Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 94


__ADS_3

Keken duduk di restoran hotel bertemu dengan Antoni dan Michelle. Saat di kamar hotel Keken begitu terkejut melihat berita online malam ini. Hampir semua media online memberitakan pernikahannya hari ini, namun sebagian memberitakan isu kehamilan Farah yang hamil di luar nikah.


"Bagaimana Cell, kakakmu bisa membantuku?"Keken berharap penuh pada Michelle karena hanya dia akses yang bisa membantu dirinya untuk masalah media elektronik.


" Akan aku usahakan. "


" Makasih Cell, lu temen gue yang paling baik. "


Michelle hanya bisa membalas senyum Keken, ia pun tidak menyangka akan ada pemberitaan seperti ini tentang Farah. " Aku hanya bisa membantu semampuku"


" Antoni bagaimana, sudah kau pastikan menutup semua berita itu?"


"Sebagian sudah saya atasi tuan, namun kita butuh waktu. Besok saya pastikan semua akan aman dan kembali seperti semula."


" Bagus, jangan lupa cari siapa dalang semua ini, bagaimana bisa dia bisa mendapatkan informasi dan foto saat Farah di rumah sakit." perintah Keken


" Oiya, ini ponsel Farah. " Keken menyerahkan ponsel ke Antoni." Hapus semua galeri yang berisi foto pria itu dan pasang GPS di ponselnya, beri Farah pengawalan jarak jauh tapi jangan sampai dia tahu."


" Siap tuan. "


Michelle menggulum senyum saat Keken memberikan perintah begitu banyak untuk menjaga istrinya.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu!" Keken melihat senyuman Michelle yang seolah mengejeknya.


"Kamu tidak pernah seperti itu padaku saat menjadi pacarmu, aku cemburu!" protes Michelle, " Kalau takut kehilangan istrimu, jangan biarkan dia keluar dari istana Selatan kalau perlu pasang alarm di bagian br* jadi saat dia pergi jauh kamu tahu dia kemana." kelakar Michelle tahu rumah orangtua Keken penuh pengawalan yang ketat tidak sembarangan orang masuk ke dalam mansion itu.


"Apaan sih Cell, siapa juga yang takut Farah hilang." dalih Keken " Saranmu oke juga, tapi gue nggak bakalan pasang alarm. Gue bakal pasang timbangan digital super mini di br* Farah agar tahu mana yang lebih berat kanan atau kiri." Dan dia mendapat toyoran dari Michelle, sedangkan Antoni hanya diam, datar seperti biasanya.


" Antoni, mending lu pulang deh keburu si princess manja itu datang kemari. " Keken melihat Inka yang berjalan dari lobby dan sepertinya ingin menghampiri dirinya.


"Antoni melirik arah Keken memandang dan benar saja Inka sedang berjalan kearahnya."


" Ternyata ada juga fans berat si pria dingin ini." cibir Michelle sembari tertawa

__ADS_1


"Maaf tuan, nona, saya harus pergi sekarang. Permisi." Antoni memasukan berkas dan laptopnya ke dalam tas kerja.


"Mau kemana kak?" Inka menghampiri Antoni dan berdiri di belakangnya. "Sepanjang acara aku mencarimu tapi tidak ketemu." ia menutup mulutnya karena keceplosan dan berkata jujur.


" Eh, maksud aku begini. Aku mencari beberapa pengawal keluarga Davian dan Feriansyah tapi tidak ada yang muncul." kilahnya


"Saya mau pulang ke rumah, nona. Dan sejak acara tadi saya di bagian depan mengecek setiap tamu yang datang."


"Tunggu dulu, duduk disini sebentar." Inka menarik tangan Antoni agar duduk kembali dan pria itu menurut saja.


"Ah, masa sih! Kok aku tidak melihatnya."


"Makanya cari orang itu pakai mata bukan pakai mulut, aku yakin kalau kamu cuma duduk dipojokan sambil makan jajanan." Keken tahu kebiasaan Inka yang suka makan.


"Ah! mas Keken selalu rese kalau ketemu aku, jadi brismaid juga lapar mas." kilahnya


Keken menatapnya malas.


