My Secret Life

My Secret Life
Bab 103: Asfa kembali


__ADS_3

"Bertahan lah doll, lihat lah papa kita sangat lah luar biasa hebat. Kembali lah ke dalam pelukan kami, karena jiwa kami hanya lah kamu putri raja kami. Bertahan lah kakak mohon." bisik Alvaro dengan penuh harapan dan do'a.


Perjuangan tuan Luxifer beserta anggota keluarga nya masih berlanjut di dalam ruangan rahasia dan tak seorang pun tahu dan melihat perjuangan itu, berbeda dengan ruangan rawat Abhi yang kini menjadi tempat diskusi di antara dua lawan jenis dengan berbagai argument yang saling melengkapi.


"Eeeuummm." suara lenguhan terdengar membuat kedua lawan jenis itu saling memandang ke arah datangnya suara.


"Pasiennya sadar? Apa yang harus kita lakukan King?" tanya Zara dengan melirik bossnya.


"Biarkan saja, mereka bukan orang biasa. Sebaiknya cari aman untuk sementara," jawab King mencoba mengabaikan pasien di atas brangkar dengan memejamkan mata.


Bahkan luka lebam di mata king pun di biarkan begitu saja, meskipun Zara sudah menawarkan bantuan untuk mengobati lukanya. Di dalam hati king sebenarnya ada perasaan bersalah, karena menyadari jika gadis yang di serangnya justru menjadi penyelamat hidupnya dan sekaligus menjadi korban dari musuhnya.


Terlebih ketika Zara mengatakan, bahwa yang menyewa orang-orang yang menculik dirinya adalah lawan bisnisnya yang iri dengan kesuksesannya. Sedangkan gadis yang ada di dalam ruangan rahasia itu harus berjuang antara hidup dan mati hanya karena menolong orang asing seperti dirinya.


"Asfaa, kamu disini?" gumam Abhi dengan lirih melihat ke arah Zara yang posisinya membelakangi dirinya.


Seakan ada jiwa yang terpanggil, membuat Zara bergegas melangkahkan kaki dari tempat duduknya dan mendekati brangkar. Di tatapnya pasien yang ternyata tampan dan memiliki mata biru. Sungguh seorang pria dengan wajah idaman para wanita. Jika antara Caesar, King dan pria di depannya di sandingkan bersama, sudah pasti akan seperti tiga pangeran yang membuat antrian para wanita berbagai usia.


"Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya Zara setelah puas berfikir.


"Siapa kamu? Dimana Asfa? " tanya balik Abhi dengan menaikkan satu alisnya, setelah pandangan mata jelas dan wanita di depannya bukan Asfa melainkan seorang wanita berjilbab.


"Siapa itu Asfa?" tanya Zara yang tidak paham arah pembicaraan pria di depannya.


"Panggilkan dokter Aal, menjauh dari ku." tukas Abhi yang merasa terancam karena wanita di depannya sungguh terlihat mencurigakan.


"Hey tenanglah. Aku bukan orang jahat!" protes Zara yang tahu maksud ucapan Abhi seperti sebuah pencegahan dan Zara semakin mendekati Abhi yang membuat pria itu menatap Zara dengan tajam.

__ADS_1


"Stop!" ucap seseorang yang suaranya membuat Zara berhenti melangkah dan king membuka mata menatap ke arah datangnya suara.


"Tidak mungkin." ucap Zara yang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Interesting!(Menarik!)" batin king menatap gadis yang sudah berdiri tegak, setelah mengalami keracunan yang membuat nyawa gadis itu di ambang kematian hanya dalam kurun waktu 2 jam kurang.


Yah suara itu berasal dari Asfa dengan suara dingin khas intimidasinya dan langsung membuat Zara berdiri mematung. Tanpa mempedulikan tatapan pemuda yang ada di sofa dan wanita berjilbab yang ada di dekat ranjang suaminya, langkah Asfa tetap pasti untuk mendekati brangkar Abhi.


"Kenapa lama sekali..." ucap Abhi yang tersenyum sumingrah melihat kemunculan Asfa.


"I am here now.(Aku disini sekarang.)" ucap Asfa memotong ucapan Abhi.


Prook... prook.. prook...


Tiga tepukan tangan Asfa setelah berdiri di depan Zara, membuat wanita berjilbab itu tertegun dan salah tingkah. Hingga akhirnya melangkah mundur bersamaan dengan pintu ruangan rawat Abhi terbuka dan seseorang sudah berada di ambang pintu begitu pintu terbuka lebar.


"Apa anda mengusir kami?" tanya Zara dengan mata yang melotot ke arah Asfa yang tatapannya hanya tertuju pada Abhi.


"Pergilah atau harus dengan cara lain?!" tegas Asfa dengan lembut.


"Zara ayo!" ajak king yang melihat jika gadis di depannya sangat berbeda dengan gadis lain.


