kaca.
"Aku hanya khawatir dengan nya, para bodyguard banyak yang panik dan mengatakan jika Asfa terluka. Apa salah jika aku mengkhawatir kan pemilik mansion yang menjadi tuan rumah? " kilah pria itu dengan memegangi tangan kanan nya yang terasa tulang nya bergeser.
"Terserah mu, obati saja sendiri!" ucap wanita nyentrik itu dengan meletakkan kotak obat di meja kaca depan pria itu dan segera pergi ber lalu tanpa mempedulikan nasib pria yang kini mencebikkan bibir nya.
Dengan kesusahan kini satu tangan nya mencoba mengobati luka yang tidak seberapa karena lecet di siku nya tidak sesakit tangan nya yang terkilir, dengan menggigit bibir bawah nya satu tangan kiri nya mencoba untuk memijat perlahan tangan kanan nya.
"Next time, don't touch me." ucap seseorang yang langsung mengambil alih tugas mengobati pria itu.
Tangan nya terlihat lincah dengan setiap penekanan syaraf nya, hingga tanpa memberikan aba-aba gadis itu langsung menarik dan memutar lengan kanan nya.
"Arrrrgghh.. " seru pria itu yang membuat para bodyguard hanya meringis karena ngilu, sudah pasti itu rasa nya sakit dan lebih baik rasa peluru.
"Finish." ucap gadis itu dan bangkit dari duduk nya.
Suara langkah kaki yang terdengar berlari menuruni tangga dan bergegas menuju ke arah teriakan, tapi pandangan nya kini bingung dengan wajah kedua makhluk yang terlihat kontras. Yang pria terlihat meringin namun senyuman nya terlihat jelas penuh rona kebahagiaan sedang kan gadis nya terlihat datar dan acuh.
__ADS_1
"Ada apa? Queen? Leo? " tanya Alvaro dengan satu alis nya terangkat.
"Tell your friend, don't touch me again." jawab Asfa dan pergi ke tempat seharusnya.
Sebenarnya tidak ada niat untuk menolong Leo tapi melihat bunda Anya tidak peduli dengan pria itu tentu saja sebagai seorang dokter dirinya tidak bisa mengabaikan orang terluka di depan mata nya, meskipun luka itu dirinya yang membuat nya. Maka membenarkan tangan nya yang terkilir sudah lah impas bagi Asfa, maka dari itu Asfa mengulur waktu nya untuk bekerja dan memperbaiki lengan Leo terlebih dahulu.
Kepergian Asfa membuat Alvaro duduk di atas meja dan menatap anggota team nya itu dengan serius, ada hal yang harus di hentikan sebelum hal itu semakin menggila. Rona merah di wajah putih Leo sungguh menceritakan banyak hal yang tersembunyi dan beberapa kali pria itu selalu memandang dengan tatapan memuja pada adik nya.
"Sampai kapan kamu biarkan bunga-bunga itu bermekaran di sini?! " tanya Alvaro dengan suara khas nya yang berat saat menahan emosi nya.
Leo yang mengikuti telunjuk tangan Alvaro tepat di dada nya langsung merasa dipojokkan, sejak awal Alvaro sudah memberikan peringatan dan juga nasehat baik sebagai sahabat ataupun sesama pria. Tapi bagaimana menjelaskan pada pria dingin di depan nya ini jika orang jatuh cinta tidak bisa memilih siapa orang yang akan membuat debaran di dalam dada dan senyuman tulus tanpa membutuhkan alasan.
"Leo! " panggil Alvaro yang justru melihat sahabat nya itu melamun ntah sampai ke ujung mana.
"Ekhem, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan hal ini. Tapi sungguh aku semakin jatuh dalam rasa ku pada nya, apa salah nya mencintai queen? Cinta ku tidak akan menuntut apapun dari nya, biarkan aku memiliki cinta ini meskipun hanya sepihak. " ucap Leo dengan serius.
"Cinta? Apa kamu pikun? Atau kamu amnesia? " ucap Alvaro yang kini nada bicara sudah sinis dengan tatapan tak menyenangkan.
