
Disisi lain,
Keken mengeraskan rahangnya dengan kuat, ia begitu kesal saat mendapat informasi bahwa Farah menghilang dan berhasil mengelabui pengawalnya. Keken pun membanting helm keselamatan yang ia pakai karena saking kesal nya.
"Sial..!!" umpatnya, " Jagain satu wanita saja tidak becus!" ia masih saja mengomel pada pengawalnya.
Dengan sangat terpaksa Keken pergi mencari keberadaan istrinya. Proyek lapangan sengaja ia titipkan pada mandor senior.
"Aku pergi sebentar, tolong kamu urus lapangan." pintanya
"Siap pak!"
Keken pergi terburu - buru agar istrinya segera ditemukan dan ia bisa kembali ke lapangan.
Namun saat ia mencari Farah ternyata gadis itu mengirimkan pesan bahwa dia berada di rumah sakit. Keken segera meminta sopir taksi untuk berputar arah menuju rumah sakit itu.
Keken segera ke ruangan obgyn karena Farah berada disana. Namun, mereka berpapasan di tengah rumah sakit.
"Jangan sentuh istriku!!" teriak Keken, ia melihat Hilman menyentuh bahu Farah dan menuntunnya. Pemandangan yang sangat memuakkan.
" Jangan sentuh, ISTRIKU!!" ucap Keken lagi, ia menekankan kata terakhir. Dengan cepat ia mengibaskan tangan Hilman dari bahu istrinya.
" Biar aku yang menjaganya, karena aku, SUAMINYA!" ia kembali menekankan kalimat terakhir.
Hilman hanya tersenyum sinis.
" Jaga istrimu, jika dia terluka sedikit saja maka aku akan selalu ada untuknya." Hilman masih dengan senyuman mengejek
" Terima kasih bang. "ucap Farah dan ia mendapat pelototan dari Keken.
" Aku pergi dulu. "Hilman mengedipkan matanya seolah menggoda Farah.
" Si*ll!! "umpat Keken dalam hati." Beraninya menggoda istriku di depan mataku. "
" Hei Man! Urusan kita belum selesai. "Hilman menatap tajam pada Keken dan seolah mengejeknya.
" Tentukan tempat dan tanggal nya, Gue siap hadapi lu! "teriak Keken. Dan Hilman pergi sembari menunjukkan jari tengah nya pada Keken.
" Bangs*t!!! " umpat Keken dengan wajah memerah.
" Ayo kita pulang. "Farah menarik tangan suaminya agar tidak berbuat keributan di rumah sakit apalagi saat ini Keken tersulut emosi dengan perkataan Hilman.
Dan tanpa menunggu lama mereka pulang dalam pemikiran masing-masing. Terdiam, tak saling bicara hingga sampai ke rumah.
" Perutku tadi sakit sekali, untung ada bang Hilman. " Farah tahu Keken sedang kesal dengan nya. Bahkan saat ini Keken tidak mau menatapnya.
"Anak kita baik-baik saja, dia sehat. Kata dokter aku hanya perlu istirahat dan tidak boleh kelelahan." Farah kembali menjelaskan namun Keken seolah tidak mendengar.
"Anak kita la__" Farah menghentikan ucapan nya karena Keken malah menelepon seseorang dan bertanya tentang situasi bagian lapangan saat ini, bahkan ia sempat mendengar beberapa kali menyebut nama mas Raffa.
__ADS_1
Dan tanpa pamit Keken pergi keluar dengan membawa tas kerjanya lagi. Entah apa yang ia lakukan, hanya saja saat ini Farah merasa diabaikan oleh suaminya.
"Aku memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini karena aku yang salah." Farah berkaca-kaca saat melihat Keken pergi tanpa sepatah katapun.
Sebenarnya hari ini ia bermaksud mengembalikan cincin pada Hilman. Ia tidak mau menyimpan barang dari pria lain dan memberinya harapan palsu.
Farah memang belum bisa memahami perasaannya sendiri mana yang ia cintai sekarang, tapi satu hal yang pasti Keken begitu perhatian dengannya dan calon anaknya. Pria itu sudah banyak berubah, tidak ada satu wanita pun yang menganggu rumah tangganya bahkan Keken tidak pernah pergi ke club seperti sebelumnya.
Namun, saat bertemu Hilman ia mulai goyah karena pria masih berharap bisa bersamanya dan memintanya untuk menyimpan kembali cincin itu.
***
Keken kini melihat beberapa kerumunan orang yang berada di lapangan. Sejak ia pergi, tugas ia titipkan pada mandor senior namun entah mengapa hari ini Keken mendapatkan berita buruk kalau beberapa pekerjanya tertimpa tiang besi hingga dilarikan ke rumah sakit.
Ia mendapat teguran dari Raffa karena lalai dalam mengawasi para pekerja. Ini memang salahnya karena ia panik saat mendengar Farah di rumah sakit dan Keken lupa akan tugasnya.
"Bagaimana kejadiannya?"
