
Farah meremas tangannya saat bertatap muka dengan Hilman yang kini terlihat muram dan pria itu hanya menjawab secara singkat pertanyaan dari Farah.
Entah kenapa Hilman datang tiba-tiba tanpa mengabarinya. Ia terlihat marah bahkan ia tidak mau masuk ke dalam kontrakan Farah seperti biasanya.
"Ini kartumu aku kembalikan, semuanya sudah beres. Aku tidak berhubungan lagi dengan pria itu." Farah menyeruput jus mangga yang ia pesan untuk meredakan rasa gugupnya. Ia yakin Hilman sudah membaca berita online yang kini beredar di semua media massa. Dengan melihat sikap Hilman yang dingin sudah pasti dia sedang menahan amarah.
" Apa ada yang ingin kau katakan?! " Hilman menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
" Maaf." hanya itu yang bisa Farah ucapkan. Ia menunduk takut.
"Adalagi?"
"Aku tahu pasti kamu sudah membaca berita hari ini. Itu tidak seperti yang kamu pikirkan bang?"
"Apa aku bisa percaya? Nyatanya kamu pergi dengannya tanpa sepengetahuanku." Hilman membuang wajahnya kearah lain. Dia merasa kesal karena Farah tidak ijin dengannya dan pergi dengan pria itu lagi.
"Dua kali Farah kamu buat aku kecewa seperti ini. Dan kau tahu, di detik ini semua pemberitaan tentangmu lenyap tak tersisa dan itu artinya dia bukan pria sembarangan dan aku sudah membaca profilnya." Hilman begitu kesal saat pagi hari membaca semua gosip media online dan sekarang semua pemberitaan tentang mereka menghilang. Entah mengapa perasaan Hilman tidak enak, ia tidak percaya diri berhadapan dengan seorang Kendrew yang notabene salah satu anak orang terkaya di kota itu. Ada perasaan takut Farah akan berpaling darinya karena Keken lebih kaya.
"Benarkah? Aku tidak tahu bang bagaimana berita itu menghilang." Farah berkata dengan jujur
"Farah, aku tanya sekali lagi. Apa kamu masih ingin melanjutkan pernikahan ini? Aku melihat kamu tidak serius padaku?"
"Abang..., bagaimana mungkin aku menolak menikah denganmu. Sampai detik ini aku hanya mencintaimu bang, aku serius ingin menikah denganmu, hanya kamu." Farah berkaca-kaca, ia benar-benar ingin menikah dan tidak ingin ada masalah lagi di hubungannya dengan Hilman.
Hilman sedikit lega karena Farah masih tetap mencintainya, setidaknya jawaban itu membuat dirinya tenang.
" Aku tidak ingin kamu berhubungan dengan dia, mengerti!" ucap Hilman dengan tegas
Farah hanya menganggukan kepala tanpa membantah ucapan Hilman sedikit pun.
" Aku memaafkanmu sekali lagi dan ini yang terakhir, tolong jaga kepercayaanku!" pintanya
" Sekarang fokuslah pada pernikahan kita, beberapa undangan sudah dicetak, tinggal memilih gaun tapi tidak sekarang karena aku masih kesal denganmu. " sambung Hilman lagi, ia terang - terangan berkata pada calon istrinya.
" Iya bang. " Ia melihat raut wajah Hilman yang tidak bersahabat hingga akhirnya ia memilih diam.
" Ayo kita pulang, aku sudah tidak mood. Aku akan pulang ke Bogor setelah mengantarkan kamu."
__ADS_1
Farah tersenyum getir, rencana untuk memilih gaun pengantin gagal kembali. Farah pun hanya bisa bersabar karena memang ini kesalahannya. Untung saja Hilman mau mengerti dan memaafkannya lagi.
Setelah Hilman mengantarkan Farah pulang, tanpa pamit dia berlalu begitu saja dan Farah tahu, itu cara Hilman mengungkapkan rasa kesalnya.
Dengan terisak Farah masuk ke dalam rumahnya. Menyesali kesalahannya lagi.
" Mau nikah aja ribet banget, banyak godaan. Sudahlah jangan menangis, semuanya akan baik-baik saja." Dini mengelus punggung Farah dengan lembut
" Entah kenapa hubungan aku dengan abang semakin rumit dan itu karena si Keken. Padahal aku dan dia hanya berteman, tapi kenapa jadinya seperti ini. " Farah menyusut air hidungnya dengan tisu.
