My Secret Life

My Secret Life
Bab 46: Salah Satu klausul


__ADS_3

"Apa ini harus? Kenapa tidak ke rumah sakit saja? " ucap seorang wanita paruh baya yang baru saja melangkahkan kaki nya ke sebuah mansion mewah yang ternyata lebih mewah dari kediaman nya.


"Tuan dan nyonya silahkan masuk, queen sudah mempersiapkan segalanya." ucap seorang pelayan yang juga memberikan isyarat pada pelayan lain untuk membawakan barang bawaan tamu queen mereka.


Satu rombongan keluarga dengan tiga anggota inti bersama seorang assisten, baru saja memasuki mansion yang tentu nya mansion itu milik menantu ajaib mereka yaitu Asfa. Satu hari setelah menandatangani proposal ajaib kini keluarga itu di boyong ke sebuah mansion seperti satu klausul yang ada di dalam proposal, dengan pemindahan tempat tinggal maka semua akan dalam penjagaan ketat tanpa mengurangi kehidupan bebas masing-masing.


"Apa ini sudah semua ka? " tanya Asfa yang bangun tidur langsung mengecek peralatan medis dan juga alat-alat kesehatan canggih lainnya.


"Right, so now? (Benar, jadi sekarang?)" tanya Alvaro menatap adiknya yang memastikan semua nya sesuai standar nya.


"Seperti yang sudah ku katakan ka, Kakak akan menjadi dokter pribadi ku dan bertanggungjawab atas kesehatan Mas Abhi." jawab Asfa mengakhiri pengecekan nya dan menatap kakaknya.


"Okay queen, ayo kita temui keluarga suami mu." ajak Alvaro melangkah mendekati pintu.


"Wait.(Tunggu) " cegah Asfa.


Langkah nya mendekati sebuah tiang gantungan baju yang ada di sudut, di ambilnya sebuah jas putih yang tergantung. Mendekati sang kakak dan membantu pria itu mengenakan jas putih miliknya, kakak nya bukan dokter gadungan karena memang pria itu lulusan terbaik di sebuah Universitas kedokteran.


"Ini baru Docter A. Caesar. Mari dok." ucap Asfa sembari menepuk dada kakaknya yang memiliki nametag resmi dari rumah sakit utama.


"Thank you my doll.(Terimakasih boneka ku)." jawab Alvaro dengan menggandeng tangan adiknya meninggalkan ruangan rawat special.


Tamu mansion tengah beristirahat di kamar lantai dasar tentu saja setelah penataan sedikit di rubah agar membuat tamu nyaman dengan suasana yang tidak begitu mencekam, terdengar dari dalam suara obrolan ringan yang keluar dari pintu yang masih terbuka sedikit.


Tok... tok... tok...


"Selamat siang semuanya, perkenalkan ini dokter A. Caesar, dokter spesialis saraf dari rumah sakit utama yang akan merawat Tuan Abhi." ucap Asfa memperkenalkan kakak nya dengan elegan.


"Selamat siang juga, perkenalkan saya Tuan Mahendra dan ini istri saya Bunda Aliya tentu kami orang tua Abhi dan itu Leo assisten putra kami dan itu Abhishek putra kami." ucap tuan Mahendra.


"Pemeriksaan akan di lakukan oleh assisten saya dan kalian bisa memanggilnya queen, kalau begitu saya permisi." ucap Alvaro meninggalkan kamar tamu itu.


"Nak.. eh queen bagaimana kabar mu? " ucap bunda Aliya kaku.


"Aku baik bunda, tenanglah. Mas Abhi masih dalam pengaruh obat tidur." jawab Asfa mendekat ke arah ranjang suami nya.

__ADS_1


"Leo, mulai hari tugasmu di pindahkan ke RA company dan Justin yang akan menjadi atasan mu." perintah Asfa tanpa melihat pria berkacamata yang masih menikmati masa loading.


"Nak apa tidak sebaiknya kita kembali ke kediaman Bagaskara saja? " tanya bunda Aliya dengan lirih.


