My Secret Life

My Secret Life
Bab 101: Bantuan dan Kepercayaan


__ADS_3

"Shut up! Tell how help queen?( Diam! Katakan bagaimana membantu queen?)" tukas tuan besar dengan mengangkat tangan kanannya agar pemuda itu bicara pada intinya saja.


"Racun itu baru di buat oleh perusahaan ku dengan virus yang baru kami temukan, tapi masih dalam tahap observasi. Penawar racunnya masih belum di temukan, meskipun sudah tiga bulan di lakukan uji coba pada hewan percobaan. Perusahaan ka...." tutur pemuda itu dengan panjangnya yang membuat Alvaro langsung membekap mulut pemuda itu.


"Stop! Call anyone for take example and come here now! (Berhenti! Panggil siapapun untuk menggambil contoh dan datang kemari sekarang! )" perintah tuan Luxifer dengan dingin dan tatapan matanya bagaikan anak panah yang baru saja di asah.


"Use it!( Gunakan!)" ucap Alvaro menyerahkan ponsel pintar miliknya.


Tangan yang sedikit gemetar menerima pemberian ponsel Alvaro dan memencet nomer telepon seseorang, orang yang menjadi pimpinan team dalam pembuatan racun terbaru di dalam perusahaannya. Terdengar pembicaraan kedua orang berbeda tempat itu singkat jelas dan padat, ada aura kepemimpinan dalam diri pemuda yang justru menahan rasa terintimidasinya dengan helaan nafas berulang kali.


"Kirimkan alamat mansion dan..." ucap pemuda itu yang membuat Alvaro merebut ponselnya kembali dan mengatakan sesuatu yang membuat pemuda di depannya hanya menelan saliva dengan susah payah.


"Siapkan semua sample racun dan bawa virus itu! Dalam waktu 10 menit dan naik ke lantai atas gedung itu! Jika tidak, jangan salahkan aku jika tempat mu bekerja meledak!" perintah Alvaro dan menutup panggilan dan beralih dengan mendial nomer lain.


"Jemput dokter Aswan di atap gedung perusahaan King Devil! Luncurkan rudal jarak jauh jika sepuluh menit dokter itu tidak muncul." perintah Alvaro dengan tegas dan tak ada keraguan sedikit pun.


Astaga siapa mereka? Kenapa jauh kejam di banding kan mafia milikku.~ batin pemuda itu yang hanya bisa menjadi pendengar atas ultimamtum kehancuran perusahaan nya sendiri.


"Emm." ucap pemuda itu yang masih di bekap oleh Alvaro.


"Tell? (Katakan?)" tukas Alvaro dan melepaskan tangan kekarnya dari bibir pemuda yang sebenarnya tampan meskipun terluka.


"Berapa lama dia mengalami kejang-kejang?" tanya pemuda itu setelah menghirup oksigen dalam-dalam.


"Kejang-kejang pertama sekitar dua menit dan kejang-kejang kedua sekitar tujuh menit setelah pemberiaan cairan penghambat penyebaran racun." jawab tuan Luxifer yang masih memeluk Asfa.


"Doll." ucap Alvaro bergegas memeriksa keadaan Asfa yang baru saja mengalami kejang-kejang setelah dirinya tinggal, wajah cemasnya tetap nampak namun caranya memeriksa Asfa sudah pasti merupakan keahliannya.

__ADS_1


"Boleh aku membantu?" tanya pemuda itu yang lebih mengenal tentang racun baru itu.


Sesaat tuan Luxifer dan Alvaro saling menatap satu sama lain dan beralih menatap pemuda yang menawarkan bantuan. Kedua pria itu mengangguk bersama, membuat pemuda itu berani melangkahkan kakinya mendekati ranjang dengan kasur king size.


Tuan Luxifer terpaksa menyingkir dan melepaskan pelukannya untuk memberikan ruangan gerak bagi pemuda yang menawarkan bantuan, tangan yang terlihat ototnya itu memeriksa pundak kiri Asfa yang ternyata luka akibat peluru beracun menjadi penuh dengan warna biru gelap seperti luka lebam.


