Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 34


__ADS_3

"Jangan berbuat kasar." Keken menahan tangan ibu tiri Farah.


" Anda seorang ibu jadi bersikap bijaklah layaknya seorang ibu."


Farah yang sempat menutup mata saat akan ditampar, kini membuka matanya saat mendengar suara seseorang yang ia kenal.


"Keken, kenapa kamu ada disini?"Farah terkejut karena Keken melihat pertengkaran dirinya dengan ibu tiri.


Keken tidak menjawab pertanyaan Farah.


Keken mengambil kedua atm dan menyerahkannya pada Farah." Milikmu tidak perlu kau serahkan pada orang yang tidak bisa menganggapmu sebagai anak."


"Anak yang terlahir ke dunia itu fitrah, dan tidak ada yang namanya anak pembawa sial!" Namun mata Keken menatap tajam pada ibu Farah seakan mengulitinya.


"Siapa kamu? Kenapa ikut campur dalam urusan keluarga kami." hardik sang ibu


" Aku Keken." ucapnya dengan gaya khasnya yang cengengesan. Dan Farah hanya menghela nafas panjangnya saat melihat sisi lain dari pria gila itu.


"Keluarga kami, ah... tapi sepertinya aku tidak melihat pancaran kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya."


Keken menghela nafas panjangnya. " Ini bukan seperti keluarga."


" Jangan kurang ajar kamu ya!" Ibu tiri mendelik kearah Keken dengan kesal.


"Ya ampun, kenapa emak - emak suka sekali melotot. Di rumah ada Ratu Medusa disini ada Mak lampir." mulut Keken yang mulai tidak dikondisikan mulai berbicara sesuka hatinya. Keken tidak pernah serius walaupun disaat keadaan tegang sekalipun.


" Apa kau bilang!" sentaknya


Farah yang melihat security yang sedang berjalan kearahnya kini hanya bisa menarik tangan Keken. Keributan yang Farah dan ibunya lakukan mengundang banyak orang yang mulai penasaran dan tentu saja menganggu istirahat pasien yang lain.


" Ayo kita pulang." Farah menarik lengan Keken dengan erat dan tanpa disadari menyentuh sedikit bu*h d*da milik Farah. Namun gadis itu seolah tidak mengerti dan bersikap biasa saja.


"Apaan sih!" Keken merasa risau saat lengannya di dekap erat Farah, ia takut Kenzi akan terbangun dari tidurnya.


"Ayo kita pulang, jangan bikin onar di rumah sakit." Farah menarik paksa lengan Keken lagi agar mengikuti langkah kakinya.


"Tapi kamu duluan yang bikin onar dan aku datang sebagai pahlawan." Keken


"Iya kamu memang pahlawan, tapi pahlawan kesiangan!" Farah masih dalam mode kesal dan menarik lengan Keken.

__ADS_1


"Aku bisa gila." lirih Keken, kepalanya mulai cenat cenut. Otaknya kembali me sum saat lengan nya menempel pada sesuatu yang membuatnya selalu ketagihan.


" Gadis gendeng ini sadar nggak sih kalau apa yang dia lakukan ini bisa berakibat fatal. Gila! kenceng banget tuh si kembar, fix ini beneran nggak kaleng-kaleng masih original." gumam Keken dalam hati. Dia yang sering merasakan HAUS, sudah sering merasakan gunduk*n kembar hingga Keken tahu mana yang original dan mana yang sering disentuh banyak pria.


" Ken, kenapa kamu mengikutiku ke dalam rumah sakit? " Farah begitu penasaran karena Keken datang tiba-tiba dan disaat yang tepat. Andai saja Keken terlambat sudah pasti pipi Farah akan di tampar lagi.


"Ponselmu ketinggalan." Keken memberikan ponsel Farah, gadis itu lupa membawa ponselnya.


" Terima kasih, aku tidak sadar kalau ponselku ketinggalan. Saat aku panik pikiranku kacau." Farah hanya menghembuskan nafas panjangnya lagi


" Cih! Kamu begitu menyayangi anaknya tapi kamu tidak pernah dianggap anak, menyedihkan."


"Sudahlah, ini memang nasibku yang buruk dan aku tidak mau orang lain ikut campur dengan masalahku."


" Apa kamu bahagia?"


" Tanpa aku jawab, kamu sudah tahu jawabannya!"