"Bunda dan Papa pasti akan tahu alasan ku membawa kalian ke mansion ini nanti, tapi tujuan kita saat ini sama yaitu kesembuhan mas Abhi. Dan Docter A. Caesar hanya setuju jika mas Abhi di rawat di mansion ini bukan kediaman Bagaskara ataupun rumah sakit utama, Dokter Bia juga akan tinggal disini nanti. Ku harap bunda sedikit memberikan kepercayaan pada kami." jawab Asfa sembari memeriksa setiap titik syaraf dengan sebuah alat kecil yang sudah di sediakan di laci nakas samping tempat tidur.


"Bund, papa percaya menantu kita. Seorang queen pemilik RA Company tidak mungkin bertindak gegabah." ucap Papa Mahardika menghentikan istrinya yang ingin berdebat.


Memang raut wajah Asfa sangatlah tenang dan mau berbicara lebih dari kata banyak, tapi aura akan berubah ketika adanya sebuah penolakan. Sebagai seorang pembisnis siapa yang tidak tahu reputasi pimpinan RA company, dimana siapapun yang menyinggung sosok misterius harus hilang di telan bumi.


Ntah sudah berapa banyak perusahaan yang tiba-tiba rata dengan tanah tanpa pemberitaan klarifikasi, namun satu kenyataan dimana para pembisnis itu tidak bisa menjaga mata dan mulut mereka saat memandang sebelah mata RA company.


"Bunda antarkan tuan dan nyonya Mahardika ke kamar mereka." ucap Asfa sembari menekan sebuah interkom yang ada di dinding.


Tidak berselang lama seorang pelayan wanita dengan pakaian tomboy meskipun usia nya sudah paruh baya tapi terlihat tubuh wanita itu masih sangat ber stamina, kedatangan pelayan itu menunduk untuk memberikan salam pada penghuni kamar.


"Perkenalkan saya Anya, queen memanggilku bunda sesuai dengan usia saya. Mari tuan dan nyonya Mahardika." ucap bunda Anya yang memperkenalkan diri.


"Bunda Anya adalah kepala pelayan sekaligus kepala semua bodyguard yang ada di mansion ini, jadi apapun kebutuhan Papa dan bunda silahkan beritahukan pada nya." ucap Asfa menekankan setiap kata nya yang memang harus di dengar oleh penghuni baru mansion nya.


Kepergian mmertuanya membuat Asfa leluasa memeriksa kembali Abhi tanpa mempedulikan satu sosok yang menatapnya dengan kerjapan mata berulang kali, pria berkacamata itu bagaikan patung tak di anggap. Hampir setengah pemeriksaan di lakukan, membuat wajah srius gadis itu terlihat jelas.


"Queen." panggil seseorang dari belakang.


"Bawa dia ke lapangan." perintah Asfa tanpa melihat ke belakang.


Tidak ada langkah suara keluar dari ruangan membuat Asfa menghentikan pemeriksaan dan menatap sosok yang memanggilnya dengan satu alis terangkat.


"Undangan untukmu queen." ucap sosok itu dengan menyodorkan sebuah paperbag mini warna biru muda.


"Ada lagi? " tanya Asfa menerima paperbag itu.


"Em boleh aku... " ucap sosok itu agak ragu.


" Just one hours.(Hanya satu jam)." ucap potong Asfa yang meninggalkan kamar Abhi membawa paperbag.

__ADS_1


Terlihat jelas rona bahagia dari assisten nya itu, anggaplah hadiah kecil dari nya atas kerja keras selama beberapa waktu. Jika bukan ada makhluk tak kasat mata yang selalu loading susah pasti dirinya berjingkrak kesenangan mendapatkan izin bertemu pujaan hati, eh maksudnya pacar kontraknya dokter Hana.


"Kau ikut denganku! " ucap tegas Justin yang membuat pria berkacamata itu terhenyak karena terkejut.


