
"Apa yang queen inginkan? " tanya tuan besar dengan nada serius dan mengabaikan wajah jelek yang ada di hadapan nya.
"Ituu, sudah lah lupakan saja." jawab pria paruh baya itu dan kembali mengambil botol wine nya.
"Diego!" ucap tuan besar dengan dingin.
"Membakar mansion yang dia tempati, putri mu ingin membakar pria itu hidup-hidup atau setidaknya membuat pria itu merasakan sakit yang sama. " ucap Diego dengan helaan nafas.
"Hahahaha lalu apa keputusan mu? " tanya tuan besar dengan tawa nya yang hambar tapi penuh arti.
"Dia putri mu Xifer, tapi aku bayangan mu." jawab Diego yang membuat tuan besar diam dengan mengangguk.
Sebagai bayangan bukan hak nya untuk bertindak tanpa perintah dari pemilik bayangan itu sendiri, jawaban Diego adalah penolakan. Kecuali izin dari nya turun maka pria beruban itu bisa melakukan permintaan putri nya tanpa berfikir lagi, tapi dirinya sudah memiliki rencana lain untuk satu musuh besar nya itu.
"Coba lagi lain kali, mungkin tantangan nya berubah." ucap tuan besar sekenanya.
"Xifer aku tua tapi bukan pikun, sepanjang sejarah tidak ada nama nya seorang Luxifer berganti haluan dari ucapan pertama nya. Come on dia seperti mu, lalu harapan apa yang kamu coba terbang kan ke arah ku." sindir Diego dengan melirik tuan besar sekilas.
"Harapan neraka." ucap tuan besar dengan santai.
"Dasar tak punya hati." ucap Diego sinis tapi sedikit pelan.
"Bagaimana dengan persiapan kita? " tanya tuan besar dan mengabaikan ucapan Diego yang masih cukup jelas.
"Fifty percent, tunggu sebentar lagi. Musuh mu itu masih berduka dan terbakar." jawab Diego dengan senyuman smirk.
"Hmmm. Mulai esok lakukan tugas mu, queen lebih membutuhkan mu di banding kan aku." perintah tuan besar dan bangkit dari lantai dan menghampiri jendela kamar nya.
Bulan nampak setengah di atas langit namun tak ada satu bintang pun di sekitar nya, bukan hal mudah untuk menjadi seorang tuan besar. Perusahan yang tidak nyata namun mampu menguasai dunia, di tambah lagi mafia milik nya yang semakin banyak merekrut orang-orang pilihan di berbagai negara.
Terkadang ingatan dimana dirinya hanya tinggal bersama ke dua anak nya saat pengasingan masih lebih baik, tapi banyak nyawa yang bergantung dengan nya. Tidak mungkin sebagai seorang pemimpin lepas tangan begitu saja, terlebih lagi tidak ada orang yang mendapatkan kepercayaan nya selain ke dua anak nya dan bayangan nya.
"Naura aku merindukan mu, ber bahagia lah di atas sana. Aku akan melindungi ke dua harta kita yang paling berharga." ucap tuan besar dengan pelan dan mata nya berkaca-kaca hingga butiran bening terjun dari sudut mata nya.
"Ikhlas kan mereka Xifer, bukan kah mereka sudah tenang." ucap Diego dan mengusap bahu kekar tuan nya.
__ADS_1
"Apa aku sudah menjadi ayah yang baik? Lihatlah Alvaro dan Asfa justru menjadi seperti apa sekarang, bukan kah seharusnya mereka menikmati kehidupan seperti orang-orang normal lain nya." ucap tuan besar.
"Tidak ada yang sempurna Xifer, coba tanya kan itu pada mereka. Apakah mereka terbebani dengan takdir mereka atau mereka menerima semua ini dengan hati mereka. Jujur saja, dari mata putri mu hanya ada dirimu. Seorang Xifer versi wanita, sangat manis tapi mematikan." ucap Diego dengan sedikit menggeleng kan kepala nya.
"Seorang Xifer, tapi putri ku masih tetap anak-anak bagi ku. Aku tetap akan menukarmu, jadi pergi lah tidur. Jadwal queen sudah ku kirim kan ke e-mail mu." usir tuan besar dengan tenang namun tegas.
"Baik Yang Mulia, anda juga harus istirahat. Selamat malam." ucap Diego dan meninggalkan kamar tuan besar dengan botol wine di tangan nya.
Kepergian Diego juga mengantarkan tuan besar untuk ikut melepaskan penat dan beban fikiran nya dengan merebahkan diri di atas tempat tidur nya, waktu berganti menjadi pagi dengan kegelapan yang masih terlihat di atas langit.
Seorang gadis tengah bercermin di depan cermin meja rias nya, pakaian formal untuk bekerja telah membalut kulit putih nya, dengan rambut yang tergerai. Sejenak memastikan semua seperti mood nya hari ini, setelah semua siap di sambar nya tas putih yang ada di atas tempat tidur.
Langkah nya meninggalkan kamar pribadinya dan menuruni tangga untuk menuju ke dapur, tapi langkah nya semakin cepat setelah melihat sosok yang begitu cekatan membuat sesuatu di dapur. Melihat kedatangan putri kecil nya membuat sosok itu tersenyum dan membungkukkan setengah badan seperti sebuah penghormatan, sedangkan putri nya meletakkan tas putih nya di atas meja makan dan menghampiri sosok yang menggunakan celemek hitam.
