
Kepergian keduanya, membuat nenek Ara dan tuan Luxifer serempak menggelengkan kepala. "Apa kita harus menunggu Varo?"
"Aku harus mengatakan hal yang penting terlebih dahulu, sebelum kita berbicara di depan Varo." Tuan Luxifer memijat pangkal hidungnya.
Rasa sakit kepala, secara mendadak datang dan menusuk. Nenek Ara mengangguk paham, pasti ada hal yang di tutupi oleh menantunya itu. "Katakan apa masalah utamanya?"
"Apa anda tahu Andara Mateo telah kembali?" tanya tuan Luxifer dengan serius.
Kali ini nenek Ara mengangguk tanpa kata. Artinya, mertuanya itu tahu apa yang dilakukan oleh mantan menantu pertamanya. "Apa anda akan memberikan keinginannya?"
"Tidak! Itu bukan haknya. Semua saham perusahaan Aranda adalah milik Varo dan Asfa. Satu sen pun, pria itu tidak berhak. Meskipun pria itu sering membuat ulah. Tapi semua ditangani Rhey dengan baik." jelas nenek Ara.
Tuan Luxifer mengangguk paham. "Salah satu pusat operasi ilegalnya sudah ku hanguskan. Dan mungkin, setelah ini pria itu akan membabi buta dalam penyerangan. Ku harap anda bersiap dengan apapun penyerangannya."
"Ternyata kamu yang membuat pria itu minum selama seminggu di club malam dengan banyak wanita di atas ranjangnya. Kenapa tidak sekalian saja, hanguskan perusahaannya. Toh perusahaan itu hasil merampok." tutur nenek Ara dengan santai.
Tuan Luxifer tidak paham dengan informasi yang diberikan oleh ibu mertuanya. "Apa maksud dari hasil merampok?"
"Kamu ini tidur atau memimpin mafia? Informasi saja tidak lengkap! Bayanganmu itu terlalu santai, coba saja tanya putrimu. Pasti di jawab." cetus nenek Ara.
"Hmmm. Apa yang anda tahu? Kenapa membawa Asfa? Bagaimana gadis yang sibuk memimpin dua perusahan dan juga sibuk membantu perawatan suami buta dan lumpuh. Masih sempat mencari informasi orang lain." protes tuan Luxifer.
Nenek Ara menatap menantunya dengan gelengan kepala. ''Apa kamu terlalu sibuk dengan wanita itu? Sampai tidak tahu jalan hidup putrimu? Bahkan putrimu masih sempat mengurus masalah sistem perusahaan Luxifer disemua rencana dan tanggungjawabnya."
"Anda tahu tentang Zoya?" tanya tuan Luxifer.
__ADS_1
Nenek Ara tersenyum tipis. "Aku tidak masalah jika kamu memiliki pasangan hidup lagi. Tapi, pastikan Asfa dan Varo menerima wanita itu. Kamu terlalu sibuk di duniamu sendiri, sampai lupa dengan beban di pundak putrimu. Jika kamu ingin pensiun, pastikan Asfa memiliki sandaran yang kuat. Terkadang biarkan Asfa hidup tanpa beban sebanyak saat ini. Lihatlah sekarang, Asfa kembali menjadi putri tidur."
Setiap ucapan ibu mertuanya di dengar dengan seksama. Jika benar Asfa lebih banyak tahu setiap rahasia, maka putrinya juga tahu tentang rencananya. Tapi kenapa Asfa tetap diam dan membiarkan? Sejauh apa putrinya tahu tentang semua orang di sekelilingnya?
"Sudahlah. Semua yang ada pada Asfa berkat didikan mu dan Varo. Apapun tindakannya, kita tahu Asfa tidak pernah gegabah. Sekarang masalah apa yang akan dibahas?"
Ceklek…..
Suara pintu terbuka, membuat tuan Luxifer dan nenek Ara terdiam dan mematung kembali. Varo masuk dan kembali menutup pintu, terlihat jelas kedua orang tua di kursi sofa masih mematung. Tapi posisi keduanya berubah. "Sudahlah. Percuma membuat kalian mematung. Patung jaman sekarang bisa bergerak sendiri."
"Kemarilah. Duduk!" titah tuan Luxifer dan menepuk sofa disampingnya.
