
Tapi nona muda nya tahu tempat dan waktu untuk memberikan hukuman atau memutuskan hal yang lebih penting di saat situasi tak memungkinkan, yah sosok yang bisa mengendalikan emosinya meskipun badai menggoncangkan hati dan fikiran nya. Pintu itu langsung terbuka di saat Justin masih kurang dua langkah, artinya nona muda nya memang menunggu dan sudah siap bertemu dengan nya.
"Bantu aku Tuhan, kenapa ujian sekolah lebih mudah ya? Aissh. " gumam Justin dan melangkahkan kaki nya masuk kedalam ruangan presdir.
"Duduk!" perintah queen dengan berkas yang menutupi wajahnya.
Justin hanya mengikuti perintah dan duduk di kursi depan seberang meja dan itu mengarah pada nona muda nya, tapi selama tiga puluh menit yang terjadi hanya diam dan nona muda nya sibuk memeriksa berkas-berkas yang menumpuk di meja tanpa melepaskan topeng nya. Sedangkan Justin sudah melepaskan masker dan topi nya di meja sembari menunggu perintah selanjutnya, waktu masih berlalu dengan diam hingga hampir dua jam tidak ada perubahan.
"Semua sudah ku periksa, selesaikan semua ini dan pastikan besok pagi sudah rapi." ucap Queen dan menutup berkas terakhir.
"Queen? " panggil Justin.
"Satu kesalahan masih ku pahami, tapi kesalahan kedua membuat ku berfikir. Apakah kamu Justin yang sama? Cinta ada untuk menguatkan bukan melemahkan, buktikan cinta mu pantas." ucap queen dengan tatapan yang tajam.
"Aku minta maaf queen, aku tahu kesalahan ku. Berikan kesempatan sekali lagi." pintar Justin dengan tulus.
"Baiklah, kesempatan terakhir." jawab queen dengan tegas.
"Apa aku harus melakukan semua sendiri? " tanya queen menatap berkas di atas meja.
"No, i will do." jawab Justin dan bergegas untuk melakukan pekerjaan.
"Datanglah ke mansion malam ini, dan bawa saja semua berkas itu ke apartemen mu." perintah queen dan berjalan keluar dari ruangan presdir.
"Okay queen." jawab Justin lega, yah setidaknya kali ini dirinya masih terselamatkan.
Kini tugasnya harus menyelesaikan pekerjaan yang mungkin seharusnya di kerjakan dalam waktu dua bulan dan kali ini hanya dikerjakan satu hari atau lebih tepatnya beberapa jam sebelum pagi esok kembali. Tapi malam harus mendatangi mansion yang berarti waktu nya akan tersisa lebih banyak, dan ntah tugas apa yang menanti di dalam mansion nanti.
Sedangkan queen kini sudah kembali menaiki helikopter pribadinya dengan tenang seorang diri dan hanya bersama pilotnya saja, menuju ke tempat tinggal terbaiknya. Terbang selama lima belas menit dengan kecepatan standar, dan terlihat di bawah sana sebuah taman dengan jalan setapak berbentuk kupu-kupu di samping mansion mewah pinggir perkebunan dan di belakang sana adalah sebuah laut berpasir putih.
"Selamat datang queen." sambut seorang bodyguard yang membukakan pintu setelah heli mendarat.
"Apa semua sudah siap? " tanya queen dengan berjalan menuju jalan yang dipenuhi pepohonan hijau dengan buah-buahan segar.
"Seperti perintah anda queen, mau makan siang di mansion queen? " tanya bodyguard itu yang melihat jam di pergelangan tangannya tepat pukul dua belas.
"Siapkan makanan seperti biasanya, pastikan semua berkumpul. Pergilah." perintah queen dan terus melangkah melewati perkebunan jeruk dan apel.
Sedangkan bodyguard itu melangkah ke arah terbalik untuk melakukan perintah nona muda nya, tidak akan menjadi masalah jika meninggalkan queen di tempat yang membesarkan nya. Dan kebiasaan gadis itu memanglah lebih menyukai sendiri jika bertemu dengan binatang kesayangan nya, perjalanan membutuhkan lima belas menit untuk mencapai ujung perkebunan dan terlihat bebatuan memanjakan menjorok ke arah selatan.
__ADS_1
Hembusan angin dengan aroma laut sangat terasa dan menyambut kedatangan nya, terlihat di dekat ujung terdapat satu box besar berwarna putih dan itu pasti makanan untuk moli. Sejenak menatap laut dan melihat keadaan daerahnya, setelah puas maka tangannya berganti membuka box besar di samping kirinya.
