Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 119


__ADS_3

Mereka sampai di rumah Navysah pukul sepuluh. Sebelumnya Farah marah karena Keken susah sekali dibangunkan padahal dia yang mengatakan harus tepat waktu untuk datang ke rumah tantenya.


"Kamu kenapa sih Ken sejak pagi uring-uringan begitu."Farah melirik kearah suaminya sebelum masuk ke dalam pintu Utama keluarga Navysah.


" Aku masih ngantuk dan badanku sakit Far, kamu sih tadi malam minta ditemenin ngobrol tapi aku tidak diijinkan untuk naik ke ranjang. "


Sejak semalam Keken diusir nyatanya Farah memanggilnya kembali dan ia ingin Keken mendengarkan ceritanya namun suaminya tidak diijinkan untuk naik keatas hingga akhirnya Keken tidur di lantai sembari mendengarkan ocehan istrinya.


" Jadi kamu nyesel dengerin cerita aku tadi malam!" Farah mendelik kearah Keken namun ia masih bisa mengimbangi langkah Keken yang cepat.


"Sudahlah, kita jangan bertengkar nanti tante Navysah lihat." Keken mencoba mengalah pada istrinya tentang kejadian semalam, ia segera menggandeng Farah dengan erat namun beberapa kali istrinya menghentakkan tangan agar terlepas.


"Pengantin baru bertengkar, malu sama Om dan tante yang pengantin tua." cibir Davian pada mereka. Saat Keken berusaha menggenggam tangan istrinya, Davian melihat dari kejauhan apalagi saat melihat wajah Farah yang selalu ditekuk dan muram.


"Eh, Om Davian." sapa Keken sembari mencium takzim dan diikuti Farah.


"Biasa Om kurang jatah." kelakarnya dan Farah menatap tajam pada Keken.


" Aku masuk dulu Om, kangen tante. Cium tante boleh ya Om." ledeknya. Keken senang bisa membuat Davian menatapnya dengan tajam.


"Kalau berani kamu lakukan, Om juga akan mencium istrimu, Ken!"


"Aku mau." ucap Farah langsung namun sesaat kemudian ia menutup mulutnya karena keceplosan. Wanita mana yang tidak mau dicium pria paruh baya yang masih menampakkan ketampanannya.


"Dasar celamitan!" ucap Keken pada istrinya, ia berjalan terlebih dahulu dan disusul oleh istrinya.


"Ternyata mereka pasangan gila." lirih Davian, ia masuk ke dalam ruangan olahraga yang berada disisi mansion. Itulah kegiatannya sehari - hari, sebelum mengantar Navysah ke butik.


"Assalamualaikum."


"Walaikumm salam." terdengar suara riuh dari dalam rumah dan benar saja Hanin dan Kinan serta anak-anak mereka sedang berada di ruang televisi.

__ADS_1


"Farah kemari." Hanin melambaikan tangannya agar Farah mendekat.


" Nona Hanin, bagaimana kabarnya? Wah mereka sangat lucu." Farah begitu gemas melihat dua bocah kembar laki-laki dan perempuan berusia empat bulanan. Mereka sedang tertidur pulas di atas kasur bayi. Sungguh sangat mengemaskan apalagi pipi mereka terlihat gembul.


" Aku baik. Gimana kandungan kamu, sudah ke dokter lagi?" tanyanya. "Jangan panggil aku nona karena sekarang kita sama, sepupu." ucapnya lagi sembari tersenyum


Farah hanya mengangguk dan ia tidak heran jika seluruh keluarga besar Keken tahu kalau dirinya hamil. Hanya saja Farah merasa sedikit malu karena hamil diluar nikah.


"Sudah dong." kali ini Keken yang menjawab, ia duduk bersila di samping Farah dan mengelus perut istrinya. "Anakku memang baik, dia tidak reog seperti anakmu Nin, saat Farah hamil seperti ini saja tidak minta yang macam-macam nyidam nya."


"Rese lu Ken! Biar waktu hamil aku reog tapi lihat putra putriku sangat mengemaskan dan lucu." Hanin tersenyum saat melihat si kembar. Ia begitu bahagia dengan kehadiran mereka.


"Mba Kinan, kenapa tidak masuk kerja?"tanya Farah pada Kinan yang sedang menyusui Shifa, dan saat ini ia menggunakan penutup kain agar tidak seorang pun melihat payu daranya.


