
Kedua pengawal itu datang dan menggendong Keken dengan cepat, mereka melajukan mobilnya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Farah menangis dan memeluk suaminya, ia tidak mau kehilangan Keken. Dini yang melihat itu ikut menangis, kondisi Keken benar-benar kritis,nafasnya kian tersenggal.
"Cepetan nyetirnya!!! Keken harus segera mendapatkan pertolongan!!!" Farah berteriak pada pengawal itu sembari menendang kursi depannya. Ia tidak sanggup melihat Keken yang seperti ini. Suaminya meneteskan air disudut matanya, namun ia tidak bisa bicara.
" Siap nona." Pengawal itu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, memang saat ini jalan tidak terlalu ramai namun masih ada beberapa kendaraan yang hilir mudik.
"Ken, bertahanlah demi aku dan anakmu, huhuhu..." Farah menangisi suaminya lagi. Pandangan Keken mulai kosong, airmata kian mengalir dan nafasnya tersenggal kembali. Keken seperti seseorang yang sedang meregang nyawa.
"Keken, aku tidak mau melihatmu seperti ini. Aku mencintaimu Ken, jangan biarkan aku menjanda sebelum anakmu lahir." Farah. Ia masih melihat nafas Keken yang naik turun. Keken sangat kesakitan.
"Aku mencintaimu, aku mencintaimu Ken. Kau dengar itu!!" Farah mencoba bicara dengan suaminya agar dia bertahan
"Cepetan, brengs*k!!!" umpatnya pada pengawal, ia merasa perjalanan ke rumah sakit terasa jauh, Farah sudah tidak sabar.
"Siap nona!" Pengawal itu menambah kecepatan nya.
"Ken, kumohon sadarlah. Jangan menutup mata, sebentar lagi kita sampai. Aku mencintaimu, sayang!!" Ia meminta Keken untuk tetap dalam kondisi sadar.
Akhirnya mereka tiba di rumah sakit terdekat dan Keken segera dilarikan ke ruang IGD, bahkan Farah lupa dengan kandungan nya, ia berlari mengejar Keken yang dipindah ke brangkar. Saat perjalanan menuju IGD Keken menggerakkan tangannya kearah mulut seolah meminta oksigen. Dan dokter mengerti hal itu.
"Farah, kau jangan lari. Ingat kau sedang hamil." Dini menahan lengan sahabatnya untuk tenang dan tidak panik. Keken sudah mendapatkan pertolongan oleh dokter.
"Aku tidak mau Keken kenapa - napa Din huhuhu..." Ia masih saja menangisi Keken.
"Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja."
Dini mencoba memenangkan Farah.
"Ayo, kita urus administrasi Keken terlebih dahulu." Dini menggandeng Farah ke tempat pendaftaran. sedangkan kedua penjaga itu menunggu Keken di depan ruangan.
Farah masih saja cemas karena saat ini belum ada kabar tentang Keken. Ia masih setia menunggu dokter keluar dari ruangan IGD.
" Kenapa Keken seperti itu, apa dia salah makan?" Dini juga terkejut saat pertama kali melihat wajah Keken yang bengkak dan memerah bahkan tidak dikenali.
"Aku tidak tahu dia makan apa, aku hanya membeli baso untuknya." Farah, namun otaknya mulai berpikir ulang, ia mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Ya ampun, jangan - jangan__" teriak Farah sembari menutup mulutnya, ia pun terduduk lemas.
" Jangan - jangan apa? " Dini
"Jangan - jangan Keken makan sisa makananku. Aku membeli takoyaki isi seafood dan seblak seafood." Farah menepuk kepalanya, ia begitu lalai hingga mengancam keselamatan suaminya.
"Kelar hidup lu, Far." lirih Dini. Sudah pasti Farah akan disalahkan orangtua Keken karena kelalaian nya.
Farah menutup matanya dengan kedua tangan, menyesal itu yang dia rasakan. Tidak menyangka akan seperti ini akibat kelalaiannya.
"Pak pengawal." panggil Farah
"Iya nona." kedua pengawal itu mendekat kearah Farah.
"Maafkan aku karena tadi berteriak pada kalian,aku terlalu panik, maaf." Farah menundukkan kepala, menyesal karena memaki mereka.
"Tidak perlu meminta maaf nona, itu juga karena kesalahan saya yang terlalu pelan."
Farah malah menangis keras, ia tidak tahu apa yang terjadi pada Keken karena keteledoran nya. "Dini, aku tidak ingin Keken kenapa-napa,huhuhu..."
