Pangeran Modosa

Pangeran Modosa
Bab 194 ( Hanya aku yang tidak tahu)


__ADS_3

Farah begitu kesal karena Keken masih saja belum menghubunginya. Dan Kini ia tinggal di rumah tante Navysah atas permintaan mommy nya.


"Kandunganmu semakin besar, dua bulan lagi melahirkan. Apa kau sudah siap?" tanya Navysah saat di kebun, karena Farah tidak ada kegiatan maka Navysah mengajaknya menyiram tanaman.


"Asal ada Keken disisiku aku siap tan, aku ingin saat melahirkan ada dia disampingku."


Namun Navysah membuang wajahnya, ia berkaca-kaca karena sampai sekarang Keken belum juga ditemukan. Setiap hari ia berdoa agar Keken kembali dalam keadaan sehat.


Disaat yang bersamaan Navysah mengangkat telepon dari seseorang." Tante terima telepon dulu. " ia menjauh dari Farah.


Dan tanpa di diduga Inha datang dengan wajah sembab bahkan jejak air masih terlihat disisi matanya.


"Mama...!!" teriak Inha, ia ingin mendengarkan cerita dari ibunya tentang Keken yang menghilang namun saat melihat Farah tersenyum sembari menyiram tanaman Inha sedikit melunak dan menyembunyikan rasa sedihnya.


"Kamu habis nangis ya Inha, kenapa?" tanya Farah


"Tidak ada apa - apa." Ia lagi-lagi mengusap airmatanya.


"Kau yakin tidak apa-apa, minumlah dulu." Farah mendekat dan memberikan segelas air teh hangat yang belum sempat ia minum.


"Inha, apa kau sedang putus cinta makanya kau menangis seperti ini?" tanya Farah


"Ini lebih dari sekedar putus cinta!" ketusnya namun melirik kearah ibunya yang sedang menelepon.


Navysah melihat anaknya yang terlihat berantakan, pandangan mereka bertemu. Dalam hatinya, pasti Inha sudah tahu berita tentang Keken namun ia dengan cepat meminta anaknya untuk masuk ke kamar." Nanti mama bicara denganmu."


Namun Inha masih duduk di kursi rotan, ia masih mengatur nafas nya yang naik turun. Saat di restoran tanpa sengaja ia mendengar ayahnya menelepon papih Feri dan kini ia baru tahu kalau Keken menghilang dan mommy Imelda sedang mencarinya.


"Aku ke kamar dulu." Inha tidak ingin keceplosan dan berusaha menutup mulutnya rapat - rapat.


Dan disaat yang bersamaan Navysah kedatangan tamu, dua teman Farah, Dini dan Vania.


"Ada apa kau kesini?" Farah terkejut karena sahabatnya datang secara mendadak dengan wajah yang begitu sedih.


Vania dan Dini berlari dan memeluk sahabatnya. "Farah..... huhuhu..."


"Kalian kenapa menangis, ada masalah apa?" Farah semakin tidak mengerti karena kedua temannya hanya menangis dan tidak mengatakan sesuatu apapun.


Navysah menghela nafas panjang sudah pasti kedua teman Farah sudah melihat berita di televisi.


" Aku meneleponmu sejak kemarin tapi panggilanku selalu ditolak, aku pergi ke mansion mertuamu tapi kau tidak ada disana, asisten rumah memberikan alamat tantemu."


" Aku memang menginap disini selama mommy pergi ke Bogor dan ponselku ada di kamar tapi tidak ada satupun panggilan masuk dari kalian. "Farah


" Farah, kau tahu. Keken... Keken Far... "Dini yang terisak seolah tidak sanggup untuk berkata - kata.


" Apa? Keken kenapa? " Farah semakin bingung karena Dini bicara tentang Keken


" Keken hilang di P Rafting, Apa kau tidak melihat berita?"Vania


" A... apa maksud mu? "


" Keken, suamimu menghilang dan sampai sekarang belum ditemukan. "


Vania lagi.

__ADS_1


Tubuh Farah limbung tak kuasa mendengar bahwa suaminya hilang. Rasanya seperti petir di siang bolong.


