
.~Farah~
Flashback On
Ia tak berani pulang setelah melihat tubuhnya penuh dengan jejak kepemilikan pria itu. Ia merasa jijik dengan dirinya sendiri yang kini sudah tidak bermahkota lagi. Farah menjadi sosok yang menurutnya tidak berharga karena kesuciannya terenggut sebelum adanya pernikahan.
Farah berdiri diatas balkon hotel Amalis dengan sesekali melihat kearah bawah dimana keramaian dan lalu lintas terlihat begitu padat, ia merenungi nasibnya yang begitu buruk dan menyedihkan. Dan langit pun menurunkan titik-titik air hujan yang begitu deras seolah tahu bagaimana keadaan hati Farah yang saat ini hancur lebur.
Tatkala senja menutupi awan hitam, langit begitu bergemuruh dan sesekali terlihat petir yang berkilat. Farah masih tidak bergeming dan tidak ada niatan sedikitpun untuk masuk ke dalam kamarnya bahkan saat ini ia berharap agar petir menyambarnya dengan segera agar mati seketika. Ia merasa putus asa.
Dengan kejadian ini, Farah merasa hidupnya sudah berakhir. Masa depan nya kian suram, entah apa yang akan dilakukan jika Hilman tahu kebenaran nya. Pikiran nya begitu kacau dan hal-hal negatif mulai bermunculan di benaknya.
"Ibu...." lirihnya sembari meneteskan air mata.
Ia menutup matanya dan sesekali membayangkan wajah almarhum ibunya yang dulu selalu tersenyum saat bersamanya. Wajah yang selalu membuat Farah kuat dalam menjalani hidup dan ucapan yang selalu terniang di telinganya sampai detik ini.
"Farah harus selalu bahagia, jadilah anak baik."
"Ibu sayang Farah."
Sekelebat bayangan sang ibu seolah terlintas di benaknya. Betapa rasa rindu yang tidak bisa dijelaskan , rasa sayang yang tidak bisa diungkapkan. Farah hanya bisa menangis merindukan sosok ibunya.
"Ibu...., aku harus bagaimana?" tetesan airmata mengucur deras, ia pun tersungkur kembali diatas lantai yang kini mulai basah akibat rintikan hujan yang terbawa angin.
"Apa yang harus aku katakan pada bang Hilman, bu... huhuhu." ia meraung keras menumpahkan segala sesak di dadanya, Farah sudah tidak peduli jika ada orang yang terganggu dengan tangisnya.
__ADS_1
"A... aku.... aku harus bagaimana bu, huhuhu.... rasanya sa... sakit sekali disini." Farah terisak memukul dadanya yang kian sesak dan menghimpit. Ia menangis keras agar semua beban di hatinya sedikit mereda hingga tanpa sadar ia tertidur di lantai balkon karena terlalu letih menangis.
Ia mulai berkemas dan pergi meninggalkan hotel yang telah memberikan luka untuknya. Ia menggunakan syal untuk menutupi leher yang masih terlihat memerah akibat pria itu, bahkan Farah sudah tidak sudi untuk menyebut namanya lagi apalagi sekedar membalas pesan dari pria yang sudah merusak kehormatannya.
Farah pergi dengan bus kearah puncak. Ia ingin menyendiri, memberi ruang padanya untuk berpikir jernih sekaligus memudarkan noda merah yang masih terlihat sangat jelas.Memakai foundation, ah itu hal yang bagus untuk menyamakan noda, namun Farah memang ingin menyendiri terlebih dahulu, tak ingin pulang cepat ke Jekardah karena Dini dan Vania pasti akan bertanya tentang tanda itu, mereka berdua bukan gadis bodoh yang bisa dibohongi. Vania dan Dini pasti akan mendesaknya untuk bercerita dan Farah tidak ingin membicarakannya, ia ingin menutup rapat - rapat kejadian itu dan seolah tidak terjadi apa-apa. Menuntut atau membuat laporan di kepolisian pun akan sia-sia, Farah tahu Keken orang kaya yang terlahir dengan sendok emas dimulut nya dan sudah tentu dia akan dipermudah untuk bebas dari hukuman penjara.