Dan tak lama kemudian, orangtua Keken datang dengan tergesa-gesa. Imelda begitu cemas dan itu sangat terlihat di wajahnya.
"Mommy....ma..maafkan Fa... Farah mih." Farah memeluk mertuanya dan menangis terisak, sangat takut dengan orangtua Keken.
"Sudahlah, yang penting Keken baik-baik saja." Imelda pun khawatir karena saat alergi Keken kambuh itu sangat berbahaya dan bisa mengancam nyawanya. Keken tidak bisa makan seafood.
"Papih..." Farah melihat ayah mertuanya hanya diam.
" Papih, kecewa denganmu. Kalau ada apa-apa dengan Keken, Papih tidak akan memaafkanmu!" Feri menatap tidak suka pada menantunya. Ia tahu Keken tidak akan makan seafood apapun itu dan sekarang anaknya masuk IGD, ia benar-benar kesal karena ini pasti salah menantunya.
"Pih..." Imelda meminta Feri untuk menahan diri dan tidak perlu membenci menantunya.
Tiba-tiba pintu terbuka dan dokter keluar dari ruangan itu. "Bagaimana keadaan Keken dok?" Farah dengan cepat mendekat dan bertanya tentang keadaan suaminya.
"Tuan Keken sudah melewati masa kritisnya, ia mengalami penyempitan paru-paru sehingga membuatnya sesak nafas. Tubuhnya masih membengkak efek dari alergi, insyaallah beberapa hari kedepan bisa kembali seperti semula. Untung saja cepat ditangani jika tidak nyawanya tidak akan tertolong. "
__ADS_1
Pernyataan terakhir dari dokter membuat Farah lemas hingga membuatnya limbung hingga Dini harus menahan tubuhnya.
" Kau harus tenang, Keken baik-baik saja. "lirih Dini
" Kalau begitu saya permisi dulu, mohon saat ini tidak menjenguk pasien karena dia masih dalam kondisi syok dan belum stabil, biarkan dia istirahat. " ucap Dokter.
" Terima kasih dok." Imelda dan Farah mengucapkan secara bersamaan.
" Kau dengar itu Farah!! " Feri begitu geram setelah mendengar penuturan dokter bahwa putranya hampir saja tidak selamat." Keken, putraku satu-satunya dia hampir tiada karenamu."
" Jika kamu tidak mencintainya, lebih baik kalian bercerai daripada kamu membuat putraku menderita!" Feri
"Mas...." Imelda mengelus punggung suaminya agar sabar, memang ia sudah emosi sejak mendapatkan kabar bahwa Keken sesak nafas dan kritis.
"Sayang, kau tahukan anak kita sakit alergi saat berusia delapan tahun dan tidak pernah ada kejadian itu lagi sampai dia dewasa. Dan lihat, sekarang dia masuk IGD dan kondisinya krisis. Itu gara-gara dia, yang." Feri menunjuk menantunya yang kini sedang menangis.
" Jangan menyalahkan Farah, sudah mas. "
" Kamu tahu kan kita selalu menutup mata saat anak kita memiliki hubungan pernikahan yang tidak sehat, kita selalu diam dan tidak ingin ikut campur tapi kali ini berbeda, aku sebagai papihnya merasa kecewa karena kamu tidak pernah menghargai anak saya, tidak pernah mencintainya bahkan diam-diam masih berhubungan dengan pria lain. Daripada anakku sakit hati lebih baik kalian bercerai sekarang juga dan jangan memperlihatkan wajahmu dihadapan kami!"
" Tidak pih, a... aku tidak mau bercerai dengan Keken, huhuhu.... " Farah menolak dengan keras tidak ingin pisah dari suaminya.
Dini terbelalak, papih Keken begitu marah pada Farah. Ia hanya bisa diam daripada memperkeruh keadaan.
" Pih..., aku tidak mau pisah dari Keken.Aku cinta Keken, pih"Farah kian terisak, hatinya begitu sakit.
" Sudahlah, lebih baik kalian pulang biar kami yang menjaga putra kami. "Feri membuang wajahnya.
" Ti... tidak. Aku tidak mau pulang, aku ingin menjaga Keken, aku ingin bersamanya. "Farah enggan pulang, ia masih ingin menunggu suaminya.
" Farah lebih baik kita pulang. "Dini menarik tangannya.
" Tapi Din... "Farah menolak namun saat ia melihat wajah Dini, gadis itu mengerlingkan matanya.
" A... aku pulang dulu mih, pih. "Farah mencium takzim tangan mertuanya. dan Dini pun ikut melakukan nya juga.
__ADS_1