My Secret Life

My Secret Life
Bab 184: Bad Dream dan Perselisihan


__ADS_3

Triiing….


Satu notif pesan masuk. Mengalihkan lamunan, Abhi menyambar ponsel di sampingnya. Mata biru itu menatap tak paham, pesan itu seperti permintaan, pernyataan atau perintah. Semakin memikirkan, mata tak mampu bertahan. Mata biru itu semakin meredup dan memilih meletakkan ponsel, membiarkan tetap membuka pesan yang sama.


Kuharap, seperti rencanaku. Aku tidak mau kalah. Selamat menikmati hadiah ku. Musuhku Tersayang.~batin pria rambut sebahu dan membuang ponsel di tempat sampah.


Malam berlalu berganti cahaya mentari, langkah kaki mungil sudah sibuk mondar-mandir di dalam kamarnya. Entah kenapa, mimpi buruk semalam sangat mengusik hati dan pikirannya.


"Eeeuugghh…." Lenguhan seseorang dengan meregangkan kedua tangannya.


Suara langkah kaki menarik perhatiannya. Mata dibalik selimut mengintip dan melihat apa yang terjadi. Peri kecil dengan rambut berantakan, wajah tegang berjalan kesana-kemari seperti setrikaan. Sembari menghitung detik demi detik, hingga sepuluh menit berlalu. Peri kecilnya masih sibuk dengan aktivitas yang sama.


Selimut disibakkan, dan kedua kaki diturunkan dari sofa. Langkah perlahan berjalan menghampiri peri kecil, dan berhenti tepat disaat Asfa berbalik ke arahnya. Kedua tangan kekar itu memegang lengan Asfa. "What happen?(Apa yang terjadi?)"


Tidak peduli dengan wajah bantalnya. Vans tetap menatap Asfa lembut. Asfa menghela nafas dan membalas tatapan Vans. "Bad dream."


"Bad dream?(Mimpi buruk?)" Vans mengulang jawaban Asfa.


Asfa mengangguk dan melepaskan kedua tangan Vans dari lengannya. Langkah kaki mungil tanpa alas kaki itu, berjalan menuju balkon. Vans hanya mengekor dan tetap menunggu penjelasan dari Asfa.


Sreeek…..


Pintu kaca di geser, hembusan angin pagi berebut masuk menyapa si pemilik kamar. Udara terasa dingin menusuk. Pakaian yang tidak tebal, membuat Vans menarik selimut di sofa. Pria itu membalut tubuh Asfa dengan selimut. "Pakai dan jangan lepaskan. Cuaca sangat ekstrim. Mau teh hangat?"


"Coklat hangat, boleh?" pinta Asfa dengan tatapan tertuju pada langit pagi.


Vans berjalan kembali ke dalam, sementara Asfa memilih berjalan ke arah ayunan. Tempat itu adalah tempat favoritnya. Selimut yang cukup menutupi seluruh tubuhnya, membuat Asfa terhindar dari angin dingin.


Apa aku batalkan saja perjalanan hari ini? Kenapa mimpi buruk itu datang, dan hati serta pikiran ku menjadi tak tenang. Apa yang menantiku? Semoga saja hanya mimpi biasa. Ayolah Queen, jangan parno.~batin Asfa.


Vans datang membawa dua cangkir di tangan, asap yang mengepul pastilah isi di dalam cangkir masih sangat panas. Setelah berhenti di depan Asfa. Satu cangkir disodorkan. "Coklat hangatmu. Awas masih panas."


"Thanks, Ka. Duduklah!" Asfa menggeser posisi duduknya dan menerima cangkir dari tangan kanan Vans.


Vans duduk di sebelah Asfa. Tiupan demi tiupan yang dilakukan Asfa, mengalihkan perhatian pria itu. Entah kenapa setiap momen kecil bersama peri kecilnya itu adalah hal terbesar di dalam hidupnya. "Cantik…."

__ADS_1


"Apa kakak bicara sesuatu?" tanya Asfa.


