
Satu suapan, Rania mencoba menikmati cita rasa yang sungguh lezat dan ada sesuatu yang membuat selera makannya meningkat. "Siapa yang memasak ini? Ingin sekali aku mencium tangan koki terbaik…."
"Ukhuuk….ukhuuk… ukhuuk…"
Satu tangan dengan air putih segelas disodorkan. "Minumlah!"
"Ada apa?" tanya Rania dengan wajah bingung.
Asfa menerima segelas air dari Vans dan meneguknya dengan pelan. Setelah merasa lega, Asfa menarik nafas dan menatap Rania. "Kamu beneran mau cium tangan yang masak semua makanan ini?"
Rania menganggukan kepala dengan penuh semangat, sedangkan Asfa melirik ke arah Vans yang menatap tajam. "Sudah lupakan saja, kita lanjut makan."
"Tapi Queen…."
"Tanyakan saja pada Ka Vans." sela Asfa.
Jawaban Asfa, membuat Rania melirik Vans yang langsung sibuk melanjutkan makan. Jika melihat situasi, artinya yang memasak adalah pria datar itu. Sedatar-datarnya Tuan Luxifer dan Alvaro, ternyata dokter pribadi Asfa lebih datar. Asfa melihat reaksi Rania yang cukup seperti orang percaya tidak percaya.
"Makanlah, tidak perlu pikirkan siapa yang memasak." ucap Asfa.
Vans selesai makan dan mengambil sup iga untuk Asfa. "Kamu juga makan, setelah ini minum obat. Bukankah kamu ingin sembuh?"
"Hmm. I know." jawab Asfa.
Cara Asfa berkomunikasi dengan Vans, membuat Rania paham jika pria datar itu hanya manis dengan Queen saja. Kini ketiganya diam dan menikmati makanan tanpa perdebatan lagi, sementara di rumah Abhi. Pria itu baru selesai menyuapi sang bunda yang tiba-tiba saja demam dan memberikan obat penurun panas.
__ADS_1
Cup
"Mimpi indah bunda, semoga besok kembali sehat." ucap Abhi.
Bunda mengangguk dan memejamkan mata. Sejak datang ke rumah, ponsel masih belum sempat dibuka. Tiba-tiba satu pikiran melintas, dengan tenang Abhi mengambil ponsel di atas nakas. Layar terbuka dan satu nomor langsung membuat Abhi menekan icon panggilan.
Wajah bahagia dan cemas bercampur menjadi satu, membuat jemari Abhi tak tinggal diam. Panggilan masih menunggu dan jemari sudah mengetik beberapa huruf. Panggilan dan pesan dilakukan bersamaan, tapi tak ada jawaban meskipun jelas nomor itu masih dalam mode data on.
Kemana kamu, aku sangat merindukanmu. Kenapa tidak diangkat, dan pesan masih tidak dibaca. Kamu sedang apa, bersama siapa? Bagaimana keadaanmu, oh Abhi sabarlah. Tunggu panggilan dijawab.~batin Abhi.
Kegelisahan dan kebahagiaan Abhi semakin luntur setelah melakukan panggilan berulang kali, tanpa ada jawaban meskipun hanya sekali. Ada rasa sesal tidak bisa mengangkat panggilan dari sang istri, ternyata waktu pun bisa menjadi pengkhianat. Abhi keluar dari kamar Bunda Aliya yang terlelap.
Niat hati ingin berpindah ke kamar sendiri, tapi tak sengaja mendengar suara percakapan dari bawah. Suara yang cukup familiar, karena penasaran dan ingin memastikan. Maka langkah kaki Abhi berbalik menyusuri tangga, semakin dekat suara itu terdengar jelas.
"Sekarang tinggal dimana, Nak Kanza?" tanya Papa Mahendra.
"Kenapa tidak tinggal di sini saja? Kan biar bundanya Abhi ada temen." ujar Papa Mahendra.
"......."
"Tidak! Aku tidak akan biarkan wanita ini tinggal serumah dengan bunda," Abhi berdiri di tengah tangga paling bawah sembari menatap tajam ke arah Kanza.
Sikap Abhi yang kurang ajar, membuat Papa Mahendra berdiri di ikuti oleh Kanza. "Nak, kamu ini apa-apaan? Kanza itu sahabat…"
"Bukan. Lebih baik kamu keluar!" Abhi menunjuk ke arah pintu keluar dan Kanza meremas ujung gaunnya.
__ADS_1
Wajah sedih, sendu, takut, kecewa dan memprihatinkan, membuat Papa Mahendra menghela nafas. "Maafkan Abhi, Nak."
Abhi tidak peduli dengan ekspresi wajah Kanza, baginya wanita itu sudah menjadi masa lalu yang tidak perlu diingat apalagi ditanggapi. Hampir saja terlupakan jika Kanza sudah menjadi seorang penasehat hukum di perusahaan ABF Company.
"Cari pekerjaan lain, aku tidak ingin melihatmu lagi. Meskipun hanya bayangan mu." ucap Abhi dan membalikkan badan, langkah kakinya berjalan menaiki anak tangga.
Papa Mahendra menatap punggung Abhi, sudut bibirnya tersenyum sekilas. Sedangkan Kanza masih menahan kesal dihati karena perlakuan Abhi yang sangat merendahkan harga dirinya. Demi mendapatkan jalan masuk ke kediaman Bagaskara, Kanza menunduk dan berjalan mendekati Papa Mahendra. "Om, Kanza pamit saja. Terimakasih untuk tumpangannya."
"Biar, Om antar saja. Ayo." ajak Papa Mahendra.
Kanza mengerjapkan mata, bukan apa-apa. Tapi, nada suara Papa Mahendra terkesan terlalu lembut. Meskipun memang selama ini dikenal seorang Papa penyayang dan baik hati.
"Kanza, kenapa bengong?" tanya Papa Mahendra melambaikan tangan di depan wajah Kanza.
"Eh, bukan apa-apa. Apa tidak merepotkan...."
Papa Mahendra menggenggam tangan Kanza dan menariknya untuk ikut berjalan bersama. "Tidak."
Sikap aneh tuan Mahendra, membuat Kanza heran dan bingung. Terlihat sangat manis cara pria paruh baya itu memperlakukan dirinya. Mulai dari menggandeng tangan, membukakan pintu mobil dan memasangkan sabuk pengaman. Meskipun sudah menolak, tetap saja di lakukan.
Mobil melaju meninggalkan kediaman Bagaskara, sementara Abhi yang melihat perlakuan sang Papa dari balik jendela hanya bisa mengepalkan tangan erat. Urat leher yang nampak, jelas tanda kemarahan pria itu tengah melanda.
Bisa-bisanya wanita itu menggoda Papa ku. Lihat saja besok,, apa hukuman ku. Aku harus menyelesaikan ini sebelum Asfa kembali, atau akan ada masalah karena debu tak berharga.~batin Abhi.
Triing
__ADS_1
Suara pesan masuk, membuat seorang pria menyambar ponsel yang tergeletak selama beberapa jam. Satu pesan, namun seperti berondong jagung yang meletup. Satu persatu foto di unduh dan dengan satu kali tekan foto pertama terlihat jelas tanpa sensor. Scroll kebawah dan melihat hasil jepretan foto HD lainnya.
Rupanya seperti itu, aku harus turun tangan sendiri. Jangan sampai aku kecolongan karena hal sepele, sudah waktunya memperbaiki kinerja ku dalam mengabdi. Ayo beraksi.~batin Pria itu dan mengirim balasan untuk tetap melanjutkan penyeleidikan, pada si pengirim pesan.