"Lumayan, ayo waktu nya makan." ucap queen dengan mengusap daging sapi potongan besar-besar di dalam box itu.
Satu lemparan meluncur ke bawah dan langsung di sambar oleh Moli dan hal itu berlangsung selama lima kali sesuai dengan lima potongan daging yang tersedia. Bukannya kembali menghilang ke dalam air tapi terlihat moli berenang dengan tenang dan nyamannya, mungkin hewan itu mencium aroma tuannya dari daging yang di makannya.
"Sepertinya papa menyiapkan mu untuk sebuah pesta, bersabarlah makanan mu masih dalam sangkar. Kembalilah ke dalam! " ucap queen dan itu dengan suara yang nada nya cukup bisa di dengar oleh hewan kesayangan nya.
Seperti memahami ucapan queen, moli menyelam ke dalam air dan meninggalkan tuan nya yang memandang lautan tanpa batas. Terlihat ada lelehan air mata di sudut kelopak kedua mata mungil itu, fikiran nya jauh memasuki lautan dalam. Tak terbaca dan ter artikan, yah itulah dirinya dan diam ataupun kata bisa menjadi sebuah jawaban.
"You are strong Queen Asfa Luxifer , never give up." gumam queen dan menyeka air mata nya.
Tidak peduli dengan tangan yang berbau amis karena menyentuh daging segar , kini wajahnya pun ikut menjadi anyir darah. Langkah nya kembali menuju mansion untuk beristirahat sejenak dan memantau keadaan mansion utama, bukannya dirinya tidak tahu kemana perginya sang papa tapi terkadang bermain petak umpet lebih menyenangkan.
Atau bermain kucing-kucingan, permainan yang biasanya di mainkan anak-anak menjadi permainan orang dewasa dengan jalan dan keputusan yang lebih berbahaya. Dan apapun yang membentuk kepribadian seorang Queen sudah pasti berasal dari dua pria yang mendidiknya terlalu dini dan keras, waktunya yang digunakan untuk bermain justru di gunakan untuk mempelajari cara merakit sebuah senjata.
"Selamat datang queen." sambut serempak para bodyguard dan pelayan yang ternyata menunggu kedatangannya di depan pintu utama mansion.
Bukan nya menjawab tapi Asfa langsung masuk ke dalam mansion setelah memberikan isyarat untuk bubar, dan tujuannya kini adalah kamar utama. Dimana kamar itu menjadi tempat tinggal nya beberapa tahun dengan banyak kenangan, di dalam mansion memang memiliki tiga kamar utama yang sama besar dan juga kemewahannya. Tapi hanya dua kamar yang biasa ditempati, sedangkan kamar ke tiga masih di anggap kamar baru karena tak seorang pun menempati kamar itu, meskipun kamar itu selalu dibersihkan setiap tiga hari sekali.
Dengan kombinasi sidik jari dan retina mata, pintu kamar terbuka dan menampilkan kemewahan yang lebih dari kamar di mansion nya sendiri. Tentu saja karena mansion milik papa nya jauh lebih besar dan mewah dan tentu nya jauh di luar jangkauan orang-orang dan wilayah yang merupakan wilayah pelosok itu sudah sepenuhnya milik papa nya. Hingga wilayah perbatasan sampai ke jalan utama baru lah garis itu menjadi milik negara, sedangkan wilayah yang menjorok ke laut milik tuan besar Luxifer.
Dengan membiarkan air shower yang menguyur tubuhnya, hujan sabun dengan aroma terapi strawberry membiarkan tubuh itu menyerap dan meninggalkan harum yang manis. Setelah dua puluh menit akhirnya ritual mandi nya selesai dan sebuah gaun dengan lengan pendek dan panjang di atas lutut menjadi pilihannya kali ini, di dalam ruangan ganti dengan lemari kaca besar sepuluh pintu terdapat begitu banyak dress keluaran terbaru dari butik ternama. Satu kebiasaan papa nya yang tidak bisa di hentikan yaitu membelikan dress dan perhiasan kemanapun pria itu berkunjung maka oleh-oleh akan tetap sama kecuali putrinya sudah melarangnya.
Langkah kaki yang terdengar menuruni tangga membuat para bodyguard dan pelayan menunduk, mereka tidak akan lupa untuk menjaga pandangan dan menjaga ucapan selama itu berkaitan dengan keluarga Luxifer. Langkah kaki itu semakin mendekati meja makan besar yang sudah di susun sedemikian rupa, hari ini akan menjadi hari yang membahagiakan karena queen mereka mengadakan makan bersama lagi setelah sekian lama.