" Farah.... " Dini menahan lengan sahabatnya agar tidak terjatuh.


"Ti... tidak mungkin. Kamu pasti salah, Keken ada di Malang dan__" Farah teringat sesuatu.


"Tante, apa ada yang tidak aku ketahui? Tolong jelaskan padaku tan." Farah menyeka airmatanya dan meminta penjelasan pada wanita paruh baya yang ia yakini tahu masalah ini.


Namun Navysah hanya diam namun matanya mengisyaratkan bahwa berita tentang Keken benar.


" Tante, jawab aku tan. Tante tahu kan keken menghilang. "ucapnya lagi.


Namun suara tangisan Inha begitu memekakan telinga, tidak pernah dia terlihat seburuk itu bahkan Inha sangat menjaga image nya." Mas Keken.... huhuhu... "Inha menangis dengan sekeras kerasnya,menumpahkan segala rasa sakitnya. Inha ternyata tidak pergi ke kamarnya tapi dia duduk di dapur dan mendengar percakapan mereka.


" Tidak mungkin.... Keken, huhuhu..... "Farah menyadari ini jawaban dari segalanya, keanehan yang terjadi selama berhari-hari karena suaminya tidak pernah menghubunginya.


" Jangan bilang mommy dan papih juga bohong, dia tidak di Bogor kan? Dia pergi mencari Keken kan? " tanya Farah di sela-sela tangisan nya.


"Ternyata hanya aku saja yang tidak tahu keadaan suamiku sendiri." Farah tersenyum getir. Keluarga Keken begitu rapat menyembunyikan masalah ini.


"Kenapa kalian bohong padaku, kenapa tidak ada yang memberi tahu aku tentang keadaan Keken, huhuhu..." Farah baru ingat ponselnya dipinjam tante Navysah dan sampai sekarang belum di kembalian.


"Keken..., a... aku ingin mencarinya


Aku ingin kesana tan."


"Sabar Farah, Keken pasti ketemu, dia pasti baik - baik saja." Navysah merengkuh tubuh Farah yang kian memberontak.


"Farah.... Mas.. Mas keken, huhuhu..." Inha memeluk wanita hamil itu, menumpahkan segala rasa sedihnya.


"A... aku juga ingin men... mencari mas Keken." Inha sangat terbata bahkan suaranya tercekat di tenggorokan. Tak pernah terbayangkan bahwa Keken terbawa arus dan menghilang. Inha yang sudah menganggap Keken seperti kakak kandung kini sangat terpukul saat pria itu menghilang.


" A... aku.... ingin Keken kembali dengan selamat." Farah berharap suaminya masih hidup, dan bisa bersama lagi. Bahkan kini perutnya terasa kram, pikiran nya buntu setelah mendengar Keken hilang.


"Sabar sayang, kita doakan semua nya membaik dan Keken bisa ketemu dengan keadaan selamat." Navysah


"A... aku__" kepala Farah sangat pusing hingga akhirnya dia pingsan.


"Far... Farah...."


Mereka membawa Farah ke kamar dan dengan sigap Alif memeriksa kesehatan nya.


"Dia masih syok, dan alhamdulillah kesehatan nya baik tidak ada masalah dengan kandungan nya."


" Sayang, apa dengan kondisi Farah yang hamil besar dan seperti ini, dia bisa melakukan perjalanan jauh ke Malang? tanya Navysah. Ia yakin wanita itu akan memaksa ingin pergi ke Malang mencari suaminya.


" Sebaiknya jangan mah karena Farah sudah hamil besar dan mommy Imel pasti sibuk mencari Keken. Lebih baik dia disini karena banyak orang yang menjaganya."


"Dia pasti memikirkan suaminya tapi ini pilihan yang terbaik jangan sampai dia ikut kolaps dan membahayakan calon anaknya." ucap Alif


"Aku pergi dulu ke kamar, mah. " Alif merasa tidak enak karena ada dua sahabat Farah, apalagi tatapan kedua gadis itu yang menatapnya tanpa berkedip.


