Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 176


__ADS_3

Khaffi dan Dini terkekeh.


" Ayo kita jalan lagi. "Farah menggandeng tangan Dini lalu mereka melihat penjual cikibul.


"Aku mau cikibul." Farah mendekat kearah penjual.


"HAH...!! Anabul." Khaffi terkejut


"Bukan anabul, tapi cikibul. Kalau anabul itu kucing, Fi." Dini


"Cikibul? Apa itu?" Khaffi melihat penjual itu melayani pembeli.


"Cikibul itu ciki ngebul." ucap Dini. Ia pun memberikan uang untuk mentraktir Farah. " Ini es ciki yang diberi hidrogen makanya bisa ngebul begini."


Mereka memakannya dan beberapa kali Khaffi meliriknya. " Enak tidak?" Ia mengambil sedikit es beserta ciki Dini lalu memakan nya.


"Beli sana, enak tahu." Farah


"Ya ampun makanan seperti ini dibilang enak, selera kalian memang dibawah standar." ejeknya Khaffi


" Kalau tidak suka tidak perlu mengejek!" Farah menggandeng tangan Dini dengan cepat. Kesal dengan respon Khaffi yang selalu mengejek selera mereka.


Lalu mereka berada di depan bianglala, Farah ingin menaikinya karena sudah lama dia tidak bermain itu.


" Aku mau itu."


" Tidak, itu tidak aman untukmu. Lihat saja keamanan nya tidak bisa dipercaya, jika bianglala itu jatuh gimana kan ngeri. " Khaffi kembali menolak permintaan Farah yang ingin menaiki bianglala. Dia begitu khawatir takut sesuatu terjadi dengan permainan itu.


" Tapi aku mau itu, terus buat apa aku kesini jika tidak bisa naik permainan itu." rengek Farah sembari berkaca-kaca.


"Sudah turuti saja, sana jagain Farah naik bianglala." lirih Dini pada Khaffi.


"Kok aku, kenapa bukan kamu." Khaffi


"Lalu apa gunanya kamu disini, Farah mengajakmu karena aku tidak mungkin menemaninya keatas. Aku takut ketinggian." Dini


Khaffi melihat dari atas hingga bawah penampilan Dini ternyata gadis ini takut dengan ketinggian.


"Apa?! Kenapa menatapku seperti itu." Dini tidak suka dengan pandangan Khaffi yang seolah mengejek.


"Hanya aneh saja, kau kelihatan kuat nyatanya punya ketakutan juga."


"Setiap orang punya masa lalu dan trauma tentang suatu hal termasuk aku." Dini


"Baiklah, aku yang menemani si buntelan baju itu ke atas. Kamu tunggu disini saja." Khaffi, ia membeli dua tiket lalu mengajak Farah naik keatas.


Farah tidak marah saat Khaffi mengejeknya dengan sebutan buntelan baju karena yang terpenting dia bisa naik bianglala.


Dini merasa lega karena akhirnya keinginan Farah terpenuhi. Wanita itu terlihat girang saat berada di puncak bianglala dan Dini dapat melihatnya dari bawah. Sedangkan Khaffi, ia terlihat begitu kesal. Entah apa yang dilakukan Farah padanya hingga pria itu selalu menekuk wajahnya.


Kenapa lagi? "tanya Dini setelah mereka turun dari atas.


" Si buntelan baju emang songong banget, ngeselin masa aku naik keatas cuma jadi juru kamera ,motoin dia doang. Ampun bener dah istrinya si Modosa ini. "keluh Khaffi. Dini tergelak tawa.


" Jadi kamu tidak ikhlas? " Farah mendelik


" Bukan nya tidak ikhlas tapi aku juga ingin menikmati pemandangan dari atas, bukan hanya motoin doang. "


" Aku minta foto agar Keken tahu bahwa aku sudah main ke pasar malam dan agar dia tidak kangen padaku."


" Cih! Siapa juga yang akan kangen denganmu yang modelan nya begini, Keken pasti lagi asyik - asyikan dengan cewek cantik dan sexy jadi lebih baik kau tidak perlu mengirimkan foto. "Khaffi sengaja memancing keributan antara Farah dan Keken karena dia kesal Keken selalu memintanya menjaga Farah .


" Keken tidak seperti itu! Dia sudah berubah. "Farah yakin suaminya setia tidak yang seperti Khaffi katakan.

