
Farah menceritakan kejadian itu pada Dini. Setelah mendengarnya Dini begitu syok karena janin itu milik pria br*ngsek yang selalu mengejar Farah, bukan milik Hilman.
" Kenapa baru ngomong sekarang, kenapa kamu tidak jujur pada aku dan Vania." Dini kecewa mendengar penuturan Farah yang baru jujur saat ini.
" Pantas saja kamu berubah setelah pulang dari Bogor."
" Maafkan aku." sesal Farah
"Kenapa kau tidak lapor polisi atas tindakan pemerk*saan?"
"Dia orang kaya, aku tidak bisa melawannya." Farah menundukkan kepala, ia masih enggan menyebut nama Keken.
"Katakan pada Keken kalau kamu hamil, dia harus bertanggung jawab." pinta Dini
"Aku tidak mau, aku tidak ingin menikah dengannya."
"Lalu kamu ingin menikah dengan Hilman? Melanjutkan pernikahan kalian disaat kamu hamil anak orang lain!"
"Tidak tahu, aku benar-benar tidak tahu. Aku sudah hancur dan keluarga Hilman pasti tidak akan merestui kami jika tahu aku hamil anak pria lain. Tapi aku mencintainya, Din." Farah begitu frustasi, ia menutup wajahnya dengan telapak tangan.
" Tenangkan dirimu, ingat ada anakmu disini. " Dini mengusap lembut perut Farah.
" Dini, jika aku bisa jujur aku tidak mau mengandung bayi ini. Aku benci dengan pria itu, aku benci dengan bayi ini!!!" teriak Farah, ia begitu frustasi sampai ia memukul perutnya berulang kali.
" Aku benci, aku benci bayi ini, aku tidak mau hamil anak pria itu!!! " ia berteriak histeris kembali dan duduk lemah di atas lantai. Menangis, meraung, meluapkan emosi serta beban berat di hati nya.
"Sabarlah Farah, kamu jangan seperti ini. Kasihan bayi tidak berdosa ini, aku mohon jangan seperti ini Farah, jangan lakukan seperti ini biarkan bayi ini hidup, terima dia dengan ikhlas." Dini menahan tangan Farah agar tidak memukul perutnya lagi. Bayi itu tidak berdosa dan tidak sepantasnya diperlakukan seperti itu.
" Aku harus bagaimana Din, aku harus gimana? Hubunganu dengan Hilman kandas sudah karena bayi ini!! " Farah begitu lemas tidak bertenaga. ia menangis keras di pelukan Dini. Hati nya begitu sakit, remuk redam.
"Tenanglah, tarik nafasmu pelan - pelan. Jangan biarkan emosi menghinggapimu, kamu harus kuat." Dini ikut meneteskan air mata melihat Farah yang begitu terpuruk akan kejadian ini.
" Pria br*ngsek itu harus tahu kalau kamu hamil, setelah itu jujurlah pada Hilman tentang keadaanmu yang sebenarnya Dia harus tahu Farah."
" Aku tidak tahu pria br*ngsek itu kini tinggal di Jakarta atau di Malang, karena dia pernah pamit akan pergi beberapa bulan kesana, huhuhu..."
"Apa!!" Dini begitu lemas mendengar ucapan Farah. " Oh my God." Dini kembali lemas hingga terduduk di lantai.
"Telepon dulu, katakan pada pria itu." pinta Dini
__ADS_1
"Nomornya sudah aku blok dan ku hapus, aku tidak ingin berkomunikasi lagi dengan nya." Farah menundukan kepala. Tidak tahu akan terjadi seperti ini. Pikiran nya begitu kalut.
"Pria br*ngsek itu! Aku dan Vania akan mencarinya untukmu. Dia tidak bisa lari dari tanggung jawab!" geram Dini
"Sudah ku katakan aku tidak mau pria itu bertanggung jawab!" kekeh Farah
"Lalu kamu mau apa, menggugurkan kandunganmu!" ketus Dini, ia sedikit kesal karena Farah tidak mau dinasihati.
"Aku tidak akan menggugurkan janin yang tidak berdosa ini tapi jika dia luntur dengan sendirinya maka aku akan senang."
"Ngomong apa sih, kamu! Jangan ngelantur deh! Aku tidak mau kamu kejam dengan janin ini, dia tidak berdosa Farah" kesal Dini
"Aku tidak peduli!"
"Coba telepon temannya bang Hilman, dia kan kerja dengan si br*ngsek itu." ucap Dini lagi
"Aku tidak mau, jika aku bertanya padanya bisa jadi dia akan mengadu pada pria itu atau bang Hilman, aku takut Din." Farah meremas ujung bajunya, bingung apa yang harus ia lakukan.