" Shifa rewel banget, kemarin baru imunisasi. " jawabnya. Dan benar saja beberapa saat kemudian Shifa melirik Keken dan menangis, merasa asing dengan wajah itu.


"Huaaaaaa.... Huaaaa..." tangisan Shifa begitu kencang hingga akhirnya Kinan pergi keluar agar tidak menganggu si kembar yang sedang tertidur.


"Yang satu cengeng minta ampun, yang kembar reog dari keluarga tarzan liat saja bentar lagi juga ikutan nangis." ucap Keken


" Tuh bener kan ucapanku. "Keken menyunggingkan senyum, kedua anak Hanin memang sering rewel dan nangis tanpa sebab.


" Puk... Puk... Puk... Anak mama. "Hanin mengangkat bayi perempuan dan menimangnya agar segera diam, sedangkan yang satu masih menangis kencang.


Dengan penuh inisiatif Farah ikut menggendong bayi laki-laki Hanin. Ia dengan hati-hati mengendong agar si bayi nyaman dan tidak menangis lagi.


"Jangan digendong, kamu kan sedang hamil yang ada bayi kita terjepit." Keken tidak mau melihat istrinya menggendong bayi yang akan mencelakai calon anaknya.


"Tidak, Ken! Calon anakmu tidak akan terjepit oleh bayi ini, kamu tenanglah." Farah masih mengendong sembari menina bobokan bayi itu agar tidak menangis.


Hanin hanya menggulum senyum saat melihat kekhawatiran di wajah Keken.

__ADS_1


"Biar aku saja yang gendong." pinta Keken


"No!" kali ini suara Hanin yang terdengar menolaknya. " Kalau bayiku digendong kamu yang ada kena sawan."


"Apaan sih, Nin! Gue ini bersih, sebelum kesini mandi, cuci tangan, cuci kaki pakai handsanitazer."


"No, Keken! Aku tidak mau bayiku digendong olehmu. Kamu tidak pernah gendong bayi sama sekali, yang ada nanti bayiku salah urat!"dengus Hanin dengan kesal


" Kamu lupa, aku pernah gendong Shifa saat bayi. "Keken segera meraih bayi mungil itu dari Farah. Terlihat kaku memang tapi Keken mampu menggendongnya.


" Lihat suamimu, sedang belajar jadi ayah yang baik. "ucap Hanin sembari meletakkan baby Raya kedalam kasur bayi lagi. Farah hanya menatap datar Keken tak ada ekspresi lalu ia mengalihkan pandangannya ke bayi yang sedang tertidur di kasur.


" Mama sebentar lagi turun, dia sudah masak dari pagi untukmu. "ucap Hanin lagi. Setelah mendapatkan pesan dari Keken semalam Navysah segera meminta asisten rumah tangga untuk belanja kebutuhan yang akan dimasak dan meminta Hanin dan Kinan mengunjungi rumahnya. Mama Navysah meminta kedua menantunya untuk memberikan semangat pada Farah yang sedang hamil dan saling sharing apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh seorang wanita yang sedang mengandung.


"Maaf, aku merepotkan ya."


"Tidak kok, itu hal yang wajar disaat hamil ingin nyidam makanan bahkan dulu aku lebih riweh dan tidak masuk diakal." ucapnya


"Ia memang nyidammu dulu tidak masuk diakal!" celetuk Keken, ia membawa bayi mungil yang sudah tertidur ke dalam kasur bersebelahan dengan kembarannya.


"Apaan sih, Ken! Itu kan memang bawaan bayiku minta yang aneh-aneh. Kamu memang beruntung karena Farah tidak meminta yang macam-macam."


"Iya dong, istriku memang yang terbaik." Keken merengkuh punggung Farah agar terlihat mesra. Namun gadis itu terasa risih. Dan Hanin melihat itu.


" Aku panggil mama dulu ya." Hanin pamit undur diri, ia segera memberitahukan ibu mertuanya bahwa Keken datang.


" Lapaskan tanganmu!"


" Tidak! " Keken masih merengkuh tubuh istrinya


"Lepaskan.."

__ADS_1


"No!!"


Dengan kesa Farah mencubit keras pinggang suaminya hingga ia mengaduh kesakitan.


__ADS_2