Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 57


__ADS_3

"Kau tidak apa-apa?" tanya wanita cantik dengan senyum yang indah.


"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing." Farah segera menyapu jejak airmatanya agar tidak terlihat menyedihkan.


"Apa kau ada masalah?"


"Ah, tidak ada nona. Terima kasih sudah menolongku." Farah


"Aku Wina, kau minumlah terlebih dahulu." Ia tersenyum sembari menyodorkan sebotol air mineral pada Farah


"Terima kasih." Farah dengan cepat meneguk air mineral, tanpa malu ia menghabiskannya


Wina menatap intens wajah Farah, gadis yang baru saja ia temui hari ini karena permintaan Keken. Wina hanya menahan senyum, ternyata gadis ini yang mampu membuat Keken bertekuk lutut hingga pria itu berusaha melindunginya. Gadis yang manis dan sopan, pikir wina.


"Apa kau mendengar pertengkaran kami?"tanya Farah, ia merasa malu ada orang yang mendengar percakapan mereka.


" Eh, tidak. "Ia terkesiap saat Farah menyentuh lengan nya.


" Aku hanya lewat saja karena ingin makan. Aku lapar. "bohongnya


" Ya sudah, aku permisi dulu. Rekanku sudah menunggu. "Wina berjalan menjauh dari Farah, ia tidak ingin menganggu suasana hati Farah yang sedang kacau. Sebenarnya Wina mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan, namun ia memahami perasaan dan pikiran Farah yang saat ini sedang kacau.


" Gadis yang malang. "Wina menghembuskan nafas kasarnya dan segera memberi informasi pada Keken.


" Sayang,aku sudah mengirimkan videonya jangan lupa beri aku uang untuk membeli sunblock karena disini sangat panas, kulitku menghitam karena tugas darimu dan sekarang aku butuh uang berwarna merah untuk melembabkan kulitku kembali." Wina tersenyum saat mengatakannya, ini karena Keken selalu mengajari dirinya untuk bercanda dan selalu tersenyum sepahit apapun masalah dalam hidup.


" Baik sayangku, saat ini juga aku transfer lembaran merah yang banyak untukmu."Keken tersenyum lebar, tidak sia-sia dia mengutus Wina untuk memata-matai kegiatan Farah.


Flashback On


" Hai sayang... "sapa Wina di ujung telepon saat Keken menghubunginya.


" Apa hari ini kau ingin suntik? " Wina tahu kebiasaan Keken yang hanya meneleponnya hanya untuk meminta jatah.


" Tidak sayang, aku sedang tidak ingin bercinta denganmu.Aku butuh bantuanmu untuk hal lain. "ucap Keken


" Apa? "

__ADS_1


Keken menceritakan semuanya pada Wina walaupun terdengar sesekali Wina tertawa mengejeknya.


" Apa kau bisa membantuku? "tanya Keken


Wina tergelak tawa tanpa menghiraukan perkataan Keken.


" Wina, kau sedang mengejekku? " suara Keken terdengar kesal karena gadis itu selalu tertawa.


" Tidak sayang, mana mungkin aku seberani itu. Tenangkan dirimu dulu, kau tidak perlu emosi."


"Bagaimana aku tidak emosi, mommyku benar-benar membatasi ruang gerakku dan aku ingin bertemu dengan gadis itu sebelum aku pergi."


" Kamu tenanglah, apapun akan aku lakukan untukmu. Ingat, aku juga butuh uang untuk perawatan. " Wina terkekeh, Keken memang sumber uangnya


" Kau tenang saja, itu masalah kecil. Sekarang lakukan tugasmu terlebih dahulu. "


" Baiklah, aku akan berusaha semampuku untuk membantumu."


"Terima kasih sayang."


Flashback Off


Keken pun merasa geram melihat ibu tiri Farah yang begitu menyukai uang dan selalu bersikap kasar pada Farah. Dan jawaban itu mulai terbuka karena ia sangat membenci almarhum ibu Farah yang menurutnya selalu merampas kebahagiannya.


" Aku harus menemui gadis itu, tapi bagaimana caranya?" Keken mulai berpikir untuk bertemu dengan Farah. Ia menghubungi seseorang untuk bertemu dengannya.


"Apalagi!" seru seseorang pada Keken. " Kamu selalu membuat aku kesulitan." ia masuk ke dalam toilet sembari berkacak pinggang karena kesal Keken selalu menghubungi secara mendadak. Ya, setelah makan siang Keken menelepon Khaffi agar datang ke perusahaan namun lewat jalan belakang.