"Tidak. Apa kamu tidak mau mengatakan bermimpi apa?" tanya balik Vans.


Asfa menyentuh coklat dengan satu jari telunjuk, dan merasa sudah pas hangatnya. Barulah menyeruput secara perlahan. "Lupakan saja, itu hanya mimpi."


"Peri kecilku, apa kamu tidak mau berbagi denganku?" ujar Vans.


Asfa mengalihkan tatapan, mata biru itu menatap Vans dengan mata persahabatan. "All fine, don't worry.(Semua baik, jangan khawatir.)"


Tidak ada gunanya memaksa. Selama kepercayaan diri dan masih mampu menghadapi seorang diri. Pastilah Asfa akan meng-handle apapun itu tanpa melibatkan siapapun. Vans hanya bisa mengusap kepala Asfa, tanpa memberikan jawaban.


Selama aku bersamamu. Akan kupastikan kamu baik-baik saja. Aku tahu, kamu hanya menganggapku sebagai sahabat dan seperti seorang kakak. Tapi, bagiku. Kamu adalah peri kecilku. Penyelamat hidupku. Aku mencintaimu tanpa syarat Queen Asfa Luxifer.~batin Vans dan tersenyum.


Asfa menikmati coklat hangat, ditemani udara dingin dan Vans yang diam seperti memberikan waktu untuk berpikir. Terdengar beberapa langkah kaki dari dalam kamar. Tak menunggu lama, kemunculan tiga orang di pintu balkon dengan wajah lega. Vans berdiri dari tempatnya. Ketiga orang berjalan mendekati tempat Asfa dan Vans berada.


Cup


"Morning, baby. How are you today?(Pagi, sayang. Bagaimana kabarmu hari ini?)" Tuan Luxifer mengusap kepala Asfa, setelah memberikan kecupan kening.


"Mulai hari…."


"Not now. I know what happen.(Tidak sekarang. Aku tahu apa yang terjadi.)" Asfa menghentikan pengumuman yang akan dilakukan oleh Varo.


Varo dan Tuan Luxifer saling menatap dan sepakat mengalihkan tatapan pada putri raja mereka. Beberapa file di tangan Varo, diserahkan ke Rania yang berdiri di sampingnya. Varo berjalan mendekati Asfa dan berlutut di depan sang adik serta mengambil cangkir coklat di tangan Asfa meletakkannya di kursi. Kini tangan Asfa berada di genggaman tangan Varo. "Bukankah selama ini, tangan ini selalu bekerja seorang diri? Apa sebagai seorang kakak, aku tidak bisa meringankan sedikit beban adiknya. Kakak macam apa…."


Asfa menarik tangan kanannya dan mengambil cangkir coklat di kursi. Melepaskan selimut yang membalut tubuhnya dan memilih turun dari ayunan. Varo menghela nafas dengan penolakan Asfa. Sudah pasti, adiknya tengah marah dan tak mungkin untuk di ganggu. Vans memilih mengikuti langkah Asfa, wajah memerah peri kecilnya sangat terlihat jelas.


"Nak!" panggil Tuan Luxifer.


Asfa berhenti, dan menyerahkan cangkir pada Vans. "Sejak kapan, keluarga ini memperhitungkan tanggung jawab dan beban? Jika aku keberatan, apa aku akan sampai titik sekarang? Papa adalah pemimpin keluarga. Aku tidak bisa membantah, ketika itu memang demi kebaikan kita bersama. Pernahkan, aku mengeluh? Jika, Ka Varo ingin mengambil semua tanggung jawab. Silahkan. Tapi, aku menolak. Karena alasan kalian, hanyalah perasaan bersalah."


Asfa menghela nafas, dan membalikkan badan. Mata biru itu menatap sang papa dan beralih menatap sang kakak yang sudah berdiri di samping papanya. "Kita keluarga, tidak ada terimakasih dan maaf. Setiap dari kita memiliki impian dan juga tanggung jawab. Tugas kita saling mensupport dan melindungi. Pikirkan sekali lagi, apa ini keputusan terbaik untuk kita semua? Atau ini hanya sebuah jalan singkat."