" Mas Keken kenapa buket pengantin nya tidak dilempar saja malah dikasih Inha. Aku juga mau kalau dikasih, mana tahu tahun depan bisa nikah sama__" Inka melirik kearah Antoni.


" Eh, gadis cerewet. Apa Si Inha punya masalah? Kenapa dia tidak semangat di hari pernikahanku." tanyanya


" Dia bertemu si duda lagi, tadi kulihat dia mendekati Inha. Dia juga bawa anak perempuan nya yang kecil itu." Inka sempat melihat Inha bersama anak kecil dan seseorang yang dia kenal.


" Kurang ajar! Beraninya si duda itu deketin adik gue, nyalinya besar juga. " Keken geram karena pria itu memang sepertinya memiliki perasaan pada adiknya, namun Keken tidak setuju karena status pria itu apalagi ia memiliki satu anak,perbedaan umur yang cukup jauh membuat dia lebih tidak menyetujuinya. Inha berhak mendapatkan pria single yang lebih baik dari si duda.


" Namanya Om Richi bukan si duda." Inka. Gadis itu lebih suka memanggil Om karena usia yang terpaut sepuluh tahun.


"Terserah siapapun namanya, pokoknya aku tidak setuju. Sudah tua, duda, punya anak lagi. Lebih baik aku jodohkan Inha dengan Antoni."


"Apa!!!" Inka terkesiap, beraninya mas Keken menjodohkan pria yang ia cintai dengan saudara kembarnya. Ini tidak boleh terjadi,pikirnya.


Inka menginjak kaki Keken dengan kesal hingga berkali-kali.

__ADS_1


"Apaan sih, Ka! Tidak perlu injak kakiku seperti itu!"


"Kayak nggak ada calon lainnya hingga mas Keken jodohin kak Antoni dengan Inha."


"Eh, justru aku yang seharusnya bilang seperti itu padamu, kayak nggak ada pria lain yang suka denganmu saja hingga kamu ngejar cinta si kulkas Ini." Keken berkata tanpa tedeng aling-aling, ia ingin menyadarkan Inka bahwa Antoni tidak ada perasaan dengannya dan sudah seharusnya dia mundur. Keken melirik pria itu yang masih tidak memberikan respon, dia hanya diam seperti biasanya.


" Keken.... "Michelle meminta agar Keken tidak ikut campur tentang perasaan adik sepupunya.


" Tapi, Cell. "


Inka seolah tidak peduli dengan ucapan Keken bahkan ia meminta Antoni untuk mengantarnya pulang karena kedua orangtuanya dan kak Raffa juga sudah pulang.


"Maaf nona, bukannya ada pak Ari yang selalu mengantarkan nona." Antoni merasa tidak enak hati, ia takut terjadi salah paham jika dia mengantarkan sang nona pulang karena ini bukan tugasnya.


" Pak Ari lagi anterin Inha ke resto dan itu pasti lama. Aku ingin cepat pulang dan beristirahat. "kilahnya


" Modus...!! " celetuk Keken namun matanya tidak melihat kearah Inka.


" Siapa yang modus, kalau tidak percaya telepon Inha saja sana!" Inka begitu kesal karena Keken kembali menyindirnya.


" Sikat...!! " goda Michelle pun tak mau kalah, sembari menaik turunkan alis pada Antoni.


"Maaf nona saya tidak bisa. Permisi." Antoni berlalu begitu saja tanpa melihat wajah Inka yang menyedihkan. Ditolak.


Inka hanya bisa melihat punggung Antoni yang kian menjauh.


"Cerewet, mau kemana?" tanya Keken, saat melihat Inka pergi darinya.


"Aku mau pulang naik taxi!" teriak Inka


"Memangnya kamu berani? Kalau diapa - apain sama sopir itu gimana? Ini sudah malam, Ka?" teriak Keken, ia sengaja bersuara keras agar Antoni mendengarnya.


" Aku tidak peduli, yang penting aku sampai rumah!" jawab Inka dengan berteriak

__ADS_1


Michelle hanya bisa menghela nafasnya. Seperti dirumah saja, mereka berteriak sesuka hati tanpa melihat bahwa kini mereka sedang berada di hotel.


__ADS_2