
Kini Farah masuk ke dalam sebuah kamar besar. Terlihat luas saat memasuki kamar tersebut. Nuansa warna biru dan putih mendominasi ruangan tersebut. Namun belum sempat dia menjelajah kamar itu, terdengar suara Dini memanggilnya dari luar.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Dini, ia melihat mata Farah yang sembab karena menangis.
"Kamu diapain sama nyonya besar, apa dia menyakitimu?"
"Tidak! Dia sangat baik bahkan menganggapku anaknya."
"Benarkah! Ah syukurlah, aku kira kau disana dikuliti habis-habisan. Takut aku lihat auranya." Dini bergidik ngeri.
"Far, aku kesini karena diminta pelayan itu untuk menemanimu tapi ___"
"Tapi apa?" tanya Farah penasaran.
"Tapi handphoneku disita, aku tidak diizinkan untuk memotret ataupun memposting di media sosial."
"Jika aku melanggarnya dan memposting sesuatu maka aku akan kena somasi. Mereka tidak mengizinkan siapapun untuk memotret dengan alasan keamanan. Padahal aku ingin pamer pada teman-temanku bahwa aku punya teman orang tajir melintir tapi nyatanya semua foto dihapus langsung oleh kepala asisten itu. Menjengkelkan " gerutu Dini
" Dia mengancamku, selama disini harus tunduk dan menaati seluruh peraturan. Jika melanggar aku akan diberi sangsi atau membayar denda satu milyar. Gila nggak tuh!"
"Ya sudah mau bagaimana lagi. Lebih baik patuh daripada denda satu milyar." Farah
"Iyalah aku nurut aja daripada disuruh bayar, uang darimana aku segitu kerja di restoran aja cuma gaji UMR."
"Ternyata rumit juga ya jika kita berhubungan dengan orang kaya, kupikir enak dan mudah."
"Lalu kamu masih ingin punya suami orang kaya?"
"Tentu, aku masih punya mimpi suami kaya. Setidaknya aku tidak perlu mikirin cicilan rumah, uang belanja dan uang sekolah adikku hihihi..."
Farah menatap malas pada Dini, pikiran matre nya masih saja ada walaupun tadi sempat mengeluh.
Dan mata mereka menjelajah ke penjuru ruangan dan terlihat satu pigura besar dengan foto Keken yang sedang bertelanjang dada.
__ADS_1
"Woww... Wow.. Woww... ternyata ini kamar si br*ngsek itu, Far. Kamarnya begitu besar."
"Lihat fotonya begitu sexy dan menawan. Apa kau tidak tertarik dengannya." goda Dini sembari menaik turunkan alisnya.
"Tidak!"ucap Farah sembari mengelilingi setiap ruangan. Usai mengobrol dengan Imelda, ia diminta istirahat di kamar atas dan ternyata itu kamar Keken. Luasnya hampir sepuluh kali lipat dari kontrakan Farah dan kamar itu terlihat sangat rapi, sangat berbeda dengan kontrakan yang ia tinggali.
Entah kenapa Farah duduk di tepi ranjang dan menyentuh sprei dan bantal, menciumnya dalam - dalam seolah masih ada wangi yang tertinggal milik Keken.
"Kamu ngapain?!" tanya Dini, ia mengenyitkan dahinya karena merasa aneh seorang Farah menciumi bantal milik pria yang dibencinya.
" Aku cuma cium saja dan wanginya menenangkan."
" Itu bayimu emang lagi kangen bapaknya, kamu nyidam wanginya si pria gila itu ya! "
" Ah, nggak! Siapa juga yang kangen pria itu. Tidak mungkin!" sangkalnya
" Aku hanya penasaran saja kenapa sprei dan bantalnya halus banget tidak seperti sprei kita yang buluk dan pudar warnanya. " Farah masih mengelak lagi.
" Iya ini memang halus banget, beda kelaslah. Ini beli import kalau kita beli di pasar, hihihi.." kelakar Dini, ia mengiyakan semua perkataan Farah daripada bertengkar, walaupun Dini tahu saat ini Farah menginginkan aroma dari pria itu. Aneh tapi nyata.