Dengan menghitung waktu kejadian hingga waktunya saat ini, membuat pria itu menatap sekeliling kamar mewah itu. Namun sebagai penghuni asing tentu hanya menjadi bingung dengan apa yang di harapkannya. Tuan Luxifer yang melihat pemuda di depannya seperti mencari sesuatu langsung saja menepuk bahu pemuda itu dengan sambutan wajah yang menaikkan satu alisnya terangkat menatap pemuda itu.


"Aku butuh beberapa bahan untuk memperlambat penyebaran racun." ucap pemuda itu dan kali ini wajah pemuda itu tanpa keraguan sedikit pun.


"Katakan!'' ucap Tuan Luxifer tanpa menunda waktu.


"........ " ucap pemuda itu menyebutkan sederet bahan obat dan juga tumbuhan yang cukup di kenali oleh tuan Luxifer dan Alvaro yang juga menyimak.


"Pa, semua tersedia. Biar aku yang siapkan, papa di sini saja. Kau ikut dengan ku." ucap Alvaro dan turun dari kasur memutari tempat tidur untuk mengambil permintaan pemuda itu.


"Tolong jaga tubuhnya agar tetap memiliki suhu tubuh." ucap pemuda itu dan menyelimuti tubuh Asfa sebelum menghampiri Alvaro.


"Mau kemana hah!" ucap Alvaro menarik baju belakang pemuda itu yang langsung berhenti.


"Hehehe ntah lah." jawab pemuda itu dengan wajah polos, tapi Alvaro tidak akan tertipu.


Ada sesuatu yang membuat pemuda itu bersandiwara, setiap gerakan dan cara pemuda itu sebelas dua belas dari adiknya. Wajahnya sangat polos seperti wajah Asfa, tapi di saat keseriusan menjadi covernya maka pemuda itu baru menunjukkan aura kepemimpinannya, dan hal itu tak luput dari pandangan Alvaro.


"Buka lah, ambil semua yang kamu butuhkan! " perintah Alvaro dengan mendekati sebuah almari besi yang telah di buka dengan password sidik jari.


Begitu brangkas dengan ukuran dua meter kali satu setengah meter itu terbuka, tampak lah berbagai ramuan di rak atas dan rak bawah berisi alat-alat untuk membuat ramuan dan mengekstrak kandungan berbagai jenis bahan. Sebagai pemilik perusahaan medis tentu saja dirinya tahu apa saja yang ada di depannya itu baik dari bahan ataupun alat, dengan kedua tangannya secara bergantian mengeluarkan bahan ramuan herbal dan kimia di tambah beberapa alat yang akan menjadi wadah pembuatan penawar racun.

__ADS_1


Setelah semua yang di butuh kan di dapat kan, brangkas di tutup kembali namun melihat Alvaro yang sudah menyedekapkan kedua tangan di dada. Pria itu dengan menatap ke arah bahan-bahan di atas meja kaca yang ada di samping brangkas sungguh membuatnya waspada, sedangkan Alvaro menampilkan seringaian yang membuat pemuda itu langsung mengalihkan pandangan ke bahan-bahan di depannya.


"Wait! (Tunggu!)" cegah Alvaro yang menghentikan tangan pemuda itu untuk menyentuh bahan herbal di depannya.


"Katakan apa yang harus ku lakukan?" tanya Alvaro setelah menggeser posisi pemuda itu dan justru Alvaro yang akan membuat penawar racun sendiri.


Kepercayaan itu sangat lah mahal, tidak peduli orang asing ataupun orang lama tetap lah kepercayaan menjadi sebuah pertanyaan. Alvaro bukan adiknya Asfa yang akan memberikan kesempatan pada orang asing di saat keadaan darurat, terlebih ini tentang kehidupan adiknya. Nyawa keluarganya. Baginya nyawa Asfa lebih berharga dari nyawanya sendiri, seakan memahami apa maksud Alvaro membuat pemuda itu melangkah satu langkah ke belakang.


