My Secret Life

My Secret Life
Bab 251: PERJALANAN


__ADS_3

Tatapan mata gelisah dengan keraguan. Jelas Abhi terlihat belum siap atau mungkin saja tengah memikirkan hal lain. Siapa yang tahu isi hati dan pikiran manusia?


"Dimana papaku?" tanya Abhi dengan tatapan penuh harap.


Justin tersenyum sinis, "Ditempat seharusnya."


"Ajak aku menemuinya...," kata Abhi yang seketika terhenti ketika Justin berdiri tanpa mau mendengarkan permintaannya.


Langkah Justin menjauh dari Abhi, membuat pria dengan penampilan kacau yang duduk termenung langsung ikut menyusul dengan langkah panjangnya.


"Justin! Kenapa kamu tidak mendengarkan aku?" tanya Abhi mengejar pria yang berjalan menuju tempat parkir.


Justin mengabaikan tanpa menoleh ke belakang. Ia membiarkan Abhi seperti pengemis yang meminta sedekah, tapi bukan karena tidak mau mendengarkan. Melainkan karena area taman masih memiliki CCTV pengawasan hingga memasuki area parkir. Barulah pria itu berhenti menunggu kedatangan mantan suami queen.


Tap!


Tap!


Tap!


Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Justin seketika membalikkan tubuh, tatapan mata tertuju pada Abhi. Dimana pria itu semakin terlihat frustasi.


"Masuk! Itupun jika kamu mau. Jika tidak, ya sudah," cetus Justin tanpa basa basi.

__ADS_1


Sekilas ucapan Justin terkesan masa bodo, tapi nada suara yang terdengar. Justru seperti sebuah permintaan. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengetahui kebenaran dari papanya sendiri. Abhi memilih masuk ke dalam mobil yang ada di depannya. Disaat keduanya sudah memakai sabuk pengaman. Sekilas janji kembali terngiang. Janji pertemuan dengan Asfa.


"Ponselku, hubungi Queen. Cukup kirim pesan!" Justin memberikan ponselnya kepada Abhi.


Abhi tersenyum lega, "Thanks, bagaimana kamu tahu, aku membutuhkan ini?"


"Bukan untukmu, tapi untuk ketenangan Queen. Aku tidak suka memberikan kegelisahan tanpa alasan yang jelas," Jawab Justin seraya menyalakan mesin mobil.


"Apapun itu, thanks. Aku, akan kabari Asfa untuk menunda pertemuan," balas Abhi mulai mengetikkan isi hati dan tujuannya untuk menulis sebuah pesan singkat.


Kesibukan Abhi mengetik di biarkan Justin. Tanpa keduanya sadari. Jika takdir akan membawa takdir yang tak terduga. Satu sisi mobil meninggalkan pelataran rumah sakit utama, dan disisi lain. Perencanaan pelarian sudah dimulai. Dua tawanan yang dipertemukan memulai satu persatu taktik melarikan diri hingga para penjaga tidak menyadari akan bahaya yang siap menerjang.


Perjalanan hanya ada keheningan. Sebanyak apapun pertanyaan yang keluar dari bibir Abhi. Tak satupun mendapatkan jawaban dari Justin. Semakin jauh mobil melaju menuju pinggiran kota. Maka semakin besar pula rasa tidak sabaran Abhi untuk menemui papa nya. Sementara itu, Asfa yang baru keluar dari ruangan perawatan Rose kembali memasuki ruangan kerjanya.


"Ka, apa harus sekarang?" tanya Asfa menerima tiga laporan pasien dari Varo.


Pria berjas putih dengan wajah tampan, tetapi pucat karena kurang istirahat memilih duduk di kursi putar seraya memijat pangkal hidungnya. Melihat rasa lelah sang kakak, membuat Asfa meletakkan laporan. Lalu berjalan menuju mesin coffe. Tangannya dengan cekatan meracik kopi favorit keluarga.


"Coffe, Ka." Asfa memberikan secangkir kopi dengan kepulan asap yang menyebarkan aroma menggoda.


Senyuman manis Varo terkembang sempurna. Apalagi kopi buatan adiknya selalu memberikan energi baru. Seruput demi seruput menghangatkan tenggorokan dan perut. Rasa pusing akibat kelelahan seketika berkurang. Perubahan wajah sang kakak melegakan hati Asfa.


"Mau makan sesuatu, Ka?" tanya Asfa lembut.

__ADS_1


Varo menggelengkan kepala. Ia memilih melanjutkan menikmati kopinya, dan membiarkan sang adik memulai memeriksa laporan beberapa pasien. Waktu berlalu begitu cepat, hingga setengah jam berlalu. Barulah Asfa meregangkan ototnya setelah menyelesaikan mempelajari laporan operasi yang akan di lakukan di rumah sakit utama seminggu ke depan.


Triing!


Triing!


Triing!


Suara dering ponsel mengalihkan perhatian keduanya. Asfa menyambar ponsel yang sejak tadi diam tak bergeming dan tiba-tiba saja berdering. Seketika tatapan mata membulat sempurna dengan bibir bergumam sesuatu. Varo yang melihat perubahan wajah adiknya, tanpa permisi menyambar ponsel sang adik. Rasa terkejut juga menghampiri pria itu.


"Ka, ayo! Kita harus segera kesana," Asfa bergegas meninggalkan kursi kerjanya tanpa peduli dengan kursi yang ia dorong begitu keras hingga membentur dinding.


Keduanya berjalan terburu-buru meninggalkan rumah sakit utama. Teguran para suster pun tidak ditanggapi. Langkah yang cepat tanpa menengok kanan dan kiri hingga mencapai mobil sport merah milik Varo di parkiran. Asfa melepaskan jas putihnya, lalu mengikat rambutnya ke atas menjadi satu.


"Ka, Aku saja yang menyetir. Kakak siapkan senjatanya!" titah Asfa membuat Varo menurut tanpa ingin berdebat tentang apapun lagi.


Situasi yang emergency benar-benar membawa keduanya pada ketenangan di dalam badai. Tatapan mata tajam bak elang dengan tingkat waspada yang tinggi. Mobil melaju meninggalkan rumah sakit utama dengan kecepatan diatas rata-rata. Tidak peduli dengan peraturan lalu lintas ataupun akan di kejar polisi.


Saat ini Asfa menyetir menggunakan satu tangan, sedangkan tangan lainnya iya gunakan untuk memindai area markas. Mengirimkan sinyal bantuan, tetapi sayang sekali. Seseorang pasti meretas sinyal di area markas. Sekarang mau tidak mau, hanya bisa mengandalkan kemampuan diri sendiri. Kecepatan mobil semakin bertambah, membuat Varo mengusap bahu adiknya dengan lembut.


"Ka, i hope everything is fine," Asfa kembali menambahkan kecepatan hingga mencapai batas maximal, membuat dedaunan kering di luar sana beterbangan.


(Ka, semoga semua baik-baik saja.)

__ADS_1


__ADS_2