
Keken tidak menyangka kalau Farah menginginkan nya apalagi wajah wanita itu begitu mendamba,namun Keken masih terdiam tidak menjawab.
"Apa yang harus aku lakukan." gumam Keken dalam hati. Dulu memang dia seorang cassanova dan dengan mudah menyentuh wanita cantik dan sexy, sedangkan sekarang wanita yang menginginkan nya cantik tidak, sexy pun tidak, sama sekali tidak menarik, pikirnya. Bagaimana ia bisa menyentuhnya sedangkan wanita itu sedang hamil besar bisa jadi ia melukai anaknya. Keken termenung lagi.
"Kok diam?"
"Tidak apa-apa, kita pulang saja ke mansion yuk." ajak Keken, daripada melakukan hal itu lebih baik mengalihkan perhatian nya dan pulang ke rumah.
"Ya sudah kalau kamu mau pulang, aku siapkan dulu bajumu" Farah merasa malu karena ditolak suaminya, namun ia juga sadar diri karena Keken sekarang bukanlah Keken yang dulu bahkan mungkin saja pria itu hanya menerimanya dengan terpaksa karena dirinya sedang hamil. Ia tahu Keken sedang menghindari permintaannya.
Farah masuk ke ruangan kedua lalu mengambil semua pakaian Keken dari lemari. Ia tahu pria itu tidak akan mungkin datang kesini lagi mengingat sejak tadi Keken selalu mengeluh karena tempatnya kecil, pengap dan tidak ada pendingin udara.
Keken mengikuti Farah ke dalam. "Kau sedang apa?"
" Memberesi pakaianmu."
"Biarkan saja disimpan disitu mana tau aku___"
"Tidak akan, aku yakin kamu tidak akan kesini lagi jadi buat apa pakaian ini disimpan disini, menuhin lemari saja! " jawab Farah dengan cepat tanpa melihat kearah Keken. Ia memasukan semua barang Keken ke koper tanpa sisa,bahkan sepatu mahalnya sengaja di bungkus plastik hitam karena koper terisi penuh.
"Kau marah padaku?"
"Tidak! kenapa aku harus marah karena aku tahu kau tidak ada perasaan denganku." Farah berkaca-kaca menahan airmata nya, bukan karena sedih ditolak tapi sedih karena Keken memang sudah berubah dan sepertinya tidak ada cinta.
"Ayo kita pulang." Farah dengan kasar membuka pintu rumah dan Keken selalu melihat wajah Farah yang selalu menunduk malu.
Sepanjang perjalanan Farah hanya diam tanpa melihat kearah Keken. Bahkan saat Keken bertanya wanita itu hanya melihat keluar kaca mobil.
Mereka tidak jadi mampir ke restoran karena Farah ingin segera beristirahat, dia merasa kelelahan.
"Maaf tuan, tas ini harus ditaruh dimana?" tanya seorang pengawal yang membawakan koper pakaian Keken
" Ke lantai atas."
"Kau sudah pulang Nak?" tanya Imelda saat melihat Keken melangkah dengan cepat
"I.. iya mom."
"Apa ada masalah, kenapa wajahmu terlihat risau?"
"Tidak ada mom!" Keken sengaja berbohong, tidak ingin ibunya tahu tentang masalahnya dengan Farah. Keken berlalu begitu saja.
"Dia pikir dengan berbohong seperti itu aku tidak tahu kalau mereka sedang ada masalah." Imelda sangat tahu karakter anaknya sejak dulu yang tidak ingin orangtuanya ikut campur.
__ADS_1
Keken masuk dan tidak melihat wanita hamil itu. " Seharusnya dia masuk ke kamar ini tapi kenapa kosong. "lirih Keken
Tak lama kemudian Farah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang menutupi dad* nya yang besar, ia berjalan seperti biasa tidak risih dengan kehadiran Keken.
" Kenapa tidak memakai pakaian di dalam kamar mandi! "serunya
" Terserah akulah, suka -suka aku! "ketusnya
Keken merasa pernah melakukan kejadian seperti ini, bahkan dia berkata seperti apa yang Farah katakan. Ia merasa dejavu.
Ia turun ke bawah daripada harus bertengkar dengan Farah lagi, lebih baik menghindari wanita hamil itu daripada kepalanya pusing.