"Ekstrak tumbuhan perdu kering itu bersama dengan bahan kimia itu, pasti kan takarannya dua banding satu." ucap pemuda itu dengan menunjuk ke satu bahan herbal dengan bahan kimia ber warna hijau.


Alvaro dengan cekatan melakukan langkah pertama seperti yang di ucap kan oleh pemuda itu, hingga langkah -langkah berikutnya tetap di ikuti, hingga langkah ke empat yang mulai di lakukan Alvaro. Suara langkah kaki yang mendekat tak membuat Alvaro menghentikan pembuatan penawar racun untuk adiknya, langkah kaki yang sangat di kenalinya berhenti tepat di belakang tubuhnya.


"Kau ikut dengan ku!" perintah tuan Luxifer dan melanjutkan langkah kakinya menuju pintu keluar kamar rahasia.


"Pergilah! Dan jaga pandangan mu!" ucap Alvaro tanpa menatap pemuda itu yang akhirnya mengikuti langkah papanya, keluar kamar rahasia yang pasti untuk menjemput dokter Aswan yang sudah datang ke mansion.


Kepergian papa dan juga pemuda itu membuat Alvaro memeriksa suhu tubuh adiknya, tubuh Asfa semakin dingin bagaikan di bekukan. Dengan cekatan Alvaro mengambil beberapa selimut tambahan dan menyelimuti tubuh Asfa agar tetap memiliki suhu tubuh hangat meskipun hanya sebagian tubuh nya saja.


Dengan langkah kaki yang kembali menuju ramuan dengan tetap mengawasi Asfa yang masih terbaring dengan selimut yang membuat tubuh adiknya tak terlihat jelas, di amatinya setiap bahan dan langkah yang sudah di lakukannya. Seperti langkah dirinya saat membuat penawar adiknya dulu, tapi ada tiga bahan yang tidak dimasukkan di dalam penawar ramuannya dulu.


Mencoba berfikir apa saja hasil dari seluruh bahan yang ada di depannya, tapi tiga bahan yang memang tidak seharusnya masuk membuat Alvaro berfikir keras dan mencoba mengingat sesuatu yang sepertinya terlupakan. Andai saja Asfa dalam keadaan sadar sudah pasti adiknya itu yang akan memberitahu kan apa yang dirinya lupa kan, sungguh rasa rindu seketika menghampiri hati Alvaro.


Rindu akan kecerdasan dan juga ketepatan setiap langkah Asfa, memang ucapan adiknya selalu benar jika sendiri itu baik tapi berdua menjadi sempurna. Keduanya seperti satu koin dengan dua sisi berbeda yang tidak akan terpisahkan, yah begitu lah dua saudara beda ayah itu.


Klik... (pintu terbuka dan langkah kaki masuk beriringan membuat Alvaro menatap pintu masuk)


"Caesar?" ucap seorang wanita yang berpakaian tertutup dengan hijab merah muda yang menutupi kepala wanita itu.

__ADS_1


Wajah Alvaro nampak termenung sesaat, menatap siapa yang datang dan mengucapkan nama belakangnya itu, wajah yang hampir terlupakan olehnya. Senyuman di wajah wanita itu masih sama, dengan lesung pipi yang membuat wajah oval itu semakin terlihat cantik, melihat putranya seperti diam membisu dengan sosok yang baru datang. Membuat tuan Luxifer menyimpan pertanyaan yang harus mendapatkan jawaban tapi menunggu waktu yang tepat.


"Hurry up! My doll can't waiting anymore! ( Cepatlah! Boneka ku tidak bisa menunggu lagi!)" perintah Alvaro dan memilih mengalihkan pandangannya ke bahan-bahan di depannya lagi.


__ADS_2