" Apa aku perlu memberi sedikit pelajaran pada nenek lampir itu." Jiwa liar Keken kembali bergejolak apalagi saat mengingat saat Farah ditampar dan dipermalukan di depan umum.


" Tidak usah! Aku bisa menyelesaikan masalah keluargaku sendiri. "


" Ah, padahal aku ingin membalas nenek lampir itu. "


" Apa kau tidak dendam dengan nya? "


" Tidak! "


" Aku tidak percaya, kalau aku jadi kau sudah kuberi racun tikus, ibu tirimu itu! "


" Keken! "Farah mendelik kesal." Aku tidak suka dengan candaanmu kali ini. "


" Eh, cewek gendeng! Siapa juga yang bercanda, aku serius ini. Mana ada wanita yang disakiti terus menerus bisa sabar dan lapang d*da sepertimu. "ucap Keken


" Aku tidak bisa lapang d*da tapi aku lebih suka bu*h dada. "kelakarnya. Dan ia mendapat cubitan dari Farah.


" Andai saja lawan ibu tirimu itu si Ratu Medusa, sudah pasti dikuliti hidup-hidup. "


" Memangnya ada Ratu Medusa, aku pernah mendengarnya di cerita Yunani bukankah dia seorang Ratu dengan ular dikepalanya. "

__ADS_1


" Ratu Medusa ada disini, matanya bagai laser dan mulutnya sangat berbisa seperti ular. Setiap orang yang melawan nya pasti akan bertekuk lutut. "Keken terkekeh membayangkan ibunya yang ditakuti oleh banyak orang.


" Andai saja aku bertemu Ratu Medusa, aku ingin meminta bantuan nya agar ibu tiriku bisa sadar bahwa apa yang dilakukannya salah dan dia bisa menyayangiku sebagai anak kandungnya."


Keken mencelos, ia membuang wajahnya kearah lain, sedih. Farah memang perempuan yang berbeda. Ia mengira gadis itu akan membalas dendam jika mendapat bantuan dari Ratu Medusa, nyatanya gadis itu hanya ingin ibunya bisa menyayangi nya seperti anak lain. Farah begitu merindukan kasih sayang seorang ibu.


"Ken, kamu pulanglah, aku ingin sendiri. " Farah menghempaskan tangan Keken setelah sampai di tempat parkir rumah sakit. Ia membuang wajahnya kearah lain karena merasa malu dengan keributan tadi.


" Berikan atm mu." Keken menadahkan tangannya.


"Apa maksudmu? Ini kartuku! " Farah berkata dengan kesal


"Itu memang kartumu tapi sudah aku selamatkan. Kalau saja aku tidak mengambilnya, uang di kartumu pasti sudah habis dipakai ibu tirimu jadi kembalikan kartu itu padaku."


" Katanya Keken, si crazy rich Jekardah. Masa sama uang recehan masih celamitan." Farah menirukan ucapan Keken yang selalu mengatakan dirinya orang kaya.


" Hahahaha... akhirnya kamu mengakui kalau aku memang crazy rich. " Keken terbahak melihat Farah yang kembali mengerucutkan bibirnya yang kesal dengan tingkahnya.


" Terserah, bodo amat! Sekarang sana pulanglah, aku juga akan pulang ke kontrakanku.


"Ayo aku antar."


"Aku tidak mau!"


" Aku tidak menerima penolakan, kalau kamu tidak mau aku anterin, bawa sini kartunya." pintanya


Farah hanya menundukan kepala, daripada harus kehilangan puluhan juta lebih baik dia mengikuti Keken untuk mengantarkannya.


"Untuk kali ini saja kamu anterin aku."


"Oke, Good Girl." Keken mengelus pucuk rambut Farah dengan lembut.


"Apaan sih! Jangan sentuh - sentuh, aku bukan kucing persia." ketus Farah


"Kamu memang bukan kucing persia tapi kucing anggora."


"Maksudnya?" Farah tidak mengerti ucapan Keken


" Pesek tapi menggemaskan." kelakar Keken. Ia menunjuk hidung Farah yang tidak mancung.

__ADS_1


"Si*lan!!" umpat Farah dengan kesal.


Keken hanya tersenyum dan pergi untuk mengambil mobilnya. Kali ini ia menang telak dari Farah.


__ADS_2