"Apaan sih Din, kok asal semprot begitu. Aku kan benci sama pria itu!" Namun Farah kembali mencium pakaiannya yang kena parfum. Ia kembali menghirupnya dalam- dalam. Wangi.
"Oke, aku tidak akan semprotin parfum lagi. Aku mau tidur." Dengan cepat Dini berbaring dan memeluk guling. "Ah..., nyamannya." ia bergulang guling kesana kemari.
Farah mendekat dan ikut berbaring. Menghirupnya dalam - dalam guling milik Keken.
"Si*l! Si bayi ini merindukan wangi ayahnya." gumam Farah dalam hati. Ia menutup wajahnya dengan bantal karena malu ketahuan Dini.
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Dini
" Aku tidak ingin menikah dengan pria itu!" Lalu Farah menceritakan pada Dini tentang apa yang ia obrolkan bersama nyonya besar. Dini hanya menghela nafas panjangnya berkali-kali.
" Pikirkan lagi keputusanmu, jangan egois. Pikirkan tentang anakmu itu, Far"
__ADS_1
"Aku sudah memikirkannya."
"Kalau aku jadi kamu, aku pasti mau menerima tawaran ibunya untuk menikah. Aku tidak ingin bayi itu lahir tanpa status. Menikahlah dan cobalah membangun rumah tangga yang baik."
"Aku tidak mencintainya!"
" Aku tahu, tapi ini demi bayi itu. Apa kamu ingin dia lahir ke dunia dengan keadaan dihina karena tidak punya ayah atau karena anak diluar nikah. Pikirkan psikologis anakmu nantinya , Far."
"Kamu bisa mencoba untuk belajar mencintai pria itu, mungkin ini takdir yang allah berikan padamu."
"Dan jika aku jadi kau, aku ingin balas sakit hatiku pada ibu tirimu. Dengan kekuasaan yang nyonya besar miliki, ibu tirimu tidak akan berani melukaimu lagi.Aku ingin melihat dia sekarat karena ulahnya di masa lalu!"
Memang apa yang dikatakan Dini ada benarnya, dengan menjadi menantu dari nyonya besar maka ia tidak akan diusik oleh ibu tiri dan hidupnya akan terjamin sampai tujuh turunan. Tapi bukan itu yang diinginkan Farah, ia memang tidak ada rasa cinta untuk Keken dan bagaimana bisa ia hidup berumah tangga tanpa cinta dengan pria yang sudah merusaknya. Ini tidak mungkin,pikirnya.
" Aku ingin tidur." Farah tidak ingin berdebat dengan Dini dan tidur adalah alasan yang terbaik untuk menghindar.
"Kebiasaan!" Dini tahu Farah tidak ingin membahas masalah ini. Ego ya masih tinggi dan belum bisa menerima kenyataan ini.
Dan Dini tidak menyia-nyiakan waktu. Ia berkeliling melihat semua isi kamar Keken. Dan ia takjub, ternyata kamar pribadi pria itu memiliki banyak koleksi bahkan walk in closet nya tertata rapi . Ia melolong saat melihat semua benda bermerek milik Keken.
"Farah, Farah bangunlah. Ada yang ingin aku tunjukkan padamu." Dini menggoyangkan tubuh Farah yang belum tertidur
"Apaan sih ganggu aja!" Farah kesal karena Dini mengganggunya yang akan tidur
" Sebentar saja, ayo." ia menarik tangan Farah kearah walk in closet.
"Lihatlah!" Dini menunjuk cermin besar dan disisi cermin itu terselip foto Farah saat di minimarket bersama Keken.
"Aku rasa pria gila itu mencintaimu, lihat saja dia dengan mudahnya menempelkan fotomu disitu. Biasanya pria akan menyimpan foto wanita yang dia sukai. Dan aku yakin dia memiliki perasaan untukmu maka nya dia melakukan hal itu agar kau menjadi miliknya."
Farah mendekat dan mengambil dua foto dirinya, memang benar foto itu diambil saat di minimarket. Keken memfoto dirinya secara diam-diam.
" Benarkah dia menyukai diriku?! "tanya nya pada Dini
__ADS_1
" Tentu saja, aku yakin itu. "
Farah hanya bisa menghela nafas panjangnya. Ia masih yakin kalau Keken tidak mencintai nya dan kejadian di Bogor hanyalah kebetulan.