
Farah melirik ke arah meja di pojok ruangan restoran D & R. Dia meremas tangannya dengan kesal saat melihat pria itu bersama dengan seorang wanita cantik. Bukan karena cemburu, tapi karena pria itulah dia harus bertengkar dengan calon suaminya.
"Kamu mau pesan apa? Sebentar lagi temanku datang." tanya Hilman sembari membolak - balikan daftar menu. Hilman memesan tempat tak jauh dari pria gila itu.
"Farah, kamu mau makan apa?" tanyanya kembali karena melihat Farah yang diam dan memandang ke arah lain. "Kamu cari siapa? Apa ada yang kamu kenal." Hilman menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Ah, tidak bang. A.. aku tidak mencari siapa - siapa kok. Aku hanya terpesona dengan restoran ini. Ini begitu bagus dan nyaman." bohongnya
" Oh, restoran ini memang cozy banget. Kata temenku, Ini salah satu restoran milik bos nya. Siapa ya namanya, aku lupa. Istri dari bos nya itu sangat baik. Dulu saat kuliah temen abang dibiayai olehnya, dan sekarang dia bekerja sebagai asisten di perusahaan anaknya tersebut. Emang hoki banget dia bisa kenal sama keluarga bos, nggak seperti abang. "
" Jangan bicara seperti itu, abang punya pekerjaan yang tetap. Wajah juga manis, nggak jelek - jelek amat pasti banyak yang suka abang, aku yang beruntung bisa tunangan sama abang dan punya calon mertua yang baik pula. " Farah menggengam erat tangan Hilman. Ia sangat bersyukur memiliki calon suami yang pengertian dan menerima dia apa adanya, orangtua Hilman pun sayang padanya.
" So sweet nya calon istriku. " Hilman mencium tangan Farah secara spontan dan merengkuhnya.
" Ehem.. Ehem... " suara deheman seorang pria terdengar dengan jelas dan membuyarkan semua kegiatan mereka.
"Sudah lama menunggu?" tanya pria tersebut
" Kami baru saja datang, kenalkan ini tunanganku Farah, dan ini Antoni."
"Hai Antoni aku Farah, eh aku panggilnya apa ya? " Farah menggaruk kepalanya, pria yang berada di depannya pasti seumuran dengan Hilman.
"Panggil aku Toni saja." ucapnya dengan suara berat dan tanpa ekspresi.
"Kamu masih kaku seperti ini, gimana mau dapat cewek kalau kamu seperti ini terus." ejek Hilman,ia memukul lengan Antoni dengan pelan. Antoni yang sejak dulu pendiam, tidak banyak bicara dan selalu kaku sejak putus dengan Zahira.
Antoni hanya menggulum senyum.
" Abang jangan begitu ah, Antoni kan jadi malu seperti itu. " bisik Farah di telinga pacarnya.
"Antoni tampan dan terlihat lebih cool dari abang, dia pasti mudah mencari pasangan hidupnya." bisiknya lagi.
__ADS_1
Namun perkataan yang Farah lontarkan membuat Hilman tidak suka. Wajahnya berubah masam kembali. Ia cemburu.
" Mm... Antoni kenal bang Hilman dimana?" Farah mencoba mengalihkan perhatian, ia kembali takut dengan Hilman yang terdiam kembali.
" Dulu satu universitas namun beda jurusan. Dia sering ngapelin cewek yang satu jurusan denganku." ucapnya pendek, Antoni segera memesan beberapa makanan begitupun dengan Hilman.
"Teman akrab dong?"
"Ya begitulah, terkadang kita lebih suka menyendiri dan sibuk dengan dunia masing-masing." balas Antoni,
" Kamu tidak perlu cemburu denganku, aku tidak ada niatan untuk merebut tunangan orang." ucap Antoni dengan terang - terangan dan disambut gelak tawa dari Hilman.
" Ini yang aku suka darimu Ton, tanpa kukatakan kamu sudah tahu apa yang ada di hatiku." Hilman masih dengan mode tawanya.
" Tadi cemberut, asem banget mukanya sekarang tertawa lepas seperti itu." gerutu Farah dengan mengerucutkan bibirnya. Terlihat imut dengan wajah polosnya.
" Untung saja kamu tidak bertemu dengan pria durj*na itu, kalau kalian bertemu pasti kamu target utamanya. "lirih Antoni namun masih bisa di dengar Farah.
