
"Hiks... hikss... aku akan menemui mu. Maafkan aku, bukan maksudku membuat mu celaka." ucap lirih seorang gadis yang duduk di sudut lemari dengan mencengkram sebuah ponsel yang memutar sebuah video kecelakaan lalu lintas parah, sebuah mobil dengan plat yang di kenalnya menghantam tiang listrik mengakibatkan seorang pengemudi jatuh tidak sadarkan diri dengan luka kepala yang parah.
"Semua ini gara-gara kau kak! Awas saja jika my dream tidak bangun lagi, akan ku balas kau berkali-kali lipat dari penderitaan my dream!" seru Delia menghapus air matanya dan keluar dari sudut lemari meninggalkan kamar yang berantakan dan melakukan persiapan untuk rencana yang sudah traveling di dalam otaknya.
Itulah kecelakaan tragis yang di alami oleh Abhi, kecelakaan yang sebenarnya bukan di buat untuk mencelakai pria itu. Ntah apa yang membuat pria itu berganti mobil hingga mengakibatkan sebuah kecelakaan yang tidak di rencanakan. Padahal niat Delia membayar orang-orang merusak rem mobil yang terparkir di dalam kediaman Abhi adalah untuk mencelakai istri dari pemilik rumah. Karena sebenarnya mobil itu memang di pesan khusus oleh Abhi untuk istrinya, maka dari itu orang-orang suruhannya menyabotase mobil yang memang belum pernah di gunakan sama sekali oleh siapapun.
Dimasukkannya beberapa baju dan perhiasan yang selama ini asfa berikan, hingga beberapa pack lembar uang tunai yang selama ini di kumpulkannya. Semua yang di butuhkan sudah siap hanya tinggal melakukan rencana terakhirnya, di ambilnya ponsel di atas nakas, mencari sebuah nomer yang akan menjadi tujuannya.
[Aku siap! Malam ini juga aku harus keluar dari sangkar] ucap Delia setelah telfon nya tersambung.
[Selamat bergabung rubah kecil] jawab seseorang di seberang telfon dengan nada menggoda.
Seorang pria paruh baya dengan luka lebar yang menggores di belahan pipinya terlihat semakin membuat pria itu sangar, hanya saja perut buncit nya menghilangkan kesan sangarnya. Dengan adanya telfon barusan membuat pria itu diliputi rasa bahagia, hingga menyuruh pelayan di dalam rumah mewah kecilnya untuk menyiapkan pesta.
"Tuan? Apa yang membuat Anda bahagia?" tanya assistennya yang memiliki tato elang di lengan.
"Rubah kecil itu sepertinya bosan hidup di dalam sangkar emas, aku punya mainan baru yang akan membuat musuhku kelabakan. Hahahaha." jawab pria paruh baya itu sembari memegang perutnya yang ikut bergetar.
"Siapkan penyerangan di sangkar emas, ambil rubah kecil itu dan bawa kemari malam ini juga!" perintah pria paruh baya itu dengan wajah yang masih berbahagia.
"Siap tuan Bram, tapi bagaimana jika tuan besar tahu hal ini?" tanya assistennya yang sedikit khawatir akan keselamatan tuannya.
__ADS_1
"Bod0h! Bahkan pria itu tidak ada di negara ini saat ini, jadi tenang saja. Pergilah siapkan semuanya dan aku menunggu hadiah ku." perintah tuan Bram dengan mengibaskan tangannya.
Beberapa wanita dengan pakaian kurang bahan yang menampilkan setiap tonjolan di dalam tubuhnya mendekati Tuan Bram, tanpa menunggu lama dengan gesit tuan Bram menarik secara bergiliran wanita-wanita itu untuk menikmati setiap cumbuan dan godaan yang memiliki sensasi masing-masing.
Sedangkan di rumah sakit utama Abhi baru selesai menjalani operasi agar keadaannya tidak berisiko lebih parah lagi, karena mengalami pendarahan di kepala membuat pria itu harus melakukan berbagai jenis pemeriksaan dengan semua alat yang telah tersedia. Dokter utama yang memimpin operasi kali ini terlihat sangat pucat dari biasanya, membuat justin yang sedari awal hanya memandang ke depan pintu menjadi menautkan alis seakan memastikan gestur dari para dokter yang kini keluar satu persatu.
Bukan hanya tangannya tapi juga tubuh dokter itu bergetar seakan tahu apa yang akan terjadi padanya jika berita yang di sampaikan tidak memuaskan queen, Justin memahami keadaan para dokter yang memang sudah ter stuck pada keadaan paling rumit dari seluruh kerumitan.