"Tapi.." protes Zara seakan masih ingin berdebat dengan Asfa.


"Jangan membangunkan singa yang tertidur!" cetus king dengan tegas dan bangun dari duduknya.


"Ikuti assistant ku untuk keluar dari mansion ku." ucap Asfa dan menghampiri Abhi yang memilih diam dan hanya menjadi pendengar yang baik, meskipun ucapan Asfa membuat daftar pertanyaan di dalam otaknya bertambah dan selain itu membiarkan wanita berjilbab yang mendekatinya pergi adalah yang terbaik.

__ADS_1


Setelah suara langkah tak lagi terdengar, membuat Asfa menekan satu tombol tersembunyi untuk menutup pintu ruangan rawat. Bahkan Abhi tidak menyadari jika yang membuat pintu tertutup adalah istrinya sendiri. Dari mata Abhi yang memancarkan kerinduan, membuat Asfa merasa bersalah karena membuat pria itu harus terbaring lebih lama dengan obat bius yang tidak seharusnya. Hanya sebuah usapan lembut di pipi putih Abhi yang bisa di lakukan oleh Asfa.


"Kenapa lama sekali? Rasanya aku tidur terlalu banyak." ucap Abhi dengan menikmati usapan tangan Asfa di pipi kirinya.


"Apa sudah siap untuk berjalan?" tanya Asfa mengalihkan topic yang lebih penting dan membuat mata Abhi semakin berbinar mendengar pertanyaan yang sungguh sebuah berita baik untuknya.


"Yah Aku siap. Aku ingin segera membawa mu pergi jalan-jalan." jawab Abhi dengan tatapan lembut, membuat Asfa tersenyum menahan kekehan di hatinya.


Bukannya memikirkan bagaimana nasib perusahaan setelah di tinggal sakit atau menanyakan orang tuanya, justru tujuan pertama Abhi adalah jalan-jalan bersama istrinya. Sungguh kode perasaan bucin sudah mulai di luncurkan, membuat Asfa hanya bisa tersenyum meskipun di hatinya masih biasa saja dengan pria yang sudah menjadi suami tidak sahnya itu.


Tentu saja suami tidak sah, bukan hanya karena nama tapi juga wali yang masih hidup dan tanpa persetujuan papanya. Tentu saja pernikahan kedua manusia itu tidak bisa di anggap sah dengan identitas Asfa yang tidak jelas. Tapi bukan waktunya untuk memberitahu kan hal sensitive seperti itu di saat kondisi Abhi masih berpangku pada bantuan banyak orang terutama bantuan para dokter.


"Tidak secepat itu, setelah pelepasan semua ini masih ada tahap terakhir yaitu terapi berjalan. Jadi selama tulang di kaki mu masih belum kuat untuk menopang tubuh kekar mu itu, sudah pasti harus menggunakan kursi roda dulu." ucap Asfa menjelaskan pengobatan terakhir Abhi agar suaminya itu tidak terburu-buru memesan tiket perjalanan.


"Selama kamu bersama ku. Aku tidak masalah dengan pengobatan apapun. Tapi kenapa kamu seperti sangat memahami tentang kondisi ku, seperti kamu ini dokter yang menangani ku saja." ucap Abhi dengan tatapan selidik.


"Don't many thinking! (Jangan banyak berfikir!)" ucap Asfa dan menghentikan usapan tangannya, karena layar monitor di seberang sana menarik perhatiannya.


"Asfa? Ada apa?" tanya Abhi yang melihat Asfa seakan memikirkan sesuatu dengan serius.


"Nothing, biar aku panggilkan dokter Aal dulu." jawab Asfa dengan melangkahkan kaki menuju ke arah ruangan rahasia, yang membuat Abhi melihat apa yang di lakukan Asfa namun matanya terhenti pada sesuatu yang menutupi pundak kiri istrinya.


"Asfaa" seru Abhi dengan sekuat tenaga dan membuat Asfa menghentikan langkahnya dan berbalik.


Tatapan Asfa melihat Abhi seksama dan kembali tertuju pada layar monitor virtual di seberang ranjang Abhi, bukannya kembali melangkahkan kaki ke ruangan rahasia. Justru langkah Asfa bergegas menghampiri sisi seberang ranjang Abhi, tanpa mempedulikan pertanyaan Abhi yang seakan tak memasuki gendang telinganya.


Jemarinya sudah berselancar dengan keseriusan yang membuat layar virtual di depannya berganti gambar berulang kali, setelah dua menit akhirnya wajah Asfa kembali tenang namun tatapannya langsung di hadang tatapan tajam dari Abhi yang seakan siap menerkam dengan pipi yang memerah.

__ADS_1


"Ekhem!" dehem seseorang yang membuat pandangan Asfa dan Abhi terputus.


__ADS_2