Namun ia tidak menyangka kedatangan seorang tamu pria yang pernah ia temui di rumah sakit bahkan pria itu terlihat lebih rapi dan tampan.
" Apa kau sudah baikan? Apa asal perkembangan? "
" Aku sudah baikan sama lebih baik dari sebelumnya, minggu depan aku akan berobat di Singapura. " Keken
"Kamu siapa ? Apa kau temanku? "
"Aku Hilman, temanmu dan Farah. Aku sudah meminta ijin pada tante Imelda untuk berkunjung kemari. "
"Oh."
"Farah mana? "
" Eh, abang kesini? "Farah yang baru turun kebawah melihat mantan dan suaminya mengontrol begitu intens dan ia tidak menyangka Hilman berani datang ke mansion.
" Ada perlu apa bang?"
"Aku hanya mampir dan ingin melihat kondisi suamimu. "
" Kau terlihat cantik, apa kau akan pergi? " puji Hilman saat melihat wajah Farah yang terlihat segar dengan make up.
"Aku tidak kemana -mana bang, benarkah aku terlihat cantik ? " Farah menghibur senyum karena ada pria yang menyebut nya cantik
"Tentu saja kau cantik, saat tidak memakai make up pun kau tetap cantik. "
Namun entah kenapa Keken tidak suka ada pria yang memuji istri nya apalagi saat melihat tataan Hilman pada Farah, seperti pancaran cinta.
Keken hanya diam dan melihat keduanya mengobrol dan sesekali Farah terlihat tertawa, keken kian kesal.
Papih Feri baru saja pulang dan melihat anak, menantunya dan mantan Farah sedang mengobrol bersama, ia pun heran mereka bisa seakrab itu.
__ADS_1
" Alhamdulillah, akhirnya kalian akur. Papih ikut senang. "
" Kalian harus sering mengobrol seperti ini agar hubungan kalian semakin erat, tidak perlu ada acara berantem apalagi musuhan."
Mereka bertiga saling menatap dengan pandangan berbeda. Farah menghela nafas panjangnya, Hilman yang diam dan Keken yang mengenyitkan dahi.
" Emang aku tidak akur dan pernah berantem sama Hilman pih? "tanya Keken
" Tentu saja kalian dulu tidak akur karena kamu merebut tunangan nya. "
"Tunangan nya? Siapa? " Keken semakin tidak mengerti
"Farah." Jawab Feri
Keken mendelik, pantas saja mata Hilman penuh cinta pada Farah dan wanita hamil itu pun tidak mengatakan apa-apa tentang hubungan mereka di masa lalu.
"Papih masuk dulu. " Feri merasa salah bicara, maksud hati ingin mencairkan suasana nyatanya Keken terlihat tidak suka pada pria itu.
"Aku rasa ini hampir maghrib, lebih baik kamu pulang. " usir Keken
Hilman melirik jam di tangan nya, masih jam lima sore namun sepertinya Keken tidak suka saat tahu bahwa dia mantan Istrinya.
"Aku pulang dulu Far, kapan- kapan aku kesini lagi" ucapnya
"Jika kau akan melahirkan, telepon ya aku akan menjagamu."
" Jika kamu butuh sesuatu dan bantuan katakan padaku. "
"Iya bang. " jawab Farah
Keken kian mendelik, berani sekali Hilman menawarkan bantuan dan si Farah mengiyakan nya.
" Disini sudah ada pengawal dan asisten yang membantu dua puluh empat jam jadi Farah tidak memerlukan bantuan mu. "
Hilman terkekeh, ternyata Keken masih saja cemburu padanya.
"Cantik, aku pulang dulu. " Goda Hilman sembari mengerlingkan mata, entah kenapa dia memiliki keberanian seperti itu saat berada di mansion Keken.
" Berani nya kau bertingkah di rumahku! " teriak Keken
Dan seperti biasa Hilman hanya mengacungkan jari tengah, pada Keken.
" Untung saja sikapmu baik jika tidak sudah ku tendang kau dari sini!! "teriak Keken
__ADS_1
Namun saat ia ingin meminta penjelasan pada Farah ternyata wanita hamil itu sudah menghilang.
" Kemana dia??! "