"Bagaimana Bia?!" tanya Justin dengan santai agar menetralkan suasana di sekitarnya.
" Tuan.. ituu.. pasian mengalami mati syaraf sehingga mengakibatkan kelumpuhan..." jawab Docter Bia dengan memilin pakaian dokter nya yang seakan membuat lehernya tercekik.
"APA?! APA YANG KALIAN KERJAKAN DIDALAM!" seru suara dingin dengan langkah tak terdengar yang tiba-tiba muncul dari arah lorong.
"Lihat aku jika berbicara! Apa kalian semua lupa cara beretika?!" ucap Asfa dengan memegang dagu Docter Bia untuk memandang wajahnya.
"Maafkan aku queen, ini salah ku. Hukum saja aku tapi jangan mereka, operasi ini di pimpin olehku." jawab Docter Bia dengan mata berkaca-kaca.
"Kalian dengarkan aku! Lakukan perawatan terbaik untuk suami ku! Dan kau Docter Bia cari jalan untuk mengobati suamiku! Kalian paham!" perintah Asfa dengan wajah dingin meninggalkan para dokter yang masih membeku.
"Istirahat lah kalian! Ingat apa perintah nona muda, dan satu hal lagi. Jangan sampai berita ini keluar dari tempat kalian berdiri, atau kalian tahu apa akibatnya!" tekan Justin memberikan tatapan tajam agar semua dokter paham situasi yang mereka alami sangatlah serius.
__ADS_1
Kepergian para dokter, membuat Justin ikut memasuki ruangan Class VVIP dimana pria yang kini sudah menjadi keluarga besar dari seorang pemimpin mafia no satu di seluruh dunia, pria itu memiliki keberuntungan yang tidak pernah di ketahuinya. Andaikan pria itu tahu siapa gadis yang di nikahi, akankah pria itu bersikap manis dan sabar seperti biasanya atau justru akan membenci nona mudanya.
Semoga hubungan ini tidak menyakiti Asfa, aku akan selalu menjadi tameng mu nona muda. Hidupku sudah separuh mikikmu, biarkan aku menjadi penjaga mu selalu. ~batin Justin yang membiarkan Asfa melakukan tugasnya dengan serius.
Asfa memasuki ruangan rawat Abhi bukan hanya sekedar mengunjungi ataupun menjaga Abhi, melainkan melakukan pemeriksaan lebih intensif pada pria yang sudah mau bersabar menerima dirinya yang terlihat lemah dan bodoh. Jangan pernah meragukan seorang Asfa yang memang terlahir jenius. Bahkan sekolahnya pun tidak bisa di tempat umum ataupun khusus karena pelajaran yang harus Asfa terima jauh dari semua bayangan siapapun, papanya sudah menyiapkan putri tunggalnya untuk segala kemungkinan dengan berbagai macam pengetahuan dan juga hal lainnya.
Lihatlah gadis bermata biru itu dengan teliti dan lincah memeriksa bagian demi bagian tubuh Abhi, dan sesekali melihat computer canggihnya yang seperti fokus pada setiap titik yang diinginkan oleh Asfa. Justin bisa saja membantu tapi keahlian nona mudanya jauh di atasnya jadi akan lebih baik membiarkan Asfa melakukan sendiri.
Ntah sudah berapa lama Justin hanya memperhatikan hingga sebuah deringan ponsel mengalihkan konsentrasinya, dengan menekan tombol earphones di telinganya. Justin menerima panggilan. Wajahnya seketika berdecak dengan serapah yang membuat Asfa memandangnya dengan tanda tanya.
"What happen?!(Apa yang terjadi?!)." tanya Asfa menghentikan kegiatannya dan mendekati Justin.
Justin hanya menyerah kan earphonesnya kepada Asfa setelah meminta seseorang yang menelfon untuk mengatakan berita yang tadi di dengar oleh Justin.bAsfa hanya menerima tanpa berdebat.
[Mansion di serang queen dan nona Delia di culik!] ucap seorang wanita yang sangat di kenali oleh Asfa.
"Damn It! Ouh why play with me baby!(Sialan! Ouh kenapa bermain-main dengan ku sayang!)." ucap Asfa mengembalikan earphonesnya pada Justin.
Satu isyarat tangan Asfa sudah cukup membuat Justin mengerti keinginan nona mudanya, Justin membungkukkan tubuhnya dan pergi meninggalkan ruangan Abhi. Asfa kembali melakukan pekerjaannya dan membiarkan Justin yang menangani penyerangan kali ini.
.....................
__ADS_1
"Leo? kenapa kamu ada disini nak?" tanya tuan Mahardika yang tengah menikmati pemandangan di sekitar tempatnya berkemah.