My Secret Life

My Secret Life
Bab 200: Penantian Abhi - Segudang tanda tanya


__ADS_3

Ceklek....


"Mil, kamu serius mau ikut lembur?" tanya Niles sembari membawa nampan obat-obatan ke kamar Abhi.


Mila menutup pintu, lalu berjalan menghampiri rekannya itu. "Iya, setengah jam lalu seorang bayi baru lahir. Tapi keadaannya tidak baik. Sementara suster lain sudah pulang satu jam lalu. Aku dengar ibunya juga mengalami koma, semoga saja keduanya selamat dan sehat tanpa suatu kekurangan apapun. Ameen."


"Ameen," Niles ikut meng amin kan doa harapan Mila.


"Tapi, aku tidak melihat daftar pasien baru di rumah sakit ini," sambung Niles berpikir keras mengingat nama pasien beberapa ruangan terbaru.


Mila mencubit perut Niles tanpa tenaga, "Pasien itu buat yang lain, tapi buat mereka bukan. Semua memanggilnya Queen, yah itu dia queen...."


"Queen di ruangan mana?"


Niles dan Mila mengalihkan tatapan ke arah suara yang menyahut perbincangan mereka.


"Tuan, anda sudah sadar? Tunggu saya panggilkan dokter....," tanya Niles dan hendak bergerak dari posisinya.


Abhi mengangkat tangannya, ''Aku tidak ingin dokter. Katakan dimana ruangan Queen?"


"Maaf, Tuan. Kami tidak diperbolehkan memberikan informasi apapun....,"


"Aku tidak membutuhkan penjelasan kalian. Aku hanya ingin kalian jawab pertanyaan ku!'' Abhi tak bisa menahan emosinya setelah mendengar percakapan dua suster itu.


Niles menghampiri Abhi, tangannya ingin melakukan pemeriksaan. Namun, Abhi menepis tangan suster pria itu. "Jangan sentuh aku! Apa kalian tidak mau mengatakan dimana Queen?"


Mila mendekati Niles, melihat bagaimana keadaan rekannya itu setelah tangannya ditepis pasien tanpa hati.

__ADS_1


"Niles....,"


"Aku baik, Mil. Tuan ingin tahu dimana ruangan pasien koma, kenapa? Katakan pada kami, alasan Tuan!" tantang Niles yang tak segan membalas tatapan tajam Abhi.


Menyadari jika para suster tidak bisa di paksa. Abhi memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam, barulah pikirannya bisa berpikir tenang.


"Sorry," ucap Abhi setelah membuka matanya.


"Tidak apa, Tuan. Saya akan panggilkan dokter. Mil, pergilah! Tugasku bukan di sini." ujar Niles menggenggam tangan rekannya.


Keduanya berjalan menuju pintu keluar, sedangkan Abhi berpura-pura memejamkan mata kembali. Suara pintu terbuka lalu tertutup kembali, membuat pria bermata biru itu segera turun dari brankar. Pakaian rumah sakit melekat di tubuhnya.


Langkahnya berjalan tanpa memikirkan keadaannya yang lemah.


Ceklek!


Sepuluh menit kemudian, Abhi melihat suster wanita itu memasuki sebuah pintu dengan deretan kaca yang terbelah menjadi dua bagian jenis kaca. Karena tak ingin mengambil resiko. Maka Abhi memilih menunggu di lorong terakhir sebelum menuju ruangan khusus. Tanpa Abhi sadari tengah berdiri di depan ruangan apa.


Penantian Abhi tak mengubah niat pria itu untuk menyelinap masuk ke dalam ruangan khusus. Hingga setengah jam berlalu. Suara beberapa orang terdengar mendekat, membuat Abhi kebingungan mencari tempat persembunyian. Tanpa sengaja pintu ruangan di belakangnya terbuka. Satu langkah masuk, kini pria itu hilang di balik pintu dengan suhu dingin.


