My Secret Life

My Secret Life
Bab 130: Kanza Hermawan


__ADS_3

Asfa membawa Abhi keluar dari ruangan meeting menuju lift khusus untuk keluarga ABF Company beserta tamu khusus. Membiarkan Abhi terbang tanpa benang, kepergian Abhi dan Asfa membuat seseorang di lobi mengalihkan pandangannya.


"Itu benar kamu, tapi bagaimana aku membuktikannya? Apakah kamu masih mencintaiku? Harus! Kamu hanya milikku."


"Permisi nona, mari masuk! Pihak pak manager sudah menunggu anda," ucap seorang karyawan menyapa wanita muda dengan pakaian sexy ber lipstik merah merona.


"Baik." jawab wanita itu dan mengikuti langkah karyawan yang terlihat seperti karyawan biasa.


Ruangan manager berada di lantai satu, wanita itu dipersilahkan masuk tanpa mengetuk pintu. Seorang wanita paruh baya duduk menghadap ke pintu masuk, wajahnya terbenam sebuah map yang terbuka.


"Nona Kanza Hermawan, pendidikan terakhir sarjana hukum. Pengalaman tiga tahun di luar negeri dengan perusahaan Tuan Damond. Ternyata bagus sekali karier anda. Apa motivasi anda bergabung dengan ABF Company? Bukankah perusahaan sebelumnya cukup menjanjikan." tutur ibu manager dan menutup map di depan wajahnya.


"Saya ingin menetap di negara kelahiran, sekaligus mencari cinta yang hilang. Hehe. Maaf, saya memiliki visi dan misi yang seimbang dengan ABF company." jawab Kanza dengan suara lembut dan gaya anggun.


Pembawaan yang ceria dengan karakter yang menonjol, membuat ibu manager manggut-manggut saja. "Kebetulan, Pak Luis sebentar lagi pensiun. Jadi selama 6 bulan ini kamu akan menjadi assisten beliau! Bagaimana? Silahkan tanda tangani kontrak jika nona bersedia." jelas ibu manager dengan menarik satu map warna putih ber-logo perusahaan ABF company.


Dengan bergegas tanpa rasa ragu, Kanza membubuhi kontrak dengan tanda tangan. "Kapan saya mulai bekerja bu?"

__ADS_1


"Besok pagi. Temui saya di lobi. Tepat pukul 6 pagi!" jelas ibu manager dengan serius.


Sejenak Kanza merenung, jam 6 pagi bukankah sangat awal? Biasanya perusahaan jam kerja dimulai pukul 8 pagi. Tapi ini kenapa pagi sekali.


Ibu manager paham ketika Kanza diam termenung. "Peraturan dari Istri Tuan Abhishek adalah mutlak! Beliau mewakili Tuan Abhi saat ini. Jadi fikirkan baik-baik. Saya tunggu besok pagi tepat pukul 6 di lobi."


"Baik bu, saya permisi.'' pamit Kanza dan dipersilahkan keluar.


Diluar gedung ABF company. Kanza menatap gedung itu dengan tatapan serius, ada yang mengusik hatinya. Namun wajah tampan dan duduk di kursi roda yang sekilas di lihat olehnya, sungguh wajah itu yang menjadi akhir pencarianya selama ini.


Hampir 4 tahun aku tak melihatmu Alka. Rupanya kamu semakin tampan dan mempesona, tapi benarkah jika kamu sudah menikah? Lalu, bagaimana denganku? Apa aku masih ada di hatimu? ~ batin Kanza menyesali keputusannya di masa lalu.


"Stop!" bentak Asfa yang sudah lelah mendengar pertanyaan Abhi berulang kali.


Mata Abhi mengerjap kaget, bentakan Asfa seperti bunyi petasan di depan mata. Sedangkan pria beruban di depan, menahan tawa sembari fokus menyetir.


"Are you tired of life? Don't look at me working! Don't be like a child.(Apa anda bosan hidup? Tidak melihatkan aku sedang bekerja! Jangan seperti anak kecil.)" tugas Asfa dengan menahan rasa kesal.

__ADS_1


Bukannya tidak mau meladeni Abhi. Tapi ada masalah yang mendadak, membuat fikiran Asfa tidak bisa terbagi. Masalah yang mengharuskan Asfa memiliki tingkat fokus tertinggi, tapi suara Abhi sungguh tak mau berhenti.


"Queen." panggil Diego.


"Bawa pulang Abhi! Terserah mau anda apakan! Aku pergi." pamit Asfa dan membuka pintu mobil belakang dengan cepat.


"Hey! Kembali! Asfa...." seru Abhi dengan suara yang semakin lirih.


Pandangannya perlahan memudar, ntah apa yang terjadi. Tapi jelas ada yang tidak beres. Sayup-sayup suara Diego memasuki telinga, namun apa yang dikatakan pria beruban itu? Semua menjadi gelap.


"Malang sekali nasibmu, Nak. Tapi jujur, kamu mendapatkan berlian langka. Kuharap kamu bertahan dengan Xifer kami. Cintai Asfa dengan kesabaran, maka kamu menjadi tempat Asfa pulang." tutur Diego menatap Abhi yang tak sadarkan diri karena obat bius dari kaca spion.


Mata Diego teralihkan ke depan. Dimana Asfa memasuki heli pribadi mafia Phoenix dan Tuan besar sudah ada didalam heli. Kepergian heli membuat Diego meninggalkan tempat penerbangan heli, membawa Abhi kembali ke tempat seharusnya.


Di dalam heli Asfa dan Tuan besar tengah mendiskusikan sesuatu. Wajah keduanya sangat tegang namun masih dalam keadaan stabil. "Kenapa papa harus ikut? Aku bisa sendiri!"


Asfa memijat pangkal hidungnya. Tuan besar menghela nafas kasar. Baik ayah ataupun anak tidak ada yang mau mengalah! Inilah yang menjadikan ke-dua generasi berbeda itu, bersatu dan kuat tapi rasa takut kehilangan semakin terikat.

__ADS_1


"King, Queen. Enemy coming!(King, Queen. Musuh datang!)" seru sang pilot.


__ADS_2