My Secret Life

My Secret Life
Bab 229: DENTUMAN - ULTIMATUM


__ADS_3

"Ouh damn it!" Serunya menutup kotak, dan bergegas bangun seraya memperhatikan sekelilingnya.


Tingkah aneh Asfa, membuat Abhi bingung. Rasa terkejutnya saja masih stay, dan kini bercampur dengan ketidakpahaman akan sikap mantan istrinya yang fokus, tenang tetapi mata menyorotkan kecemasan. "Ada apa?"


Asfa mengabaikan pertanyaan Abhi. Langkahnya berlari menjauhi pria itu, menuju keluar puing-puing bangunan.


"Asfa!" Abhi ikut berlari mengejar wanita di depan sana dengan langkahnya yang panjang.


Keduanya berlari ke arah yang sama. Hingga Asfa memasuki hutan yang cukup mendapatkan cahaya dari sang rembulan. Langkahnya masih terus berlari tanpa henti. Menyibak dedaunan dengan satu tangannya, terkadang melompat bebatuan atau akar pohon yang menyembul.


"Akhirnya, sebentar lagi." gumam Asfa disaat melihat kilauan air yang terpantul sinar rembulan.


Jarak masih menyisakan lima meter, membuat Ia mengayunkan tangan kanannya. Dimana kotak peti dipegang erat lalu dilemparkan dengan sekuat tenaganya. Kotak peti itu melambung tinggi terbang menghampiri danau di depan sana.


Byuuuur!

__ADS_1


Di saat Abhi baru saja sampai di belakang Asfa, wanita itu berbalik. Kemudian tanpa aba-aba langsung menarik tubuh Abhi ke dalam pelukannya seraya memutar tubuh keduanya hingga membentur sebuah pohon di sisi kiri. Tindakan sang mantan istri, membuat Abhi tidak bisa berkutik. Suara marathon dari dalam jantung berdetak kencang. Desiran hangat yang pernah terlupakan. Kini kembali hadir di saat semua sudah berakhir.


Pikiran dan hati Abhi mulai bertarung, tapi tidak dengan Asfa. Dimana Ia tengah berhitung di dalam hati. Benar saja seperti prediksinya. Jika kotak peti itu hanyalah sebuah jebakan. Terbukti dari bunyi dentuman keras dari arah danau, serta semburan air yang keluar kesemua arah seperti hujan deras.


Saking kerasnya dentuman akibat ledakan bom. Cipratan air masih bisa mencapai tempat kedua insan itu bersembunyi. Disaat hitungan selesai, tidak ada lagi bunyi dentuman. Namun, tatapan mata pria di depannya sungguh membuatnya jengah. Tak ingin terlalu lama meninggalkan pasukan, Asfa mendorong tubuh Abhi agar menjauh.


Tanpa kata, sekali lagi langkahnya memilih meninggalkan pria yang kini menjadi masa lalunya. Akan tetapi blum sempat melangkah jauh, ada tangan yang menahannya. Dua tangan melingkar sempurna di perut, dengan deru nafas hangat di atas kepala.


"Lepas!" Asfa terpaksa berhenti karena ulah Abhi yang tiba-tiba saja memeluk dirinya dari belakang.


Hening.


"Apa kamu tidak suka dekat denganku? Kenapa diam?" tanya Abhi semakin mengeratkan pelukannya, membuat Asfa memejamkan mata menahan gemuruh di dalam hatinya.


Tidak ada kebencian ataupun dendam didalam hati, tapi rasa kecewa akan keraguan Abhi padanya masih terlalu besar untuk dilupakan. Terlebih saat ini ada buah hati mungil yang menjadi dunia barunya. "Apa itu penting? Katakan saja to the point!"

__ADS_1


"Kenapa kamu pergi? Apakah benar semua yang terjadi pada bunda....,"


Asfa melepaskan tangan Abhi dari perutnya, lalu berbalik menghadapi pria yang terlalu mudah dipermainkan oleh dunia tipu muslihat. Tak ingin terlalu lama berdebat, Ia memilih menangkup wajah sang mantan suami seraya memberikan tatapan dalam agar keduanya saling melihat kebenaran dari netra biru yang menenggelamkan.


"Jika aku seorang pembunuh. Aku siap masuk ke dalam penjara. Apa kamu pernah menengok ke belakang setelah menjatuhkan TALAK padaku? Tidak. Bahkan kamu tidak tahu nyawaku di ambang kematian." Asfa melepaskan kedua tangannya dari wajah Abhi, lalu menunjuk ke dada pria itu seraya tersenyum manis. "Hati ada disini, begitu juga dengan cinta. Apakah kamu ingat, aku pernah mengatakan hidup adalah pilihan dan tanggung jawab."


"Aku memenuhi tanggung jawabku sebagai istrimu sesuai kemampuan ku. Jika kepercayaan sudah tak ada lagi, maka untuk apa semua pertanyaan di dalam hati dan pikiranmu? Apa kamu bisa menarik ucapanmu? Jika aku mengatakan kebenarannya. Apa kamu percaya? Tidak. Disini, kamu sudah menjadikan diriku sebagai tersangka."


"Aku....,"


"Sudahlah. Temukan saja kebenaran dari papa mu sendiri. Aku tidak ingin ikut campur. Ingat saja satu hal. Apa yang terlihat dan terdengar belum pasti itu kenyataannya. Tidak perlu mencari tahu aku ada dimana karena kamu tidak akan menemukanku."


Tanpa memberikan Abhi kesempatan untuk menjawab semua ultimatum nya. Asfa berlari meninggalkan pria itu sendirian di tengah hutan. Senyap dan hening nya malam semakin menambah rasa tak karuan yang kini memporak-porandakan hati pria pemilik mata biru.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa perkataan Asfa menyatakan sebuah bantahan. Apa maksudnya temukan kebenaran dari papaku?" Abhi berpikir keras seraya mengingat masa dimana tragedi yang merenggut nyawa sang bunda terjadi. "Saat itu Asfa datang bersamaku untuk makan bersama setelah dari taman. Situasi yang semakin buruk membuat ku gelap hati dan menjatuhkan talak. Tunggu dulu, jika benar semua itu rencananya. Apa iya seorang tersangka datang di tempat peristiwa?"

__ADS_1


__ADS_2