"Shut up! Pria yang terbaring di dalam sana adalah suami sah queen, kamu paham arti kata SUAMI! Mau jadi apa kamu sekarang? Jangan katakan jika Cinta itu buta, kita tidak bisa memilih siapa yang akan memiliki hati kita TAPI kita bisa menghentikan perasaan Cinta itu ketika kita sadar Cinta yang kita miliki hadir pada orang yang tidak tepat. Dan queen bukan untuk mu, hentikan sebelum Cinta itu membakarmu." ucap Alvaro dengan tatapan tajam dan penuh penekanan tanpa mengurangi rasa per sahabat an nya.
"Kali ini percayalah pada ku Aal. Berikan aku kesempatan untuk membuktikan Cinta ku." pinta Leo dengan sungguh-sungguh dan menggenggam tangan Alvaro yang langsung di singkirkan oleh Alvaro.
"Leo apa kamu masih waras? Kagum boleh, tapi mencintai istri orang itu salah. Masih banyak gadis di luar sana yang bisa kamu miliki, sejak kapan kamu menjadi egois seperti sekarang. Dimana Leo sahabat kami yang selalu memahami sebuah jalan salah meskipun jalan itu sangat sempit." ucap seseorang yang baru saja datang dengan satu buku tebal yang ada di pelukan nya.
"Aku hanya jatuh Cinta, Cinta pertama ku." ucap Leo dengan memejamkan mata nya karena kini dirinya benar-benar tidak bisa mengontrol hati nya.
Ucapan kedua pria yang kini ada di hadapan nya tidak salah dan bagi nya Cinta nya juga tidak salah, hanya waktu yang tidak tepat dan benar juga Cinta nya berlabuh pada orang yang tidak tepat membuat Cinta nya menjadi salah di mata semua orang.
"Aal tinggal kan pria ini agar bisa berfikir sendiri dan semoga esok fikiran nya mendapatkan mukjizat agar lurus lagi." ajak pria yang baru datang dan Alvaro hanya menghela nafas bangun dari meja kaca yang menjadi tempat duduk nya.
"Aku tidak bisa memilih di antara kamu dan dia, kamu sahabat ku tapi dia hidup ku. Jika kamu tidak bisa menghentikan perasaan itu, ubahlah sudut pandang mu. Posisi kan diri mu menjadi pria yang terbaring di dalam sana, ku harap Leo sang eksekutor berhasil melewati ujian hati." ucap Alvaro tanpa memandang Leo dan melangkah kan kaki nya menjauh dari tempat yang menyita oksigen nya secara ber lebih.
__ADS_1
"Kamu harus tahu kami menyayangi mu bukan membenci mu, ingat lah bagaimana meeting kita terakhir kali. Dan ingat lah siapa diri mu Leo, sebagai sahabat sudah tugas ku mengingatkan mu." ucap pria dengan buku di pelukan nya pergi setelah menepuk bahu Leo.
"Askaa, bisakah temani aku sebentar? " pinta Leo dengan menatap punggung pria itu yang sudah mulai menjauh.
Langkah kaki Askaa berhenti dan berbalik menatap Leo yang ternyata sudah menatap nya dengan tatapan memelas, sungguh aneh dan lucu ketika melihat pria yang selama ini sepuluh dua belas dengan Alvaro menatap nya dengan mata baby eyes seperti itu. Askaa hanya kembali mendekati Leo dan duduk di sebelah pria itu dan membuka buku yang ada di pelukan nya tanpa memperhatikan wajah memelas Leo lebih lama lagi, karena sungguh wajah Leo membuat nya harus menahan tawa yang mulai menggelitik perut nya.
"Apa yang harus aku lakukan kaa? Ini Cinta pertama ku." tanya Leo dengan menyandarkan tubuh nya menatap lampu gantung yang begitu berkilauan.
