
Dini membuka pintunya dengan malas dan terlihat seorang pria yang dia kenal.
"Vanila, tuh ada sopirmu."
"Sialan lu Din! gue pacarnya Vania bukan sopirnya." dengus Andrew. Dini hanya menjulurkan lidahnya.
" Apaan sayang, kok kamu tahu aku disini." Vania melihat pacarnya membawa satu kantong kresek.
"Mommy bilang kamu disini, aku telepon kamu nggak diangkat."
" Maaf sayang, ponselku mati sedang di charger."
"Ini makanan untuk kalian, aku tahu kamu pasti lapar. Ini mie ayam bangka dan es kelapa muda kesukaanmu. Aku bawa untuk kalian bertiga." Andrew tahu kebiasaan pacarnya yang lapar saat malam hari.
Vania menelan salivanya dengan kasar, baru saja dia makan besar bersama teman - temannya dan sekarang Andrew membawakan makanan juga.
"Kok nggak diterima."
"Oh iya, makasih sayang." Vania menerima bungkusan plastik itu.
"Aku pulang dulu ya, besok aku jemput."
"Iya."
" Din, Farah, gue pulang dulu." pamit Andrew
"Iya!"
Vania mengunci pintu dan berjalan lemas, perutnya sudah penuh dengan rendang dan lumpia, kini ia harus makan makanan lagi.
"Andrew bawa apa?" tanya Farah
"Mie ayam bangka dan es kelapa muda."
"Ayo kita makan lagi." Dini sejak tadi penasaran dengan makanan yang dibawakan oleh Andrew.
"Emang lu masih lapar?" tanya Vania tidak percaya, sejak tadi ia melihat Dini makan dengan lahap, malah nambah dua piring dan sekarang ingin makan lagi. Luar biasa.
" Daripada mubazir, perutku masih bisa menampung. Ayo Dip, kita makan lagi sayang daripada dibuang."
"Ayo." Farah dengan semangat empat lima kembali mengambil mangkok dan gelas
__ADS_1
" Luar binasa....prok.. ptok.. prok" Vania bertepuk tangan karena takjub dengan dua sahabatnya yang memiliki cadangan perut yang besar dan tidak pernah kenyang. "Lama-lama gue disini ikut gembul juga."
" Baguslah lu tambah gembul, jadi si Andrew makin demen, empuk." ujar Dini
"Kamu kenapa? Bertengkar lagi sama Ayah dan ibu tirimu?" Setelah acara makan selesai Dini mencoba membuka pembicaraan yang serius, sejak tadi ia ingin bertanya namun tertunda karena Andrew datang.
" Cerita sama kita, jangan dipendam sendirian.Kita kan sudah seperti saudaramu." ucap Vania sembari menyelimuti Farah dan Dini, mereka tiduran kembali setelah makan yang kedua.
Farah menghela nafas panjangnya, ia menceritakan semua yang terjadi pada kedua sahabatnya. Raut wajah Dini dan Vania begitu kesal setelah mendengar cerita dari Farah.
"Aku sudah bilang, mendingan lu kagak usah balik ke rumah itu. Kalau lu mau ketemu adik lu mending di sekolah mereka!"
"Bener apa yang dikatakan Vanila, Dip. Lu itu dah seperti yatim piatu, kesel gue denger lu digituin. Mereka udah manfaatin lu tapi lu nggak pernah dihargai, mereka nggak pernah sayang sama lu!" ucap Dini
"Bagaimana pun juga mereka keluarga aku, ada ayah disana. Walaupun ayah dulu memperlakukan diriku dengan buruk tapi hari ini aku melihat ayah begitu hangat, bahkan kemarin dia tidak berkata kasar padaku. Cuma ya gitu, mak lampir itu masih saja membenciku, selalu menganggap aku pembawa sial. Apa benar ya aku selalu bawa sial? Terkadang aku bertanya pada diri sendiri, kenapa tidak aku saja yang mati saat itu. " wajahnya kembali sendu saat mengingat kejadian kemarin.
" Kamu ngomong apaan, sih! Aku tidak suka kamu bicara seperti itu Dipta! " seru Vania dengan nada tinggi," Kamu itu anugerah, kamu itu selalu membuat kita selalu tersenyum dan bahagia saat bersamamu. "
" Aku tidak ingin kamu bicara tentang kesialanmu itu! Tidak ada anak pembawa sial. Emak tirimu saja yang menyebalkan. Kamu itu pintar, ramah dan ceria. Awas saja kalau aku dengar kamu bicara seperti itu lagi!" Dini geregetan karena Farah kembali menyalahkan dirinya sendiri,seolah apa yang terjadi pada kematian ibunya itu karena kesalahannya.
