Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 138 ( Gangguan dua adik Farah)


__ADS_3

Seorang gadis kecil mengganggu kegiatan mereka, dengan senyum polos nya ia masuk dan tidur di ranjang Farah.


"Ais mau tidur disini." ucapnya sembari bergulang guling ke kanan kiri.


Keken dan Farah saling memandang lalu menatap Ais yang masih rebahan.


"Lalu aku tidur dimana?" Keken menghela nafas panjangnya, bagaimana bisa gadis cilik itu ingin tidur dalam satu ranjang sedangkan kasur itu terlalu sempit untuk mereka berdua. Bayangan untuk menyentuh Farah kian menghilang, padahal Keken sempat menyusun rencana agar Farah khilaf kembali.


"Ambyar..." gumam Keken dalam hati. Ia keluar meninggalkan Farah dan Ais.


"Mau kemana?" tanya Farah


"Toilet, sebentar saja yang." Keken dengan cepat pergi dari ruangan itu untuk menidurkan sesuatu yang sempat terbangun tadi.


Tak lama kemudian Fadil datang dengan membawa kasur lantai yang biasa ia pakai untuk rebahan. Fadil menyulap kamar Farah dengan rapi dengan beberapa bantal di lantai.


"Aku mau tidur disini juga, ayo kita tidur bersama seperti dulu." ia segera mengatur posisi untuk tidur. Aisyah begitu antusias sedangkan Farah hanya tersenyum kecut karena Keken pasti akan kesal dengan kedua adiknya yang dengan sengaja ingin tidur bersamanya. Sedangkan Keken, pria itu tidak suka berbagi tempat apalagi di kamar sempit seperti ini.


Dan benar saja pria itu berkacak pinggang saat melihatnya.


"Apa - apaan ini!" Keken melihat mereka tiduran di lantai dengan posisi rebahan, apalagi Farah berada di tengah disamping Fadil.


" Kami ingin tidur bersama, mengingat kenangan saat kecil." sahut Fadil


" Tapi sekarang kamu bukan anak kecil, kamu udah dewasa! Enak saja mau tidur dan peluk istriku!" Keken dengan cepat mendorong Fadil ke tembok agar dia mendapatkan ruang di samping Farah.


"Apa kalian tidak bisa tidur dikamar sendiri?" Keken terlihat tidak suka saat kamar ini sesak dengan banyak orang. Ia tidak suka berbagi tempat tidur dengan orang lain selain istrinya. Keken terbiasa sendiri dengan kamar yang luas.


"Tidak mau! Kami ingin disini." mereka menjawab dengan serempak,

__ADS_1


"Oh ya ampun, apalagi ini." Keken mendengus kesal, harapannya sia - sia. Ingin rasanya Keken berteriak, baru saja dia tidur di ranjang dengan nyaman kini ia harus kembali lagi tidur dilantai seperti di kontrakan Farah apalagi ini berdempetan dan sesak. Menyebalkan.


" Dih! Kak Keken pelit banget peluk kak Farah aja tidak boleh. " Kini Ais yang menyahut


" Kalau Ais boleh peluk kak Farah tapi kak Fadil tidak boleh! " tegas Keken sembari melirik kearah Fadil bahkan dengan sengaja menyenggol tubuh adik iparnya dengan kesal, ia memeluk istrinya dengan posesif hingga Farah merasa risih. "Ais tidurnya lasak tidak? Jangan sampai menendang perut kak Farah ya karena disini ada adek bayi."


"Ais tidak lasak kak, Ais tidak akan menendang perut kak Farah." jawabnya


" Dia memang tidak lasak tapi Ais suka ngiler dan mengigau." Fadil menerangkan kelakuan adiknya saat tidur. " Ais kalau tidur mangap, makanya tuh iler netes dah kayak aliran sungai ciliwung. " Fadil terkekeh


" Kak Fadil jahat! !! " teriak Ais, ia tidak terima Fadil menceritakan keburukan nya saat tidur.


" Sudah jangan bertengkar, ini sudah malam!" ucap Farah


"Lepasin Ken, pengap tahu!" Farah mengurai pelukan Keken dan berbaring kearah Ais, ia membelakangi suaminya.