"Mereka tidak sengaja menyenggol tiang besi hingga akhirnya menimpa beberapa pekerja yang berada di bawah sana, pak!"
"Ada berapa orang yang terkena timpaan besi?"
"Tiga orang pak."
" Semua akan diurus perusahaan, kalian tenanglah." Keken mengusap wajahnya dengan kasar. Ia memberi perintah pada Antoni untuk menghandle di rumah sakit.
Beberapa kali Keken bertanya tentang kejadian naas itu dan ia hanya bisa menghela nafas panjangnya. " Ternyata tidak mudah bekerja di lapangan terlalu rawan kecelakaan kerja ." gumamnya.
" Sampai detik ini cuma abang yang aku cintai. "
" Aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi ini. "
" Aku tidak yakin dengan hubungan kita bang. Keken juga baik dan perhatian. "
Keken mengepalkan tangannya dengan erat, ia pun tahu siapa pengirim pesan tersebut.
"Pria itu ingin bermain-main denganku! Kita lihat saja, aku pangeran Modosa tidak akan tinggal diam.
" Aku pastikan kau akan menerima kekalahan untuk kedua kalinya. "Keken tersenyum menyeringai. Ia tidak peduli dan seolah tanpa beban. Dan kembali memfokuskan diri pada pekerjaan.
" Pak, maaf menganggu. Kami mendapat telepon kalau pekerja yang tertimpa musibah tadi kehilangan banyak darah dan stok di PMI sedang kosong pak. "ujarnya
" Darahku O, bagaimana dengan golongan darah orang itu?
" Mereka juga golongan darah O, pak."
"Baiklah, biar aku yang mendonorkan darah, kalian tenanglah." Keken bergegas menuju ke rumah sakit dan mendonorkan darahnya untuk salah satu pekerja.
Saat di rumah sakit, Keken bertemu Antoni
__ADS_1
" Katakan pada mas Raffa, ini kesalahanku dan akan aku pertanggungjawaban kan. Jika ingin memotong gajiku, silakan. Aku tidak masalah."
Antoni menelisik wajah Keken, pria itu sungguh - sungguh dalam ucapan nya. Ia melihat Keken banyak berubah setelah menikah. Antoni hanya menggulum senyum.
" Apa ada yang lucu? "Keken melirik Antoni yang sedang tersenyum padanya
" Tidak Tuan! " ia merubah kembali wajahnya yang dingin.
" Sudahlah, jangan panggil aku tuan karena sekarang aku bukan crazy rich lagi sekarang aku sudah miskin. "
Mereka duduk di kursi rumah sakit sembari menunggu giliran Keken untuk di check up kesehatan nya.
" Terima kasih karena kamu sudah membantuku dan Fafa di perusahaan, maaf jika dulu aku selalu merepotkanmu." kali ini terdengar ucapan tulus dari Keken, ucapan yang baru pertama kali Antoni dengar selama menjadi asisten nya.
"Itu sudah tugas saya tuan!"
"Kita sedang diluar, panggil aku Keken bukan tuan. Dan pastinya aku lebih muda dan kamu lebih TUA!" seperti biasa Keken menekankan kata terakhir dengan sangat menyebalkan.
" Ck!" decak Antoni pun ikut duduk di samping pria itu tanpa rasa takut.
" Nyonya Imelda sedang berusaha agar anda bisa masuk kembali ke perusahaan. "ucap Antoni, ia hanya ingin Keken tahu bahwa ibunya sedang berjuang untuknya.
" Aku tahu. Apapun akan mommy lakukan untukku. "
" Katakan pada temanmu itu, jangan menganggu istriku. Ini peringatan terakhir! " tegasnya
" Maksudmu Hilman? "Antoni mengernyitkan dahi, apa yang dilakukan pria itu hingga Keken terlihat marah.
" Siapa lagi kalau bukan dia! Gara-gara dia Farah terluka, untung saja anakku kuat dan baik-baik saja. "geram Keken
Antoni yang lebih mengerti sifat Hilman hanya bisa menghela nafas panjangnya, ia tahu teman nya masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Farah telah menikah dengan Keken.
" Kau dengar aku tidak?! "Keken melirik Antoni yang hanya diam membisu
" Saya masih punya pendengaran yang baik, Ken. "
"Pulanglah ke perusahaan, aku yang akan menghandle disini."
" Tidak Ken, aku harus memastikan semuanya pekerja itu selamat , ini perintah Raffa."
" Cih! Kau itu sangat setia pada mas Raffa, si calon kakak ipar." goda Keken sembari menaik turunkan alisnya
Antoni mendengus kesal, sudah pasti ini berhubungan dengan si princess.
" Kami ada hubungan apapun, Ken. "
" Yakin?! Aku tidak percaya. "
"Jangan pernah menyesal dikemudian hari, jika si cerewet itu diambil orang." ucap Keken kembali
__ADS_1
Antoni hanya menatapnya dengan datar dan seolah tidak peduli.
"Ya sudah kalau tidak percaya, jangan menyesal di akhir." Keken