My Secret Life

My Secret Life
Bab 105: Darah


__ADS_3

"See you(Sampai jumpa)" ucap Asfa dan membalikkan tubuh nya dan langkah nya berjalan menuju meninggalkan brangkar Abhi.


Langkah kaki nya masih tetap tegap dan tidak ada yang bisa mengatakan bagaimana keadaan sebenarnya seorang queen, hingga Alvaro yang ingin mengambil satu alat penekan syaraf untuk memeriksa Abhi tak sengaja menatap lantai marmer tempat adiknya terjatuh. Ada warna merah yang cukup banyak membuat lantai marmer warna emas itu menjadi kontras dengan cairan yang terlihat masih segar,dengan cekatan Alvaro mencolek sedikit warna merah itu dan mencium nya.


"Darah." gumam Alvaro.


Dengan cepat Alvaro menatap tubuh adik nya yang masih berdiri tegak, namun ada yang aneh di pandangan mata nya. Rambut adik nya tidak lagi terikat tapi tergerai, sontak Alvaro berlari menarik tangan kanan Asfa kedalam pelukan nya dan dengan cepat di sibakkan nya rambut yang tergerai itu namun ada sensasi basah yang kini membasahi telapak tangan kanan Alvaro. Di tatap nya telapak tangan nya sendiri dan warna merah jelas menempel di sana, hidung nya mencium aroma anyir yang sangat menyengat dan mata nya beralih pada pundak kiri Asfa yang langsung membuat mata melotot.


"Astaga! Doll.. " seru Alvaro yang terhenti karena merasakan tubuh Asfa menyandar ke dalam dada bidang nya.


"Doll." panggil Alvaro panik yang langsung menggendong adik nya dan berlari menuju ruangan rahasia tanpa mempedulikan teriakan Abhi yang panik melihat tingkah nya.


Dengan bergegas Alvaro membaringkan tubuh Asfa ke ranjang king size bersebelahan dengan papa nya yang kondisi nya masih dalam pengaruh obat bius,bahkan pintu ruangan rahasia dibiarkan terbuka. Dengan cekatan Alvaro mengambil kotak obat dan membersihkan luka di pundak kiri adik nya setelah melepaskan jas putih Asfa yang sudah meninggalkan warna merah darah begitu lebar nya.


"Kenapa kamu selalu diam setiap kali terluka! Apa guna nya aku jika kamu selalu seperti ini doll." keluh Alvaro dengan menatap luka yang kembali terbuka dan menambah luka tembakan itu semakin dalam.


Yah luka itu kembali terbuka karena tubuh belakang Asfa menjadi pendaratan pertama saat terjatuh bersamaan dengan Abhi, tapi yang berdampak parah adalah pundak kiri nya dimana luka tembakan itu masih baru dan hanya di perban setelah berhasil menetralkan racun yang menyebar. Sekali lagi hati Alvaro harus merasakan kegagalan menjadi seorang kakak yang baik dan mampu melindungi adik nya, tanpa di sadari dirinya jika Abhi dengan susah payah berusaha menggapai tujuan di depan mata nya.


Tubuh nya yang masih lemas dan tak bisa bergerak bebas karena tak memiliki kekuatan dipaksakan turun dari tempat nya terbaring, meskipun dengan menjatuhkan tubuh kekar nya yang hanya terbalut selimut tetap saja di lakukan oleh Abhi. Dengan menahan sakit, tubuh kekar nya berangsur berpindah dari satu senti marmer ke senti marmer di depan nya dengan perasaan cemas yang semakin menyelimuti hati nya ketika aroma darah di marmer memasuki rongga hidung nya.


"Maafkan aku." batin Abhi memejamkan mata nya sejenak dan mencoba untuk bangkit dengan berpegangan pada sisi lemari di samping kanan tubuh nya.

__ADS_1


Sedangkan Alvaro masih menahan nafas nya dengan menjahit luka tembakan di pundak kiri adik nya, yang terluka adik nya tapi yang merasakan sakit dan perih justru dirinya. Sungguh rasa nya ingin menggantikan posisi adik nya di saat terluka seperti itu, hingga jahitan selesai dan pemasangan perban yang lebih tebal agar menahan luka tembakan adik nya.


"Apa yang terjadi pada Asfa? '' tanya Abhi dengan suara ngos-ngos'an dan menahan tubuh nya dengan sekuat tenaga setelah berjuang begitu besar nya berjalan merambat dan terjatuh berulang kali bahkan siku tangan nya juga terluka.


"Kau?!" ucap Alvaro yang terkejut dengan keberadaan Abhi di belakang sana dengan tubuh pria itu bersandar pada brangkas besi.


Tanpa menunggu lama, Alvaro bergegas menghampiri Abhi dan membantu pria itu untuk berjalan perlahan ke arah ranjang. Dengan pelan di dudukkan nya Abhi di ujung ranjang dengan sandaran dipan kasur yang juga bertekstur lembut, di angkat nya kaki Abhi agar ikut berselonjor di tempat tidur king size di sebelah adik nya yang terbaring dengan posisi miring.


"Tenanglah, ini hanya luka kecil untuk istri mu. Sebaiknya aku periksa diri mu dulu." ucap Alvaro yang menangkap raut kesedihan di wajah Abhi dengan tangan kiri pria itu yang tak sanggup menyentuh perban di bahu kiri Asfa.


"Luka kecil? Darah sebanyak itu? " tanya Abhi yang sungguh tidak paham kemana arah pembicaraan dokter Aal.


Hening tanpa jawab an hingga Alvaro kembali berdiri di samping Abhi dan membawa setelan pakaian yang memang di ambil nya dari lemari pakaian nya yang tersedia di dalam kamar rahasia itu.


"Aku bisa sendiri." ucap Abhi dengan tegas namun ada rasa malu yang tercetak di pipi putih nya itu.


"Jangan berfikir aneh! Aku dokter dan kamu pasien ku, jika sesuatu terjadi pada mu, kamu mau jadi tameng ku.Hmm." ucap Alvaro dan tetap menarik selimut meskipun dengan hati-hati karena masih sadar jika kondisi Abhi masih lemah dan suatu kemajuan pesat ketika dengan jarak lima meter setelah berjuang berpindah tempat, Abhi masih bisa tetap berdiri di bawah kaki nya sendiri dalam keadaan terlemah nya.


"Terimakasih." ucap Abhi setelah selesai di bantu memakai sebuah pakaian casual yang memudahkan Alvaro untuk memakaikan pakaian itu lebih cepat dari jenis pakaian lain nya.


"Hmm.Tekanan darah mu normal tapi syaraf mu mengalami shock terapi terlalu cepat. Tapi ini mempercepat proses penyembuhan mu, bisa aku minta sesuatu pada mu? " tanya Alvaro setelah melakukan pemeriksaan yang sempat tertunda.

__ADS_1


"Katakan saja, sebagai ucapan terimakasih ku. Aku akan penuhi satu permintaan mu, meskipun banyak pertanyaan yang kini memenuhi otak ku." jawab Abhi dengan serius menatap Alvaro.


"Aku ingin....


...~~~...


.


.


. Khusus hari ini dobel up ya.. 😁


.


.


. Kelanjutaan nya next sahuur.. 🥀


.


.

__ADS_1


. Jangan lupa like, comment, vote, favorite plus happy reading ya reader's 😍


__ADS_2