
"Apa tugas kali ini tuan?" tanya Rania yang menetralkan perasaan nya demi masa depan yang cerah.
"Ambil dan baca ini!" perintah tuan besar dengan menyodorkan sebuah map hitam bersimbol mahkota kerajaan.
"Tuan.." ucap Rania yang langsung terhenti dengan tatapan tajam tuan besarnya.
Hampir saja lupa jika menjaga lisan juga sangat di perlu kan, hingga tatapan tajam tuan besar membuat Rania menggambil map hitam bersimbol mahkota kerajaan di depan nya dan di buka untuk di baca. Awalnya tidak ada yang aneh hingga point terpenting dari isi map membuat Rania melotot tak percaya, dunianya runtuh hingga kutukan pun tidak akan berguna.
Sedangkan tuan besar menampilkan senyuman puas melihat reaksi Rania yang tercengang dengan surat kontrak kerja sama barunya, terlihat jelas mata melotot gadis remaja itu ingin berlari dari tempatnya.
"Yes or no?" tanya tuan besar dengan tegas yang membuat wajah Rania mendonggak menatap memelas namun tak di hiraukan oleh tuan besar.
Sejenak Rania mengusap keningnya yang sungguh mendadak panas, serangan demam akibat kontrak kerjasama di depan matanya benar-benar seperti buah simalakama. Bagiamana tidak shock jika di usianya yang baru saja mendapatkan KTP harus memutuskan hal terpenting dalam hidup seorang wanita, menikah bukan lah untuk dirinya yang masih bau kencur tapi jika tidak setuju maka masa depannya pun gelap tanpa cahaya.
*Rasanya aku ingin tenggelam, tapi apalah daya ku yang hanya yatim piatu.* batin Rania dengan memejamkan matanya menetapkan hati dan fikiran nya.
"Rania." panggil Tuan besar dengan suara yang lebih di lembutkan.
"Saya setuju tapi apakah mimpi dunia ku masih bisa di lanjutkan?" tanya balik Rania dengan menahan nafasnya.
"Persiapkan dirimu untuk esok!" perintah tuan besar dan membiarkan Rania keluar ruangan kerja dengan lesu setelah memberikan tanda tangan di atas materai.
Menikah? Sesuatu yang jauh dari benaknya saat ini, karena di dalam benaknya adalah menjadi seorang hacker terkenal dan menjadi andalan nona muda keluarga Luxifer. Terlebih nama calon suami pun masih blur karena di dalam kontrak tertulis nama yang tidak di ingatnya, jika menolak sudah pasti klausul milik tuan besar untuk mengirimnya ke kutup utara akan terwujud dalam hitungan jam.
"Aaaarggh. Kenapa jadi begini!" seru Rania dengan menggelengkan kepalanya, rambut yang selalu di kuncir kuda berkelok kesana kemari membuat para bodyguard yang melihat merasakan rasa frustasi gadis remaja itu.
Berbeda dengan Asfa yang masih diam membiarkan kakaknya berkata sesuka hati tanpa ingin menyela, bagaimana kakaknya itu menjelaskan kondisi Abhi yang masih membutuhkan perawatan dan sebagainya. Sedangkan Abhi berusaha untuk mengikuti alur drama kakak adik tanpa mengucapkan banyak kata yang akan menjebak dirinya, belajar dari kesahalannya saat menghadapi Asfa membuatnya memilih diam dan menjadi pihak netral.
"Are you listening me Queen?(Apakah Anda mendengarkan saya Queen?)" tanya Alvaro dengan menggoyangkan bahu adiknya yang masih saja diam dengan wajah polos tanpa dosa.
"Hmm." jawab Asfa dan melepaskan tangan Alvaro dari bahunya.
Triing...
Sebuah notifikasi pesan membuat Asfa beralih menatap ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja, dengan men-scroll satu pesan terbaru. Wajahnya kembali menatap kakaknya yang masih belum puas dengan jawabannya, mata Alvaro masih memiliki keraguan atas kepercayaannya.
"You know how me, I am your doll. (Anda tahu bagaimana saya, saya boneka Anda.)" sindir Asfa dengan menekankan ucapan terakhirnya.
"Queen." panggil Alvaro yang paham jika adiknya tetap ragu pada keputusan sepihak darinya, tapi mengikat Abhi pada kontrak darinya merupakan jalan terbaik, agar adiknya tidak sibuk dengan dunia luar yang semakin panas tak terkendali.
"Bawa Abhi ke bawah, sudah waktunya kami kembali ke rumahnya. Zain sudah menunggu di depan, Aku akan menemui papa." pinta Asfa yang tak ingin memperpanjang perdebatan.
"Tidak kalian tetap di sini!" sahut Alvaro dengan tegas menolak ide adiknya yang ingin keluar dari mansion terlebih rumah besar Abhi tanpa ada bodyguard satu pun.
__ADS_1
"Don't block my rules! Nobody knows how I'm, better than you.(Jangan menghalangi aturanku! Tidak ada yang tahu bagaimana aku, lebih baik dari mu.)" ucap Asfa dengan lebih tegas dan tatapan mata birunya yang membunuh.
"Asfa, jika.." sela Abhi yang ingin mencoba mencairkan suasana.
"Pilihan di tangan mu! Ikut bersama ku atau tetap lah di sini tanpa ku." pungkas Asfa dengan membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar pribadinya.
