Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 211


__ADS_3

Farah menerima tamu dan ternyata keluarga nya datang ke mansion.


"Mohon maaf nyonya, tuan. Semua alat komunikasi tolong diserahkan pada kami. Nanti setelah anda selesai berkunjung kami berikan kembali." ucap salah seorang pengawal keluarga Imelda


"Kenapa harus dikumpulkan?" tanya Fadil


" Ini sudah peraturan dan wajib dipatuhi."


Mau tak mau mereka menyimpan ponselnya pada pengawal itu walaupun dalam mode menggerutu.


"Aneh sekali peraturan di rumah ini, kenapa ada razia ponsel segala seperti di sekolah." gerutu Fadil


"Mungkin ini demi keamanan si pemilik rumah, dil." terka Pak Ilham


"Pak, pak rumah mertua Farah seperti istana ya pak. Gede banget." Bu Tami terlihat kampungan dan melihat ke segara arah.


"Ibu jaga ucapanmu."


" Rumahnya seperti lapangan bola, luas banget." timpal Fadil


"Jika Aisyah hidup disini pasti ais akan seperti princess dalam dongeng ya bu hihihi..."


"Iya tapi cuma dalam dongeng ya ais, dalam dongeng. Catet!" celetuk Fadil


"Kak Fadil rese, kan mimpi dulu kak mana tahu nanti kesampaian."


"Aamiin."


"Pak, bapak. Mertua Farah kaya raya ya pak, ibu tidak menyangka dia akan hidup nyaman disini."


" Nasib anakku memang bagus dan bapak minta kamu diam dan tidak mengusik kebahagiaan Farah."


Bu Tami hanya mengerucutkan bibirnya dan membayangkan jika dia bisa hidup di di istana ini.


"Farah...." Pak Ilham memeluk putrinya dan Farah mencium takzim tangan kedua orang tuanya.


"Ken, ini bapak dan ibuku." Farah melirik Keken hanya diam saja.


"Eh, iya pak." Keken mencium takzim tangan kedua orangtua nya.


"Bagaimana kabarmu Nak?" Pak Ilham bertanya pada Keken yang hanya diam


"Aku baik."


"Ken, apa kau mengingat kami?" Pak ilham melihat tatapan kosong Keken.


Keken menggelengkan kepala


"Keken masih dalam pemulihan pak, sebagian memorinya hilang."


Pak Ilham berkaca-kaca, tidak menyangka Keken akan mengalami musibah seperti ini. Pria yang biasa ceria kini terlihat pendiam.


" Besok akan ada pengajian di rumah, ibu mau kesini?"


"InsyaAllah Far, karena sekarang ibu jualan di depan rumah."


" Jualan apa bu?"

__ADS_1


"Jualan es dan baso. Masih kecil-kecilan tapi setidaknya menambah pemasukan. Fadil akan kuliah jadi kami harus berhemat, ibu ingin membantu bapak mencari uang dan motor yang dikasih Nak Keken bisa ibu pakai ke pasar jadi tidak nganggur."


"Apa ibu butuh modal?" Farah


" Tidak Nak! Ayah masih mampu memberi modal dan ini masih kecil-kecilan." tolak pak Ilham, namun ia melihat istrinya yang menatapnya tajam.


"Farah ikhlas pak." Farah hanya ingin memberikan uang dan membantu ekonomi keluarganya. Walaupun ibu tirinya dulu jahat tapi sekarang dia sudah berubah dan mau usaha tidak hanya berpangku tangan.


"Tidak Farah, kali ini tolong jangan bantu kami." Pak Ilham lagi-lagi menolak kebaikan anaknya.


Mereka mengobrol hingga tidak terasa sudah waktunya mereka pulang. Dan seperti biasanya pengawal Imelda menyerahkan ponsel mereka kembali.


* **


Acara pengajian berlangsung begitu khidmat. Imelda mengundang seratus anak yatim dan dhuafa. Tak lupa mereka memberikan santunan dan buah tangan sebagai rasa syukur karena Keken telah kembali. Begitupun dengan Farah, ia sudah menyiapkan amplop santunan.


Inha selalu membantu Farah saat wanita itu susah bergerak. Mereka saling membantu hingga acara berakhir.


"Apa kau kelelahan?" Inha melihat Farah selalu menarik nafasnya dalam-dalam


"Si Ghani gerak terus, sepertinya dia suka dengan lantunan ayat suci alquran yang dibacakan ustad tadi."


" Anak soleh, semoga selalu sehat dan lahir dengan selamat." Inha mengelus perut Farah.


"Aamiin."


Dari kejauhan Keken hanya melihat dua wanita yang sedang berinteraksi, namun hatinya terasa sakit.


"Kenapa aku ingin mencium perut Farah." batin nya


Menjelang malam Farah masuk ke dalam kamar tamu, Keken masih belum mau satu kamar dengan nya dan ia tidak masalah. Farah berpikir Keken butuh waktu untuk menerima ini semua. Asal Keken bahagia, apapun akan Farah lakukan.