"Papa pulang saja! Aku akan menjaga doll, bukankah di perbatasan masih terjadi perebutan wilayah. Papa bisa fokus itu, dan serahkan masalah rumah sakit padaku." bujuk Varo.


Tuan Luxifer berhenti di tikungan, mengalihkan tatapan matanya ke pintu yang bertuliskan ruangan mayat dimana Abhi berada. "Kamu lihat itu! Kamar mayat, bagaimana seorang ayah bisa meninggalkan putrinya yang tengah berjuang antara hidup dan mati?! Tidak, Nak. Papa akan stay disini."


Varo bergidik ngeri sesaat. Waktu saja sudah larut malam. Justru sang papa main tunjuk kamar mayat saja, "Papa ini, tidak seperti itu juga. Sudahlah, pokoknya papa lebih baik pulang. Hanya papa yang bisa membujuk nenek Ara, atau papa melupakan….,"


"Hmmm. Tidak usah diteruskan, Papa kalah. Jaga dirimu, dan kabari perkembangan adikmu." pamit Tuan Luxifer memeluk putranya sesaat, kemudian melambaikan tangan sambil berjalan menjauhi tempat Varo.

__ADS_1


Varo membalas lambaian tangan papanya dengan nafas lega. Kini tidak ada yang perlu di khawatir lagi, tangannya mengambil ponsel dari saku celana lalu mendial nomor seseorang. "Siapkan semuanya! Queen akan operasi malam ini juga."


Tuut!


"Syukurlah, Papa bisa di bujuk. Aku harus bersiap juga." gumam Varo.


Panggilan diakhiri tanpa menunggu jawaban dari seberang. Barulah langkahnya meninggalkan lorong dingin depan kamar mayat. Sedangkan di dalam kamar mayat, wajah Abhi tegang. Bukan karena matanya melihat deretan brankar berisikan mayat. Akan tetapi karena mendengar percakapan dari arah luar.


Suara Varo dan Tuan Luxifer masih sangat familiar di telinganya. Kata operasi seakan mengambil separuh nafasnya. Udara dingin di dalam kamar semakin menguras pasokan oksigen di sekitarnya.


"Apa yang terjadi padamu? Kenapa melakukan operasi, dan operasi apa yang membuat dokter Varo bertindak seorang diri? Bayi, tunggu dulu. Apakah itu artinya, kamu sudah melahirkan?" gumam Abhi lirih dengan segudang tanda tanya.


Niat hati ingin keluar kembali diurungkan ketika suara langkah kaki berlari di lorong terdengar samar. "Dok, apa ini tidak berbahaya?"


"Kita hanya menyiapkan ruangan operasi, bukan yang bertugas menjalankan operasi." jawab dokter dengan nafas memburu.


Hanya sepintas obrolan, kemudian hening kembali. Abhi menengok dari jendela pintu memastikan keadaan aman. Barulah dirinya keluar, dan berjalan mengendap-endap memgintip di balik tembok.


Ruangan khusus berada di depan sana dengan jarak tiga meter. Situasi aman terkendali membuat pria itu berjalan cepat. Baru saja sampai di depan pintu. Sekali lagi terdengar suara langkah kaki mendekat, dan hal itu membuat Abhi masuk ke dalam ruangan khusus tanpa pikir panjang lagi.


Ceklek!


Suara pintu yang terbuka dan tertutup kembali menyita perhatian seseorang yang tengah berdiri di sudut sana. Matanya menatap pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan khusus. Namun, bukan hanya itu saja. Karena dari arah luar wajah familiar juga bersiap masuk ke ruangan khusus.


Otaknya berpikir keras untuk mengatasi situasi yang mungkin menjadi gunung berapi. Tak ingin membuat suasana semakin runyam. Dirinya berjalan cepat menghampiri pria di belakang pintu.


Tangannya tanpa permisi membekap mulut pria pemilik mata biru itu, "Diamlah, atau nanti kamu ketahuan!"

__ADS_1


Bisikan itu membuat Abhi diam tanpa pemberontakan.


__ADS_2