" Maaf, maksudnya siapa? " Farah merasa bingung karena Antoni bicara ambigu.
Mereka bercerita tentang masa lalu sembari menikmati hidangan yang tersaji. Dan sesekali terdengar tawa dari Hilman dan Antoni. Menurut Farah, Antoni tidak terlalu kaku, ia masih bisa tersenyum walaupun terkadang hanya menjawab pertanyaan secara singkat. Dan kini mata Farah kembali melirik pria itu yang sedang berjalan ke arah toilet.
"Abang, aku ke toilet sebentar."
"Hmm..."
Farah berjalan cepat untuk menghampiri pria tersebut, ia bahkan menunggu di depan toilet pria.
"Kembalikan cincinku." Tanpa basa-basi Farah menadahkan tangannya tepat di wajah pria itu.
"Kamu siapa?" Keken sedikit linglung dengan gadis di depannya yang tiba-tiba menadahkan tangan dan meminta cincinnya di kembalikan.
__ADS_1
"A... aku Farah yang melempar wajahmu dengan kain basah waktu itu. Ingat kan?"
Keken mengernyitkan dHi, mencoba mengingat-ingat dimana bertemu dengan gadis ini.
"Oh, jadi itu kamu." Keken melihat Farah dari atas hingga bawah, pantas saja dia lupa karena penampilan Farah saat ini berbeda jauh dengan penampilan yang lalu, saat dia mencuci mobil.
" Iya, mana cincinku?"
"Mana uangku? sudah ada belum dua puluh lima juta." Keken menadahkan tangannya.
"Besok aku akan transfer, mana nomer rekeningmu." Farah lupa karena saat ini dia belum memiliki uang sebanyak itu, ia lupa belum menelepon Mommy nya Vania untuk meminta uang.
"Aku minta sekarang, ada uang ada barang!" tegas Keken
"Besok pasti aku transfer, aku tidak akan bohong. Aku selalu menepati janjiku, aku akan minta uang sama Mommy dulu."
" Cih! Orang sekaya kamu tidak punya uang sekecil itu." cibir Keken, ia masih mengira Farah anak orang kaya pemilik rumah tersebut.
"Aku bukan anak orang kaya, itu Mommy temanku, aku bekerja disana. Percayalah, aku akan mengembalikan uangmu besok." Farah masih dengan mode memaksa.
"Menarik, gadis ini jujur sekali. Mungkin kalau orang lain pasti akan menutupi jati dirinya dan pura-pura kaya dan mereka pasti akan menggulur waktu agar bisa mendekati pria setampan diriku." gumam Keken dalam hati.
"Jaman sekarang mana ada yang bisa dipercaya apalagi masalah uang." ucap Keken dengan gaya tengilnya. " Aku juga lupa dimana aku taruh cincin murahan itu."
Farah mendelik kesal dengan ucapan Keken, ia menarik lengan Keken dengan kasar. "Jangan pernah menghina cincinku, walaupun ini murahan bagimu tapi bagiku itu sangat berharga." Mata Farah kembali menyalang seolah ingin menerkam mangsanya. Ia tidak terima dengan ucapan Keken yang mengatakan cincin itu murahan.
" Kalau itu berharga untukmu, lakukan apa yang aku inginkan. Ambil kembali cincin itu dengan cara bekerja denganku, aku tidak butuh uangmu!" Keken mengambil dompet di saku celananya dan melempar sebuah kartu nama ke wajah Farah.
"Ambil itu! Pastikan datang tepat waktu saat aku memanggilmu. Cicil dengan tenagamu agar cincin itu kembali padamu." Keken berubah pikiran saat lengannya ditarik paksa oleh Farah. Sebenarnya dia hanya ingin mengembalikan cincin itu jika Farah memintanya dengan cara yang lembut namun gadis itu sangat berani berbuat kasar dengannya.
Keken mengibaskan lengan yang sempat Farah sentuh dan berjalan meninggalkan Farah yang masih terdiam di tempatnya.
__ADS_1
"Kendrew Putra Feriansyah." Farah membaca kartu nama itu.
" Memangnya dia siapa menyuruhku datang saat dipanggil." Farah tidak terlalu peduli karena di kartu nama itu hanya tertera nama dan nomor telepon. Farah memasukan kartu nama itu ke dalam sakunya dan melenggang ke tempat Hilman berada.