My Secret Life

My Secret Life
Bab 244: HANNA, I MISS YOU


__ADS_3

Ponsel di atas meja disambar, dan tanpa melihat nama sang penelepon langsung saja dijawab. Baru saja ingin mengeluh. Namun, akhirnya justru dirinya yang mendengar berita terbaru dari seberang. Tak ada lagi ketukan meja. Selain wajah datar dengan kedua alis bertaut.


"Bereskan semuanya, dan laporkan terus perkembangannya padaku!"


"Duke, apa ada masalah?" tanya seorang bodyguard yang berdiri tak jauh dari atasannya.


Justin menghela nafas panjang. "Sedikit. Sepertinya Queen tidak akan datang. Tunda saja hukumannya. Aku harus kembali ke perusahaan. Satu lagi, jika Dominic datang berikan berkas di ruangan ku!"


"Siap, Duke." jawab sang bodyguard.

__ADS_1


Langkah kaki Justin meninggalkan markas yang terletak di pinggiran kota. Mobil jeep hitam melaju dengan kecepatan diatas rata-rata. Sejenak kesadarannya terseret pada masa lalu. Masa dimana seorang wanita super menyebalkan mengubah takdir kehidupan, tapi hanya sesaat. Sebelum dunia mengkhianati dengan penyakit yang tidak bisa disembuhkan.


"Hanna, i miss you." gumamnya seraya menambah kecepatan mobilnya.


Kisah cinta tak selamanya berakhir dalam peraduan cinta yang abadi. Seperti kisah Romeo dan Juliet. Seperti kisah Veer dan Zarra. Cinta yang memberikan begitu banyak pelajaran harus berakhir dalam kesendirian. Kenangan akan selalu menjadi rintik hujan. Namun, kisah tak akan pernah lengkap. Meskipun takdir telah usai.


Hutan lebat yang ia lewati menjadi teman tanpa kata. Semakin malam waktu berlalu. Hembusan angin dingin seperti nafas yang tersisa. Perjalanan selama empat puluh lima menit terasa hanya lima belas menit. Pria itu menghentikan mobilnya di depan sebuah gapura dengan lampu pijar di kedua sisi atas gapura. Sebuah nama tertera jelas meskipun dengan pencahayaan minim. Pemakaman umum Kamboja.


"Hay sayang, apa kabarmu?" Justin terduduk di samping makam seraya mengusap papan nisan dengan cinta. "Pasti sangat dingin di dalam sana. Jaga dirimu, aku tidak bisa memberikan kehangatan lagi."

__ADS_1


"Apa kamu tahu, aku sangat merindukanmu. Benar-benar rindu kenakalan, celotehan, dan juga kemarahan mu. Semua yang ada padamu seperti permata terindah di dunia ini."


"Maaf, aku bukan kekasih yang sempurna. Setiap helaan nafasku hanya tentang tanggung jawab. Aku melupakan kamu yang selalu ada disisiku. Bisakah kamu memaafkan aku? Andai waktu diputar kembali. Aku ingin memelukmu, dan mengatakan seberapa besar cintaku untukmu."


Dingin nya hembusan angin dengan rintik hujan tak membuat pria itu bangkit. Justru ia memilih duduk dengan memeluk kedua lututnya. Berteman malam, seorang kekasih meminta pengampunan.


"Apa aku terlalu menyakitimu? Kenapa kamu hukum aku dengan pergi meninggalkan ku? Aku disini menggenggam tanah yang menjadi tempatmu berpulang. Dunia ini mengajarkan ku arti berjuang, dan kamu mengajarkan ku arti pengorbanan. Tuhan, aku tidak pernah meminta kebahagiaan ku. Jika mungkin bahagiakan cintaku disisih Mu."


Tak ada seorangpun yang akan melihat lelehan air mata pria itu, selain seseorang yang sejak lima menit lalu berdiri diam mematung. Terkadang membiarkan perasaan yang terpendam menjadi air mata adalah cara terbaik. Membiarkan dalam kesendirian memikirkan semua dari baik dan buruk setiap ujian kehidupan. Patut diberikan untuk merelakan kepergian orang terkasih. Hingga rintik hujan semakin deras, barulah langkah kaki perlahan mendekati Justin.

__ADS_1


"Maaf, Aku tidak bisa menyelamatkan Hanna. Jika kamu masih ingin menghukum ku, silahkan saja."


__ADS_2