Dini hanya menghela nafas panjangnya.
"Tapi kamu tahu kan nomor telepon pria baik yang dulu pernah menolongmu di jalan. Dia kan teman Keken, coba tanyakan padanya."
"Aku tidak tahu nomor ponselnya, kami tidak pernah berkomunikasi."
"Tapi aku punya nomor telepon nona Inha, dia adik sepupu si br*ngsek itu." Farah
" Ayo coba telepon dia, tanyakan si br*ngsek itu sudah pulang dari Malang belum."
" Aku tidak mau, apa alasanku untuk bertanya padanya." kekeh Farah, ia merasa malu jika menghubungi Inha dan bertanya tentang Keken.
"Ya ampun, disaat seperti ini kamu masih bingung. Lebih bingung mana kalau anakmu lahir tanpa seorang ayah. Ini tidak lucu Farah!, cepat berikan nomor nona Inha padaku." Dini
Farah memberikan kartu nama Inha pada Dini,dengan cepat Dini menelepon ke nomer tersebut.
Berulang kali Dini menelepon namun tidak ada jawaban.
" Zonk! " Dini melempar ponselnya kearah bantal, kesal.
" Non Inha memang sangat sibuk, dia tidak akan mengangkat nomor telepon asing yang tidak penting."
__ADS_1
"Sombong sekali dia!" Dini, entah keluarga Keken seperti apa hingga tidak mau mengangkat telepon dari nomor asing.
"Besok aku dan Vania akan mencari tahu dimana si br*ngsek itu,kamu tenang saja."
"Tapi kamu harus kerja kan?"
"Farah, bagaimana aku bisa fokus kerja jika sahabatku punya masalah serumit ini!" Dini meraup wajahnya, ia mulai frustasi karena belum menemukan titik temu dan jawaban dimana Keken berada. Ia tidak ingin Farah menanggung masalah berat ini sendirian.
"Aku akan lebih tenang jika sudah mengetahui dimana pria itu berada dan aku yakin Vania akan mencarinya untukmu."
"Jangan bilang Vania kalau aku hamil, aku tidak ingin dia sedih. Vania juga sedang ada masalah dengan pacarnya dan aku tidak mau menambah beban pikiran nya."
"Tidak bisa Farah, aku harus mengatakan nya karena akses dia lebih besar dariku, dia akan meminta bantuan pada ayahnya dan mencari pria itu. Kamu tenanglah, Vania gadis yang kuat dia tidak akan mati jika pacar nya benar-benar selingkuh karena prinsip dia mati satu tumbuh seribu. "
" Kau benar, Vania gadis yang kuat dan berani mengambil resiko. Dia tidak akan lemah karena pria. "
" Sekarang kamu minum susu terlebih dahulu, aku sudah membelinya untukmu. " Dini pergi ke dapur dan membuat segelas susu untuk Farah.
" Minumlah. "ia menyodorkan susu kearah Farah.
" Ini beneran untukku, apa aku harus membayar nya karena hari ini kamu mengeluarkan banyak uang untukku. " Farah menggulum senyum, Dini hari ini begitu perhatian padanya.
" Bayarlah sepuluh kali lipat! " ketus Dini," Jangan lupa ditambah bunga nya."
Farah tergelak tawa saat melihat wajah Dini yang kembali jutek.
"Terima kasih, kamu dan Vania teman terbaikku." Farah merasa terharu dan bahagia memiliki sahabat seperti Dini dan Vania yang selalu ada untuknya. Ia memeluk Dini dengan erat.
"Apaan sih, Far! Lepasin pengap tahu." Dini merasa sesak karena Farah memeluknya dengan erat apalagi bagian depan gadis itu terbilang besar.
"Sorry..."
"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"
" Yang pasti resign dari restoran dan aku ingin istirahat di rumah saja, nungguin kamu pulang kerja dan kita makan bersama seperti biasa."
" Apa sebaiknya kita ke apartemen pria itu, kita harus meminta nomer ponsel ibunya Keken, dia harus tahu kalau kamu sedang mengandung cucunya. "
" Aku tidak mau! "Farah menggelengkan kepala.
__ADS_1
" Nyonya Imelda sangat baik tapi aku ragu jika memberitahukan kehamilan ini padanya, aku tidak mau dituduh mencari kesempatan dalam kesempitan. Aku takut dia tidak akan menerima bayi ini jadi lebih baik aku membesarkan nya sendiri."
"Terserah kamu saja, mana yang terbaik." Dini pasrah karena Farah tetap kekeh dengan keputusan nya.