"Kenapa disini banyak orang tampan dan cantik." bisik Vania


" Yang pastinya perawatan, tidak sepertiku yang kusam dan burik." balas Dini dengan berbisik.

__ADS_1


Navysah menyuruh kedua temannya bergantian untuk makan siang lalu memintanya untuk menjaga Farah karena dirinya ingin beristirahat, sejak kemarin ia kurang tidur karena memikirkan keadaan ponakannya.


"Farah, kau sudah bangun?" Vania melihat sahabatnya mngerjabkan mata.


"Kepalaku pusing." Farah memijit kepalanya.


" Ayo makan dulu setelah itu minum obat."


"Keken....." Farah teringat kembali pada suaminya. Ia tidak mengindahkan ucapan Dini


" Kau sayang Keken kan?" tanya Dini dan dengan cepat Farah menganggukan kepala.


"Jika kau sayang Keken, kau harus menjaga bayi ini dengan cara makan dan minum vitamin secara teratur. Aku yakin Keken selamat karena dia seorang Pangeran Modosa, dia pria hebat dan cerdas. Kau tahu itu?"


Farah menganggukan kepala, walaupun hatinya sedang kalut dan pikiran nya rumit ia harus tetap menjaga calon anaknya,jika terjadi sesuatu dengan bayinya Keken pasti marah


" Aku ingin ke Malang. "


" Tidak, kau harus disini. Kedua mertuamu sibuk dan ini demi anakmu juga. Nurut ya, please." pinta Dini


Farah menganggukan kepala.


Dengan sabar Dini menyuapi Farah, sedangkan Vania yang melihat sahabatnya selalu meneteskan airmata kini tidak sanggup untuk melihat.


"Aku ke toilet dulu." Ia masuk kedalam kamar mandi dan menangis disana.


"Dini, aku kangen Keken." ucap Farah


"Iya, aku juga kangen si brengs*k itu." jawabnya namun Farah menatapnya dengan tajam.


"Sebagai teman Far, jangan cemburuan gitu ah." ucap nya sembari menyuapi Farah.


"Semoga Keken cepat ketemu." Farah kembali menangis lirih, tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi dengan Keken, entah sanggup atau tidak dia menjalani hidup berdua hanya dengan bayinya.


"Keken pasti pulang, aku yakin itu. Sudah jangan berpikiran macam-macam, tugasmu hanya menjaga si bayi ini. Mommy dan papihmu sedang berjuang mencari Keken, berdoalah agar dia segera ditemukan dengan keadaan selamat."


"Jika Keken tidak selamat aku akan menjanda Din, aku tidak mau itu terjadi."


"Masa hidupku akan seperti almarhum ibu,ditinggal orang terkasih disaat hamil. Aku tidak mau itu terjadi, Din" lirih Farah


"Aku tidak suka kau bicara seperti itu!" Dini berkata dengan ketus, "Keken akan baik-baik saja, aku yakin itu. Masa kamu tidak yakin dengan suamimu sendiri."


" Keken bilang dia akan pulang dengan cepat tapi apa yang aku dapatkan sekarang, bahkan dia sampai sekarang menghilang."


" Saat di Bali dia memberikan gantungan kunci dengan nama Ghani. Keken ingin memberikan nama itu pada bayi kami,huhuhu... "Farah masih menangis sembari mengelus perutnya.


"Kau benar, aku harus yakin dan percaya Keken akan baik-baik saja. Dia pasti pulang menemui kami ."Farah mengusap airmatanya dan seolah mendapat kekuatan dari sahabatnya.


"Aku ingin pulang ke kontrakan kita, aku kangen Keken."


"Tidak!" Kali ini suara dari Vania yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Lebih baik kamu disini, jika kamu di kontrakan kamu akan kesepian dan jenuh. Jika kamu disini, mereka bisa menjagamu,sedangkan aku dan Dini akan menjengukmu saat libur." sambung Vania


"Betul, aku juga kuliah jadi tidak bisa menjagamu jika kau dikontrakan." Dini

__ADS_1


"Mereka benar dan aku juga setuju jika kamu lebih baik tinggal disini." Suara seorang wanita datang dari luar pintu


__ADS_2