"Ini emergency." Keken cengengesan melihat wajah Khaffi yang terlihat kesal


"Tapi tidak sekarang juga, aku sibuk banyak kerjaan di kantor. Mas Raffa juga sedang rapat di luar, kamu selalu sesuka hati meneleponku." gerutunya


"Tapi kamu suka kan dapat tambahan cuan." Keken membuka dompet dan memberikan satu kartu kredit pada Khaffi


"Tentulah, mana ada jaman sekarang yang tidak suka cuan. Kalau begini kan aku jadi semakin semangat membantumu." Khaffi menarik kartu dari tangan Keken dengan cepat, dia takut Keken akan berubah pikiran dengan mengambil kartunya kembali.


" Dasar cowok matre, kaya-kaya kere begini nih kalau uang jajan saja diatur sama orang tua. "sindirnya

__ADS_1


" Lebih baik gue diatur sama emak gue daripada gajian menguap entah kemana. "


Keken hanya menggelengkan kepala,Khaffi memang apa adanya dan sangat penurut dengan orangtuanya.


" Tuker jas lu, gue semakin kesini semakin kesal dengan Ratu Medusa. Gue kerja saja sekarang dikawal beberapa penjaga setianya, gila bener! " Keken begitu frustasi karena ruang geraknya semakin sempit, penjagaan begitu ketat dibandingkan sebelumnya apalagi setelah gosip itu beredar.


" Gue heran juga, kenapa ratu medusa tidak mendukungku untuk mendapatkan si Farah. Apa yang sebenarnya mommy rahasiakan, kenapa dia tidak memberiku kesempatan untuk mempunyai istri soleha."


" Orangtua akan melakukan yang terbaik untuk anaknya, kamu jangan berpikiran dengan ibumu. " bela Khaffi


" Bukannya negatif tapi biasanya mommy selalu mendukungku tapi kali ini tidak, aku jadi semakin kekeh merebut Farah dari pria itu. "


" Apa kau yakin bisa membahagiakannya? "tanya Khaffi sembari merapikan jas Keken yang melekat di tubuhnya


" Tentu saja aku bisa, aku punya uang dan kasih sayang. "


" Kamu salah, uang tidak berlaku untuk rasa cinta Farah, maksudku apa kamu yakin jika bersama gadis itu, kamu akan insyaf, tidak bermain wanita lagi dan hanya dia satu-satunya?"


Keken termenung dengan pertanyaan Khaffi saat ini, ia tidak bisa menjawabnya karena memang saat ini Keken masih suka bermain dengan wanita.


." Kalau tidak bisa jawab tidak usah dijawab, jika kamu masih ingin bersama banyak wanita lebih baik urungkan niatmu untuk merebut Farah. Biarkan dia bahagia bersama pria baik dan tentunya itu bukan kamu." Khaffi


"Sialan lu! Apa aku se brengs*k itu hingga aku tidak boleh mendapatkan gadis baik!" geram Keken sembari mengepalkan tangannya


" Ken, kita berteman bukan setahun atau dua tahun. Kita berteman sejak kecil dan aku tahu karaktermu. Tanyakan pada hatimu, apa kamu sanggup hidup setia dengan satu orang wanita. Jangan menjadi pria egois dan keras kepala dengan merebut dia yang sebentar lagi akan bahagia menikah dengan pria baik, tidak semua yang kamu inginkan bisa tercapai Ken. "


Hati Keken mencelos, merasa tercubit dengan perkataan Khaffi yang begitu menusuk. Selama ini apa yang Keken inginkan selalu dipenuhi oleh kedua orangtuanya hingga membuat Keken menjadi sosok yang keras kepala, manja dan sulit diatur.


" Aku pergi dulu." Keken tidak melihat wajah Khaffi, ia keluar dari toilet dengan jas dan topi pemberian dari Khaffi untuk mengecoh beberapa pengawal yang sedang berjaga di luar toilet.


Setelah tiga puluh menit berlalu beberapa pengawal mulai bingung karena Keken tidak keluar dari dalam toilet. Dan mereka segera masuk ke dalam toilet pria untuk mengecek keberadaan tuan nya.


"Siapa ini?!" teriak salah seorang pengawal dari luar pintu karena hanya satu pintu yang terkunci dari dalam.


Khaffi keluar dengan cengengesan dan memberikan tanda V sebagai tanda perdamaian.


"Sial*n kita ditipu!"seru salah satu pengawal

__ADS_1


Mereka menelepon nyonya besar untuk memberikan informasi tentang tuan muda.


__ADS_2