"Hadap sini dong yang, masa lebih suka meluk Ais daripada aku." gerutunya


"Terima kasih untuk sepedanya." kali ini suara Fadil terdengar begitu jelas karena posisi mereka yang saling berhimpitan.


" Hmmm..." Keken mencoba berdamai dengan keadaan seperti ini, ia ingin segera tidur dan berharap esok akan segera datang lebih cepat.


" Belajarlah yang rajin agar bisa masuk universitas negeri, aku akan membiayaimu." Keken menutup matanya yang terasa lengket, seharian bekerja membuatnya lelah. Harapan ingin dipijit sang istri bubar sudah karena gangguan adik iparnya.


"Memangnya kak Keken punya uang untuk membiayai aku kuliah kan sekarang kak Keken miskin?" Fadil menatap kearah kakak iparnya dan menatapnya lekat. Farah pun mendengar pembicaraan mereka, ia yang sempat menutup mata kini kembali terbuka.


"Kamu tenang saja, kakak akan bekerja keras lagi untuk kalian. Do'akan saja kakak sehat dan kuat." Keken masih menutup matanya.


Farah merasa terharu karena Keken ikut memikirkan pendidikan adiknya dan Fadil kini menatapnya dengan datar.

__ADS_1


"Aku akan berusaha keras masuk universitas negeri agar kak Keken dan kak Farah bangga padaku." Namun matanya melihat kearah Keken. Wajah kakak iparnya begitu putih dan mulus. Tidak seperti dirinya yang terlihat kusam dan beberapa bekas jerawat di wajahnya.


Fadil dengan beraninya menyentuh pipi Keken dan menusuk - nusuk dengan jari nya.


" Apa yang kamu lakukan?" Keken membuka matanya karena terusik dengan tangan Fadil. Farah pun heran dengan kelakuan adiknya.


"Aku penasaran kenapa wajah ini begitu mulus tanpa cacat seperti sirkuit sentul." ucap Fadil


Keken dan Farah tergelak tawa saat mendengar candaan dari Fadil yang begitu jujur.


"Ini bukan sirkuit sentul tapi porselen antik, tidak sembarangan orang bisa menyentuh wajahku makanya kakakmu itu tergila-gila denganku. Perawatan nya sudah pasti mahal karena aku si crazy rich Jekardah." Keken kembali menyombongkan dirinya, sedangkan Farah yang disinggung kini hanya bisa menatapnya dengan tajam.


" Kalau ngantuk ngopi dulu jadi melek nggak kebanyakan halusinasi. "sindir Farah, ia yang sempat terharu kini mulai kesal karena Keken berkata dia yang tergila-gila pada pria itu.


" Iya in aja sih yang, kalau kamu beneran cinta sama aku. "Keken tersenyum, mencium pipinya sembari memeluk istrinya dengan erat. Namun istrinya itu tidak membalas pelukan ataupun menjawab pernyataan Keken.


" Ehem! "Fadil melirik kakaknya sedang bermesraan dengan kakak iparnya.


" Kami masih dibawah umur tolong jangan memperlihatkan kemesraan pada kami. "


" Kalau sudah tahu dibawah umur kenapa ngikut tidur disini. Gangguin orang aja lagi mesra-mesraan saja." gerutu Keken, ia mengelitiki tubuh Fadil hingga bocah itu tertawa kegelian dan saling membalas dengan menendang kaki.


" Makanya punya pacar biar nggak jadi jomblo jamuran. " Keken


" Mana bisa aku pacaran kak, uang jajan saja masih minta sama kak Farah dan ibu. "


Keken terkekeh mendengar jawaban jujur dari adik iparnya.


" Kamu jangan mengajari Fadil yang tidak - tidak, aku tidak suka jika adikku pacaran! "Farah

__ADS_1


" Sudah malam tidurlah, kalian seperti anak kecil saja tidak mau akur! " Farah kesal karena tidak bisa memejamkan matanya apalagi saat melihat kedua pria itu saling mencubit dan berbalas menindih kaki.


Dan akhirnya mereka berdamai dan kondisi mulai tenang, Aisyah yang lebih dulu masuk ke alam mimpi tidak terusik dengan keributan tadi. Ia hanya memeluk Farah dan tertidur pulas. Keken merasa tidur bersama adik-adik Farah tidak begitu buruk, malah ia menyukainya karena terasa ramai dan seru.


__ADS_2