__ADS_1


" Tanyakan saja padanya saat telepon. "Khaffi kian membuat hati Farah resah dan mulai ragu,benarkah Keken seperti itu.


" Aku percaya dengan Keken. "gumamnya dalam hati.


Farah segera menepis pikiran negatif nya dan kembali bersenang-senang di wahana lain nya.


" Ya sudah Din, ayo kita cari permainan lagi. " Farah tidak peduli dengan ucapan Khaffi yang menyebalkan.Lalu Farah kembali menggandeng teman nya itu.


" Aku mau itu. "Farah menatap permainan ombak. Sebuah permainan yang diputar oleh tenaga atau ayunan beberapa orang hingga membuat mereka yang naik menjadi pusing.


" Jangan!!" Kali ini suara Dini dan Khaffi bersamaan menolak


" Kamu sedang hamil, tidak baik untuk kesehatan. "Dini


" Benar, nanti kalau kamu pusing dan pingsan aku tidak akan menggendongmu. Kamu itu berat seperti karung beras. "Khaffi


" Sialan!! "umpatnya," Aku tidak berat hanya berisi saja. " elak Farah


" Berisi lemak. "Sindir Khaffi


" Ya sudah kalian saja yang naik, aku tunggu disini "


" Aku tidak mau, ngapain naik yang muter-muter begitu bikin sakit kepala saja" Khaffi


"Kamu takut dengan permainan seperti itu? Dasar penakut." Kali ini Dini yang mengejek Khaffi dengan senyuman meremehkan.


"Sial!! Gadis itu menantangku!"gumamnya dalam hati." Ayo kita naik, siapa juga yang takut. " Mau tak mau Khaffi menuruti permintaan Farah untuk naik wahana itu walaupun dalam hatinya dia begitu takut.


Dini menggulum senyum, kali ini ia bisa mengerjai Khaffi dan dia yakin pria itu pasti akan mual dan pusing.


Setelah wahana itu diputar, benar saja Khaffi mulai menjerit. Awalnya pelan namun semakin lama semakin kencang dan itu membuat perutnya mual.


"Kapan berhentinya?" teriaknya sembari memegang tangan Dini. Ia takut terjatuh namun gadis itu seperti biasa saja bahkan menikmati permainan ini.


" Suruh mereka berhenti sekarang! " teriak nya lagi


" Mana ada seperti itu, kita harus menunggu selama sepuluh menit lagi baru berhenti. " Dini


" Bilang pada mereka, aku Khaffi si crazy rich dari Pondok Indah, suruh mereka berhenti sekarang, akan kuberi mereka uang tambahan. Aku sudah tidak kuat!!" teriaknya. Kali ini Khaffi mengakui bahwa dirinya kaya dan akan memberikan kompensasi jika mereka menghentikan permainan ini.


" Tidak bisa! Kau lihat semua orang menikmati permainan ini, huaaaaa... "Dini berteriak kegirangan, ia benar-benar melepaskan segala permasalahan nya dengan berteriak keras. Dan beberapa dari mereka pun ikut berteriak secara bersamaan.


" Kalian memang gila semua, aaaa...!!! " teriak Khaffi namun ia memeluk Dini dengan erat tak ingin lepas.


"Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan." Dini menjitak kepala Khaffi dengan kesal,beraninya dia memeluknya tanpa ijin.


"Gue takut Dini!"


"Pegang tangan saja, jangan peluk aku!" Dini


Farah tergelak tawa saat melihat mereka bertengkar dalam wahana itu. Ia melihat wajah Khaffi yang pucat.


"Kau baik-baik saja?" tanyanya setelah turun dari wahana.


"Apa aku terlihat baik-baik saja!" Khaffi terlihat pucat dan lemas.


Dini memapah Khaffi karena pria itu lemas tak bertenaga.


"Aku mual." Khaffi menundukkan tubuhnya setengah badan, perutnya terasa seperti diaduk - aduk saat naik permainan itu.


Namun saat pengunjung begitu ramai, terlihat seorang pria bertopi mendekati Khaffi yang sedang mual. Ia kedapatan meraba saku belakang.


" Ngapain lu!" sembur Dini. Ia mendelik kearah pria itu sembari menatapnya tajam. "Mau nyopet ya!! dia miskin kagak punya duit percuma lu copet!!"

__ADS_1


Dan benar saja pria bertopi itu menatap tajam Dini lalu berlari entah kemana, masuk kedalam kerumunan orang.