" Semuanya sudah takdir yang Tuhan gariskan, aku tidak ingin kamu sedih dan merasa bersalah Dip. " Vania kembali berujar
"Coba kalau kita ketemu dia, terus dia belum punya pacar. Gue sikat dah daripada gue jomblo terus." Dini
"Dih! ngarep dapet cowok tampan, baik hati dan tajir. Bangun woi, bangun!! Vania meraup wajah dini dengan gemas
" Apaan sih lu Vanila! Ini muka buka kain lap. Kampret banget lu, tangan lu bau mie ayam. "omelan Dini kembali terdengar
" Masa sih bau. " Vania menciumi jari tangannya sendiri," Iya kok bau ya, oh tadi gue makan tulang ayamnya pakai tangan, hehehe. " ucapnya terkekeh sembari bergerak dari tempatnya. Vania mencuci tangan dengan sabun.
" Ampun deh ah, si Vanila! " dengus Dini dengan kesal," Gue maafin deh kali ini karena hati gue lagi happy."
" Emang apa yang bikin lu happy Din?" tanya Farah begitu penasaran
"Iya apaan yang bikin lu happy? Jangan bilang lu jadi dapat warisan." tebak Vania
"Seratus buat lu, emang ya lu paling pintar diantara kita." puji Dini
"Tanah nenek yang di daerah Bekasi terjual dan Babe dapat bagian, otomatis gue cucunya dapet saweran. Lumayan gaes lima puluh juta, alhamdulillah rejeki anak soleha."
" Asyik, bisa dong traktir kita makan-makan."
__ADS_1
" Siap, kita makan rame-rame pumpung duit gue banyak. " Dini tersenyum lebar, tabungannya kini bertambah karena jatah warisan dari sang nenek.
" Eh, Dip. Gue mau tanya, si cowok songong itu nggak hubungi lu? Cincin tunangan lu gimana kan besok Hilman datang. "
" Cowok rese itu belum juga hubungi gue, besok kalau Hilman tanya tentang cincin terpaksa deh gue bohong. "
" Cowok songong siapa sih? Kok cincin lu bisa sama dia?" Dini yang belum tau kini merasa penasaran apa yang terjadi saat dirinya pulang kampung. Dini merasa ketinggalan informasi dari kedua sahabatnya
Vania yang menceritakan kejadian itu dan sesekali tertawa, saat Farah dengan sengaja melempar lap basah ke muka pria itu.
"Kalo beneran cowok itu nggak pernah hubungi lu gimana Dip? Bisa-bisa cincin lu ilang."
"Lu jangan nakut-nakutin gue Din, gue beneran takut kalau cincin itu hilang apalagi kalau Hilman tahu. Pokoknya gue nggak mau putus dengan Hilman." Farah
"Cie... yang demen banget sama si Hilman, pria item manis." goda Vania, " Gue do'ain lu cepetan nikah dan bahagia biar lu ada yang jagain,biar lu bisa lepas dari keluarga lu."
" Aamiin." ucap Farah dengan sepenuh hati,
" Oiya Din pinjemin gue duit dua puluh lima juta buat bayar tuh cowok songong. "
" Lah, bukannya tabungan lu banyak di emaknya si Vania. Malahan gaji lu lebih banyak daripada gaji gue. "
" Gue segan minta uang sama Mommy Cristin, uang itu untuk modal kawin gue sama Hilman. Walaupun bang Hilman bilang dia yang akan membiayai semuanya tapi seenggaknya gue punya tabungan buat modal awal nikah. "
" Gue udah bilang mommy kalau lu mau ambil uang lu buat bayar tuh cowok songong dan mommy mengiyakan kok. Besok uangnya masuk ke rekening lu. " potong Vania
" Beneran Van! "
" Iya Dipta, Mommy bilang kalau lu mau ambil semuanya juga bisa. Itu kan uang lu yang disimpan di mommy. "
" Aku mencium bau cuan. Aromanya begitu kuat, sepertinya akan ada traktiran. " Dini mengendus tubuh Farah
" Si*lan!! Itu duit bakal nebus cincin, bukan buat foya - foya Dini! " gerutu Farah dengan kesal
" Ya kirain lu mau ambil semua tabungan lu di mommy. Gaji selama dua tahun bantuin mommy di catering tidak pernah lu ambil, belum juga emas batangan dua puluh gram yang lu titipin ke mommy, semua tabungan lu yang pegang dia. Untung saja mommy orang yang amanah, coba kalau tidak, kelar hidup lu! " Dini menghitung semua tabungan yang Farah miliki, jika dihitung nilainya tak jauh dari enam puluh juta.
" Gue titip harta juga sama orang yang gue percaya dan mommy sudah aku anggap orangtuaku sendiri. Kalau gue nggak nabung entah gimana nasibku. "
" Ya sudah kita tidur yuk, gue udah ngantuk. Besok si Dipta juga mau diapelin sama si Hilman. Masa ketemu tunangan wajahnya sembab begitu, yang ada entar si Hilman berpindah ke lain hati, bisa jadi dia tertarik denganku. " goda Dini
" Dini...!!! "teriak Farah sembari melempar bantal.
__ADS_1