"Sabaaar, tidakkah ada manusia normal disini." gumam Leo yang mengikuti Justin dari belakang.


"Cepatlah bangun sehat boss, kamulah boss terbaik untukku." ucap Leo sembari menutup pintu kamar Abhi.


Kedua nya beriringan melangkahkan kaki meninggalkan mansion mewah itu, satu terlihat ringan langkah kaki nya namun satu langkah lagi terasa berat dengan ada nya singa di hadapannya. Tanpa di sadari kedua nya jika di tangga atas ada queen mereka yang tengah menatap setiap sudut mansion nya dengan serius, ada sesuatu yang mengganggu fikirannya.


Paperbag mini di tangannya masih tertutup rapat tapi fikirannya sudah dapat mengetahui apa yang ada di dalam paperbag itu melalui logo sebuah perusahaan. Simbol elang dengan cakar tajam yang mencengkeram sebuah tongkat, merupakan simbol perusahaan seseorang yang sudah lama tidak di gunakan.


"Semua akan baik pada waktunya." ucap tegasnya pada diri sendiri.


Greeb...


Satu pelukan hangat membuat nya merasakan lengan kekar yang melingkari kedua lengannya, mengukung tubuh mungil nya ke dalam tubuh kekar dengan aroma mint yang sangat menyegarkan. Hembusan nafas yang terasa hangat menyembur ujung kepala menembus helaian rambutnya memasuki pori-pori, meninggalkan rasa tenang yang membuat dirinya memejamkan mata menikmati kasih sayang dari pria kedua di hidupnya.


"Ada apa? " tanya Alvaro dengan serak.


Tanpa menjawab, di angkatnya tangan kanan yang menenteng sebuah paperbag, dimana dengan jelas di tunjukkan simbol perusahaan itu kepada kakaknya. Bukan terkejut namun helaan nafas yang terdengar di telinga Asfa, sudah pasti ini berarti kakak nya sudah lebih tahu tentang kemunculan perusahaan itu.


"Papa mengajarkan kita untuk bersatu dalam suka dan duka, kakak tidak melupakan itu bukan? " tanya Asfa yang hanya ingin memberikan peringatan pada Alvaro.


"Ayo ke kamar, kakak akan tunjukkan sesuatu." ajak Alvaro.


Kedua nya berjalan berdampingan menuju kamar sebelah dimana kamar kakak nya berada, begitu pintu terbuka hanya sambutan dengan kesuraman membuat bibir mungil adiknya mengerucut. Tanpa menunggu omelan tangan kekar itu menghampiri jendela kamar dan menyibakkan tirai membiarkan cahaya memasuki ruangannya, kini terlihat ruangan kamar nya yang rapi dengan deretan senjata dan set komputer di atas meja kerja nya.


Sebuah foto besar terpajang di tengah dinding atas tempat tidurnya, foto sebuah keluarga yang harus di satukan dengan beberapa moment karena tidak satupun foto itu menjadi foto keluarga yang lengkap. Dan satu foto dengan bingkai kecil dimana seorang wanita cantik dengan mata terpejam menggendong seorang bayi mungil yang terlelap seakan merasakan kehangatan sentuhan seorang ibu.


Di ambil nya bingkai kecil di atas nakas itu, di raba dengan ketulusan hati yang sangat jauh terbenam dengan kerinduan tanpa muara. Bukan hanya sebuah senyuman tapi satu kata pun dirinya tidak pernah mendengar suara wanita yang telah melahirkan, semua kenangan tentang wanita itu lenyap bersama butiran debu pembakaran mansion milik keluarga mereka dulu.


"Queen Asfa Luxifer." panggil Alvaro yang merasa tidak ada aura adiknya.


Pria itu tertegun melihat keadaan adiknya setelah berbalik, dengan langkah cepat di raihnya tubuh mungil itu untuk masuk ke dalam dekapannya. Membiarkan lautan membasahi bumi nya, dengan kesabaran di kecupnya kepala yang menyembul di bawah dagunya.

__ADS_1


__ADS_2