" Dini, apa maksudmu?" Khaffi menatap gadis itu dengan kesal, beraninya dia mengatakan dirinya miskin pencopet.


Namun bukan nya menjawab Dini malah merogoh saku bagian belakang Khaffi mencari sesuatu.


"Aman." ucap nya


"Apaan!!" Khaffi kian geram, gadis itu dengan berani menyentuh bokongnya seperti mencari sesuatu.


"Dompet lu aman, kagak jadi dicopet!" Dini bernafas lega. Khaffi dengan cepat merogoh saku belakang nya dan benar masih ada dompetnya.


"Emang tadi yang pakai topi pencopet Din." Farah baru menyadari karena pria itu begitu gesit dan berpenampilan seperti pengunjung lain nya.


"Iya, dia copet tadi aku sempat melirik dan dia lagi gesekin tuh tangan ke saku Khaffi."


"Kenapa tidak berteriak kencang kalau ada copet biar dia ketangkep." omel Khaffi


" Eh, lu kira dia kerja sendirian. Gue itu udah hafal karena dulu emak jualan di pasar malam beginian. Mereka itu berkelompok dan menyasar pengunjung yang kayak lu, yang lagi pusing. Mereka mencari celah orang - orang yang sedang tidak fokus, kalau kita teriak yang ada kita yang dihajar komplotan mereka. Emang lu mau babak beluk dikeroyok. "


Khaffi menggelengkan kepalanya.


" Bukan nya berterima kasih malah ngomel. "gerutu Dini


Khaffi sekilas melihat wajah gadis itu lalu membuang wajahnya kearah lain.


" Masih mual tidak?! "Tanya Dini dengan ketus


" Masih. "


" Ya sudah kita pulang saja daripada kamu nyusahin! "Dini


" Sial*n, mulut gadis ini benar-benar menjengkelkan! gumam Khaffi dalam hati.


Namun saat mereka berjalan menyusuri jalan, mereka bertemu dengan seorang waria yang sedang mengamen.


" Bang minta duit bang, sawer...." Sang biduan setengah mateng itu mendekati Khaffi dengan senyum dan goyangan yang sedikit nakal.


"Jangan deket - deket kalau tidak gue jorokin nih." Khaffi dengan cepat membuka dompetnya dan memberinya uang sepuluh ribu.


"Ih.. abang keren mah jahat banget sama ai, gemes deh pengen cium pipinya yang putih itu." Ia masih dengan logat manjanya.


"Pergi deh sana, jangan deket - deket geli gue." Khaffi. Namun waria itu masih saja berjalan mengikuti Khaffi.


Farah dan Dini cekikikan saat melihat gaya nyeleneh biduan itu.


"Cium saja mba, pumpung gratis." Celetuk Dini


"Iya, dia masih jomblo mba. Mana tahu selera nya modelan nya kayak mba." Timpal Farah.


"Cium.. cium.. cium..." Dini Dan Farah kian terkekeh dan bertepuk tangan dengan senang.


"Jangan cium aku! Yang ada pipiku kebas dan kesemutan saat dicium olehmu. Cepetan pergi!" Khaffi benar-benar geram karena wanita setengah mateng itu masih saja mengikutinya.


" Ah masa,dicobain dulu baru tahu kebas atau tidak." ucapnya dengan gemulai.


"Sial*n!!! Mimpi apa semalam diriku bertemu wanita setengah mateng kayak gini." umpatnya dalam hati.


"Sudah Fi sosor saja lumayan buat tambahan energi." Dini


"Lu kira dia obat kuat! Ya ga ada pipi gue stroke separuh dicium sama dia." Khaffi dengan cepat membuka dompetnya lagi dan memberinya uang dua ratus ribu. "Pergi sana, nih gue bayarin buat beli masker biar wajah dan leher lu sama warnanya, gak kayak papan catur yang item putih!" kelakar Khaffi


"Wow... makasih ganteng, kalau segini mah eike Yes aja, bye... bye...mmuahh..." Ia pergi setelah mendapatkan uang dari Khaffi

__ADS_1


"Amit.. amit... amit... amit..." Khaffi memukul kepalanya dengan tangan lalu mengusap ya dengan kasar, berharap tidak akan bertemu wanita seperti itu lagi. Sedangkan Farah dan Dini masih dalam mode tawa nya, ini seperti hiburan saat melihat Khaffi tertindas oleh waria itu.


__ADS_2