"Jujur pada ku deh, apa kamu sungguh mencintai Queen? " tanya balik Askaa dan menutup buku dan meletakkan nya di meja kaca, pandangan Askaa kini terpatri pada sahabat nya yang masih memandang lampu gantung dengan tubuh setengah terbaring di sofa.
"Queen cinta pertama ku, debaran itu tidak bisa ku pungkiri. Saat melihat senyuman nya hati ku ikut tersenyum, kecerdasaan nya yang membuat mata ku tidak henti menatap nya dengan kekaguman. Perasaan itu semakin tumbuh tanpa di siram oleh nya, aku sendiri yang menyiram Cinta ku dengan mengagumi setiap langkah dan kata nya yang membuat ku melayang. Sungguh hati ku berdetak untuk nya, rasa nya aku ingin selalu berada di sisi nya tanpa jarak sedikit pun." jawab Leo dengan rona merah yang kembali muncul di kedua pipi nya.
"Bagaimana reaksi queen selama ini saat di depan mu? " tanya Askaa karena tinggal di mansion besar membuat semua penghuni belum tentu bertemu setiap waktu seperti kemunculan nya yang hanya karena tidak di sengaja melewati ruangan keluarga setelah menemukan buku yang tepat di perpustakan.
"Her is very loyal wife, this happen because I touch her hand." jawab Leo dan memegangi lengan kanan nya yang sudah membaik tapi siku nya masih memiliki darah yang mengering.
"Lalu, apa yang membuat mu bertahan? Apa jaminan mu jika Cinta itu bertahan , maka kamu tidak akan membuat badai suatu saat nanti untuk gadis yang membuat hati mu berdebar?" tanya Askaa lebih mendalam.
"Aku tidak tahu apapun lagi, selain perasaan yang ada di hati ku ini disebut cinta. Aku hanya mencintai nya tidak lebih." tegas Leo dengan menatap Askaa sembari menunjuk dada nya sendiri.
"Apapun itu, posisi kan diri mu sebagai tuan Abhishek. Apa pendapat mu jika ada yang mencintai istri mu, apakah rumah tangga mu masih dalam keadaan baik dan tidak ada perasaan cemburu terlebih ragu dengan kesetiaan istri mu? Jangan posisi kan sebagai seorang Leo yang tengah mabuk Cinta tapi posisi kan diri mu sebagai suami sah pujaan hati mu itu." ucap Askaa yang membenarkan nasehat Alvaro dan itu di ucap kan lagi oleh dirinya dengan lebih jelas.
Hening.....
"Kamu tahu, peringatan Alvaro sangat lah berbeda kali ini. Aku melihat sorot mata melindungi yang amat besar untuk queen. Sorot mata yang baru pertama kali ku lihat, ketenangan Alvaro pasti karena dia masih menganggap kita sebagai sahabat nya. Jangan hancurkan persahabatan kita, fikirkan baik-baik. Ingat lah Cinta bisa datang berulang kali tapi sahabat sejati hanya sekali, jangan buat kesalahan." ucap Askaa lagi dan bangkit dari duduk nya setelah merasa pembicaraan kedua nya sudah berakhir.
"Rasa nya sangat berat masalah ku kali ini, Cinta kenapa kamu datang di saat tidak tepat. Harus apa aku sekarang? " gumam Leo dengan menarik rambut nya sebagai pelampian perasaan nya yang sangat kacau.
Nyeees..
Ada rasa dingin yang menempel di pipi nya, membuat Leo membuka mata dan melihat apa yang ada di pipi nya. Sebuah cup ice cream yang masih tersegel menempel di pipi nya dan satu tangan yang mungil menggenggam ice cream itu dengan lembut tanpa penekanan. Seketika fikiran nya traveling dan memiliki harapan tinggi namun fikiran nya menjadi lumer seperti ice cream terkena api, wajah yang ada di hadapan nya sangat lah berbeda dari ekspektasinya sendiri.
__ADS_1
"Makanlah agar mood mu baik." ucap gadis dengan dua kuncir kuda di depan nya yang masih setia menempel kan ice cream di pipi Leo.