"Aku sayang dengan bang Hilman, aku tidak akan melepaskannya. Aku tidak akan menceritakan pada orang lain kalau aku sudah ternoda." gumammya sendiri. Ia bersikeras untuk tidak mengungkapkan kejadian di hotel pada siapapun.
Ia menginap di sebuah villa kecil di puncak, suasana yang nyaman dan nyaman membuat Farah sedikit rileks dan melupakan kejadian kemarin. Sesekali ia bermain di curug yang tak jauh dari villa itu. Suasana air terjun yang indah dengan air yang jernih membuat Farah senang. Beberapa kali ia terlihat bermain air layaknya anak kecil. Pengunjung pun tak terlalu padat karena ini bukan weekend. Sesekali Farah terlihat iri melihat keluarga yang harmonis dan utuh, mereka tampak senyum bahagia saat bermain bersama keluarganya.
"Andai saja ibu masih hidup, aku pasti akan bahagia." gumamnya dalam hati
" Nasib aku memang sangat buruk bahkan aku tidak diterima di keluarga." gumam nya lagi.
Untaian do'a dan harapan ia panjatkan semoga kehidupannya akan berubah lebih baik di masa yang akan datang.
Ia menyusuri jalan menuju penginapannya dengan berjalan kaki sendirian, namun Farah merasa ada orang yang mengikutinya. Beberapa kali Farah menoleh kebelakang namun tidak ada siapa pun disana hingga akhirnya dia berjalan dengan cepat agar segera masuk ke tempat penginapannya.
Flashback Off
" Kamu kemana saja?" sebuah pertanyaan membuyarkan lamunan Farah hingga gelas yang ia pegang hampir terlepas dari genggamannya.
" Menginap di tante." jawabnya dengan asal. Ia segera masuk ke dalam selimut dan merebahkan tubuhnya. Dini yang melihat gerak - gerik Farah yang tidak seperti biasanya kini merasa curiga.Tidak ada senyuman manis yang sering Farah tunjukkan dan Farah selalu diam setelah pulang dari Bogor. Tidak ada keceriaan
"Farah... ak.."
__ADS_1
"Dini, aku lelah ingin tidur. Tolong beri aku waktu untuk istirahat." potong Farah, ia segera menutup matanya. Farah tahu, Dini ingin bertanya dan meminta penjelasan padanya.
"Baiklah." Dini tersenyum kecut sembari membenarkan selimut Farah.
"Maafkan aku Din..." gumam Farah dalam hati, ia menahan tangis agar airmata tidak keluar dari pelupuk matanya.
Keesokan harinya, Farah menerima sebuah paket yang terletak di depan pintunya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencoba mencari siapa pengirim paket tersebut.
" Din, lu beli barang online tidak?" tanyanya
"Tidak, memangnya kenapa?"
" Ada paket kecil ini." Farah membuka paket hitam itu dan melihat isinya. " Lho ini kan kartu atm ayah yang diambil ibu Tami, kenapa bisa ada disini." Farah terkejut dan bingung kenapa kartu itu bisa berada di depan rumahnya.
"Siapa yang kirim?"
"Entahlah, tidak ada nama pengirim nya nya disini." Farah hanya mengedikkan bahu.
* **
Tiba saatnya Keken pergi ke Malang,beberapa kali ia mengirim pesan pada Farah namun tidak pernah terkirim.
"Sepertinya gadis itu benar-benar membenciku dan mungkin dia mengganti nomornya." Keken menatap layar ponselnya, berharap Farah membalas pesannya walaupun hanya sekali. Kemarin, ia mendapatkan pesan dari Wina bahwa beberapa pengawal ibunya datang dan mengancamnya, Keken hanya bisa menghela nafas panjangnya. Sudah tidak ada lagi teman yang bisa ia minta tolong untuk memantau pergerakan Farah.
"Sepertinya aku harus menyerah dan menjalani hidup seperti biasanya." ucap Keken dalam hati. Ia bertekad untuk bekerja lebih keras dan lebih rajin agar bisa melupakan Farah, gadis yang ia cintai.
__ADS_1