Varo berjalan mendekat dan duduk di tempat yang papanya inginkan. Wajah ketiganga berubah serius menatap satu sama lain. Alvaro merasa sesuatu tengah terjadi tanpa dirinya sadari. "Silahkan dimulai. Seperti janjiku. Aku akan diam dan tenang tanpa melakukan apapun."
"Kamu putra papa. Ini masalah kita bersama, jadi suarakan isi hatimu. Benar begitu bu?" Tuan Luxifer meminta persetujuan ibu mertuanya.
Varo dan tuan Luxifer sepakat mengangguk bersamaan. Nenek Ara yang akan memulai pembahasan dari perusahaan Aranda. Sedangkan di rumah lain di tempat penuh kesunyian. Seorang pria tengah berlatih dengan keras. Entah sudah berapa lama, tubuhnya digembleng dengan beban besi dan juga berlari di tempat.
Keringatnya bercucuran tanpa henti, mata birunya terlihat semakin tajam. Hatinya merasa tak tenang sejak pagi. Akan tetapi tak ada tempat untuk mengadu. Kehidupannya berada di tempat asing dan tanpa seorang pun bersamanya. Semua seakan menjauhkan diri darinya, meskipun begitu. Tetap saja, hanya melatih fisik agar semua beban di dalam hati dan pikirannya ikut terendam dalam kesibukan.
Suara langkah kaki seseorang terdengar jelas memasuki gendang telinganya. Namun, dirinya enggan untuk menyapa atau melihat siapa yang datang. Dari arah pantulan kaca di depannya, terlihat seorang pria dengan pakaian rapi dan jas tertenteng di lengan kanannya. Pakaian yang pasti untuk acara tertentu. "Istirahat! Terlalu berlebihan juga tidak baik."
Pria itu berbalik setelah mengatakan apa yang diinginkan. Berjalan untuk meninggalkan sosok yang bercucuran keringat di atas treadmill.
"Apa semua orang tak menganggapku ada?" tanya sosok itu dan membuat langkah si pria rapi berhenti melangkah kakinya.
__ADS_1
"Aku seperti terpenjara di istana tanpa ruangan bebas gerak. Bukankah sama saja, kalian ingin aku buta dunia luar!" tukas sosok itu dan menghentikan treadmill nya.
Tanpa menyeka keringat, sosok itu berjalan menghampiri pria rapi. Semakin langkanya dekat, tercium bau keringat. Dalam dua belas langkah, kini kedua pria berdiri bersebelahan. "Apa yang kalian mau dariku? Aku juga memiliki tanggung jawab perusahaan pribadiku."
Hening……
"Kenapa setiap pertanyaan selalu tak ada jawaban. Apa pertanyaan ku kurang tepat? Atau menyalahi aturan?" cecar sosok itu dengan menahan emosinya.
Hening……
"Apa aku berhak bertanya?!" Sosok itu menaikkan nada bicaranya dan menghadap ke samping.
Pria rapi masih terdiam tanpa kata, ekspresi wajahnya sudah merah menahan diri. Merasa tidak ada lagi pertanyaan, pria rapi menarik nafas dalam-dalam. "Ketika malam terlampau gelap. Bertahan dan berjuanglah! Semua pertanyaan mu tidak akan berarti, ketika duniamu kembali. Kamu masih terlalu awal untuk menarik kesimpulan dengan satu sudut pandang. Sekali kakimu keluar dari penjara Istana ini. Aku pastikan, tidak ada waktu lagi untukmu mengeluh dan bersikap seperti saat ini."
"Anda……"
"Jangan masukkan jarimu di air mendidih. Nikmati prosesnya agar kamu bisa menjadi sandaran orang-orang terkasih mu!" tukas pria rapi dan kembali melanjutkan perjalanan.
Serumit apa hidupmu? Ketika keluargamu saja seperti ini. Dan sampai kapan aku berpisah darimu. Aku terlalu merindukan mu.~ batin sosok itu.
Meninggalkan kegalauan sosok sendu, di sebuah kamar nan gelap seseorang tengah ketakutan dengan mencengkram selimutnya. Matanya mencari secercah sinar cahaya. "Dimana aku? Kenapa aku disini? Siapa yang membawa ku?"
Ceklek.....
Ctik....
__ADS_1
Bunyi saklar ditekan dan lampu menyala terang, membuat mata seorang wanita di ranjang mengerjap berulang kali. Siluet bayangan seorang pria menghampirinya. "Kamu....."