"Panggil semua nya." perintah queen dan duduk di tempat nya.
Tidak perlu menunggu lama, kini kursi-kursi sudah terisi dengan para bodyguard dan pelayan yang semuanya berjumlah seratus orang. Bagaimana dengan makanan nya? Tentu saja koki di dalam mansion sudah terbiasa dengan memasak untuk orang sebanyak itu. Hanya saja makan bersama keluarga Luxifer adalah hal luar biasa, maka hidangan nya pun sedikit berbeda karena lebih banyak makanan terbuat dari buah-buahan yang segar sebagai makanan penutup.
"Apakah selama papa pergi ada masalah di mansion? " tanya queen setelah menyelesaikan makan siang nya dengan tenang dan damai.
"Semua baik queen, hanya saja latihan menjadi tidak semangat karena tidak ada Bunda Anya." jawab bodyguard yang membukakan pintu heli tadi.
"Bagaimana dengan Duke Justin? " tanya queen dengan menikmati salad buah segar.
__ADS_1
"Semenjak queen tidak di mansion, Duke Justin juga tidak ke mansion." jawab bodyguard yang lain.
"Baiklah, jaga diri kalian dan tetaplah saling melindungi." ucap queen dan mengelap bibir nya yang dipenuhi yogurt rasa blueberry.
"Queen." panggil seorang pelayan yang membuat semua orang menatapnya dengan bingung.
Asfa hanya berbalik dan menaikkan satu alisnya dan itu sukses membuat pelayan wanita di depannya menunduk seakan ragu takut atau mungkin malu.
"Ekhem." dehem queen dan membuat pelayan itu menyengir kuda.
"Bolehkah ikut ke kota? Emm saya rindu melihat mall." ucap pelayan wanita itu dengan nada yang hampir hilang di telan angin.
"Spesifikasi? " tanya queen dengan nada ringan.
"Queen dia agen IT termuda Rania dan baru satu bulan masuk ke mansion, sebelum ini berada di mansion junior. Tuan besar membawa nya kemari sebagai pengganti Aries." jawab bodyguard yang paling lama di mansion itu.
"Kemana Aries? " tanya queen mengalihkan topic yang lebih serius.
"Maaf kami tidak tahu queen, terakhir sekitar dua bulan lalu kami melihat Aries berlatih dengan tuan besar. " jawab bodyguard itu seakan sembari mengingat sesuatu.
"Ok, ambil ponselmu!" perintah queen tanpa menatap orang yang di maksud dan berjalan menuju pintu utama mansion.
"Rania!" ucap queen dengan nada lebih tinggi.
Merasa terpanggil membuat tubuh nya berlari begitu saja menyusul queen nya tanpa mengambil ponsel yang ada di atas meja makan, tapi langkah nya terhenti saat ada tangan yang memegangnya.
"Tenang dan jangan ceroboh! Queen tidak menyukai orang yang gegabah.Ambil." ucap bodyguard yang selalu berani menjawab queen dengan memberikan ponsel gadis dengan usia delapan belas tahun itu.
Sebuah mobil sudah terparkir dengan manis di depan pintu utama mansion, dan terlihat queen sudah duduk di kursi pengemudi dengan topeng yang selalu tersedia di tempat seharusnya. Bukannya masuk tapi Rania justru memandang nona muda nya dengan wajah melongo, rasanya seperti melihat sesuatu yang mampu membangunkan rasa kagum dengan pesona tak terbantahkan.
Tiiiiiin....
Suara klakson itu membuyarkan pandangan mendamba Rania dan bergegas memasuki mobil sport merah yang terlihat sangat mengkilap, baru kali ini dirinya memasuki sebuah mobil yang hanya cukup untuk dua orang saja. Sedangkan queen memilih berkonsentrasi memacu kendaraan nya dan membiarkan gadis di samping nya travelling di dalam fikiran nya itu, waktu yang sudah mengakhiri makan siang membuat perasaan tak tenang menghampiri nya.
"Seharusnya menggunakan heli saja, astaga Asfa ayolah naikkan kecepatan mobilnya." batin queen dengan monolog tak karuan.
....................
"Dimana dokter utamanya? Apa operasi tidak jadi malam ini? " ucap wanita dengan rambut terikat nya.
__ADS_1
"Dia akan datang di saat waktunya bukan sebelum ataupun sesudah." jawab pria yang baru masuk ke ruangan operasi.