"Iya bi."


"Nona dipanggil tuan muda untuk segera ke kamar."


"HAH...!! Beneran bi?"


"Iya Non."


Farah tidak percaya Keken mau mengundang nya ke dalam kamar, setidaknya dia ingat dengan istri dan anaknya.


" Ada apa, Ken. Apa kau perlu sesuatu?"


Keken yang bersandar di kepala ranjang hanya melambaikan tangan dan meminta Farah untuk duduk disampingnya.


"Alhamdulillah, dia mau aku mendekat padanya." gumam Farah dalam hati sembari menggulum senyum dan duduk di samping suaminya.


"Apa ada yang bisa aku bantu?"


Keken menatap wanita hamil itu dengan intens, dari jarak dekat mata Farah terlihat kuyu.


"Kau mandi tidak! kenapa ada kotoran mata. Dasar jorok! " ucap Keken


"Hah.. apa!" Dengan cepat Farah mengucek matanya dan memang benar ada kotoran yang terselip di sudut matanya.


"Kau itu lucu sekali." Keken terkekeh saat melihat Farah yang panik dan segera membersihkan matanya.

__ADS_1


"Kalau tidak ada yang dibicarakan lebih baik aku kembali ke kamarku." Farah terlanjur malu dan tidak baik berdekatan dengan Keken karena hatinya selalu bergemuruh.


"Jangan pergi, kemarilah." Keken menarik tangan Farah agar mendekat lalu ia menyentuh perutnya yang membesar.


"Ishhh..." desis Farah


"Kenapa ada yang sakit?" tanya Keken


" Ghani selalu berdenyut saat kau menyentuhnya, dia suka dengan ayahnya."


"Namanya Ghani?"


"Iya, kau yang memberi nama." Lalu Farah membuka laci dan mengambil gantungan kunci yang terukir nama Ghani dan sebuah foto album.


"Ini hadiah gantungan kunci saat kau di Bali, kau memberi nama bayimu Ghani."


"Dan ini album pernikahan kita." Farah mulai membukanya lalu mencoba agar Keken mengingat sesuatu.


Membuka setiap lembar album itu dan melihat beberapa kerabat, saudara dan tamu undangan yang datang dan berfoto dengan nya, bahkan dengan semua hadiah yang berwarna ungu.


" Kenapa kamu tidak pernah senyum saat pernikahan kita? "tanyanya


" Karena__" Farah bingung menjelaskan nya. Tidak mungkin dia bilang karena saat itu dia tidak cinta karena Keken merebut kebahagiaan nya.


"Karena aku sedang tidak enak badan makan nya aku banyak diam dan tidak tersenyum."


" Dia siapa?" Keken menunjuk seorang wanita cantik yang berfoto dengan menggandeng tangan nya.


"Dia itu mantan partner mu!" ketus Farah, mengingat kembali Wina yang membuatnya cemburu saat wanita itu akan pergi ke Singapura.


"Oh, jadi aku punya teman kerja, dia cantik."


Farah mendelik, Keken juga tidak ingat dengan Wina tapi yang membuatnya kesal Keken memuji kecantikan wanita itu , sedangkan Keken tidak pernah memujinya sama sekali.


" Sabar... sabar..." gumam Farah dalam hati


Namun tangan Keken menggenggam tangan Farah dan itu sedikit membuatnya bingung.


"Maaf, jika aku melupakanmu tapi aku yakin sebentar lagi aku akan mengingat semuanya termasuk tentang kamu." Keken


"Aku merasa ini aneh karena kamu istriku, tapi aku akan berusaha menerima ini semua. "


"Apa kau tidak suka denganku karena aku jelek?" Farah bertanya secara terang - terangan.


" Kamu tidak jelek, aku tadi bilang ini sangat aneh karena aku mengira bahwa aku masih single nyatanya aku sudah menikah dan akan menjadi ayah."


"Kamu mau kan bersabar untukku?" Keken menatap lagi wajah istrinya yang terlihat berkaca-kaca.


"Aku akan bersabar karena aku mencintaimu, Keken. Aku sangat mencintaimu." Farah memeluk lagi suaminya dan berharap Keken segera ingat.


Setelah melihat foto pernikahan mereka, Keken merasa yakin bahwa mereka telah menikah dan raut wajahnya saat pernikahan itu sangat bahagia. Dan itu membuktikan bahwa dia memang menginginkan pernikahan itu.


"Tidurlah disini, besok temani aku fisioterapi sekaligus memeriksakan Ghani."


"Hah...!!! Ini beneran?" Farah terkesiap


"Kenapa, apa kau tidak ingin mengantarku?"

__ADS_1


"Mau, aku mau mengantarmu." jawab Farah dengan cepat.


Keken meminta Farah untuk tidur walaupun mereka tidak kontak fisik. Mereka tidur dengan posisi masing-masing.


__ADS_2