Perdebatan tidak akan pernah berakhir ketika semua pihak memiliki ego masing-masing, hingga seseorang harus memulai untuk berhenti berdebat. Keputusan Asfa sekali lagi membuat Alvaro hanya bisa menahan nafasnya, lagi lagi dirinya terdiam menerima keputusan adiknya.
"Apa doll tahu rencana ku?" tanya Alvaro menatap Abhi dengan menyelidik.
"Tidak! Berbaring pun aku masih di bantu Asfa, bahkan aku tidak tahu sejak kapan keputusannya di buat." jawab Abhi dengan setengah kebenaran dan setengah kebohongan.
"Pasti kan doll selalu bersama mu, jangan biarkan adik ku keluar dari rumah besar mu. Itu tugas mu!" perintah Alvaro dengan menatap Abhi penuh intimidasi.
"Ya, bantu aku pindah ke kursi roda." jawab Abhi dengan suara yang netral tanpa rasa.
"Kamu bisa sendiri! Itu akan membuat kaki mu kuat, cepatlah!" tukas Alvaro dan membiarkan Abhi memberikan beban pada kakinya sendiri.
Sedangkan di dalam ruangan kerja, terlihat Asfa tengah tersenyum puas dengan hadiah papanya. Hadiah yang akan membuat hidupnya lebih tenang, melihat senyuman manis putri tunggalnya sungguh hal terbaik dalam hidupnya.
"Apa kamu siap melepaskannya?" tanya tuan besar yang membuat senyuman Asfa menghilang dengan cepat.
"Not now dad, give me time.(Tidak sekarang ayah, beri aku waktu.)" pinta Asfa dengan suara beratnya.
"Agree.(Setuju.)" jawab Asfa dan mengembalikkan berkas di tangannya ke papa tercintanya.
"Queen." panggil tuan besar menatap putrinya yang jelas terlihat tidak baik-baik saja.
"Calm down dad, I am okay.(Tenang ayah, aku baik-baik saja.)" ucap Asfa dengan senyuman manis yang menyamarkan rasa sakit di pundak kirinya.
Yah pundak kirinya terasa sakit seperti ribuan jarum di tusukkan, dirinya membutuhkan obat penawar lagi karena racunnya telah menyebar, meskipun tidak sesakit sebelumnya namun rasa sakit itu tetap lah berbeda.
"Aku akan kembali nanti esok, hubungi aku jika papa membutuhkan penjinak singa." tawar Asfa dengan mengedipkan satu mata kanannya.
"Cukup jaga dirimu dan lihatlah seberapa kuat mutiara papa menahan racun mematikan itu. Pergilah obati luka mu dulu nak, masalah singa biarkan menjadi urusan papa." anjur tuan besar yang tahu jika Asfa masih merasakan efek dari racun yang telah memasuki tubuh mungil putrinya itu.
"Baiklah pa, apa mereka sudah dikirim pa?" tanya Asfa sembari bangun dari duduk nya.
"Mereka sudah ada di rumah suami mu, semua persiapan sudah selesai." jawab tuan besar.
"Love you dad." ucap Asfa dengan mengedipkan satu mata kanannya sekali lagi yang membuat tuan besar terkekeh.
"Love you too Queen." balas tuan besar.
__ADS_1
Dengan langkah ringan Asfa keluar dari ruangan kerja keluarganya, menyusuri lantai marmer yang berukuran besar menuju ruangan rawat untuk menggambil penawar racun. Belum langkahnya berjalan jauh, suara langkah kaki datang mendekat kearahnya. Langkah yang pasti dekan tekanan pada kaki namun suara itu seperti langkah yang diperhitungkan, membuat Asfa berhenti di depan ruangan rawat dan membalikkan tubuhnya menghadapi langkah kaki yang sudah terdiam di belakangnya.
"Apakah kebiasaan mu berubah?" tanya Asfa dengan menaikkan satu alisnya menatap sosok di depannya.
...~~...
.
.
. hay Reader's,, 🥀
.
. othoor mau nyampe in sesuatu yang penting nih ya, berhubung aku ikutan NTWA jadi novel My Secret Life dari sinopsis dan seluruh bab akan di revisi lagi, aku udah revisi sinopsis plus 3 bab awal ya.
.
.
. Mulai di bab ini otomatis othoor langsung menulis dengan lebih diperhatikan lagi ya, di tambah akan ada tulisan ini bab ke berapa. Semoga kalian memahami usaha othoor.. ðŸ¤
.
.
. Kalau revisi yang kemarin itu kan karena menerjemahkan aja ya, tapi revisi kali ini juga tanda baca, tag, inti nya benar-benar diperbaiki tapi tidak mengubah alur.
.
.
. Karya nya udah ampe 100 bab lebih kalau ganti alur bisa rusak menurut othoor mah, jadi revisi agar lebih baik aja dalam menuangkan imaginasi dan tata cara menulis yang benar.
.
.
. Othoor hanya minta kalian tetep stay tuned, meskipun othoor masih revisi ya tapi akan tetep up sehari sekali.
.
.
__ADS_1
. Jangan lupa like, comment, favorite, tips dan happy reading.. inget saran dan kritik kalian yang bisa membuat ku lebih baik dalam berkarya.