Ucapan panjang kali lebar Asfa, membuat Varo dan Tuan Luxifer tercekat. Meskipun keputusan mereka demi kebaikan Asfa. Tetap saja mendapatkan penolakan. Asfa terlalu keras dengan sikap tegas tanpa bantahan. Ada benarnya, apa yang diucapkan oleh Asfa. Kenyataan tidak mungkin bisa dipungkiri. Tanggung jawab yang ingin diambil oleh Varo seperti memeluk sebuah gunung berapi.

__ADS_1


"Katakan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Varo pasrah.


Asfa tidak menjawab dan membalikkan tubuhnya. "Lakukan apapun yang kalian inginkan. Vans, siapkan mobil!"


"Nak, kamu mau kemana?" tanya Tuan Luxifer panik dan berjalan mendekati Asfa.


Vans memilih melakukan permintaan Asfa, karena saat ini lebih baik menjadi penenang di tengah emosi peri kecilnya. Vans berjalan meninggalkan balkon. Sementara tubuh Asfa terbenam dalam pelukan sang papa.


"Apa kami sangat melukaimu, Nak. Jangan seperti ini. Ayo kita bicarakan semua bersama-sama," bisik Tuan Luxifer.


Asfa membalas pelukan sang papa tanpa memberikan jawaban. Varo ikut berjalan mendekati Asfa. "Bisa kita bicarakan semua…"


Asfa melepaskan pelukan. "Lakukan apapun. Aku tidak akan mengeluh. Permisi."


Asfa berlari kecil meninggalkan kakak dan papanya. Varo menjambak rambut dengan kasar, wajahnya sangat frustasi. Baru kali ini, Asfa tidak ingin mendengarkan penjelasan apalagi berbicara dari hati ke hati. Biasanya, justru Asfa yang bersikap tenang dan lebih dewasa.


"Pa, kenapa jadi seperti ini?" Varo menatap Tuan Luxifer dengan sendu.


Tuan Luxifer mendekati Varo dan menarik tubuh pria itu ke dalam pelukannya. Sembari memberikan usapan lembut di pundak. "Calm down, adikmu hanya membutuhkan waktu. Jangan memaksa, kondisinya masih terlalu rentan."


"Apa, aku tidak pantas menjadi seorang kakak? Aku ingin adikku bahagia," cicit Varo menahan rasa sesak di dada.


Rania hanya bisa melihat semuanya dan menahan rasa sedih akibat perdebatan keluarga sang suami. Bagaimanapun, Asfa, Varo dan Tuan Luxifer sangat baik dan menerima dirinya apa adanya.


Di dalam kamar Asfa mengambil pakaian ganti, dan berlari ke kamar mandi. Tanpa melihat ke belakang, dimana keluarganya masih dalam keadaan terguncang. Air shower dinyalakan. Rasa panas di kepala perlahan mereda. Entah berapa kali, Asfa menarik dan membuang nafas dalam.


Tiba-tiba saja ingatan mimpi buruk terlintas seperti bayangan. "Aaaarrrgghh."


Rasa sakit dikepala seketika menjalar, membuat kedua tangannya memegang kepala dengan erat. Kenapa mimpi buruk itu seperti menyetrum kepalanya. Vans yang baru saja selesai menyiapkan mobil kesukaan Asfa, bergegas kembali ke atas menggunakan lift.


Bersamaan dengan langkah kaki sampai di depan kamar Asfa, Tuan Luxifer, Varo dan Rania baru saja keluar dari kamar Asfa. Sejenak Vans berhenti dan Tuan Luxifer menghampiri pria itu. "Kemana Asfa akan pergi?"


"Cafe HighStar," jawab Vans.


Satu alis terangkat, untuk apa putrinya ke cafe yang cukup jauh dari mansion.

__ADS_1


__ADS_2