" Hahaha..., kau memang bod*h Dipta. Sudah kubilang pria gila itu menyukaimu, aku melihat matanya bersinar saat melihatmu. "
" Memangnya mata dia punya laser sampai bersinar seperti yang kau katakan. "kelakar Farah
" Aku serius malah kau bercanda. "cebik Dini
" Apa benar dia menyukaiku, tapi aku hanya menganggapnya teman tidak lebih. Mulai sekarang aku harus lebih tegas, aku tidak ingin berdekatan dengannya. Aku tidak ingin abang salah paham denganku lagi, capek didiemin mulu sama dia. "
" Bagus, lu harus jauhi pria gila itu. Aku pun tidak suka dengan gayanya yang slengean. "
" Enak aja! "sembur Dini,
" Gitu dong senyum, kalau kamu ada masalah katakan padaku jangan dipendam sendirian nanti bisa stres."
" Din, aku ingin bicara sesuatu yang serius? "
" Apa? "
" Apa kau tidak ada keinginan untuk menjadi asisten chef? Jika aku menikah dan nantinya posisiku kosong, kamu punya kesempatan untuk itu dan sudah pasti gajimu akan lebih besar dari biasanya. "
Dini hanya tersenyum kecut sembari menarik nafasnya dengan panjang.
" Jika aku bisa jujur, aku masih berharap setelah menikah kau bisa kembali bekerja di restoran, kami terbiasa denganmu Farah dan ini tidak mudah jika kamu pergi. Dan aku tidak akan bisa memasak sehebat kamu, meski resep kita sama pasti rasa akan tetap berbeda. Aku bahkan tidak bakat memasak, bagaimana bisa aku menjadi asisten chef, yang ada aku setiap hari disembur chef Ardi yang mengerikan itu, hiii... "Dini bergidik ngeri saat membayangkan kepala chef dapur yang begitu galak, ia tidak segan-segan memaki dan berkomentar pedas jika makanan tidak sesuai ekspektasi nya.
" Kau benar-benar menyebalkan, bakat itu bisa diasah asal kamu menyukainya terlebih dahulu. Ini kesempatan emas Din." Farah begitu gemas karena Dini menyerah sebelum berperang.
" Aku tahu, tapi aku harus sadar diri Farah! Jika aku belajar memasak itu akan memakan waktu yang cukup lama dan jika masakanku tidak enak yang ada pelanggan akan kabur dari restoran. Bisa jadi mereka juga sakit perut setelah mencicipi masakanku. "
__ADS_1
Farah tergelak tawa memang Dini tidak pintar memasak, makanya tiap hari libur Farah bertugas memasak sedangkan Dini bagian bersih - bersih rumah, walaupun terlihat ketus Dini anak yang baik dan selalu menghibur disaat dirinya bersedih.
" Jika kamu menikah dan kondisi restoran tidak kondusif maka aku akan keluar, aku ingin buka usaha. "
" Usaha apa? "
" Pacar sewaan. "Namun Dini tergelak tawa saat mengatakannya.
" Aku serius malah kamu bercanda!" kesal Farah
" Iya iya calon nyonya Hilman,aku akan buka usaha warung dirumah ibuku atau usaha online shop jualan baju atau apapun itu yang penting halal dan keluargaku bisa kenyang, adikku bisa sekolah dengan nyaman. "
Farah memeluk Dini, gadis yang sama sepertinya harus berjuang untuk hidup. Banyak hal yang tidak mudah bagi mereka, namun waktu terus berjalan dan mereka harus kuat berjuang untuk penghidupan yang lebih baik.
" Aku yakin kamu akan mendapatkan jodoh yang terbaik karena kamu anak yang selalu mementingkan keluarga."
"Aamiin."
"Do'ain juga agar aku dapat pria kaya." sambung Dini lagi
"Ya ampun Dini, masih saja kepikiran itu lagi. Matre!"
" Memang aku matre, hidup harus realistis Farah, makan itu butuh nasi bukan angin." Dini
Mereka saling tergelak tawa dan bercerita tentang masa lalu hingga tingkah lucu Dini yang membuat Farah melupakan hari buruknya kali ini.
* **
Keken semakin uring-uringan karena hari ini ia dijaga oleh beberapa pengawal ibunya. Ia tidak punya waktu untuk pergi sekedar melihat Farah. Dan sialnya gadis itu memblock nomer ponselnya hingga Keken tidak dapat menghubunginya.
Setiap hari Keken hanya bisa mengirimkan makanan dan coklat untuk Farah lewat aplikasi online. Ia berharap ada satu balasan dari gadis itu. Namun harapan tinggal harapan, Farah tidak pernah sekalipun membalas pesan darinya.
"Berulang kali aku diasinin kayak gini, gadis itu membuatku marah. Ingin rasanya aku datang dan memakinya, beraninya dia mengabaikanku." Keken meremas jari tangannya dengan geram. Keken tidak punya banyak waktu lagi, karena empat hari kedepan dia harus pergi ke kota Malang untuk mengurus bisnis.
" Baru kali ini ada gadis yang tidak tertarik denganku,Si*l...!!! Keken meneguk wine dan melempar gelas kearah lantai hingga hancur berkeping-keping."
" Aku akan melakukan sesuatu. "Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang yang dia percayai.
__ADS_1