Cup..
"Morning dad, have special day? " ucap gadis itu dengan mencium pipi kanan papa nya.
"Everyday always special with you baby." jawab tuan besar dengan meneruskan membuat sarapan.
"Makan lah, hari ini meeting bukan. " ucap tuan besar dengan mengelus kepala putri nya.
"Right dad, thank you dad. Love you so much." jawab gadis itu dengan memulai ritual makan nya.
Sedangkan tuan besar dengan setia duduk di sebelah putri nya dan menemani tanpa banyak bicara, terlihat putri nya menikmati makanan sederhana yang di buat oleh nya. Sekilas percakapan semalam membuat nya menatap penuh arti ke arah putri nya, terlihat santai dan sangat tenang. Yah putri nya membuat dirinya melihat bayangan nyata seorang Luxifer, hanya saja mata mungil itu membuat nya merindukan sang istri.
"Want say something dad? " tanya gadis itu setelah mengakhiri sarapan nya.
Sebagai pengamat dan pembuat rencana sudah tentu Asfa memahami gerak-gerik sederhana orang-orang di sekitar nya, terlebih wajah papa nya terlihat menyimpan sesuatu yang tidak terjabarkan. Dengan lembut di raih nya tangan kekar yang selama ini mengajari nya berjalan dan kuat hingga detik ini, di usap nya dengan kasih sayang agar papa nya mau terbuka.
"No, ayo papa antar ke depan." ucap tuan besar dan ingin meninggalkan kursi nya.
"Dad!" cegah Asfa dengan menekan kan panggilan nya.
__ADS_1
"Papa mu ingin tahu, apakah kamu merasa terbebani dengan kehidupan mu saat ini? Apakah papa mu sudah menjadi seorang ayah yang baik atau hanya menyusahkan putri nya saja." ucap seseorang dari arah depan dan langsung mendapatkan tatapan tajam tuan besar tapi orang itu bahkan masih bersikap biasa saja.
"Dad? " ucap Asfa dengan tatapan yang berbeda.
Tapi melihat papa nya hanya menghela nafas, membuat nya ikut menghela nafas. Sejenak di tatap nya wajah tampan yang masih mampu menarik wanita manapun untuk bermuara dalam mahligai cinta, tapi wajah tampan itu selalu dingin dan seakan tidak tertarik lagi dengan nama nya wanita.
Dengan senyuman manis di tunjukkan Asfa dan usapan tangan nya semakin penuh kasih sayang, membuat papa nya memandang putri nya dengan cinta. Cinta yang lebih besar dari cinta nya untuk sang istri, yah seperti begitu karena dirinya tidak memilih depresi di saat istri nya menjadi abu tapi justru memeluk erat tubuh mungil yang kedinginan di dalam dekapan nya.
"Papa adalah papa terbaik, dunia bisa mengambil semua harta yang kita miliki tapi jangan mengambil papa ku. Papa bukan hanya seorang panutan tetapi papa jantung ku, jangan pernah berfikir aku terbebani dengan takdir ku. Aku bersyukur memiliki papa sebagai dunia ku, jangan tanya kan ini pada ka Alvaro. Dia juga mencintai papa melebihi diriku." ucap Asfa dengan serius dan air mata yang mengalir.
Greeb...
Sebuah pelukan hangat dari tubuh kekar membuat hati gadis itu tersentuh, ini lah kebahagiaan nyata dalam hidup nya. Bukan sebuah perhiasan ataupun sebuah mobil sport yang bisa di beli tapi cinta dengan ketulusan yang selalu di sajikan oleh papa nya dan itu cukup menjadi kekuatan nya untuk bertahan di dunia.
Cup...
"Love you baby." ucap tuan besar dengan memberikan kecupan kasih sayang di kening putri nya.
"Queen maaf aku terlambat." ucap seseorang dengan suara ngos-ngosan tanpa melihat situasi.
"Stop! " perintah tuan besar yang membuat langkah orang itu menggantung dan terpaksa kembali mundur.
"Ayo papa antar ke mobil mu, biarkan papa bicara dengan mereka sebentar. " ucap tuan besar dengan lembut.
"Asfa bisa ke mobil sendiri pa, papa bicara saja dengan mereka." jawab Asfa dan mengambil tas putih nya di atas meja dan mencium tangan papa nya sebelum pergi.
Kepergian Asfa membuat tuan besar menatap dua orang pria beda usia di depan nya, yang sudah pasti pengalaman kedua nya bagaimana bumi dan langit. Terlihat sebuah koper kecil yang di bawa pria dengan usia muda dan pria tua satu nya hanya bersikap santai dengan setelah jas yang membuat penampilan nya berbeda.
"Berikan itu pada ku! " perintah tuan besar dengan menatap koper kecil di tangan assistant putri nya.
Tanpa membantah pria muda itu memberikan koper nya ke tuan besar, tapi tindakan tuan besar selanjutnya mampu membuat nya tercekat. Ada rasa was-was namun hanya pasrah, hingga perintah tuan besar selanjutnya membuat langkah nya kembali melangkah dengan lesu.
"Pergilah!" perintah tuan besar.
"Bukan kau Justin." cegah tuan besar dan menghentikan langkah pria muda itu yang semakin bingung dengan tindakan dan perintah tuan besar nya.
__ADS_1